Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Tuesday, September 11, 2012

Hakikat Perempuan

Kali ini aku murni bener-bener mau curhat. Nggak perlu pakai kata-kata yang dirajut dengan sajak dan rima. Cukup lewat celah-celah rasa. 

Barusan, "mantan" dateng ke rumah. Tepat saat aku baru saja merebahkan tubuh. Pukul 21.40? Sungguh, kekanak-kanakan sekali. Entah polos atau bodoh. Yang jelas itu nilai minus dariku. Dan menjadi salah satu kesalahan terbesarnya. "Tidak Tahu Waktu." Justru menguatkan keputusan untuk mengakhiri suatu hubungan yang menurutku tidak sehat. Aku pikir sudah berkali-kali datang ke rumah (dulu) sampai harus diusir dulu baru mau pulang. Aku rasa kamu terlalu muda untuk menggandeng tanganku. Pikiranmu benar-benar masih sebatas "remaja labil" yang suka hura-hura. 

Alasanmu datang kemari ternyata ingin memastikan apa masih bisa kembali menjalin. Apa aku masih menyimpan secuil cinta untuk kaunikmati. Tapi maaf, aku tegas tak akan memberi celah untuk berharap. Caramu mencintaiku tak sepadan dengan pikiranku yang terlampau jauh ke depan. Aku tak seperti wanita-wanitamu yang lain, yang dulu-dulu. Bukan perempuan yang sekadar ingin memiliki "pacar" untuk dibagi perhatian. Bahkan aku lebih menikmati kesakitan karena sendirian daripada harus terus meladeni hasrat "anak muda" yang kelewat batas. 

Ada tidak ya, lelaki seperti "Rangga" dalam film ada apa dengan cinta? Diamnya membuat wanita "jengkel". Raut angkuhnya mencipta ragu apa benar dia manusia. Tapi jauh dibalik itu, ternyata dia lelaki yang sempurna.  Di mana bisa kutemukan lelaki sejenis itu? Mandiri? Ha-ha cukup, aku bosan berkhayal menemukannya di sini.

Yang aku butuhkn sekarang bukan lagi cinta kanak-kanak. Walaupun belum paham betul apa itu cinta, tapi percayalah aku bagian dari ketulusan. Kamu selalu menuntut banyak hal dan aku masih selalu dianggap kurang pengertian. Kalau begitu, carilah yang lebih mengerti rasa sepi yang merajah dadamu. Kamu bilang kamu kesepian kan?

Kamu "sok" ingin merubah rangah yang merambah ditubuhku. Tapi sayang, tujuanmu bukan benar-benar ingin sifat cuekku memudar demi kebaikanku. Tapi untuk kamu nikmati perubahannya, untuk kamu rasakan, bukan resapi.

Aku ingin berhenti, berganti posisi. Harusnya aku yang diajari cara terbaik berjalan melalui lintasan yang terjal menjungkal. Bukan selalu aku yang berteriak mengingatkan. Mengertilah aku lelah, seharusnya seseorang dipertemukan oleh Tuhan untuk memeluk resah. Aku muak menyanding cinta yang terus-menerus ingin balasan. Mana ada yang sepertiku, merasakan tanpa minta dipedulikan? Atau aku yang kelainan?

Mana ada yang seperti air mataku? Meruncing beriring jerit yang melengking. Sumpah, sekarang ini air mata merembes deras tak tahu waktu. Di mana lelaki-Mu, Tuhan? Seseorang yang datang bukan untuk meminta perhatian, bukan yang memberi untuk sebuah balasan. 

Aku bosan terus-menerus yang mengingatkan. Aku ini bukan wanita kebanyakan. Bukan meminta lelaki yang hanya punya waktu mengurusi kekasihnya. Apa tidak punya pekerjaan lain? Memalukan. Hidup hanya sebatas memikirkan tentang cinta. Bukankah butuh satuan yang lain?

Aku pernah merasakan apa yang kamu jalani saat ini, Sayang. Terpaksa melepaskan seseorang yang masih sangat ingin dipertahankan. Tapi aku perempuan yang tak hanya menggunakan indra perasa, tapi juga logika. Untuk apa mempertahankan yang tidak bisa lagi diperjuangkan? Bukannya jauh lebih sopan merelakan yang kamu cinta untuk menemukan yang jauh lebih sempurna? Ini bukan omong kosong, bahkan aku pernah harus merasakan luka yang datang bertubi-tubi beberapa hari sebelum ulang-tahunku. Diduakan lalu ditinggalkan tanpa alasan yang menguatkan. Tapi aku bukan kamu, hey, para lelaki yang diperbudak oleh rasa sampai-sampai kehilangan logika. Aku membiarkannya pergi dengan seseorang yang mungkin lebih sempurna mencintainya. Aku yang seorang wanita saja bisa, mengapa kamu tidak?

Di mana lelaki yang tahu aturan, yang tak 'kan menjejalkan rasa bosan? Karena aku bisa menjadi yang bermekaran paling indah seperti bunga mawar, tapi bisa berubah serupa duri dalam tangkainya. Aku masih percaya, bahwa Tuhan sudah mengikatkan kehidupan yang penuh kejutan. Aku masih menunggu-nunggu, melihat kesana-kemari. Di mana yang jauh lebih tinggi dari hargaku? Karena aku tak mungkin terus-menerus hidup untuk meluruskan. Sesekali aku ingin juga merasakan diberi ketenangan, diajari caranya bertahan melawan arus kehidupan. 

Sekali lagi aku tegaskan. Jangan coba-coba mencintaiku kalau kamu belum yakin bisa jauh lebih baik dari aku. Bukankah begitu hakikatnya? Wanita mana yang ingin menghabiskan waktunya hanya untuk memperbaiki retakan? Perempuan seperti apa yang mau terus-menerus memberi penjelasan tentang kehidupan. 

Aku juga mau dipertemukan dengan seseorang—yang setidaknya—membarengi langkahku. Bukan yang terus berada di belakangku, minta ditunjukkan jalan menuju Tuhan. Sekali lagi dan berakhir malam ini. Aku berjanji akan berhenti memperbaiki lelaki. Mungkin sudah waktunya aku undur diri dari pekerjaan semacam ini. Sekarang saat yang tepat untuk meminta pada Tuhan, aku benar-benar sudah menjadi perempuan seutuhnya. Yang ingin tuntunan. Yang ditakdirkan mengikuti perintah lelaki. Bukan yang memberi aturan. Aku ini perempuan!

100912~ 23.43

12 komentar:

sitisipp.lovember said...

wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). (QS An Nur:26)

Laki-laki sempurna, mandiri, dan dewasa tentu untuk wanita seperti itu pula bukan?

jangan terlalu banyak menuntut saat diri ini belum dipantaskan untuk mendapatkan yang paling sempurna.

Radiana, Fasih said...

Waduh wakakakakaka malah ceramah. Njeh mbakyu.
Wo ya jelas, timbal balik itu.
Nah, karena saya setiap hari selalu usah untuk meningkatkan kualitas apa salahnya berdoa sama Allah untuk mendapat yang lebih pantas? Siapa yg menuntut di sini?

Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yg lain (wanita).... (QS. 4:34)

jadi apa salahnya meminta lelaki yg lebih dari wanita? :))

Anonymous said...

nice, awesome ! and full of inspirations !
speechless to give more comments.


#just a little advice ; carilah sosok laki2 yg baik(lebih baik). krna, laki2 adalah IMAM bagi wanita.

Radiana, Fasih said...

Ofcourse, thankyou:)))
ini siapa sih-_-
Setuju kan ya sama yang saya tulis? Alhamdulillah:)

Anonymous said...

Setuju sama kak Fasih. Kita kan berdoa, bukannya nuntut. :) Maju terus kakak :)

Radiana, Fasih said...

anonim alhamdulillah, toss :D

Anonymous said...

i like it, u are amazing :D

Radiana, Fasih said...

hemmmm terimakasih apresiasinya:)

Anonymous said...

sip , good . hanya lelaki bodoh yang tega melukai hati wanita yang sudah mengajarkan kebenaran . :) yakin , wanita yg baik pasti akan mendapatkan lelaki yg baik pula :)

Anonymous said...

okey, haha :D

Radiana, Fasih said...

:)

Achmad ridwan said...

emng sih kebanyakan lelaki bgitu tapi g semua lelaki begitu

Post a Comment