Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label kata cinta. Show all posts
Showing posts with label kata cinta. Show all posts

Monday, October 13, 2014

Ajari Aku Membahagiakan Kita


Salah.
Kalau aku mengira dengan cinta, kau akan begitu saja percaya.
Lalu berbahagia.

Salah.
Kalau aku berpikir dengan setiaku, kau akan begitu saja percaya.
Lalu berbahagia.

Salah.
Kalau aku merasa dengan kesalahan masa silam, kau tak bisa begitu saja kupercaya.
Lalu tak pernah berbahagia.

more quote www.fasihrdn.tumblr.com
Sudah sejauh ini, Sayang. Tapi ragu masih kerap lalu-lalang di antara kau dan aku. Sebab yang itu-itu lagi: masa lalumu, atau lakuku yang bagimu ternyata pilu. Aku lupa, kapan terakhir aku merajuk. Ingatkah kapan terakhir kali kau tiba-tiba diam dan aku pulang dengan kita yang terlibat dalam prasangka. Kita yang menyimpan amarah. Kita yang menyembunyikan kecemburuan, atau kita yang tetiba jadi saling mengasing.

Tak bahagiakah denganku, Sayang?

Thursday, June 13, 2013

Kunamai Kau dengan Rindu



Satu. Rindu. Cuma itu.

Kamu pun tak perlu tahu seberapa sering aku menyimpan rindu untukmu dan aku mulai gelisah karena itu. Bagiku ini hanya soal waktu yang belum berpihak padaku. Belum saatnya membagi resah berdua denganmu. Tak perlu risaukan aku, ini memang hanya soal rindu.

Satu. Rindu. Dan terus saja begitu.

Seperti barisan kata yang sederhana untuk kamu baca, ini memang hanya sebab aku merindukan apa yang sudah lama kutahan sendirian. Entah salah atau benar, aku tetap saja merasa rindu itu kian hebat berakrobat. Sepertinya jadi ngilu waktu aku hanya bisa berucap rindu pada hatiku tanpa kamu dengar betapa melengkingnya di telingaku.

Apa rindu tak meraung-raung di telingamu?

Satu. Rindu. Aku menunggumu.

Lama-lama jadi siksa. Tapi tetap hanya bisa kutahan mati-matian. Sebab aku enggan mengganggumu. Kecuali menunggu, aku hanya bisa melihatmu dalam bayang-bayang yang kuciptakan sendiri. Siapa bilang menunggu itu membosankan? Menunggumu akan selalu jadi hal yang menyenangkan. Terkadang aku ingin menjemputmu, ah, aku ini siapa?


Monday, May 20, 2013

Cinta, Tunggulah Sebentar Lagi


Cinta. Aku tahu kau sudah bosan melumatnya. Membaca kalimat yang itu-itu saja. Tapi mereka yang membenci cinta hanya ada dua alasan yang masuk akal: Ia tak pernah merasakan cinta, atau ia terlalu sering merasakannya. Dan aku tak perlu tahu kau termasuk yang mana.

Cinta. Kau mungkin sedang jatuh di dalamnya. Mungkin juga baru saja dipatahkan olehnya. Kita tak pernah tahu kapan rasa itu bermula, tak pernah mengira di mana bertemu, dan bagaimana bisa begitu cepat tumbuh dan merangsuk makin dalam. Kita tak pernah diberitahu, kita tak pernah diberi peringatan untuk menamainya cinta.

Cinta. Itukah kamu? Itukah kamu yang kupandangi dari jauh. Itukah kamu yang kudengar padahal kau tak berbicara apa-apa. Itukah kamu yang aku tak tahu seperti apa bentuknya. Itukah kamu yang akan jadi jawaban dari segala tanda tanya?

follow me @fasihrdn

Cinta. Aku tak pernah berani menyebut apa yang menggelitik ini dengan sebutan sakral. Kita hanya bisa merasakan tanpa perlu pernyataan. Rindu yang tentu saja teruntuk kamu, apa perlu kuyakinkan kembali?

Sunday, November 11, 2012

Delusi (Part I)




            Pada kaki-kaki langit, aku menatap di balik jaring-jaring penghalang. Duduk menjuntai dengan bola mata yang mondar-mandir mencari muara. Penghalang besi yang tidak bisa ku tembus meski sudah ratusan kali ku pukul dengan palu besar. Maka begini saja, caraku melihat rintik hujan yang meruncing. Menjatuhkan ujungnya pada tanah yang mulai basah. Beberapa menit kemudaian warna ungu menggenapi riasannya sendiri. Senyumku pecah, aku selalu suka saat jingga menyuguhkan warna baru di tengah-tengahnya. Pelangi.
            Masih lekat dengan sosok yang melangkahkan kaki pada tarian dengan gerak sunyi di bawah guyuran hujan. Melambai lemah gemulai, dengan decak-decak di atas dedaunan yang gugur lebih dulu. Desir angin menyempurnakan melodi yang sedari tadi meniupkan alunan di antara awan-awan hitam yang tampak mulai terang. Gerakannya mulai diperlambat memutari kerikil-kerikil yang sepertinya sengaja sudah di susun rapi. Menapak pada raut muka seorang yang lain, meneteskan gelombang pada butiran hujan yang terlambat datang.
            “Awas, ada petir! Jangan terlalu jauh.”
            Samar-samar ada suara yang menggema. Jari-jari kecil itu membalikkan derap langkahnya, menuju sisa-sisa suara tadi. Gigi-giginya yang berantakan sudah gemetar menggigit bibirnya sendiri. Kedinginan.
            “….”
            Tak terdengar. Saking derasnya butiran air yang tumpah ruah. Aku mencoba menengok lebih dalam, merapatkan gendang telinga agar bisa mendengar jeritan yang melengking terlalu keras. Justru tak terdengar apa-apa.
            “….”
            “Ha?”
            Aku terkesiap, jelaga mengabutkan pandangan yang susah payah ku intai dari sela-sela semak. Gagap gelagapan, berantakan.
            ***
            Lekuk tubuh “gitar spanyol” dalam cermin berkanvas emas. Bulu mata lentik, dipercantik riasan eye shadow berwarna dark silver. Gaun dengan warna senada dilengkapi berlian melingkar di leher panjang dipenuhi sparkle berwarna keemasan, wanita dengan rambut hitam panjang tergerai.
            “Sempurna!”
            Aku tersenyum. Siapa yang tidak terpesona melihat keanggunan seorang wanita bermata coklat keemasan. Lelaki mana yang tak tergoda dengan aroma vanilla di sekujur tubuh langsing dengan senyum di sepanjang bibir merahnya. Sempurna.
            Malam dengan lampu-lampu terang di sepanjang jalan setapak. Melangkah dengan keangkuhan yang tersembunyi di balik sederet senyum manis yang memusatkan setiap sudut pandang. Karpet merah terlihat lebih meriah, di lalui d’orsay dengan bunga berwarna putih menutupi mata kaki seorang putri yang melambaikan tangannya pada rupa-rupa manusia yang haus akan keindahan.
            “Terimakasih,” kataku lembut pada seorang pria dengan tuxedo jacket berwarna putih yang memberanikan diri memberi satu bucket mawar merah.
            Malam dengan sederet pujian panjang, sebelum kembali datang hujan. Aku kembali, duduk berjuntai. Kali ini dengan cemilan yang baru saja ku beli di mini market dekat rumah. Ada bintang yang sedang bersapaan dengan bulan. Lalu yang lain bersenda-gurau membarengi dentang jam yang berbunyi setiap satu jam sekali. Musik klasik sedari tadi menghasilkan bunyi-bunyian berirama andante, padahal biolanya tak berdawai. Bagaimana mungkin bisa mencipta suara yang mengelok di telinga?
            Aku menuju ruang tengah. Duduk di tepi ruangan, aku memang lebih suka menepi. Ada jemari-jemari lembut yang membelai wajah satu sama lain. Tangan yang lain saling erat menggenggam dalam dekapan. Pelukan panjang yang hanya bisa ku rasakan dengan mata yang memandang, meliar sendirian.
            Sebegitu kejamnya kehidupan sampai tak mengijinkan aku yang berada di sana. Seperti mereka yang sedang bermesraan dengan alasan yang sama, cinta. Aku masih memperhatikan, dua anak adam yang meredam bahasa. Cukup dengan satu tatap mata saja semua juga paham. Ada cinta yang meraung-raung di antaranya. Bahagia, seperti tak lagi peduli ada masalah-masalah besar di luar sana. Tak peduli lagi petir menyambar-nyambar. Sudah larut malam, bukankah seharusnya segera pulang?

Tuesday, October 30, 2012

Untuk Seseorang; dalam Bayang-Bayang


Suara merdu menderang, aku bernyanyi sembarang. Hanya sekadar ingin kamu senang. Seperti kamu yang selalu membuatku jadi semakin tenang saat matahari sudah mulai berenang, nyaris tenggelam sampai petang menjelang. Meski benang merah masih saja kusut, berurut menyulut ragu dalam katup mulut. Tapi setidaknya, hari ini untukmu. Setidaknya untuk hari ini.....

Aku masih serupa kemarin, seperti kemarinnya lagi. Masih menanti di sini. Duduk berjuntai berlayar mendengar derai ombak pantai yang bercerai. Dalam bayang petang, aku ingat ada yang datang menjelang. Bagai terompah kuda yang pijar, kau pangeran dari istana negeri dongeng yang memeluk resah dalam gemetar. Melewati sekelebat sunyi, terusik riak senyummu yang membuai. Burung kecil yang menunggu-nunggu induknya kembali dari balik fajar. Tak akan lengah menanti yang tak pasti.

Begitu hari ini, semua tetap jadi yang paling kau nanti. Menyibak hati, mengintip dari balik sanubari. Kalimatku ini bukan sembarang baid dalam sepi. Abjadku ini bukan prasasti yang untuk disusun dalam lemari. Sebab setiap malam berganti, cintaku mendaki dalam sunyi. Mendoa tak henti-henti, untuk hari ini sampai nanti. Sebab kata-kata telah habis terurai, yang paling suci akan terus kujaga dalam air mata di waktu bersunyi. 

Bukan untuk menangisi, tapi membingkai lelahmu yang mungkin saja sering melambai-lambai terkulai. Hey, kemarilah mendekat dalam dekap! Sebab hangat memang datang saat senja mulai senyap. Sudah lama sekali rasanya, kau bercampur hibur dalam tidur; bunga tidur. Di setiap malam dalam mimpiku, kau berjalan melembur. Begitu sepertinya cinta mulai bertabur menghambur. 

Sudah lama sekali rasanya, kau membisu dalam khayalku. Sudah lama ya, digenggam tanganmu seperti nyata di bawah bulan purnama. Sayang, lihatlah!

Wednesday, October 3, 2012

Mengeja Nama yang Sama, Luka.


Kita saling menularkan rasa. Kita saling menggenapkan hampa. Kita jujur tetapi saling menutupi. Tanpa aku dan kamu sadari, sebenarnya kita saling menyakiti. 

Senja menjelma belantara porakporanda. Selalu bermuara pada air mata yang menyeka abjad luka. Aroma duka menyengat, meraba dusta pesona yang tak juga mereda. Kau membuatku melalang buana, mengembara pendar yang masih saja samar-samar.

Lalu bimbang pulang mengulang-ulang lagi sajaknya. Aku yang masih saja bersandiwara seolah semua baik-baik saja. Menggunakan bahasa yang tak ada bedanya dengan kemarin lusa. Meski kadang kosong menerobos masuk dalam lorong-lorong, mengembangkan sendiri ceritanya. Kisah tanpa tepian.

Ternyata cinta juga bisa jadi garang. Menyerang bagian terdalam ketulusan. Terkadang jadi rancu membisu. Kalau saja bisa, aku mau berhenti bergantung pada lengkung yang tak kunjung bersenandung. Yang ada aku justru tersandung, terasing merenung bersamaan dengan luka yang melambung.

Aku benci pada mendung yang menutupi kilat jingga senja kala. Lalu air merintik melelehkan hujan yang sudah lama tertawan. Menyinggung di petang, sesekali mengerang tak tahan merasakan lengang. Aku merasakan gejolak menghantam sepersekian detik lalu terjungkal, menjatuhkan lagi separuh lara yang tersisa. 

Berebut kilau bintang yang sempat temaram. Aku dan kamu seperti sisa-sisa hujan yang bergutasi pada dedaunan. Penuh perjuangan manahan diri agar tidak jatuh menembus bau humus. Berulang kali aku mengadu pada gaduh yang cukup angkuh. Aku lelah menahan gerah yang masih seperti itu-itu saja. 

Berpelik menukik setiap jengkal pita suara. Rasanya ingin ku tumpahkan segala penat yang mulai jadi pekat mencekat. Di bahumu aku menangis tersedu, di pelukmu aku mau begitu.

Sayang, aku bukan yang akan meminta terlalu banyak penjelasan pada rintik hujan. Mengapa meruncing meneteskan kegelisahan. Mengapa menyebabkan peraduan pelangi padahal senja mulai menjelang. Padahal aku melajang tapi kau mengubah rasanya jadi tenang. Seperti sedang berada pada hubungan yang nyatanya hanya akan meremang, terbuang.

Kamu menjadikan waktu sebagai bagian dari alasan yang menyebabkan perpisahan. Padahal aku mengira waktu lah yang menjadi alasan sebuah pertemuan. Maka berhentilah beralasan sebab meninggalkan tak butuh penjelasan seperti cinta yang tiba-tiba datang, tak pernah punya alasan.

follow me @fasihrdn

Sebab sepertinya rima selalu akan mengurai peristiwa yang itu-itu saja. Sajak yang sama, masih menyebutkan nama serupa. Kamu.



031012~Andai menghapus jejakmu semudah menghapus bagian aku dalam dirimu. Andai aku sama sepertimu, mudah berlogika tanpa perlu terluka. Sepertimu, tanpa lara di dada.

Thursday, May 17, 2012

Berhentilah Membual


Lengang belum tentu terasa tenang, karena canda tak selamanya jadi tawa. 

Begitu menyala tak juga membuatnya jadi terang. Terkadang bahkan bicara masih juga tampak begitu hampa. Yang diam pun kadang kala menyapa, yang tampak perkasa hanya di tepiannya saja. Dan ku beritahu, pesona bukan jaminan menjalin asmara yang sempurna. 


Jadi, berhentilah bercerita bahwa kau punya segala yang mendamaikan jiwa. 

Karena terkadang yang terjadi berbeda dari yang sudah terencana. Berhentilah meyakinkan dunia bahwa cintamu selamanya. Sebab di sana ada hal-hal yang tak bisa kau duga sebelumnya. Berhentilah mengeja kata seolah semua akan terus baik-baik saja. 

Thursday, February 23, 2012

Buat Aku Mencintaimu

Memulai sesuatu yang sudah pernah berakhir, rasanya jauh lebih sulit. Mungkin karena pernah sakit. Rasanya seperti membangun lagi apa yang pernah runtuh, bukan hal yang rumit, tapi tidak mudah kan? Dan aku hanya takut, kamu membuatku sedikit salut. Membiarkan semua terbuka perlahan, semua yang nyaris tak bisa merasakan gemetar lagi. Yang sempat gemeretak mati, dimatikan berulang kali. 

Apa sebenarnya, yang kamu mau dariku? Kalau kekalahanku, aku sudah kalah jauh sebelum hari ini. Jangan mendekat, karna aku bisa tau siasatmu. 

Aku memang bukan yang pandai bercinta, juga bukan yang luwes menghubungkan sinyal asmara, seperti dia atau mereka, wanita lain. Tapi hatiku masih sama, bukan tempat untuk dibagi.  Bukan stadion berlari, apalagi boneka barbie.

Aku keras, tak kan lagi mau ditindas. Karena aku takan memberimu kesempatan untuk berdusta, membodohi hatiku dengan yang kamu sebut cinta. Aku diam, bukan karna tak paham. Aku diam ingin lihat siapa kamu, yang mengaku mencintaiku. Siapa yang bisa percaya kalimatmu? Kamu juga laki-laki, pasti sama saja dengan yang lihai membuai, membual!


Lebih baik diam, lakukan saja apa yang ingin kamu katakan. Cukup lakukan, dan biar aku yang merasakan. Siapa dan apa maumu. Cukup pikirkan saja apa yang mesti kamu perbuat, untuk membuatku memilihmu. Memilih untuk mencintaimu.