Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Tuesday, December 31, 2013

Cermin(ku)



Boleh, aku bercerita sebelum kututup dengan catatan akhir tahun? Sedikit saja, soal hatiku yang terus saja mengeja kata rindu padahal setiap hari bertemu. Apa sebenarnya yang memikat darimu? Mungkin, aku tak butuh sesuatu yang membuatku terpikat, sebab berkali-kali kulihat, kulekati lakumu, aku selalu saja bertanya, apa seperti itu diriku?

Pernah aku tercenung sendiri, aku seperti penonton yang menunggu-nunggu tirai teateryang masih tertutup itu dibuka dan menyaksikan apa yang kunanti-nanti. Drama dengan ending yang memukau.

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku membayangkan ada seseorang yang membawaku keliling Kota Yogyakarta. Sederhana saja, aku hanya ingin memutarinya bersama entah siapa. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu....

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku menginginkan ada seseorang yang mengajakku mencumbu alam. Menciumi embun yang jatuh membasahi dedaunan, memeluk udara dalam-dalam, merasakan betapa nikmat Tuhan begitu menyuguhkan ketenangan. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu....

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku mendambakan seseorang yang memberitahuku betapa dunia nyata begitu nikmat untuk kusantapi bersamanya. Bukan aku yang melulu pada maya. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu....

Dulu, ah, tidak, sering kali aku bertanya. Apa aku tak mau mencicipi rasanya menjadi wanita yang begitu takut kehilangan orang yang ia cintai? Apa betul, aku tak tertarik menjadi wanita yang selalu ingin tahu keadaan seseorang yang penting baginya? Apa hanya akan terus menjadi wanita yang acuh-tak-acuh pada cinta hanya sebab begitu mudah baginya menunjuk yang baru. Tapi yang lebih membuatku takut dan menuliskan satu tanda tanya besar : Apa tidak ada seseorang yang bisa membuatku merasa bergantung padanya, membutuhkan bantuannya untuk menelan rindu bersama, atau mengeja lelah lalu merebah di bahunya. Apa tak ada yang bisa membuatku merasa harus menjadi wanita seperti pada umumnya, bukan yang bisa melakukan segalanya dengan dirinya sendiri. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu....

Dulu, ah, tidak, sering kali aku berdoa menemui sosok seperti ayah dalam diri seseorang. Seseorang yang akan menggantikan peran ayah nantinya. Seseorang yang layak kuhormati, kuikuti jejaknya, kurapalkan doa-doa untuknya. Seseorang yang bisa menjadi siapapun dalam waktu apapun. Bukankah pasangan yang baik adalah yang bisa menjadi sahabat, guru, kekasih, dan bisa menempatkan diri dalam berbagai situasi. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu....

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku berkhayal bisa membelah diri. Lalu kupacari diriku sendiri, sebab tak pernah kujumpai jemari yang begitu pas kecuali jariku sendiri. Bukankah tak ada yang bisa memahami kita, kecuali kita sendiri? Bukankah sebaik-baik pendengar adalah telingamu sendiri? Jadi, aku ingin membersamai diriku sendiri. Aku yang begitu sulit dipahami, aku yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, aku yang meletakkan harga diri di tingkat paling tinggi, aku yang katanya wanita tapi lebih sering mengisyaratkan hati dengan logika bukan perasaan, dan segalaku yang tak kan pernah bisa begitu mudah didalami. Jadi, kupikir, begitu mengasyikkan jika aku membersamai diriku sendiri. Kupikir tak kan pernah terjadi, sebelummu....


Menjadi seperti anak kecil itu mengasyikkan, bukan?

Mungkin, setiap tulisankuyang katanyamenjadi satu celah inspirasi bagi para pembaca setiaku, membuat sebagian orang berpikir ini-itu soal diriku. Tapi denganmu, seperti yang pernah kukatakan sebelum hari ini ... biarkan aku menjadi diriku yang lain, yang hanya bisa kuubah saat sedang bersamamu. Aku yang terlihat angkuh, tapi ternyata begitu rapuh. Pola pikir yang bijak tapi ternyata begitu sulit memecahkan masalahnya sendiri. Langkahku yang begitu kokoh, tapi ternyata jejaknya begitu lelah. Senyum yang berjejer rapi tapi ternyata menawan tetes air mata di pipi. Semua itu, aku yakin terkadang kamu pun merasakannya. Dan jadilah apa yang kau mau di hadapku sebab aku tahu betapa lelahnya menjaga figurmu. Bersamaku, kamu bebas menjadi semaumu.

Setuju?




311213~Coba tanyakan lagi pada dirimu, Sayang. Mengapa aku begitu mudah memaklumi lakumu? Sebab aku pernah berada di posisimu. Sebab aku pernah menjadi semuamu. Aku pernah.

4 komentar:

Shigit Ariey Wibowo said...

Setuju sama kutipannya . . .Emg bener juga sih, .gak tau knp,bingung juga klo di pikir2 . .Y pokoknya ky gitu lah :D

Yoga Pratama said...

cie-cie

andri K wahab said...

setuju, mari kita menjadi kanak-kanak kembali. menemukan dunia sebatas nama-nama mainan.

awdawd said...

trimakasih infonya gan....
...
sangat menarik dan bermanfaat...
mantap..

Post a Comment