Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label bersamamu. Show all posts
Showing posts with label bersamamu. Show all posts

Thursday, June 13, 2013

Kunamai Kau dengan Rindu



Satu. Rindu. Cuma itu.

Kamu pun tak perlu tahu seberapa sering aku menyimpan rindu untukmu dan aku mulai gelisah karena itu. Bagiku ini hanya soal waktu yang belum berpihak padaku. Belum saatnya membagi resah berdua denganmu. Tak perlu risaukan aku, ini memang hanya soal rindu.

Satu. Rindu. Dan terus saja begitu.

Seperti barisan kata yang sederhana untuk kamu baca, ini memang hanya sebab aku merindukan apa yang sudah lama kutahan sendirian. Entah salah atau benar, aku tetap saja merasa rindu itu kian hebat berakrobat. Sepertinya jadi ngilu waktu aku hanya bisa berucap rindu pada hatiku tanpa kamu dengar betapa melengkingnya di telingaku.

Apa rindu tak meraung-raung di telingamu?

Satu. Rindu. Aku menunggumu.

Lama-lama jadi siksa. Tapi tetap hanya bisa kutahan mati-matian. Sebab aku enggan mengganggumu. Kecuali menunggu, aku hanya bisa melihatmu dalam bayang-bayang yang kuciptakan sendiri. Siapa bilang menunggu itu membosankan? Menunggumu akan selalu jadi hal yang menyenangkan. Terkadang aku ingin menjemputmu, ah, aku ini siapa?


Wednesday, June 13, 2012

Tembang Cinta



Aku kehabisan abjad. Mencintaimu menghabiskan kata tanpa sisa. Ibarat mati gaya, aku kehilangan tata bahasa. Memintal rasa rindu yang berulang tertuang pada baid beralur menjuntai. Garis yang tergerai melekatkan cinta yang tegas. Pandanganku terbentur sejurus mata, membuat hening di sekeliling. 

"Aku mencintaimu."

Aku bisa mendengarnya tanpa harus kau katakan dengan gema yang meraung-raung seantero jagad. Aku merasakan getarannya, meski kau tak melingkarkan jemari di kelingkingku. Aku tahu betul kau sudah berjanji pada suci yang tulus menjalar di dinding hatimu.


Aku bukan dabir yang mencatat asprak tentang janjimu yang mencintaiku sepanjang waktu. Sebab aku tak menginginkan rayu nyaring menusuk gendang telingaku. Aku bosan pada bibir luwes yang menggelakkan tipu dengan janji palsu. Aku lebih memilih diam melihat tingkahmu dari arah yang menyebar. Lebih gamblang  menilai seberapa dalam cinta tersemat  di hatimu, yang terkadang masih berdegup meragu di jantungku.

"Aku juga mencintaimu."

Meski tak lincah membaurkan kata di sela tawa, tapi dalam lirih aku menjerit tanpa suara. Aku tenang denganmu di sini. Kau membuatku sibuk mencintai bahkan mereka yang membenciku. Seikat kembang jadi saksi, membingkai nada mencipta tembang asmara. Teruslah berdiri di samping lelahku, sebab aku tegar melekatkan peluk di balik senyummu.