Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label arti cinta. Show all posts
Showing posts with label arti cinta. Show all posts

Tuesday, November 5, 2013

Sekantong Rindu Terakhir

Ada sekantong rindu yang kumasukkan dalam lemari. Kusimpan di sudut paling dalam. Tapi masih juga mengintip dari celah-celah gagang pintu. Ternyata rindu itu bukan sebab kamu jauh dariku, Sayang. Tapi karena aku yang terbiasa denganmu. Lalu tiba-tiba aku mesti melakukan segalanya sendiri. Ah, padahal sebelum datang tatapmu di wajahku, aku sudah melakukan semuanya sendiri. Jadi, kamu yang membuatku tak bisa mandiri ... merasa membutuhkan seseorang terkadang menyakitkan. Sebab ada ketakutan yang menyelip kalau-kalau aku tak bisa lagi di rengkuhmu. Aku tak bisa lagi memanggilmu. Aku tak bisa lagi memintamu datang memelukku.

Ada sekantong rindu yang kuambil dari lemari. Biar menemani sepi saat kamu pergi. Tapi, toh, saat kamu tak berjarak denganku, aku tetap merasakan rindunya mengitari hati. Bisa begitu ya?



Sekantong rindu itu kusebar di langit-langit kamar. Biar saat aku tertidur, rindu itu mengajakku menujumu. Lalu kubagikan serpihannya pada angin, biar tertiup sampai ke relungmu. Kutitipkan pada bintang, lalu tunjuklah dengan jemarimu. Ada rinduku tergantung di sana. Masih ingat, ada malam yang begitu indah saat hati kita belum membuka dirinya? Di sana aku hanya bisa memandangi lekatmu dalam pekat dan matamu menjawab sedikit tanda tanya. Intuisi yang kukira sekejap mata. Ah, bisa kau ingat-ingat lagi yang itu? Yang tak bisa kujejerkan dengan kata. Kalau suatu saat, rasa cintamu hilang, Sayang ... ingat-ingat lagi bagaimana cinta itu datang. Jangan biarkan siapapun menghapusnya, menghasutnya sampai tumbang. Jangan biarkan satu pun alasan jadi sebab perpisahan.

Kali ini, sekantong rindu kutukar dengan doa. Sebab aku tak ingin rindu ini nantinya tak berasal dari dua arah. Sebab aku ingin rindu ini yang terakhir meresapi jemariku. Sekantong rindu terakhir dariku untukmu. Sebab aku mau akulah orangnya. Sejatimu.



051113~Soal jodoh, siapa yang bisa menduga-duga? Tapi kalau jodoh bisa diperjuangkan, saya perjuangkan kamu saja. Cukup.

Monday, May 20, 2013

Cinta, Tunggulah Sebentar Lagi


Cinta. Aku tahu kau sudah bosan melumatnya. Membaca kalimat yang itu-itu saja. Tapi mereka yang membenci cinta hanya ada dua alasan yang masuk akal: Ia tak pernah merasakan cinta, atau ia terlalu sering merasakannya. Dan aku tak perlu tahu kau termasuk yang mana.

Cinta. Kau mungkin sedang jatuh di dalamnya. Mungkin juga baru saja dipatahkan olehnya. Kita tak pernah tahu kapan rasa itu bermula, tak pernah mengira di mana bertemu, dan bagaimana bisa begitu cepat tumbuh dan merangsuk makin dalam. Kita tak pernah diberitahu, kita tak pernah diberi peringatan untuk menamainya cinta.

Cinta. Itukah kamu? Itukah kamu yang kupandangi dari jauh. Itukah kamu yang kudengar padahal kau tak berbicara apa-apa. Itukah kamu yang aku tak tahu seperti apa bentuknya. Itukah kamu yang akan jadi jawaban dari segala tanda tanya?

follow me @fasihrdn

Cinta. Aku tak pernah berani menyebut apa yang menggelitik ini dengan sebutan sakral. Kita hanya bisa merasakan tanpa perlu pernyataan. Rindu yang tentu saja teruntuk kamu, apa perlu kuyakinkan kembali?

Monday, April 22, 2013

Teruntuk Kamu; Lelakiku di Masa Depan


Kali ini Tuhan menjatuhkan cinta lewat sederet bahasa yang diam. Aku terperangah. Bingung, mau tersenyum atau menangis. Dan ternyata keduanya bebarengan menghias rupa. Di depan layar yang selalu membuatku meluncurkan nyanyian tanpa nada. Tapi berirama sama seperti bahagia. Hanya saja kau tak kan bisa melihatnya dengan kasatmata. Sebab bahagiaku ini jatuh tetes lewat air mata.

Ini cinta yang tak perlu jemari untuk menggenggamnya. Ini cinta yang tak meminta lengan memeluknya. Ini cinta yang tak menggunakan mata untuk menatap setiap gerak-geriknya. Ini cinta yang tak membuka mulut untuk menyuarakannya. Ini cinta yang tak menjanjikan ikatan selamanya. Sebab ini cinta yang merindu lewat doa. Ini cinta yang menunggu Tuhan menyatukannya. Ini cinta?


Tuesday, March 26, 2013

Cinta Titipan Tuhan


Postingan kali ini untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan pembaca, dan teman-teman beberapa bulan terakhir. Waktu saya gencar menulis pernyataan bahwa saya memutuskan untuk tidak lagi menjalin hubungan kecuali sebuah pernikahan (nanti). Kalau cinta tiba-tiba datang bukan keinginan saya, dan tidak akan saya tepis dari hati, tapi suatu hubungan seperti pacaran tetap tidak akan saya lakoni. Sebab yang bisa disebut pria hanya dia yang sudah siap menikahi :)


Karena seharusnya cinta yang sejati diletakkan di tempat yang suci. Menyatu karena Tuhan, dan dipererat oleh iman. 
Bukan hal mudah membiarkan hati berkelana sendiri. Aku hanya bisa mengendalikan diri, tapi urusan hati hanya Tuhan Sang Maha Pengendali. Aku hanya bisa menahan hati untuk tidak memiliki apa yang belum menjadi hak yang direstui. Aku hanya mencoba bertahan dengan senyum yang tiada henti meski luka kerap mampir kemari. 
Sebab kamu datang membawa kunci yang kubuang di tengah lautan. Mengapa bisa kau temukan? Apa mungkin Tuhan yang memberikan? 

Sunday, December 23, 2012

Mempelajari Cinta Tuhan

Entah apa itu jati diri, entah apa yang dicari dari jati diri. Entah siapa dia, seperti apa sosoknya. Masa muda adalah masa yang paling mudah terombang-ambing. Bisa dibilang masa muda adalah yang paling kritis, kalau berhasil melewati masa kritis maka akan menemukan banyak kebahagiaan yang tak terduga. Tapi ternyata tak semudah menularkan gerak bibir saat menguap, tidak semudah menyusun abjad-abjad menjadi kalimat yang indah untuk dibaca. Dan siapa yang mau terluka lebih lama lagi? Aku salah satu yang tidak ingin menyesal nantinya, bukan yang ingin jatuh lebih dalam di kemudian hari. Ketahuilah, keputusan ini bukan yang mudah bahkan sekadar untuk kuyakini kebenarannya. Tapi siapa sangka, tanpa janji yang bermula lewat kata, ternyata aku sudah memasuki zona yang tadinya bukan suatu rencana. Mempelajari cinta Tuhan.

"Memilih untuk sendiri bukan hal yang mudah untuk orang yang kerap bersandingan dengan cinta di sekitarnya."

"Butuh proses dengan jangka waktu yang tidak singkat untuk melangkah baja, sendiri saja."

Terkadang aku harus keras pada mereka yang menginginkan cinta dari seorang wanita. Sedikit saja aku membuka jalan, maka cinta tak akan pernah mau pulang. Bahkan terkadang harus mengorbankan sedikit keramahan hanya agar tidak terjadi kesalahpahaman. Kali ini, aku hanya membuka pelukan untuk persahabatan dan sebanyak-banyaknya teman. Ada yang menghargai, ada pula yang mencaci. Ada yang menggunjing, ada pula yang memuji.

"Bukan salahmu mencintaiku. Hanya aku saja yang sudah terlanjur tenang dengan kesendirianku."

Mengapa?

Saturday, November 3, 2012

Menggantung Rindu



Aku mau kau tak memaku sembilu
sakit di dadamu itu mengendapkan pilu
Kau tahu?
degupmu dalam debar seperti sukar
menghela dengan sengal tak beraturan
lalu begitu rasa ku sakit mengulum rindu

Apa yang sebenarnya membuatmu tetap kekeuh
menyapa dalam kebisuan
Yang kau redam kadang justru jadi yang paling nampak di permukaan

Saturday, October 27, 2012

Sendiri Mencintaimu


Mengakar dalam genang di lengkung jalan yang menyimpang. Menukik pikir yang menyampaikan rindu membisu. Resahku menggila. Aku bukan lagi seperti seluruh aku.

Begitu caranya menggiling senja pada peradaban masa kini. Ramai yang melambai-lambai mengundang jerit dalam sepi. Sesumbar pada hambar yang menampar. Terlanjur menjangkar susah benar disangkal. Sampai aku hilang akal.

Andai cinta selalu datang lewat mata, mungkin mudah untukku mengubah perasaan. Sayang, cinta datang tak mesti karena siapa. Sebab nyatanya cinta bukan satuan yang bisa dihitung, bukan pilihan yang bisa begitu saja ditunjuk.

follow me @fasihrdn


Dan aku menemukan kebenaran dalam kesalahan yang pernah kamu lakukan. Menemukan kebenaran dalam kesalahan yang baru saja ku lakukan. Jatuh lebih dalam, menjatuhkan diri. Heran, kamu terus saja membuatku makin ingin bertahan dalam keadaan yang masih selalu berkutat pada keajaiban dan pengharapan. Apa alasannya? Mengapa terdengar begitu licik dalam riuh gemericik? Padahal aku tahu, kamu hanya sedang berpelik. 

Aku marah, gerah sendiri. Aku sedih, perih sendiri. Aku begini, kamu juga tak peduli.

Wednesday, October 3, 2012

Mengeja Nama yang Sama, Luka.


Kita saling menularkan rasa. Kita saling menggenapkan hampa. Kita jujur tetapi saling menutupi. Tanpa aku dan kamu sadari, sebenarnya kita saling menyakiti. 

Senja menjelma belantara porakporanda. Selalu bermuara pada air mata yang menyeka abjad luka. Aroma duka menyengat, meraba dusta pesona yang tak juga mereda. Kau membuatku melalang buana, mengembara pendar yang masih saja samar-samar.

Lalu bimbang pulang mengulang-ulang lagi sajaknya. Aku yang masih saja bersandiwara seolah semua baik-baik saja. Menggunakan bahasa yang tak ada bedanya dengan kemarin lusa. Meski kadang kosong menerobos masuk dalam lorong-lorong, mengembangkan sendiri ceritanya. Kisah tanpa tepian.

Ternyata cinta juga bisa jadi garang. Menyerang bagian terdalam ketulusan. Terkadang jadi rancu membisu. Kalau saja bisa, aku mau berhenti bergantung pada lengkung yang tak kunjung bersenandung. Yang ada aku justru tersandung, terasing merenung bersamaan dengan luka yang melambung.

Aku benci pada mendung yang menutupi kilat jingga senja kala. Lalu air merintik melelehkan hujan yang sudah lama tertawan. Menyinggung di petang, sesekali mengerang tak tahan merasakan lengang. Aku merasakan gejolak menghantam sepersekian detik lalu terjungkal, menjatuhkan lagi separuh lara yang tersisa. 

Berebut kilau bintang yang sempat temaram. Aku dan kamu seperti sisa-sisa hujan yang bergutasi pada dedaunan. Penuh perjuangan manahan diri agar tidak jatuh menembus bau humus. Berulang kali aku mengadu pada gaduh yang cukup angkuh. Aku lelah menahan gerah yang masih seperti itu-itu saja. 

Berpelik menukik setiap jengkal pita suara. Rasanya ingin ku tumpahkan segala penat yang mulai jadi pekat mencekat. Di bahumu aku menangis tersedu, di pelukmu aku mau begitu.

Sayang, aku bukan yang akan meminta terlalu banyak penjelasan pada rintik hujan. Mengapa meruncing meneteskan kegelisahan. Mengapa menyebabkan peraduan pelangi padahal senja mulai menjelang. Padahal aku melajang tapi kau mengubah rasanya jadi tenang. Seperti sedang berada pada hubungan yang nyatanya hanya akan meremang, terbuang.

Kamu menjadikan waktu sebagai bagian dari alasan yang menyebabkan perpisahan. Padahal aku mengira waktu lah yang menjadi alasan sebuah pertemuan. Maka berhentilah beralasan sebab meninggalkan tak butuh penjelasan seperti cinta yang tiba-tiba datang, tak pernah punya alasan.

follow me @fasihrdn

Sebab sepertinya rima selalu akan mengurai peristiwa yang itu-itu saja. Sajak yang sama, masih menyebutkan nama serupa. Kamu.



031012~Andai menghapus jejakmu semudah menghapus bagian aku dalam dirimu. Andai aku sama sepertimu, mudah berlogika tanpa perlu terluka. Sepertimu, tanpa lara di dada.

Friday, August 17, 2012

Mencoba Berhenti Mencintaimu


Cukup! Aku mau berhenti mencintaimu. Mencintai yang bukan milikku. Aku mau bersembunyi di balik ilalang. Lebih baik cepat-cepat menghilang. Sudah tak apa, Aku hanya sudah paham sikapmu yang tertuang. Mengapa tiba-tiba jadi lengang tak bertulang. Aku sudah paham mengapa kamu jadi diam meremang. Maaf, aku baru saja sadar kalau kau ingin aku cepat pulang. Tak sudi memandang senyum yang mengembang. Ampuni aku yang memang baru saja paham; ternyata perlahan kamu ingin menebasku terbuang.

Ternyata diammu menggumam, ingin aku segera temaram dalam legam.

Mungkin saja kamu sudah tahu, sudah mengerti kan? Aku memburu berita lewat teman-teman. Mencari cerita lewat dunia maya. Mungkin juga kamu sudah lebih lincah, tahu betul aku yang telanjur terbuai pesona. Menelusup melalui rongga dada, menjelma menjadi sebingkis cinta.


follow me @fasihrdn
Gaung yang melengkung berlipatganda, menertawakan keadaan. Mencibir tawa dengan nada hampa. Ah, aku jadi malas berupaya. Hargaku jadi kurang bersahaja. Sebab kamu seperti sedang menghina lewat tatap mata.

Rasa yang kadung merajalela, sebaiknya tak dibiarkan terus menyala sebelum akhirnya berbuih kecewa.

Sudah cukup memuja pinta rasa. Menyudahi damba membara, meski harus dengan kata yang berdusta pada rasa. Sudah cukup kamu membuatku mati kutu. Mengubah malu berlagu merdu merindu. Sudah cukup aku terpaku pada riuh keruh penuh keluh.

Aku akan segera menjadikanmu angin lalu seperti yang kau mau. Aku mau buru-buru  berpacu pada jarum waktu, menderu tanpa menyelipkan namamu. Aku tahu kamu ingin memberitahuku seseuatu. Katamu, aku tak perlu menunggu sebab kita tak akan menyatu. Benar begitu?

Mulai detik ini, langkahku terhenti di sini. Menepi dan tak 'kan pernah mengulang untuk mencintaimu kembali. Lalu akan mencari yang benar-benar akan memberi. Bukan lagi hidup dalam kotak khayal berbentuk mimpi.

Asli, aku tak akan coba-coba lagi mengintaimu setiap hari. Selagu kamu yang tak mengizinkanku berbagi hati; ternyata kamu tak juga merestui kita jadi yang saling mencintai.

Seperti yang kamu minta, aku akan mencoba berhenti mencintai. You must know that I try so hard to shut the feelings out. Sebab sulit meyakinkan pikiran untuk berhenti melakukannya ketika hati ternyata masih mencintai. Begitu sulit berhenti mencintai seseorang saat aku masih memikirkannya.



160812~Berhenti Mencintai Kekasih Orang

Saturday, August 11, 2012

Siapa Kamu, Diam-diam Membuatku Rindu


Apa bagusnya kamu? Mengapa bisa sampai menyita waktuku? Kamu menciptakan ilusi dari hati. Membuatku berangan tentang kamu. Mencari tahu siapa yang memeliki mata sayu. Kamu membuat telingaku hanya mendegar suara kalemmu. Ah, siapa kamu ... berani-beraninya mencuri perhatianku.

Aku kangen, jadi rindu setiap waktu. 

Mungkin kamu tidak tahu siapa aku, yang di sini diam-diam berharap kamu membaca tawaku. Melihat larik-larik dalam barisan tulisanku yang berbicara tentang kamu. Aku pikir perasaan ini semacam terbiasa melihatmu. Menghilang esok hari dan melupakan apa yang pernah kutulis sebelumnya. Tapi mengapa justru makin kuat mengaung ke seluruh penjuru kalbu?



Aku memang miskin kosa kata, aku hanya bisa bilang ini itu setiap hari.

Tapi tahukah? Aku masih jadi pengagum rahasia yang mengikuti derap langkahmu. Aku memang tak punya banyak waktu untuk meneruskan polamu. Selagi masih ada waktu, aku ingin menjadi yang paling sering berada di dekatmu. Tak perlu menoleh ke arahku, cukup aku saja yang melirik mengintaimu. Tak perlu berbalik arah menghiraukan aku. Aku ini hanya perempuan tak tahu malu, mencintai yang tak mengenalku. Yang tak ingin tahu siapa aku.

Aku menghabiskan berjam-jam untuk sekadar duduk menikmati senyummu di depan layar. Menipu diri sendiri, berharap senyum itu memang hanya untukku. Hey, aku tak memintamu memutuskan untuk mencintaiku. Cukup merasakan senyum yang menyebarkan ketenangan; di sekitarmu aku merindu.



110812~ Ini untukmu, ya, kamu.

Friday, July 20, 2012

Skenario Tuhan


Cinta, beginikah caramu mempertemukan dua hati yang saling berpaling? Membiarkannya berjalan melangkahi duka sendirian. Lalu dihempaskan seolah menjadi yang tidak pernah diinginkan. 

Sudah ratusan hari aku menangis dalam sunyi yang begitu senyap. Juga tertawa sendiri dalam ricuh yang ramai. Aku membawa cerita lama pada lembar baru yang nyaris usang tak tersentuh. Dan yang tak ingin ku sentuh justru membuatku mendamba. 

Follow me on @Fasihrdn

Cintaku kembali pada ruang yang sama, hanya saja dikemas berbeda. Kamu kembali dengan segenggam cinta baru. Kamu merubah detikan menjadi terasa kian cepat, sepertinya aku sudah mengenalmu terlampau lama. Tapi kali ini kau membawa mawar dengan isyarat yang tak sama seperti setangkai yang lalu. Ini bagian dari cinta yang ingin kau tanam merekah di hatiku. 

Aku sempat berpikir, aku jatuh pada cinta yang salah untuk kesekian kalinya.

Kamu berjalan setapak, berbalik dengan senyum yang mengembang. Mengajakku kembali pada kisah yang berakhir tanpa pernah ku mulai sebelumnya. Yang pernah terselip gemetar di dadaku, kau mengubah lukanya jadi sedikit lebih beraroma. 

Aku tahu ini yang namanya rencana Tuhan, tak kan ada yang paham bagaimana Tuhan mempertemukan luka dengan cinta. Menjadikan dinding penghalang tiba-tiba menghilang tak terbayang. Menjadikan dendam kesumat berubah mencinta. Aku tahu, Tuhan ingin aku paham begini caranya menulis skenario yang berkualitas tinggi dengan ending tak terduga. 

Dan aku tahu sekarang, memang selalu akhirnya berubah indah pada waktunya, sebelum terluka lagi nantinya. 

Sebab dunia pasti berotasi memutari zaman. Karena Tuhan ingin aku siap sewaktu-waktu saat Tuhan ingin mengambil keindahan kehidupan dari genggaman.

Wednesday, June 27, 2012

Selamat Pagi, Cinta ♥

follow me @fasihrdn

Selamat pagi matahari, sepertinya sudah siap merajai hari ini. Aku masih jatuh cinta setiap bangun pagi; mencintai yang mencintaiku. Sepertinya kupu-kupu mengajakku menari melangkahi embun yang bergutasi di balik dedaunan, sinarmu menelusup lewat celah yang tak tampak. Memaksa mataku untuk lebih lebar terbuka, menyapa dengan senyum tanpa akhiran.

Selamat pagi matahari, membuka tirai jendela bertemu denganmu lagi. Selagu kicau burung yang memerdu syahdu di hening yang damai. Seperti cintaku yang makin tenang di peluknya. Saat kau kembali ke peraduanmu, dia datang menghangatkan aku. Dan kuharap begitu seterusnya.

Selamat pagi matahari, menghela napas panjang membuat rusukku naik turun. Searoma mawarku yang memerah terbias cahaya, seikat mawarku makin terlihat megah dengan cinta melekat di setiap kelopaknya. Sama seperti cinta di hatiku; makin ranum setiap bujuk rayu menyentuhku.

from my Dewa

Selamat pagi matahari, aku ingin kamu menghangatkan mawarku. Jangan biarkan mawarku layu, sebab duri dalam mawarku akan menjadi yang paling marah. Hey, kamu yang mengaku mencintaiku. Aku ingin kamu terus melanjutkan setia menjagaku. Jangan biarkan aku menangis sendiri, sebab hatiku sama seperti duri dalam mawarmu yang sudah jadi milikku. Akan berbalik menyakiti jika tak berhati-hati.

Monday, June 18, 2012

Cintaku Berbeda



Kamu bilang kamu bukan yang pantas bersanding denganku.

Kamu menyuruhku menjauh sebab kamu baru saja mengakui sesuatu. Kamu bilang struktur garismu melengkung, menjauhi garis menuju Tuhan. Kamu bilang kamu  rusak. Kamu juga bilang kamu tak perlu dicintai terlalu dalam karna kamu bukan yang pantas dipuja oleh rasa. Sekali lagi kamu mengulangnya, kamu seseorang yang sudah rusak.

Kamu memintaku memikirkannya benar-benar. Sebelum jatuh terlalu jauh bersamamu. Sebelum nanti menyesal mencintaimu. Kamu mencoba menguji seberapa setiaku bukan karna siapa kamu. Bukan itu yang aku mau, aku ingin kamu tahu sesuatu. Perhatianku bukan yang terpusat pada hal-hal biasa. Aku mencintai kekuranganmu seperti aku ingin kamu pun melakukan hal yang sama. Melengkapi bagian yang sempat meretak hilang. Mengajariku sesuatu yang belum bisa ku lakukan dengan baik

Aku bilang aku di sini untuk menjadikanmu pantas menyandingku.

Aku tak kan memaksamu menjadi siapa dengan keadaan yang bagaimana. Aku hanya ingin meluruskan yang masih bengkok, sayang. Aku bukan wanita kebanyakan, yang akan menjamu mu dengan hasrat. Aku ingin kamu mencintai Tuhanmu seperti Tuhan menyematkan cinta diantara kita. Aku ingin kamu mengenal siapa Dia, yang punya kuasa terhadap segala rasa. Aku bukan wanita kebanyakan, bukan lagi yang hanya bertanya sedang apa. Aku jauh lebih dari sekedar peduli kamu sudah makan atau belum. Aku ingin kamu bahagia bukan hanya sekarang di sini saja, tapi juga saat waktu sudah berbalik memutar arah. Saat yang bertahan hanya mereka yang tau arah.

Aku bukan perempuan dengan cinta yang asal-asalan. Persetan apa kata orang, aku ingin denganku kamu jauh lebih mudah menghela nafas tanpa sebul rokok. Aku mau kamu bukan termasuk laki-laki yang menyebar cinta sembarangan, meninggalkan bekas luka di hati setiap perempuan. Percayalah, seburuk apapun kamu, aku justru akan semakin menguatkan genggaman di tanganmu. Sebab aku tak ingin cinta yang tanpa perubahan. Aku akan mencoba berjalan denganmu. Perlahan saja, aku tak terburu waktu. Aku denganmu, bergandeng sejalan merubah yang katanya hina jadi sesuatu yang lebih berharga. 

Berdua akan jauh lebih mudah membangun kembali yang sudah mulai rapuh dan rusak.

I just want to be with you

Rangkul aku, sayang. Katakan, cintamu bukan untuk mengingatkan aku bagaimana rasanya terluka. Dekap aku, sayang. Dengar, aku ingin kamu paham sempurna itu ketika kita menjadikan diri jauh lebih mulia setiap harinya.




Peluk aku, sayang. Dan yakinkan bahwa cinta yang kau miliki tak akan menjatuhkan hargaku, tapi yang akan melambungkan harga jauh lebih tinggi. Dan kamu harus percaya sebaris doa untukmu adalah bagian dari cinta yang menyempurnakan kesederhanaan.


"Percayalah, aku akan selalu mendoakanmu meski kamu sering lupa menjaga hatiku, seperti Tuhan yang tetap mencintaimu meski kamu tak pernah membalas-Nya."



Wednesday, June 13, 2012

Tembang Cinta



Aku kehabisan abjad. Mencintaimu menghabiskan kata tanpa sisa. Ibarat mati gaya, aku kehilangan tata bahasa. Memintal rasa rindu yang berulang tertuang pada baid beralur menjuntai. Garis yang tergerai melekatkan cinta yang tegas. Pandanganku terbentur sejurus mata, membuat hening di sekeliling. 

"Aku mencintaimu."

Aku bisa mendengarnya tanpa harus kau katakan dengan gema yang meraung-raung seantero jagad. Aku merasakan getarannya, meski kau tak melingkarkan jemari di kelingkingku. Aku tahu betul kau sudah berjanji pada suci yang tulus menjalar di dinding hatimu.


Aku bukan dabir yang mencatat asprak tentang janjimu yang mencintaiku sepanjang waktu. Sebab aku tak menginginkan rayu nyaring menusuk gendang telingaku. Aku bosan pada bibir luwes yang menggelakkan tipu dengan janji palsu. Aku lebih memilih diam melihat tingkahmu dari arah yang menyebar. Lebih gamblang  menilai seberapa dalam cinta tersemat  di hatimu, yang terkadang masih berdegup meragu di jantungku.

"Aku juga mencintaimu."

Meski tak lincah membaurkan kata di sela tawa, tapi dalam lirih aku menjerit tanpa suara. Aku tenang denganmu di sini. Kau membuatku sibuk mencintai bahkan mereka yang membenciku. Seikat kembang jadi saksi, membingkai nada mencipta tembang asmara. Teruslah berdiri di samping lelahku, sebab aku tegar melekatkan peluk di balik senyummu.



Thursday, May 17, 2012

Berhentilah Membual


Lengang belum tentu terasa tenang, karena canda tak selamanya jadi tawa. 

Begitu menyala tak juga membuatnya jadi terang. Terkadang bahkan bicara masih juga tampak begitu hampa. Yang diam pun kadang kala menyapa, yang tampak perkasa hanya di tepiannya saja. Dan ku beritahu, pesona bukan jaminan menjalin asmara yang sempurna. 


Jadi, berhentilah bercerita bahwa kau punya segala yang mendamaikan jiwa. 

Karena terkadang yang terjadi berbeda dari yang sudah terencana. Berhentilah meyakinkan dunia bahwa cintamu selamanya. Sebab di sana ada hal-hal yang tak bisa kau duga sebelumnya. Berhentilah mengeja kata seolah semua akan terus baik-baik saja.