Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label rindu. Show all posts
Showing posts with label rindu. Show all posts

Saturday, October 8, 2016

Idealisme Masa Silam

Hai, masa depan. Jangan bersembunyi di balik takdir orang. Patahkan segera bila memang tak tepat dalam naskahnya. Jangan takut aku menangis karenanya, aku tak akan malu menapakinya. Bukankah di depan Tuhanmu aku sudah mengakuinya?

Masa depan, dulu aku mengira kau adalah rencana yang mesti disusun begitu sempurna. Dengan daya yang tak sedikit, dengan alir air mata yang tumpah menyangga luka, dengan segala yang ternyata hanya dampak ketidakinginan mengulang kesalahan lama. Terlampau dalam aku menguburnya diam-diam, menjadikan harap pada yang tak sepatutnya diraih dengan cara berpunggungan dengan pemilik kuasa. Kini, cerita sudah diobrak-abrik penyesalan. Masihkah ada ruang perbaikan?

Sendiri adalah makanan sehari-hari. Aku tak pernah sudi menggantinya dengan ramai yang berduyun-duyun melamar kemari. Sadari sebenarnya ada satu angan rahasia sejak lama untuk memiliki rak sepatu, agar ada tempat menaruh dua kaki yang lesu. Lalu lemari besi untuk menggantung sendi-sendi yang terlalu sering dipaksa berlari tanpa henti. Lantai kayu untuk membaringkan tulang reyot di bawah atap yang bila malam menyoroti kantung mata dengan purnama. Tapi ternyata aku tak butuh itu semua. Cukup satu hati yang mengajak lelah berterus-terang ketika langit masih kelam, tapi bulan sudah samar menghilang. Dan tak satupun, termasuk segala ilmuku yang tahu, siapa ia. Di mana sedang berpijak. Atau kapan akan berjumpa.

Masa depan, bila bagimu aku terburu-buru, bila kau tahu niat itu bergeser terlalu jauh, beritahu aku. Tak apa, aku tak akan marah. Tegar sudah disiapkan untuk lebih tabah. Sebab tak lagi ada waktu untuk mengulang-ulang kepayahan diri membawa seluruh aku pada dunia yang semu.

Tolong, bantu katakan pada Tuanmu, hancurkan saja apapun yang tak Ia sukai. Bila memang harus, sakit separah apa, aku bersedia. Bunuh saja.

©Fasih Radiana

Tuesday, May 24, 2016

Bila Jodoh Berinisial Engkau



Lebur aku pada purnama di bulan ke sembilan, pada mata yang membulat di separuh petang lampu pijar. Petak yang tidak akan bisa dirujuk ulang. Angka demi angka dijejer beranak-pinak: merenggangkan ruang, mendekatkan bayang. Segala debur debar ubahnya jadi buih yang menjijikkan. Kita sama-sama tahu menyoal apa-apa yang tak kunjung selesai. Tapi tak lagi punya cara menghabiskanya. Sudah terlalu kenyang untuk melumat paksa, tapi sayang bila dimuntahkan begitu saja.

Jarak tak bisa menaksir rindu yang luber menjadi deras hujan di sepanjang jalan. Yang bermunculan justru kenangan berbau amis dan secarik memoar berlapis tangis. Cinta, mengapa berlarian seperti kerumunan semut yang diguncang jemari keriput? Tapi sesendok gula tak ikut di-lap basah, dibiarkannya berserak seolah memang sengaja disiapkan untuk selalu dirubung lagi.

Waktu terlalu samar untuk bisa ditaksir kapan akan tiba semula, atau hilang tak berbekas. Aku selalu nihil dalam bermain dadu, kau pun tak punya daya mengocok kartu. Kita sama-sama dipaksa buta dalam satu waktu. Tapi cinta, apakah selalu harus terasa seperti kali pertama? Setelah seluruhku diisap harga dan kau tak pernah lunas membayarnya. Jika tak pernah ada jalan pintas menuju pulang, kita mesti patungan untuk sampai di pulau sebrang.

Semisal yang kusebut dengan "engkau" masih berinisial tanpa nama, apa mungkin aku kan lebur lagi pada purnama di bulan yang lain, di mata yang separuh menghilang pada pekat senja? Engkau, yang tak kutahu seberapa sering menyebut-nyebut namaku dalam doa. Aku, yang tak juga menemukan cinta menjadi seutuh purnama.


Yogyakarta, 24 Mei 2016
Fasih Radiana

Sunday, February 22, 2015

Hari Ke-22: Celengan Rindu



Ada waktu untuk dipersiapkan merindukanmu. Lalu jatuh tempo pada saat yang tidak kuketahui. Biar selama ini kautabung amarah dan kekecewaan pada setiap yang tak pernah bisa diucapkan, lalu kembali datang sehabis tenang berhasil kautaklukan. Seolah-olah semua baik-baik saja, padahal kamu hanya menabungnya di suatu tempat yang bahkan kamu lupa jalan kembali ke sana. Dan perlahan kamu melupakannya begitu saja. Tapi tidak lagi bisa kali ini. Kamu sudah bersama dengan keterbukaan yang mesti dipeluk erat-erat. Bersamaku, tak ada lagi tabungan yang hilang lalu suatu saat dibuka untuk dihitung kembali. Tidak ada.

Biar tuntas saat ini juga. Biar lunas sekarang juga. Aku mau kita tak menyimpan celengan usang untuk suatu yang bisa dijelaskan secepatnya. Boleh saja kamu bilang, begitulah caramu merenungkan diri. Introvert atau apalah sebutan untuk orang-orang yang tertutup. Tapi tidak. Kamu bukan orang yang semacam itu. Kamu hanya lupa siapa dirimu, seperti apa wujud aslinya, sampai kamu benar-benar lupa bahwa kamu memang sedang melupakan dirimu. Kamu hanya tidak sadar telah dibiasakan diam. Iya, dibiasakan untuk memendam demi tidak terjadinya pertikaian.

Padahal kamu ingin bicara, padahal kamu doyan bercerita, padahal kamu suka sekali tertawa. Jadilah yang seperti itu. Ikuti kata hatimu. Benarkah seperti ini yang kamu inginkan? Benarkah seperti itulah cara yang membuatmu nyaman? Bukankah berkali-kali kujabar bahwa denganku kamu bebas menjadi apapun, menjadi siapapun yang kau mau? Tak perlu kauumbar seperti apa tangis kecilmu, atau lelehan air mata yang tiba-tiba berjatuhan. Tak perlu kaukatakan pada yang lain dengan apa kamu membahasakan kesedihan. Tak juga perlu kautunjukkan sederet tawa yang tak juga bisa berhenti hanya karena lelucon garing. Menabunglah, Sayang. Tapi untuk sesuatu yang bisa membuatmu merasa menjadi manusia yang dimanusiakan. Yang bisa saja salah jalan. Yang bisa juga buta arah. Yang terkadang cemburu berlebihan, yang sering kali ingin diperhatikan.

Thursday, February 20, 2014

Hari Ke-20: Telepon Genggam

more quote www.fasihrr.tumblr.com

Dan sepagi tadi aku tertidur, mungkin sudah lama tak kaudengar aku mendengkur.

Sebab jarak sudah jadi pengukur, tetapi dalam doa, kitasetidaknya, akumasih begitu akur. Masih hafal bagaimana cara mengalur rindu berangsur-angsur. Menyimpan rasa yang begitu jujur, diam di tempatnyamasih dengan doabak bahadur yang baru mau muncul pada waktu yang sudah Tuhan atur. Meski bilur membujur, mengaduk-aduk sampai cabur; sampai air mata jatuh bercucur. Aku tetap jadi seseorang yang berharap doanya makbul. Sebab hakikat tertinggi dari cinta adalah doa. Begitu bukan? Tak perlu sebuah jawaban, ini bukan suatu pertanyaan.

Dan sepagi dini kau mengetuk telingaku dengan getar dalam telepon genggamku.

Aku terkesiap bukan sebab aku tahu waktu sudah memburuku untuk segera membasuh wajah yang lusuh, tapi digit-digit yang tertera dalam layar yang sudah lama tak tersentuh. Ada angka-angka yang tak asing, yang sepertinya dulu begitu sering membuat teleponku berdering. Kamu?

tweet me @fasihrdn

Wednesday, February 19, 2014

Hari Ke-18 dan 19: Kalau Rindu Masih Kerap Menyita Hati



Aku hanya bisa meminta ampun pada Tuhan, sebab rindu masih juga berbisik mengganggu. Aku hanya sanggup menjaganya dengan doa. 

Andai bisa, surat ini kulipat dan kujadikan pesawat-pesawatan lalu kuterbangkan bersama hembus angin yang entah bermuara ke mana. Biar tak lagi mengendap di dadaku. Atau kubungkus dengan koran, biar jadi bacaan setiap mata. Boleh juga, kumasukkan dalam karung, biar hancur tertusuk-tusuk tajamnya abu gunung kelud yang menghujani Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Wednesday, February 12, 2014

Hari Ke-12: Peringatan Keras Untukmu, Rindu!


Aku tak punya kuasa atas rasa rindu. Allah, peluk aku untuk satu kerinduan yang bukan milikku....

Peringatan keras untukmu, jangan lagi muncul untuk mengganggu....
Kembalilah pada penciptamu, Rindu. Kumohon jangan berkeliaran di hatiku.

Tuesday, February 11, 2014

Hari Ke-11: Kubawa "Kamu" Menuju-Mu; Rindu


Follow my heart @fasihrdn

Ketika hati kecil mengungkap pendapatnya, sekeras apapun mencoba melawan, ia tak kan menghasilkan sebuah ketenangan. Sedalam apa aku menyembunyikan perasaan, akan muncul juga ke permukaan. Kebohongan tak kan pernah bisa bertahan meski mati-matian diusahakan untuk terus ditutup-tutupi kebenarannya. Apalagi soal "rasa" yang suka salah-kaprah dalam penyampaiannya, dalam menjaga dan memeliharanya.

Aku tak perlu mengingat keburukan untuk membencimu. Sebab waktu itu, aku tak mencari kebaikan untuk mencintaimu.

Kata banyak orang, cara ampuh untuk melupakan sakit hati dari cinta adalah dengan mengingat keburukannya. Tapi barangkali ada cara yang lebih baik daripada sebuah kebencian. Adalah dengan mengubah perasaan cinta menjadi pertemanan yang saling mengingatkan pada kebaikan.

More quotes www.fasihrr.tumblr.com

Sunday, September 1, 2013

Memoar


Cerita tahunan lalu, bertemu pada satu titik yang bernama rindu.

"Betapa kalian tak perlu tahu untuk apa aku bersembunyi. Kebodohan yang tak akan pernah kuulangi. Menyia-nyiakan tawa kalian. Melewatkan cerita-cerita kalian. Kalian tahu? Kalian mesti tahu; doaku tak pernah lepas untuk kebahagiaan kalian, kawan."

Sudah tahunan lalu, sebelum waktu menjadi alasan menggeser langkah-langkah kecil kita berjalan berlainan arah. Ternyata aku salah asumsi. Aku yang menepi. Aku yang memutuskan untuk pergi. Apriori yang kadung menjejak dalam benak. Kalian yang melupa, bukan aku yang mengasingkan diri.

Wednesday, June 26, 2013

Sophisticated; Friksi dalam Hati


Desakan dalam dada, katanya ingin cinta pergi saja. Tapi rupanya bagi hati, cinta adalah bonanza.

Kali ini aku takut kaumengerat apa yang belum boleh kuinjak. Aku takut perasaan yang memenuhi ruang di jiwa ternyata galat semata. Padahal serebrum sudah mati-matian mengatrisi perasaan yang mulai agitasi. Konvensi yang tak pernah jadi kesepakatan antara kau dan aku, ternyata bertemu dalam ekamatra.

Ah, betapa ramai sekali di hati menjabarkan esensi. Mengelaborasi satuan rasa yang membelah diri. Apa tidak salah menyerahkan naluri pada intuisi yang belum tentu tepat bidik? Apa pantas membiarkannya terus berkeliaran? Sedang aku tahu betul ada yang sedang membelungsing. Tak henti menginsinuasi gerak hati.

tweet me on @fasihrdn
Lalu dengan takzim aku memintanya undur diri dari sini; evokasi yang mulai membuatku takut sendiri. Kalau-kalau yang berani menelusup hati ternyata sekadar imitasi. Eklektik; masih memilih sana-sini. Atau barangkali, nomadik; berpindah kesana-kemari.

Sudah kutanyakan ini berkali-kali, tapi tak juga menghasilkan konklusi. Sebab sepertinya suatu hal yang muskil, mengeksekusi paksa rasa yang genjah; begitu mudah menyebar. Yang orang bilang itu cinta. Apa mungkin begitu saja akan abdikasi dari hati. Apa mungkin?


Thursday, June 13, 2013

Kunamai Kau dengan Rindu



Satu. Rindu. Cuma itu.

Kamu pun tak perlu tahu seberapa sering aku menyimpan rindu untukmu dan aku mulai gelisah karena itu. Bagiku ini hanya soal waktu yang belum berpihak padaku. Belum saatnya membagi resah berdua denganmu. Tak perlu risaukan aku, ini memang hanya soal rindu.

Satu. Rindu. Dan terus saja begitu.

Seperti barisan kata yang sederhana untuk kamu baca, ini memang hanya sebab aku merindukan apa yang sudah lama kutahan sendirian. Entah salah atau benar, aku tetap saja merasa rindu itu kian hebat berakrobat. Sepertinya jadi ngilu waktu aku hanya bisa berucap rindu pada hatiku tanpa kamu dengar betapa melengkingnya di telingaku.

Apa rindu tak meraung-raung di telingamu?

Satu. Rindu. Aku menunggumu.

Lama-lama jadi siksa. Tapi tetap hanya bisa kutahan mati-matian. Sebab aku enggan mengganggumu. Kecuali menunggu, aku hanya bisa melihatmu dalam bayang-bayang yang kuciptakan sendiri. Siapa bilang menunggu itu membosankan? Menunggumu akan selalu jadi hal yang menyenangkan. Terkadang aku ingin menjemputmu, ah, aku ini siapa?


Thursday, April 25, 2013

Rindu Hujan Masa Kecil



Siapa yang tidak merindukan dirinya di waktu lalu? Membuka lembaran-lembaran yang usang penuh dengan tawa lepas dari seorang anak kecil. Melihat dirinya bermain-main dengan hujan, menari di bawah guyuran hujan. Aku selalu suka dengan hujan. Ayah selalu mengajakku menunggu pelangi datang setelah hujan.

         “Aaaaaa aaaaa! Aaaaaa!” Aku berteriak-teriak saat Ayah menyiprati air hujan ke muka polosku.

Lalu Ibu menyiapkan teh hangat dan pisang goreng yang selalu kumakan dengan olesan madu. Kata Ibu, begitu caranya makan pisang goreng yang enak. Tadinya kupikir rasanya akan aneh, tapi setelah Ibu menyuapiku, aku jadi ketagihan dan terus meminta digorengkan pisang setiap hujan turun. Jingga memang tak ada habisnya untuk diceritakan. Selalu menyelipkan tawa renyah seorang bocah.

follow me @fasihrdn
Aku membuka lembar berikutnya, ada wajah lugu yang memamerkan deretan giginya yang rapi dengan dua pita di rambutnya. Memakai rok bewarna merah kesukaannya. Rok yang hanya ia gunakan di saat-saat tertentu saja. Katanya, kalau memakai baju harus urut dari yang paling jelek sampai yang paling bagus. Sampai akhirnya rok dengan pita-pita di bagian depan itu selalu tertindih baju-baju yang lain. Jadi lupa untuk dipakai. Aku tersenyum konyol, mengingat pikiran anak kecil memang sederhana.

Monday, October 8, 2012

Waktu, Aku dan Kamu



Entah, besok atau lusa. Aku hanya mau berada paling dekat denganmu. Meski kamu kerap membelokkan pembicaraan ke arah kematian, tapi aku tetap akan terus begini sampai waktu menjemput salah satu di antara kita.

Aku bukan pengiring kepergian yang baik. Sebab sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa rela menghela napas tanpa udara di sekitarmu. 

Berkali-kali uluran tangan seseorang datang memelukku. Membantuku berdiri tanpamu, menoleh ke arah yang lain. Tapi yang ada justru luka yang mengingatkan aku pada satuan terkecil tentang cinta. Seandainya tidak pernah terjadi, seandainya aku dan kamu tidak pernah dilengkungkan dalam satu titik pertemuan yang mengakibatkan lara di jiwa. Seandainya saja....

Seperti inikah? Kamu bilang tak akan pernah menjadi satu yang beradu padu. Antara hatiku dengan degup jantungmu, tak 'kan menjadi denyut yang berpaud menyatu. Padahal, nyatanya aku selalu bisa merasakan sengal napas yang membuatmu terkadang enggan lagi melakukannya. 

Matamu masih sayu, masih sama seperti pertama bertemu. Masih seperti itu juga aku membaca mimik mukamu. Mengapa masih saja menyisakan rasa yang tanpa tepian? Bahkan yang berakhir menjadi suatu perpisahan pun tak benar-benar kunjung datang. Kamu selalu datang saat aku mulai tersesat. Saat aku mencari pintu keluar, kamu seperti menguncinya rapat-rapat.

Seperti itukah waktu berputar hanya untuk menjatuhkan luka yang mengakar? Hanya untuk membicarakan tentang kematian atau perpisahan. Bagiku waktu adalah siksa, sebab waktu menjadi jarak yang tak bisa menahan satu pelukan panjang. Selalu berkahir pada genggam yang saling melepaskan.

Seperti itukah waktu berputar hanya untuk meninggalkan tangis yang gemetar? Hanya untuk menunjukkan betapa hebat jarumnya menusuk-nusuk rusuk. Memberi lubang besar yang menyuarakan sisa-sisa kerapuhan. 

Seperti itukah waktu berputar hanya untuk membuat cinta makin lebar menyebar? Lalu seenaknya ditabrakkan pada alasan yang mengharuskan seseorang untuk meninggalkan dan ditinggalkan. Seperti itukah hakikat kehidupan? Seperti itukah waktu begitu kejam melambaikan keterbatasan? Antara aku dengan kehidupan pada zaman sebelumnya, mengapa mesti dipisahkan dengan berbagai macam alasan? Mengapa melulu mesti soal waktu?

Lalu bagiku, waktu bukan lagi penghitung masa lalu. Bukan lagi pengingat masa depan. Bukan lagi teman masa kini. Waktu, aku, dan kamu adalah yang tak bisa berkawan. Aku dan kamu yang tak 'kan bisa melawan waktu kecuali dengan keajaiban. Bukankah begitu pula bagimu?

Monday, September 10, 2012

Ini Cinta atau Apa?

Aku tak bisa berhenti melangkah menuju arahmu. Bagiku kau bagai bulan dalam legam. Mengapa tak bisa kusentuh, meski hanya serpihannya yang berpendar? Sebegitu aku di matamu, hanya seperti si punguk merindukan bulan. Atau seperti apa kiranya aku harus meneteskan tinta, selalu menuliskan tentangmu. Hanya untuk menikmati majas-majas sampai kau puas. Begitukah seharusnya aku mencintaimu?

Aku sudah lama kehilangan makna dari rasa, sebab waktu kerap mengingkari janjinya. Aku sempat ingin benar-benar pergi, lebih baik mati bunuh diri daripada harus terus hidup seorang diri.

Terkadang aku ingin berjalan membelokkan arah, menyalahi jalur yang sudah diatur. Aku ingin merasakan napasku menghela bukan dalam keadaan paksa. Apa harus berpikir di luar kotak agar terlihat istimewa di relungmu? Aku benar-benar menyerah pasrah. Aku tak mau membuat Tuhan marah karena aku sering membuang keluh-kesah. Aku bukannya ingin menyulut amarah, hanya saja hatiku kini sudah penuh gumpalan resah. Tak tahukah? 

Yang semula kukira hasrat sementara, malah makin membulatkan gelora. Yang tadinya kupikir bisa dengan cepat kulupa, ternyata justru mencipta siksa membara. Mengapa jadi menyesak di jiwa? Tak mau tahukah?

Ini cinta atau apa? Apa hanya sementara? Apa sekadar bualan mesra? Atau apa, aku tak mau tahu. Hanya akan menuangkan rasa lewat bahasa. 

Ceritakan padaku Tuhan, tentang rencana yang sudah Kautulis dengan pena. Atau setidaknya beritahu aku, di mana bisa menemukannya, cinta dalam dirinya.

Saturday, August 25, 2012

Apa Susahnya Mencintaiku?


Coba ceritakan tentang hatimu. Jelaskan siapa kamu. Apa benar tak bisa melihatku dengan kedua matamu? Atau hanya bisa memandangiku dari balik layar serupa monitor. Kalau saja feeling-ku tepat, seharusnya kamu mulai merapat. Mestinya sekarang kamu menjadi yang paling kerap mengunjungi tulisanku. Harusnya kamu menjadi pembaca setiap baid yang menceritakan tentang kamu. Sebab aku sengaja mengurai abjad untuk kamu mengerti maksud yang kusembunyikan dari setiap lengkungan senyumku. Memahami kata-kata yang tak bisa melantangkan suaranya. Seharusnya kamu membaca lakuku, seperti aku yang mulai mencarimu.

Hey, Bung! "Kamu" yang menjadi tokoh utama dalam ceritaku adalah kamu.

Kamu yang kusebutkan dalam celotehanku itu kamu. Nama yang kurapal dalam mimpi itu kamu. Wajah yang membuntuti bayanganku itu kamu. Suara lirih yang menggema dalam susunan playlist-ku itu mencitrakan tentang kamu. Coba kemari, lihat di sini. Yang menelusup lewat rongga dadaku itu mengisyaratkan kamu. 

Follow me @Fasihrdn
Lalu di mana lagi aku bisa mencarimu? Sedang aku tak tahu di mana rumahmu. Harus bagaimana aku menghubungimu? Sedang aku tak punya nomor teleponmu. Lalu dengan cara apa lagi agar kamu mendekat di pelukku? Sedang kamu tak kunjung membuat sinyalnya berbaur menyatu.

Mengapa tak juga bertanya apakah sosok "Kamu" yang selalu ada dalam ceritaku adalah kamu? Atau yang lebih sederhana, mengapa tak mencoba mendekatiku?



Susah payah memasang kode yang sengaja kubuat lebih mudah. Tapi jadi percuma kalau kamu tak pernah mencoba memecahkannya. Atau kamu punya sistem yang lebih canggih untuk menemukan kata kunci yang tersembunyi? Pilih saja mau dengan cara apa, coba jelaskan padaku. Apa ini caramu memutar-mutar hatiku? Membuatnya sedikit linglung, jadi bingung.

Selama kata mengalir sampai ke hilir, semua masih tentang kamu. Hanya saja perasaanku larut, jadi carut marut. Aku ingin bersembunyi di balik waktu, lebih baik tak pernah mengenalmu. Tapi sepertinya terlambat untuk balik kanan, memutar arah langkah. Aku terlanjur menjadi yang selalu memimpikanmu, dan merindu.

Jadi cepatlah datang kemari, dekati aku. Katakan kau mencintaiku.

Sunday, August 19, 2012

Merindu yang Terabaikan


Bagaimana lagi caranya menghentikan yang tak mampu kukendalikan. Rasa yang terlanjur menyebar mekar. Dan sekarang yang tersisa tinggal aku, memandangi kita yang terekam waktu. Tentu saja menyimpan pilu bertalu. Berharap semua tak pernah berlalu, atau lebih baik mengulang masa lalu.

Ternyata sukar menukar cinta yang terlanjur mengakar. Menggantinya dengan jenis rasa yang lain, mengapa susahnya bukan main? 

Aku yang salah menempatkan perasaanku, atau cinta jatuh tidak tepat waktu? Bagian mana yang perlu kupertahankan? Mencintaimu dalam diam tanpa akhiran, atau melupakanmu bersamaan dengan kesakitan? Tolong, jelaskan!

follow me @fasihrdn

Aku tak bisa menyelesaikan ini sendirian. Yang sebelumnya tak pernah sengaja kumulai dengan perasaan. Mana mungkin aku bisa mengatakan? Ini cinta atau bukan. Kamu hanya membuatku makin larut dalam keadaan bimbang. Dan mencipta ilusi yang semakin terkembang. Menyisakan bayang dalam petang. Apa kamu sengaja menyiksaku dalam tekanan? 

Kamu seperti pura-pura tidak tahu, padahal kamu sengaja tersenyum di depanku. Apa memang ingin meliarkan lamunan? Menjadikan perasaanku celotehan yang bisa kamu jadikan bacaan?

I don't know how to be someone that would you miss.

Suatu saat akan datang perasaan yang sama seperti yang sedang beterbangan sekarang, saat itu juga kamu akan merindukan seseorang yang pernah kauabaikan. Saat kamu merasa kehilangan yang biasanya kuperhatikan diam-diam lewat tatapan, saat itu pandanganmu berkeliaran dalam satu titik; bernama kerinduan.



170812~I hope you will miss me when I'm gone.

Saturday, August 11, 2012

Siapa Kamu, Diam-diam Membuatku Rindu


Apa bagusnya kamu? Mengapa bisa sampai menyita waktuku? Kamu menciptakan ilusi dari hati. Membuatku berangan tentang kamu. Mencari tahu siapa yang memeliki mata sayu. Kamu membuat telingaku hanya mendegar suara kalemmu. Ah, siapa kamu ... berani-beraninya mencuri perhatianku.

Aku kangen, jadi rindu setiap waktu. 

Mungkin kamu tidak tahu siapa aku, yang di sini diam-diam berharap kamu membaca tawaku. Melihat larik-larik dalam barisan tulisanku yang berbicara tentang kamu. Aku pikir perasaan ini semacam terbiasa melihatmu. Menghilang esok hari dan melupakan apa yang pernah kutulis sebelumnya. Tapi mengapa justru makin kuat mengaung ke seluruh penjuru kalbu?



Aku memang miskin kosa kata, aku hanya bisa bilang ini itu setiap hari.

Tapi tahukah? Aku masih jadi pengagum rahasia yang mengikuti derap langkahmu. Aku memang tak punya banyak waktu untuk meneruskan polamu. Selagi masih ada waktu, aku ingin menjadi yang paling sering berada di dekatmu. Tak perlu menoleh ke arahku, cukup aku saja yang melirik mengintaimu. Tak perlu berbalik arah menghiraukan aku. Aku ini hanya perempuan tak tahu malu, mencintai yang tak mengenalku. Yang tak ingin tahu siapa aku.

Aku menghabiskan berjam-jam untuk sekadar duduk menikmati senyummu di depan layar. Menipu diri sendiri, berharap senyum itu memang hanya untukku. Hey, aku tak memintamu memutuskan untuk mencintaiku. Cukup merasakan senyum yang menyebarkan ketenangan; di sekitarmu aku merindu.



110812~ Ini untukmu, ya, kamu.

Wednesday, January 4, 2012

Boleh, Aku Merindu?


Boleh aku merindu? Merindu angin lalu? Aku kangen diriku yang dulu. Waktu luka bukan alasan untuk kehilangan sederet senyuman, waktu lelah tak membuatku jadi mudah pasrah. Dan sesak di dada bukan bahan bakar isak tangis yang meluncurkan airmata. Apa boleh aku menginginkan waktu kembali berputar ke arah kanan? Apa bisa jemariku menyentuh lagi yang lama sudah tak ku rasa. 

Apa boleh aku ingin menjadi seperti........... Ah, saat masih begitu lugu, tak mengerti apapun.

Karna rupanya aku mulai kehabisan daya, aku lelah. Ku ulang, AKU LELAH. Aku ini punya banyak keterbatasan, dan apa salahnya aku mengistirahatkan diriku? Izinkan aku menangis sejadi-jadinya, meski sendirian tersedu-sedu aku tak peduli lagi. Aku hanya ingin memuntahkan semua sesak yang makin menyergap. Aku ingin meloloskan rasa gelisah yang membuncah makin parah. Apa salah?

Bahkan aku tidak memintamu untuk merasakan hambar di hatiku, aku tak memohon padamu untuk menyamakan langkahmu dengan derap kakiku. Yang paling sederhana, aku pun tidak mengharap siapapun mengerti atau mau mengerti atau bahkan mencoba untuk mengerti. Aku merindukan waktuku yang dulu, jarum jam yang berputar menghabiskan senyumku. Ayolah, aku ingin waktu bukan lagi jadi musuhku.

 I'm sorry GOD, I'm just too tired to breathe.

040112

Sunday, December 26, 2010

MELEPAS RINDU

dari kiri irma, aku, lina dan tami
HALLO Bloggers,
Hari ini aku main bareng temen SMPN9YK, yepss    mereka adalah sahabat terhebat sepanjang zaman.
Mereka yang mengisi lubang besar di hatiku dulu waktu senyum tak pernah mampir di bibirku :D
Kami selalu berjalan beriringan walaupun kini kami berjalan dengan arah yang berlainan tapi di sudut hati kami masih sama, satu, sahabat selamanya:)






narsis ya :)
Oke Bloggers, aku mulai dari yang paling kanan, yeaa she is Amalina Farahiya, ketos(ketua osis) SMPN9YK. sebenernya sih ya aku udah tau dia sejak waktu masih di SD MUH SAPEN YK, tapi kami nggak begitu kenal eh malah kami saling bersikap dingin waktu itu. Tuhan mempertemukan kami lagi di SMP dan hingga kini kami masih sering bergandeng tangan dan tersenyum bersama atau bahkan sekedar ngobrolin hal yang nggak penting:)







Selanjutnya dengan baju belang-belang hm, yang belang memang lebih enak #iklan namanya adalah Utami putri kinayungan. Dia salah satu sahabat terindah yang punya kulit exotis hihi peace Tem.
Oke aku mulai bingung harus bergaya gimana lagi
Diantara kami berempat, betul, dia yang paling rajin dan pintar, dia juga anak tunggal sekarang ini, sama sepertiku(rapenting). Aku menemukan dia #berasakucing tepat di kelas 8D ya kami baru saling mengenal lebih dalam di sana. Banyak petualangan seru yang kami lewati ditemani dengan gurat senyum atau linang airmata yang memperkuat lengan kami untuk saling berpelukan:)











jadwalnya untuk meringis :D
Yang terakhir, Irma Novia Arum Sari. Tepat, dia memang orang Wonosari HAHA terlihat kan dari namanya hehe.
Sahabat teraneh dan paling lugu tapi suka nyep*p wkwkw (tapi aku enggak loh, sumvah) sering kami melakukan hal-hal konyol bersama, dia sama sepertiku, cinta akan kata-kata yang menari di bawah keindahahn sastra. Kami sering bertukar puisi dan dari situ kami sama-sama belajar banyak tentang kalimat yang bersolek indah di atas selembar daun kering:)

Thursday, December 23, 2010

PART 3

           Di gerimis pagi yang rebah mengantarkan kakinya melangkah menuju hari yang tak pernah ingin Dea lewati. Derap langkah menggema dalam sejuknya embun yang terbungkus sepi. Matanya yang sembab akibat menangis semalaman temani gerak tubuh mungil Dea menyusuri tangga sekolahnya. Tak satupun senyuman dapat ia temukan, hanya ada Dea dan bayanganya. Tak sabar Dea menunggu Tania. Sudah sesak batinya penuh derita yang ingin segera ia bagi pada sahabatnya itu. gontai langkahnya menuju UKS. Tempatnya membasuh rindu akan cinta  Gilang, kakak kelas Dea yang selalu ia kagumi membawanya terus berkarya dalam tulisan-tulisan tangannya. Pemberi inspirasi terbesar untuk selalu menumpahkan perasaanya, dengan bahasa sederhana yang menguak perihnya mencintai lelaki yang hanya menganggapnya seorang adik. Sempat Dea rasakan segenggam cinta yang Gilang taburkan dalam senyumnya. Sekejap hilang entah mengapa membuat mereka semakin jauh. Tak pernah padam api cinta dalam dadanya, terus mencintai lelaki tampan berbadan kurus itu, walau hanya dengan balutan puisi sederhana yang selalu membingkai perasaannya yang tenang ketika menatap senyumnya yang rekah mengembang. Hanya di tempat inilah Dea dapat menyatukan kepingan kisah yang telah retak tak bernada.  Di sinilah tempat di mana Gilang mengumbar senyum pertamanya yang meluluhkan kerasnya hati Dea saat itu.
Ingin rasanya memutar jarum waktu yang menusuk-nusuk batinnya. Ketika tawa itu bertahta di hatinya, di saat perhatian menata senyumnya. Sirna sudah semua kisah yang terlalu perih tuk dikuak . Bel masuk membuyarkan lamunannya, seketika Dea tersentak kaget tak menyangka sesosok lelaki sedang memperhatikanya dari kejauhan. Dea berdiri kembali ke kelasnya yang sudah ramai dengan suara-suara yang hangat. Kelas delapan D yang awal mulanya sangat Dea benci kini telah berubah menjadi kelas teraman dan selalu membuatnya nyaman ketika berada di dalamnya. Suasana yang begitu akrab sejenak lupakan hatinya yang lelah akan masalah yang ada.
          Tanpa basa-basi Tania menghampiri Dea yang sudah penasaran ingin segera mendengar cerita dari sahabatnya itu.
          “Eh mana smsnya Denya itu?”tanya Tania penasaran.
          “Nih, baca aja. Dasar nggak tau diri tuh anak. Maunya apa sih”tutur Dea kesal.
          Sesaat ketika membaca Tania meneteskan airmata.
          “Hey hey. nggak usah nangis dong. Aku ntar ikutan nangis lagi ni.”ucap Dea kaget melihat Tania yang meneteskan airmatanya, yang kemudian juga membuat dea menangis pedih.
          “Gila ni anak sinting kali yya. nggak tau malu banget!”kata Tania makin kesal.
“Udahlah biarin aja Denya mau gimana. Oya, ternyata gosip aku sama Farel itu udah nyebar ke satu angkatan”Ujar dea pelan.
“Jadi semua anak kelas dua nganggep kamu ada apa-apa sama Farel gitu?”tanya Tania nggak percaya.
“Iya . Kata si Angie anak kelas B itu sih aku tuh temen makan temen gitu”Kata Dea mulai menjelaskan.
“Ihh aku nggak ngerti ya, mereka thu taukan kalo kita itu sahabatan? Kenapa harus dibuat jadi masalah gitu”Tania semakin jengkel pada keadaan yang makin panas.
“Mana si Denya thu minta maaf nggak niat banget. Sumpah ya bener-bener nggak tau diri”Dea ikut emosi.
“Iya emang dari dulu kayaknya . Trus Farel tau nggak?”Tanya Tania.
“Emm, belum. Baru mau cerita. Ahh nanti aja deh”Kata Dea sambil berlalu menuju kamar mandi.
“Eh De . Maaf loh yang kemarin”Ucap Denya yang kebetulan juga sedang di kamar mandi.
“ohh nggak apa”Balas Dea dengan nada datar lalu pergi meninggalkan Denya kembali ke kelas.
***
          Sang surya makin berani saja membakar Jogja, menyengat kulit-kulit, kejam memanggangnya hingga menyerupai kulit kepiting. Dea dan Tania beranjak dari kelas menuju tempat mereka biasanya. Mereka memandang sejenak keheningan suasana yang ditawarkan di sana. Sunyi   Tak berisi.  Dea dan Tania tak peduli dengan itu. Mereka tetap duduk di situ, mungkin menikmati suasana dingin yang membuat mereka membeku. Ada yang kurang di situ. Tak tampak wajah Ira dan Lia. Mereka memang jarang berada di tempat ini karena sudah merasa asing dengan keadaan yang ada. Dea menangkap wajah Denya seperti tak ada yang pernah terjadi. Makin muak, Dea langsung pergi meninggalkan mereka. Tania yang sedang terbayang dalam lamunannya pun ikut beranjak pergi.


***
Angin panas berhembus lemah lembut menyusup tulang rusuk yang telah merapuh. Dea yang sedang memikirkan sesuatu menatap langit dengan iba , rindu berkecamuk dalam kalbu membuat pikirannya melayang-layang tak menentu. Teringat sepenggal cerita pertemuan pertamanya dengan Gilang yang tanpa ia sadari membuat dadanya bergetar menahan sembilu. Sekejap terlintas bayang-bayang semu Farel yang perlahan menggerakkan tangannya untuk menanyakan sesuatu. Lama tak ada balasan dari Farel, pikiran Dea menjadi-jadi. Ia berfikir Farel marah padanya. Namun saat Dea jauh lebih memikirkan hal itu, rasanya tak mungkin bila tiba-tiba Farel marah kepadanya, karena baru saja dea bercerita tentang Denya pada Farel. Tiba-tiba hp Dea bergetar, setelah ia melihatnya ternyata ada balasan dari Farel. Senyum tipis dea mulai mengelopak. Mulai ia membaca isi sms itu. Seketika pucat resahnya, bukan Farel yang membalas smsnya tetapi Angie dan Vittalah yang membalas dengan bahasa yang menikam sukmanya. Binar mata Dea lenyap tak bertahan. Selaksa kecewa pada Farel, Dea merasa Farel sama saja ikut ambil peran menginjak harga dirinya karena mengijinkan mereka berkata seperti itu. Bersedih tanpa kalimat, seperti biasa Dea tuangkan dalam diamnya kata, dalam bungkamnya bahasa. Satu-satunya penyejuk nuraninya jika tersiksa adalah bercinta dengan kata. Menjaganya di kala sepi menghampiri, menepis resah gelisah hatinya.



To be continue...

Thursday, December 16, 2010

Bayangmu Pekat

Takdir yang menyatukan kami
takdir juga yang menghempas kami
sungguh betapapun aku masih ingin
laksana sang surya yang setia pada alam

aku ingin tapi takdir tak mengizinkan
aku bermimpi namun dia menggugah tubuhku
merinding sudah seluruh aliran darahku
MATI, iya, ingatan itu membawaku masuk merelung

menguak apa yang tersisa di sudut
kepingan yang pecah berserakan
yang tajam ujungnya meluka
menggores lebih dalam, lebih lagi

merebakkan airmata, membuka sedikit
senyum lusuh tentangmu, tentang kita
terekam lekat memenuhi pekat udara, kita
atau tangis yang membuat janji itu tertawa pahit
dengan genggam tangan yang erat sepekat ukir namamu

Merusuk sehebat semua tentangmu
yang merekatkan tawa kita, dulu
sebegitu bayangmu lekat teramat

291110