Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Sunday, March 24, 2013

Apa Ada yang Lebih Setia dari Tuhan?


Aku menghelanya. Merasakan angin menyelap tulangku. Menikmati angin yang menembus ruas-ruas dalam rusukku. Terus menghela dengan mata terpejam dalam lengkungan di bibirku. Aku bisa merasakan urat-urat dalam bibirku seperti tertarik, tulang rusuk yang naik turun dan hati yang menemukan kebahagiaan yang begitu sederhana. Kenikmatan yang jarang tersentuh selama ini, merasakan yang tak perlu kucari. Yang diberikan Tuhan secara cuma-cuma untuk manusia. Udara.

Aku memandanginya. Merasakan sesuatu yang runcing jatuh tepat di mataku. Mendesirkan segala gundah yang makin merangah. Aku meliarkan pandangan, mencari-cari pasangannya. Di mana ia bersembunyi; satuan yang lain. Tak bisa lepas menghitung berapa banyak lapisannya mewarnai setiap gerak bola mata. Menggenapkan jingga dengan senjanya. Analogi kebaikan yang selalu ada di balik suatu keburukan. Hanya kadang tak menampakkan dirinya. Seperti kegagalan yang selalu satu paket dengan keberhasilan, atau selagu kepedihan dengan tawanya. Hujan dan pelangi.

Aku menyekanya. Mengusap dengan jemari-jemari yang makin terlihat rapuh dalam peluh yang terus jatuh. Merasakan bahuku naik-turun tanpa lelah. Tubuhku terguncang semakin hebat, napas panjang bahkan tak bisa menghentikannya. Lalu aku memeluknya, tersenyum untuk kesekian kalinya. Merasakan kedahsyatan nikmat Tuhan. Yang selama ini dianggap simbol kelemahan, ternyata justru menjadi penguat terakhir yang selalu membuatku bisa berdiri saat keadaan memaksaku untuk terus jatuh. Air mata.
Aku menggumam. Terus tanpa putus, aku berbincang dengan-Nya. Membicarakan banyak hal yang tak bisa kuceritakan pada siapa saja. Aku memang tak pernah melihat, tak bisa mendengar suara-suara menggema melalui telinga. Tapi aku selalu menemukan sosok-Nya di setiap langkah dalam hentakan kakiku. Aku tak perlu bertanya di mana Dia berada, aku tak pernah meragukan sedikit pun tentang cinta-Nya. Yang setia terjaga untukku, yang merasakan kesedihan meski disembunyikan di tempat paling dalam. Yang sering dilupakan sebab tak tampak kasatmata, padahal justru yang paling nyata adanya. Tuhan.

Saat bingung kemana mesti melangkah, kakiku melangkah ke rumah Tuhan. Saat tidak tahu lagi mesti berbicara pada siapa, aku berdoa pada Tuhan. Mungkin kalau satu detik saja Tuhan menjauhkan jarak, aku hilang. Aku bisa saja berjalan sendirian tanpa iringan, aku bisa saja merasakan tanpa suatu sentuhan. Tapi siapa yang bisa bertahan tanpa bantuan Tuhan?

Mungkin kamu bilang, aku kalimat yang penuh bualan. Tapi bagiku berbicara tentang Tuhan tak perlu catatan, tak butuh sanjungan. Tuhan itu penenang, merekatkan yang lepas berjatuhan. Tuhan itu indah tanpa perlu kutahu bentuk dan rupanya. Tuhan itu kunci yang membuka segala peluang untuk bersedih atau bahagia. Untuk kalah atau menang, untuk jatuh cinta atau terluka.

Berbahagialah aku, sebab sering mendapat izin dari Tuhan untuk menjajal kekuatan melalui ujian dan menjejal luka yang berujung pada ketenangan yang tiada akhiran. Berbahagialah aku, sebab sering dijatuhkan untuk menjadi lebih kuat setiap matahari menjelang lebih siang. Berbahagialah aku, selalu diletakkan dalam keadaan yang terkadang tak bisa kutaklukan atau perasaan yang sering kutakutkan. Sebab Tuhan memberi pengertian tentang kekuatan dan perjuangan. Kebahagiaan yang tersemat dalam setiap penantian, senyuman yang terletak di antara air mata. Dan Tuhan menjawab segala keresahan.

Berbahagialah kamu, meski sakit menghujam kejam dalam setiap kezaliman yang datang. Berbahagialah kamu yang mengenal Tuhan dan datangilah Tuhan-Mu di setiap malam, selagi bulan masih sempat menerangi legam. Bersujud dan menangislah dalam pelukan Tuhan, berbahagialah karena Tuhan tak pernah membiarkan siapapun jatuh sendirian.

Tuhan ingin kita tahu, bahwa yang paling dibutuhkan manusia hanyalah iman dengan segala cinta di tepiannya. Sebab sebenarnya kita hanya bagian terkecil dari satuan alam yang kadang enggan menemukan dan merasakan kebahagiaan yang Tuhan selipkan di sela kepahitan.

Jangan pernah berhenti mengingat Tuhan, maka Tuhan akan mengerahkan seluruh kekuatan untuk membuatmu bertahan dalam keadaan yang datang tanpa bisa diprediksikan. Jangan pernah berhenti mencari, lihat, dan temukan bahwa ternyata kebahagiaan yang kaucari selama ini sudah berada tepat di depanmu.


240313~Sedalam luka yang mampir kemari, sebanyak itu pula aku mesti berbahagia :)





5 komentar:

Ute Hime Kiminouara said...

Follback yah mba
kisahdalambingkai.blogspot.com

Zeal*Liyanfury said...

bener-bener kereen...
hikmah yang dalam membalut setiap katanya
diksi yang dipilih begitu indah
kurasa asyik banget, bisa belajar dan menikmati sastra disini. ^_^

ahmad fauzi said...

memikat banget diksinya.
melihat Tuhan dari sisi yang lebih lembut. bukan mencintai Tuhan karena takut akan murkanya. tapi mencintai Tuhan karena tulus dari apa yang telah Tuhan berikan pada kita.

keren :)

Radiana, Fasih said...

:)))

Yono Maulana said...

wuih... coba deh kamu tawarkan ke penerbit aku sih suka bacanya.. folback yaa www.yonomaulana.blogspot.com

Post a Comment