Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Wednesday, April 16, 2014

(Menuju) Tujuh Belas; Membilang Ulang atau Berpulang



17.
Jadi angka yang paling dinanti tuan dan putri. Mereka yang katanya disebut dewasa di angka tujuh belas. Katanya, sudah layak menjadi alamas. Tapi mengapa mesti tujuh belas?

17.
Ingatkah ada pertemuan yang katanya bukan sebuah kebetulan pada Selasa malam di bulan ke sembilan? Bisa kurunut kembali, kronologi jejak remang di halaman luas salah satu gedung universitas itu bukanlah suatu permintaan atas kedatangan satu sama lain, tetapi menjadi waktu yang pas untuk awal mula sederet kejadian.

17.
Aku yang langguk soal hati dalam garis stabil, kukuh kali bilang tak akan jatuh dalam cinta. Kontras dengan lelaki yang samar parasnya dibias bulan, sedang mencari-cari pintu keluar dari masanya yang telah lalu. Kau yang barangkali kadung duka bicara hubungan dan aku yang teguh pada kesetimbangan. Perasaan bukan lagi perkara sepele ketika Tuhan membuka jalan, membatasi perkiraan, atau menggeser angan jadi bungkus kebimbangan. Bulan yang merayap diam-diam, seketika jadi bising hujan.

17.
Sehabis malam itu pagiku direnggut kelut-kemelut. Tujuh belas jadi jejeran angka yang selalu ingin kutemui di tempat serupa, pada waktu yang sama, dalam lingkar senada. Agar bisa kuambil kembali yang dirampas paksa, segala yang baik-baik saja sudah tak lagi ada di sana. Mengapa kau tega menukar teduhku dengan gaduhmu?

Thursday, February 20, 2014

Hari Ke-20: Telepon Genggam

more quote www.fasihrr.tumblr.com

Dan sepagi tadi aku tertidur, mungkin sudah lama tak kaudengar aku mendengkur.

Sebab jarak sudah jadi pengukur, tetapi dalam doa, kitasetidaknya, akumasih begitu akur. Masih hafal bagaimana cara mengalur rindu berangsur-angsur. Menyimpan rasa yang begitu jujur, diam di tempatnyamasih dengan doabak bahadur yang baru mau muncul pada waktu yang sudah Tuhan atur. Meski bilur membujur, mengaduk-aduk sampai cabur; sampai air mata jatuh bercucur. Aku tetap jadi seseorang yang berharap doanya makbul. Sebab hakikat tertinggi dari cinta adalah doa. Begitu bukan? Tak perlu sebuah jawaban, ini bukan suatu pertanyaan.

Dan sepagi dini kau mengetuk telingaku dengan getar dalam telepon genggamku.

Aku terkesiap bukan sebab aku tahu waktu sudah memburuku untuk segera membasuh wajah yang lusuh, tapi digit-digit yang tertera dalam layar yang sudah lama tak tersentuh. Ada angka-angka yang tak asing, yang sepertinya dulu begitu sering membuat teleponku berdering. Kamu?

tweet me @fasihrdn

Wednesday, February 12, 2014

Hari Ke-12: Peringatan Keras Untukmu, Rindu!


Aku tak punya kuasa atas rasa rindu. Allah, peluk aku untuk satu kerinduan yang bukan milikku....

Peringatan keras untukmu, jangan lagi muncul untuk mengganggu....
Kembalilah pada penciptamu, Rindu. Kumohon jangan berkeliaran di hatiku.

Friday, January 10, 2014

Bolehkah Aku Mencintai Lelaki Itu, Bu?


Boleh kutitipkan rasa sayangku ini padanya, Bu? Boleh aku menjadikannya doa dalam setiap sujudku setelah aku mendoakanmu, Bu?


Sebab aku pun tak sengaja bertemu dengan lelaki itu. Aku tak pernah berencana mencintainya. Tapi sekarang, aku justru ingin menjadikannya bagian dariku sampai nanti, Bu. Seperti Ibu yang hidup dengan ayah sekarang ini. Aku sedang diserang rasa yang dimiliki setiap anak muda ... yang tak bisa kucegah dan kuhentikan begitu saja. Jadi, bolehkah aku....

Ibu pasti jauh lebih tahu, bagaimana rasanya membutuhkan satuan lain untuk menggenapi sebagian yang kurang. Aku melakukan apa yang belum pernah kulakukan, itu cinta kan, Bu? Entah, berapa kali aku mengatakannya, aku mencintai lelaki ini dan itu. Lalu berganti dengan yang lain. Tapi sungguh, kali ini aku butuh restu darimu. Sebab aku ingin melanjutkan hidup dengannya. Aku membutuhkan doa seorang ibu....

Kamu percaya kan?

Katanya, sesuatu yang sulit didapatkan akan jauh lebih dijaga nantinya. Aku percaya itu. Mungkin Tuhan ingin tahu seberapa dalam cintaku. Seberapa kuat tekadmu. Seberapa besar iman yang melekat di antara kau dan aku. Barangkali, Tuhan menguji kadar keseriusan manusia lewat sesuatu yang menyakitkan. Tapi aku masih percaya, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Kamu juga percaya kan?

Thursday, January 9, 2014

Kembali Asing Setelah Mati Suri


Ah, aku masih bisa merasakan betapa sakitnya tulang rusukku. Betapa hinanya aku malam tadi. Betapa hancurnya aku dibuat seperti mati suri.

Mungkin, bukan hanya aku yang terluka. Kamu juga. Tapi kalau luka bisa membuat semuamu mendewasa, aku bahkan siap ditikam berkali-kali dengan hujatan. Sebab terkadang, kita memang perlu diperingatkan dengan keras agar kembali sadar ... boleh jadi, Tuhan menguji seberapa kuat aku bertahan melawan amarahku sendiri. Atau seberapa kuat keinginan untuk bangkit kembali. Sebab aku begitu percaya, setelah air mata pasti Tuhan selipkan senyum yang lebih berbahagia.


Aku masih bisa mengingatnya, pesan singkat yang sengaja kusimpan rapi. Yang kali itu kujadikan motivasi ketika aku mulai lelah, mulai marah, mulai merasakan sesuatu menyesak di dada.

Kamu berhak memilih dan memutuskan siapa yang pantas bersanding denganmu. Tapi ingat, ketika sudah kauputuskan, jangan pernah menyesal apalagi meninggalkannya jika ia punya salah dan kurang ... genapi dia, lengkapi dia, dan perbaikilah bersamanya.

Tuesday, December 31, 2013

Cermin(ku)



Boleh, aku bercerita sebelum kututup dengan catatan akhir tahun? Sedikit saja, soal hatiku yang terus saja mengeja kata rindu padahal setiap hari bertemu. Apa sebenarnya yang memikat darimu? Mungkin, aku tak butuh sesuatu yang membuatku terpikat, sebab berkali-kali kulihat, kulekati lakumu, aku selalu saja bertanya, apa seperti itu diriku?

Pernah aku tercenung sendiri, aku seperti penonton yang menunggu-nunggu tirai teateryang masih tertutup itu dibuka dan menyaksikan apa yang kunanti-nanti. Drama dengan ending yang memukau.

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku membayangkan ada seseorang yang membawaku keliling Kota Yogyakarta. Sederhana saja, aku hanya ingin memutarinya bersama entah siapa. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu....

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku menginginkan ada seseorang yang mengajakku mencumbu alam. Menciumi embun yang jatuh membasahi dedaunan, memeluk udara dalam-dalam, merasakan betapa nikmat Tuhan begitu menyuguhkan ketenangan. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu....

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku mendambakan seseorang yang memberitahuku betapa dunia nyata begitu nikmat untuk kusantapi bersamanya. Bukan aku yang melulu pada maya. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu....

Dulu, ah, tidak, sering kali aku bertanya. Apa aku tak mau mencicipi rasanya menjadi wanita yang begitu takut kehilangan orang yang ia cintai? Apa betul, aku tak tertarik menjadi wanita yang selalu ingin tahu keadaan seseorang yang penting baginya? Apa hanya akan terus menjadi wanita yang acuh-tak-acuh pada cinta hanya sebab begitu mudah baginya menunjuk yang baru. Tapi yang lebih membuatku takut dan menuliskan satu tanda tanya besar : Apa tidak ada seseorang yang bisa membuatku merasa bergantung padanya, membutuhkan bantuannya untuk menelan rindu bersama, atau mengeja lelah lalu merebah di bahunya. Apa tak ada yang bisa membuatku merasa harus menjadi wanita seperti pada umumnya, bukan yang bisa melakukan segalanya dengan dirinya sendiri. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu....

Dulu, ah, tidak, sering kali aku berdoa menemui sosok seperti ayah dalam diri seseorang. Seseorang yang akan menggantikan peran ayah nantinya. Seseorang yang layak kuhormati, kuikuti jejaknya, kurapalkan doa-doa untuknya. Seseorang yang bisa menjadi siapapun dalam waktu apapun. Bukankah pasangan yang baik adalah yang bisa menjadi sahabat, guru, kekasih, dan bisa menempatkan diri dalam berbagai situasi. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu....

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku berkhayal bisa membelah diri. Lalu kupacari diriku sendiri, sebab tak pernah kujumpai jemari yang begitu pas kecuali jariku sendiri. Bukankah tak ada yang bisa memahami kita, kecuali kita sendiri? Bukankah sebaik-baik pendengar adalah telingamu sendiri? Jadi, aku ingin membersamai diriku sendiri. Aku yang begitu sulit dipahami, aku yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, aku yang meletakkan harga diri di tingkat paling tinggi, aku yang katanya wanita tapi lebih sering mengisyaratkan hati dengan logika bukan perasaan, dan segalaku yang tak kan pernah bisa begitu mudah didalami. Jadi, kupikir, begitu mengasyikkan jika aku membersamai diriku sendiri. Kupikir tak kan pernah terjadi, sebelummu....


Menjadi seperti anak kecil itu mengasyikkan, bukan?

Mungkin, setiap tulisankuyang katanyamenjadi satu celah inspirasi bagi para pembaca setiaku, membuat sebagian orang berpikir ini-itu soal diriku. Tapi denganmu, seperti yang pernah kukatakan sebelum hari ini ... biarkan aku menjadi diriku yang lain, yang hanya bisa kuubah saat sedang bersamamu. Aku yang terlihat angkuh, tapi ternyata begitu rapuh. Pola pikir yang bijak tapi ternyata begitu sulit memecahkan masalahnya sendiri. Langkahku yang begitu kokoh, tapi ternyata jejaknya begitu lelah. Senyum yang berjejer rapi tapi ternyata menawan tetes air mata di pipi. Semua itu, aku yakin terkadang kamu pun merasakannya. Dan jadilah apa yang kau mau di hadapku sebab aku tahu betapa lelahnya menjaga figurmu. Bersamaku, kamu bebas menjadi semaumu.

Setuju?




311213~Coba tanyakan lagi pada dirimu, Sayang. Mengapa aku begitu mudah memaklumi lakumu? Sebab aku pernah berada di posisimu. Sebab aku pernah menjadi semuamu. Aku pernah.

Wednesday, December 11, 2013

Kau; Jadilah Teman Hidupku


Apa berlebihan bila aku merindumu setiap waktu?


Baru sehari aku tanpamu, sudah merasa jadi orang yang paling awam soalmu. Jujur saja, aku justru takut jadi pecandumu. Aku begitu takut tak bersinggungan dengan pelukmu. Aku tahu, Aku betul-betu tahu sedalam apa aku jatuh di sudut hatimu. Di sana, aku tak bisa bertahan sendirian. Aku yang tiba-tiba jadi begitu lemah tanpa genggammu, aku yang jadi lelah bila melangkah tak di jejakmu.


Ternyata ada rindu yang datangnya setiap hari; ingin denganmu setiap waktu. Lalu dengan cara apa lagi melunasinya, sebab pun kuhabiskan seharian bersamamu tak juga membuat rindunya luruh dalam ruang yang sama. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa berjarak, sedang renjana mengutuk purnama bila tak terang di rengkuhku. Ah, lalu bagaimana caranya aku mengisi sepi saat diam-diam kau menggeser langkahmu menjauhiku. Untuk alasan apapun, Sayang ... jangan menoleh ke arah manapun kecuali kembali menatapku.

www.fasihrr.tumblr.com

Monday, November 25, 2013

Jaga Kita Sampai Nanti, Sampai Mati


Jadi, aku hanya perlu bukti bahwa kau tetap di sini, menetap di hati. Sampai segalanya Tuhan sendiri yang menghabisi. Sebab kita sudah membuat janji, tak 'kan pernah saling melepaskan genggam kecuali Tuhan sendiri yang menginginkannya.

Kalau ada ketakutan dalam hatiku, mengintip melalui celah-celah masa lampau. Kau tahu, Sayang? Hanya sebab aku merasa begitu takut membuatmu merindukan yang selain aku. Bukan aku meragukan cintamu, hanya saja, terkadang aku jadi begitu manusiawi. Menginginkanmu selalu berada di sini, padahal, katamu, kau hanyalah manusia yang seharusnya kugantungkan semua harapan bukan padamu kan? Tapi pada Tuhan yang menggenggam takdir untukku. Maaf, jika aku telanjur mengindahkan mimpi-mimpiku di sampingmu. Maaf, jika aku salah meletakkan semua beban di pundakmu, lalu kamu merasa berat karena itu....

Ingin rasanya memelukmu agar kau tahu betapa kau tak perlu khawatirkan apapun sebab apapun yang terjadi aku ada di sekitar hatimu. Sebab sesulit apapun denganmu, aku tak 'kan mungkin begitu saja pergi meninggalkanmu.

Tuesday, July 2, 2013

Surat Izin Jatuh Cinta

Aku bagai trobadur yang jadi pecandu lagu asmara. Ah, kamu menyebar serbuk nebula dalam titik khayal tertinggi. Aku benar-benar dalam batas ekuilibrium. Rasanya ingin menghentikan jarum waktu. Berlama-lama dalam euforia, merasakan febulasi yang berangsur-angsur menjadi enigma.


Mendesak Tuhan segera memberitahu rencana terhebatnya, sebenarnya aku ini teruntuk siapa?

Indolensi mengejawantah jadi dogma yang tak bisa diganggu gugat. Angan-angan yang katanya wajib menjadi agunan di masa depan. Tentu saja, hati tak sudi sekadar tetirah dalam kuasi. Ingin abid di dalamnya. Kau dan aku yang selamanya bukan lagi sebuah wacana.

Begitu seharusnya kita saling memperjuangkan ikatan lewat akad yang tak berkesudahan. Hidup berkelanjutan dalam pendopo sampai lanjut usia; sampai habis masa jabatan. Lalu mengisahkan fragmen cerita cinta pada anak cucu kita. Sebagai patrinomium yang tak ternilai harganya.


Aku bukan hanya sekadar berimaji. Melantur kesana-kemari. Membicarakan jemari yang saling berpautan saling mengisi. Padahal nyatanya aku masih juga sendiri. Siapa bilang aku menutup hati? Aku hanya sedang mawas diri. Berjaga-jaga jangan sampai melanggar inhibisi.

Hanya tak ada yang sanggup mendengar lirihnya doaku yang berharap kau memang terlahir untukku. Pun aku tercipta untuk melengkapi rusukmu.

Wednesday, June 26, 2013

Sophisticated; Friksi dalam Hati


Desakan dalam dada, katanya ingin cinta pergi saja. Tapi rupanya bagi hati, cinta adalah bonanza.

Kali ini aku takut kaumengerat apa yang belum boleh kuinjak. Aku takut perasaan yang memenuhi ruang di jiwa ternyata galat semata. Padahal serebrum sudah mati-matian mengatrisi perasaan yang mulai agitasi. Konvensi yang tak pernah jadi kesepakatan antara kau dan aku, ternyata bertemu dalam ekamatra.

Ah, betapa ramai sekali di hati menjabarkan esensi. Mengelaborasi satuan rasa yang membelah diri. Apa tidak salah menyerahkan naluri pada intuisi yang belum tentu tepat bidik? Apa pantas membiarkannya terus berkeliaran? Sedang aku tahu betul ada yang sedang membelungsing. Tak henti menginsinuasi gerak hati.

tweet me on @fasihrdn
Lalu dengan takzim aku memintanya undur diri dari sini; evokasi yang mulai membuatku takut sendiri. Kalau-kalau yang berani menelusup hati ternyata sekadar imitasi. Eklektik; masih memilih sana-sini. Atau barangkali, nomadik; berpindah kesana-kemari.

Sudah kutanyakan ini berkali-kali, tapi tak juga menghasilkan konklusi. Sebab sepertinya suatu hal yang muskil, mengeksekusi paksa rasa yang genjah; begitu mudah menyebar. Yang orang bilang itu cinta. Apa mungkin begitu saja akan abdikasi dari hati. Apa mungkin?


Thursday, June 13, 2013

Kunamai Kau dengan Rindu



Satu. Rindu. Cuma itu.

Kamu pun tak perlu tahu seberapa sering aku menyimpan rindu untukmu dan aku mulai gelisah karena itu. Bagiku ini hanya soal waktu yang belum berpihak padaku. Belum saatnya membagi resah berdua denganmu. Tak perlu risaukan aku, ini memang hanya soal rindu.

Satu. Rindu. Dan terus saja begitu.

Seperti barisan kata yang sederhana untuk kamu baca, ini memang hanya sebab aku merindukan apa yang sudah lama kutahan sendirian. Entah salah atau benar, aku tetap saja merasa rindu itu kian hebat berakrobat. Sepertinya jadi ngilu waktu aku hanya bisa berucap rindu pada hatiku tanpa kamu dengar betapa melengkingnya di telingaku.

Apa rindu tak meraung-raung di telingamu?

Satu. Rindu. Aku menunggumu.

Lama-lama jadi siksa. Tapi tetap hanya bisa kutahan mati-matian. Sebab aku enggan mengganggumu. Kecuali menunggu, aku hanya bisa melihatmu dalam bayang-bayang yang kuciptakan sendiri. Siapa bilang menunggu itu membosankan? Menunggumu akan selalu jadi hal yang menyenangkan. Terkadang aku ingin menjemputmu, ah, aku ini siapa?


Monday, May 20, 2013

Cinta, Tunggulah Sebentar Lagi


Cinta. Aku tahu kau sudah bosan melumatnya. Membaca kalimat yang itu-itu saja. Tapi mereka yang membenci cinta hanya ada dua alasan yang masuk akal: Ia tak pernah merasakan cinta, atau ia terlalu sering merasakannya. Dan aku tak perlu tahu kau termasuk yang mana.

Cinta. Kau mungkin sedang jatuh di dalamnya. Mungkin juga baru saja dipatahkan olehnya. Kita tak pernah tahu kapan rasa itu bermula, tak pernah mengira di mana bertemu, dan bagaimana bisa begitu cepat tumbuh dan merangsuk makin dalam. Kita tak pernah diberitahu, kita tak pernah diberi peringatan untuk menamainya cinta.

Cinta. Itukah kamu? Itukah kamu yang kupandangi dari jauh. Itukah kamu yang kudengar padahal kau tak berbicara apa-apa. Itukah kamu yang aku tak tahu seperti apa bentuknya. Itukah kamu yang akan jadi jawaban dari segala tanda tanya?

follow me @fasihrdn

Cinta. Aku tak pernah berani menyebut apa yang menggelitik ini dengan sebutan sakral. Kita hanya bisa merasakan tanpa perlu pernyataan. Rindu yang tentu saja teruntuk kamu, apa perlu kuyakinkan kembali?

Monday, April 29, 2013

Kepada Hati; Bersabarlah Menanti


Apa tak ingin kau tanyakan, mengapa jatuh cintaku kali ini tak menghias sembilu? Tak tampak seantusias biasanya? Sebab aku enggan membangatkan apa yang belum jadi keputusan Tuhan.

Apa tak bisa kau dengar? Dung, degung, dekung, debung suara jantungku. Apa tak berdesing di telingamu? Cungap-cangip mulutku mengap-mengap. Lagi-lagi untuk menahan yang bercadung makin dalam. Semakin dalam....

Tapi bukankah sebaiknya kita tetap dalam keadaan diam? Sampai belambang mengikat kuat. Tak perlu mengungkat perkara; soal kau dan aku yang sama-sama sedang jatuh pada satu peraduan. Sebab barangkali, Tuhan sedang menguji kesabaran kan?


follow me @fasihrdn
Aku tahu kau tak akan mengasungku; menghasut mengikuti galur lekukmu yang mungkin saja kuikuti kemana pun arahmu melaju. Tapi kau tak kan mengunggut sesuatu yang belum boleh kau pungut bukan? Aku tahu betul kau bukan semacam cecunguk yang liar bermain tanpa aturan Tuhan. Dalam cinta, ada juga tahapan alur dan tatanannya. Semestinya kau dan aku tahu itu.

Monday, April 22, 2013

Teruntuk Kamu; Lelakiku di Masa Depan


Kali ini Tuhan menjatuhkan cinta lewat sederet bahasa yang diam. Aku terperangah. Bingung, mau tersenyum atau menangis. Dan ternyata keduanya bebarengan menghias rupa. Di depan layar yang selalu membuatku meluncurkan nyanyian tanpa nada. Tapi berirama sama seperti bahagia. Hanya saja kau tak kan bisa melihatnya dengan kasatmata. Sebab bahagiaku ini jatuh tetes lewat air mata.

Ini cinta yang tak perlu jemari untuk menggenggamnya. Ini cinta yang tak meminta lengan memeluknya. Ini cinta yang tak menggunakan mata untuk menatap setiap gerak-geriknya. Ini cinta yang tak membuka mulut untuk menyuarakannya. Ini cinta yang tak menjanjikan ikatan selamanya. Sebab ini cinta yang merindu lewat doa. Ini cinta yang menunggu Tuhan menyatukannya. Ini cinta?


Sunday, March 31, 2013

Jangan Menunda Kebahagiaan!


Remaja di era globalisasi ternyata krisis rasa syukur.

Bahwa salah satu cara menempuh kebahagiaan adalah dengan memperkuat iman. Dan bersyukur sebenarnya suatu yang sederhana namun sangat sulit dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Jangankan anak muda yang masih dalam proses pencarian jati diri, yang sudah hidup berpuluh-puluh tahun saja mungkin masih banyak yang belum bisa menikmati kehidupannya.



Di sini saya bukan mau menasihati apalagi menggurui. Saya hanya akan berbagi. Saya mengingatkan kamu dan terutama diri sendiri. Untuk terus menikmati apa yang kita punya bukan menjadi yang selalu meratapi kesulitan yang kita punya. Hakikat kehidupan di dunia memang selalu bertemu dengan kesulitan yang datangnya dari Tuhan, mana ada yang sempurna?




Kamu tak akan pernah tahu apa itu bahagia sebelum kamu berhenti merasa kehidupan orang lain jauh lebih indah.

Tuesday, March 26, 2013

Cinta Titipan Tuhan


Postingan kali ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pembaca, dan teman-teman beberapa bulan terakhir. Waktu saya gencar menulis pernyataan bahwa saya memutuskan untuk tidak lagi menjalin hubungan kecuali sebuah pernikahan (nanti). Kalau cinta tiba-tiba datang bukan keinginan saya, dan tidak akan saya tepis dari hati, tapi suatu hubungan seperti pacaran tetap tidak akan saya lakoni. Sebab yang bisa disebut pria hanya dia yang sudah siap menikahi :)


Karena seharusnya cinta yang sejati diletakkan di tempat yang suci. Menyatu karena Tuhan, dan dipererat oleh iman. 
Bukan hal mudah membiarkan hati berkelana sendiri. Aku hanya bisa mengendalikan diri, tapi urusan hati hanya Tuhan Sang Maha Pengendali. Aku hanya bisa menahan hati untuk tidak memiliki apa yang belum menjadi hak yang direstui. Aku hanya mencoba bertahan dengan senyum yang tiada henti meski luka kerap mampir kemari. 
Sebab kamu datang membawa kunci yang kubuang di tengah lautan. Mengapa bisa kau temukan? Apa mungkin Tuhan yang memberikan? 

Sunday, March 24, 2013

Apa Ada yang Lebih Setia dari Tuhan?


Aku menghelanya. Merasakan angin menyelap tulangku. Menikmati angin yang menembus ruas-ruas dalam rusukku. Terus menghela dengan mata terpejam dalam lengkungan di bibirku. Aku bisa merasakan urat-urat dalam bibirku seperti tertarik, tulang rusuk yang naik turun dan hati yang menemukan kebahagiaan yang begitu sederhana. Kenikmatan yang jarang tersentuh selama ini, merasakan yang tak perlu kucari. Yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma untuk manusia. Udara.

Aku memandanginya. Merasakan sesuatu yang runcing jatuh tepat di mataku. Mendesirkan segala gundah yang makin merangah. Aku meliarkan pandangan, mencari-cari pasangannya. Di mana ia bersembunyi; satuan yang lain. Tak bisa lepas menghitung berapa banyak lapisannya mewarnai setiap gerak bola mata. Menggenapkan jingga dengan senjanya. Analogi kebaikan yang selalu ada di balik suatu keburukan. Hanya kadang tak menampakkan dirinya. Seperti kegagalan yang selalu satu paket dengan keberhasilan, atau selagu kepedihan dengan tawanya. Hujan dan pelangi.

Aku menyekanya. Mengusap dengan jemari-jemari yang makin terlihat rapuh dalam peluh yang terus jatuh. Merasakan bahuku naik-turun tanpa lelah. Tubuhku terguncang semakin hebat, napas panjang bahkan tak bisa menghentikannya. Lalu aku memeluknya, tersenyum untuk kesekian kalinya. Merasakan kedahsyatan nikmat Tuhan. Yang selama ini dianggap simbol kelemahan, ternyata justru menjadi penguat terakhir yang selalu membuatku bisa berdiri saat keadaan memaksaku untuk terus jatuh. Air mata.
Aku menggumam. Terus tanpa putus, aku berbincang dengan-Nya. Membicarakan banyak hal yang tak bisa kuceritakan pada siapa saja. Aku memang tak pernah melihat, tak bisa mendengar suara-suara menggema melalui telinga. Tapi aku selalu menemukan sosok-Nya di setiap langkah dalam hentakan kakiku. Aku tak perlu bertanya di mana Dia berada, aku tak pernah meragukan sedikit pun tentang cinta-Nya. Yang setia terjaga untukku, yang merasakan kesedihan meski disembunyikan di tempat paling dalam. Yang sering dilupakan sebab tak tampak kasatmata, padahal justru yang paling nyata adanya. Tuhan.

Saat bingung kemana mesti melangkah, kakiku melangkah ke rumah Tuhan. Saat tidak tahu lagi mesti berbicara pada siapa, aku berdoa pada Tuhan. Mungkin kalau satu detik saja Tuhan menjauhkan jarak, aku hilang. Aku bisa saja berjalan sendirian tanpa iringan, aku bisa saja merasakan tanpa suatu sentuhan. Tapi siapa yang bisa bertahan tanpa bantuan Tuhan?

Sunday, December 23, 2012

Mempelajari Cinta Tuhan

Entah apa itu jati diri, entah apa yang dicari dari jati diri. Entah siapa dia, seperti apa sosoknya. Masa muda adalah masa yang paling mudah terombang-ambing. Bisa dibilang masa muda adalah yang paling kritis, kalau berhasil melewati masa kritis maka akan menemukan banyak kebahagiaan yang tak terduga. Tapi ternyata tak semudah menularkan gerak bibir saat menguap, tidak semudah menyusun abjad-abjad menjadi kalimat yang indah untuk dibaca. Dan siapa yang mau terluka lebih lama lagi? Aku salah satu yang tidak ingin menyesal nantinya, bukan yang ingin jatuh lebih dalam di kemudian hari. Ketahuilah, keputusan ini bukan yang mudah bahkan sekadar untuk kuyakini kebenarannya. Tapi siapa sangka, tanpa janji yang bermula lewat kata, ternyata aku sudah memasuki zona yang tadinya bukan suatu rencana. Mempelajari cinta Tuhan.

"Memilih untuk sendiri bukan hal yang mudah untuk orang yang kerap bersandingan dengan cinta di sekitarnya."

"Butuh proses dengan jangka waktu yang tidak singkat untuk melangkah baja, sendiri saja."

Terkadang aku harus keras pada mereka yang menginginkan cinta dari seorang wanita. Sedikit saja aku membuka jalan, maka cinta tak akan pernah mau pulang. Bahkan terkadang harus mengorbankan sedikit keramahan hanya agar tidak terjadi kesalahpahaman. Kali ini, aku hanya membuka pelukan untuk persahabatan dan sebanyak-banyaknya teman. Ada yang menghargai, ada pula yang mencaci. Ada yang menggunjing, ada pula yang memuji.

"Bukan salahmu mencintaiku. Hanya aku saja yang sudah terlanjur tenang dengan kesendirianku."

Mengapa?

Friday, December 14, 2012

About Your Ex!

Kali ini (@fasihrdn) cuma mau curhat-curhat biasa aja, nggak pake unsur sastra di dalamnya.

Tentang mantan, apa sih mantan itu? Eh, siapa(?)  Mantan itu seseorang yang "pernah" jadi "sesuatu" di hidup kita. Kita fokuskan pada bentuk yang seperti mantan istri, mantan suami, mantan kekasih. Coba deh, aku mau mengurai definisi "mantan" yang barusan.

Mantan adalah seseorang yang pernah menjadi sesuatu di hidup kita.

Seseorang yang pernah menjadi sesuatu? Bisa diartikan "Siapa" yang pernah menjadi "Apa"(?) #NJLIMET! Yang jelas mantan itu bukti otentik bahwa kita pernah gagal menjalin suatu hubungan. 

Saturday, November 3, 2012

Menggantung Rindu



Aku mau kau tak memaku sembilu
sakit di dadamu itu mengendapkan pilu
Kau tahu?
degupmu dalam debar seperti sukar
menghela dengan sengal tak beraturan
lalu begitu rasa ku sakit mengulum rindu

Apa yang sebenarnya membuatmu tetap kekeuh
menyapa dalam kebisuan
Yang kau redam kadang justru jadi yang paling nampak di permukaan