Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label galau. Show all posts
Showing posts with label galau. Show all posts

Friday, January 10, 2014

Bolehkah Aku Mencintai Lelaki Itu, Bu?


Boleh kutitipkan rasa sayangku ini padanya, Bu? Boleh aku menjadikannya doa dalam setiap sujudku setelah aku mendoakanmu, Bu?


Sebab aku pun tak sengaja bertemu dengan lelaki itu. Aku tak pernah berencana mencintainya. Tapi sekarang, aku justru ingin menjadikannya bagian dariku sampai nanti, Bu. Seperti Ibu yang hidup dengan ayah sekarang ini. Aku sedang diserang rasa yang dimiliki setiap anak muda ... yang tak bisa kucegah dan kuhentikan begitu saja. Jadi, bolehkah aku....

Ibu pasti jauh lebih tahu, bagaimana rasanya membutuhkan satuan lain untuk menggenapi sebagian yang kurang. Aku melakukan apa yang belum pernah kulakukan, itu cinta kan, Bu? Entah, berapa kali aku mengatakannya, aku mencintai lelaki ini dan itu. Lalu berganti dengan yang lain. Tapi sungguh, kali ini aku butuh restu darimu. Sebab aku ingin melanjutkan hidup dengannya. Aku membutuhkan doa seorang ibu....

Kamu percaya kan?

Katanya, sesuatu yang sulit didapatkan akan jauh lebih dijaga nantinya. Aku percaya itu. Mungkin Tuhan ingin tahu seberapa dalam cintaku. Seberapa kuat tekadmu. Seberapa besar iman yang melekat di antara kau dan aku. Barangkali, Tuhan menguji kadar keseriusan manusia lewat sesuatu yang menyakitkan. Tapi aku masih percaya, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Kamu juga percaya kan?

Sunday, October 20, 2013

Catatan Kenangan di Bawah Purnama


Bintang Jatuh di Mataku

Aku selalu suka dengan bulan
merayap dari balik bukit
yang samar-samar cahayanya terhalang dedaunan

Aku mengkhidmatinya;
suara angin yang mencuri sedikit kehangatan di wajahku
Aku menikmatinya;
semburat serbuk emas yang mengambang di atas awan
Berlarian, serupa kau yang jatuh tepat di mataku

Lalu di seberang mataku ada bintang
yang mekar sendirian
membelah separuh mega yang mulai petang

Sepanjang jalan yang muaranya adalah purnama
melambai-lambai di jariku
katanya, bahagia itu begitu sederhana
Sepanjang jalan yang muaranya adalah kamu
mengayun-ayun pada lembayung
aku tahu, jawabku
dalam hening yang berisik, diam yang berbisik

Sebab bulan mengikutiku, membuat bola mataku balik mengikutinya
Sebab bintang memperhatikan gerak tubuhku, menyambutku tersipu
Sebab kau menjagaku; melekati seluruhmu.

18 Oktober 2013, menjelang petang, menuju poktunggal beach


Dan aku belum pernah melakukan hal-hal yang lebih gila dari ini. Belum pernah selepas ini, seperti merpati yang keluar dari sangkarnya. Yang sudah pensiun mengirimkan surat cinta orang-orang zaman dulu. Bawalah pergi cintaku, ajak kemana kau mau ... jadikan temanmu, temanmu paling kau cinta~ *nyanyi dulu*

Pernah merasa pekatnya penat menampar-nampar wajahmu? Merasa apapun yang kaulakukan adalah kehampaan yang hakiki, pernah? Dan aku tak pernah menemui jawaban atas kekosongan di dadaku. Yang tak pernah bertemu belahannya, separuhnya ... hanya kesalahan-kesalahan atas nama cinta, hanya percikan api sementara lalu habis begitu saja di makan waktu. Apa mungkin kamu ... bisa? Ah, nggak yakin, coba yakinkan!

Wednesday, September 25, 2013

Dan Kau....


Mengubah kebiasaanku yang lebih tenang tanpa siapapun, jadi kelimpungan saat tak ada kamu di sekitarnya.

Meski tak kubuka dengan suara, tak kutulis dengan kalimat tanya untuk tahu jawabannya. Semestinya tahu dengan sendirinya. Apa kau buta? Tak bisa membaca peta yang susah payah kugambari sendiri. Atau kau pura-pura? Tak mau meraba jejak menuju hatiku yang mulai meluka sendirinya.


Ah, kini galau jadi teman sehari-hari. Padahal kau tak peduli sama sekali. Beritahu aku caranya membuatmu merindukan aku setiap waktu. Lalu kaugeser ia dari lini waktumu. Masa lalu yang tak perlu kauharap kembali ke pelukmu. Tak juga sadarkah dirimu telah mengusik hatiku; Mengubahnya jadi sembilu.


Lalu setiap menit sampai habis malam kusambangi ponselku hanya untuk melihat apa kau menghubungiku. Akan kutunggu kau ajak aku bicara meski tanpa tatap muka, sebelum merjan pecah dini hari. Apa kau tahu bagaimana rasa sesak saat harus menahan diri untuk tidak merindukan seseorang yang (bukan) siapa-siapaku ...

Wednesday, June 26, 2013

Sophisticated; Friksi dalam Hati


Desakan dalam dada, katanya ingin cinta pergi saja. Tapi rupanya bagi hati, cinta adalah bonanza.

Kali ini aku takut kaumengerat apa yang belum boleh kuinjak. Aku takut perasaan yang memenuhi ruang di jiwa ternyata galat semata. Padahal serebrum sudah mati-matian mengatrisi perasaan yang mulai agitasi. Konvensi yang tak pernah jadi kesepakatan antara kau dan aku, ternyata bertemu dalam ekamatra.

Ah, betapa ramai sekali di hati menjabarkan esensi. Mengelaborasi satuan rasa yang membelah diri. Apa tidak salah menyerahkan naluri pada intuisi yang belum tentu tepat bidik? Apa pantas membiarkannya terus berkeliaran? Sedang aku tahu betul ada yang sedang membelungsing. Tak henti menginsinuasi gerak hati.

tweet me on @fasihrdn
Lalu dengan takzim aku memintanya undur diri dari sini; evokasi yang mulai membuatku takut sendiri. Kalau-kalau yang berani menelusup hati ternyata sekadar imitasi. Eklektik; masih memilih sana-sini. Atau barangkali, nomadik; berpindah kesana-kemari.

Sudah kutanyakan ini berkali-kali, tapi tak juga menghasilkan konklusi. Sebab sepertinya suatu hal yang muskil, mengeksekusi paksa rasa yang genjah; begitu mudah menyebar. Yang orang bilang itu cinta. Apa mungkin begitu saja akan abdikasi dari hati. Apa mungkin?


Monday, May 20, 2013

Cinta, Tunggulah Sebentar Lagi


Cinta. Aku tahu kau sudah bosan melumatnya. Membaca kalimat yang itu-itu saja. Tapi mereka yang membenci cinta hanya ada dua alasan yang masuk akal: Ia tak pernah merasakan cinta, atau ia terlalu sering merasakannya. Dan aku tak perlu tahu kau termasuk yang mana.

Cinta. Kau mungkin sedang jatuh di dalamnya. Mungkin juga baru saja dipatahkan olehnya. Kita tak pernah tahu kapan rasa itu bermula, tak pernah mengira di mana bertemu, dan bagaimana bisa begitu cepat tumbuh dan merangsuk makin dalam. Kita tak pernah diberitahu, kita tak pernah diberi peringatan untuk menamainya cinta.

Cinta. Itukah kamu? Itukah kamu yang kupandangi dari jauh. Itukah kamu yang kudengar padahal kau tak berbicara apa-apa. Itukah kamu yang aku tak tahu seperti apa bentuknya. Itukah kamu yang akan jadi jawaban dari segala tanda tanya?

follow me @fasihrdn

Cinta. Aku tak pernah berani menyebut apa yang menggelitik ini dengan sebutan sakral. Kita hanya bisa merasakan tanpa perlu pernyataan. Rindu yang tentu saja teruntuk kamu, apa perlu kuyakinkan kembali?

Sunday, February 10, 2013

TIPS MEMILIH JURUSAN

Kali ini cuma mau share aja nih. TIPS pilih prodi buat lanjut kuliah. Jangan sampai salah jurusan. Jangan sampai berhenti dan nggak kuat di tengah jalan.

1. Pilih sesuai minat dan bakat
2. Pilih jurusan yang "kamu banget"
3. Ikuti hati nurani
4. Pilih yang bikin kamu nyaman dan enjoy
5. Pilih untuk prospek kerja ke depan

Kenapa tips pertama sesuai minat dan bakat?

Friday, December 14, 2012

About Your Ex!

Kali ini (@fasihrdn) cuma mau curhat-curhat biasa aja, nggak pake unsur sastra di dalamnya.

Tentang mantan, apa sih mantan itu? Eh, siapa(?)  Mantan itu seseorang yang "pernah" jadi "sesuatu" di hidup kita. Kita fokuskan pada bentuk yang seperti mantan istri, mantan suami, mantan kekasih. Coba deh, aku mau mengurai definisi "mantan" yang barusan.

Mantan adalah seseorang yang pernah menjadi sesuatu di hidup kita.

Seseorang yang pernah menjadi sesuatu? Bisa diartikan "Siapa" yang pernah menjadi "Apa"(?) #NJLIMET! Yang jelas mantan itu bukti otentik bahwa kita pernah gagal menjalin suatu hubungan. 

Monday, October 8, 2012

Waktu, Aku dan Kamu



Entah, besok atau lusa. Aku hanya mau berada paling dekat denganmu. Meski kamu kerap membelokkan pembicaraan ke arah kematian, tapi aku tetap akan terus begini sampai waktu menjemput salah satu di antara kita.

Aku bukan pengiring kepergian yang baik. Sebab sampai kapan pun aku tak akan pernah bisa rela menghela napas tanpa udara di sekitarmu. 

Berkali-kali uluran tangan seseorang datang memelukku. Membantuku berdiri tanpamu, menoleh ke arah yang lain. Tapi yang ada justru luka yang mengingatkan aku pada satuan terkecil tentang cinta. Seandainya tidak pernah terjadi, seandainya aku dan kamu tidak pernah dilengkungkan dalam satu titik pertemuan yang mengakibatkan lara di jiwa. Seandainya saja....

Seperti inikah? Kamu bilang tak akan pernah menjadi satu yang beradu padu. Antara hatiku dengan degup jantungmu, tak 'kan menjadi denyut yang berpaud menyatu. Padahal, nyatanya aku selalu bisa merasakan sengal napas yang membuatmu terkadang enggan lagi melakukannya. 

Matamu masih sayu, masih sama seperti pertama bertemu. Masih seperti itu juga aku membaca mimik mukamu. Mengapa masih saja menyisakan rasa yang tanpa tepian? Bahkan yang berakhir menjadi suatu perpisahan pun tak benar-benar kunjung datang. Kamu selalu datang saat aku mulai tersesat. Saat aku mencari pintu keluar, kamu seperti menguncinya rapat-rapat.

Seperti itukah waktu berputar hanya untuk menjatuhkan luka yang mengakar? Hanya untuk membicarakan tentang kematian atau perpisahan. Bagiku waktu adalah siksa, sebab waktu menjadi jarak yang tak bisa menahan satu pelukan panjang. Selalu berkahir pada genggam yang saling melepaskan.

Seperti itukah waktu berputar hanya untuk meninggalkan tangis yang gemetar? Hanya untuk menunjukkan betapa hebat jarumnya menusuk-nusuk rusuk. Memberi lubang besar yang menyuarakan sisa-sisa kerapuhan. 

Seperti itukah waktu berputar hanya untuk membuat cinta makin lebar menyebar? Lalu seenaknya ditabrakkan pada alasan yang mengharuskan seseorang untuk meninggalkan dan ditinggalkan. Seperti itukah hakikat kehidupan? Seperti itukah waktu begitu kejam melambaikan keterbatasan? Antara aku dengan kehidupan pada zaman sebelumnya, mengapa mesti dipisahkan dengan berbagai macam alasan? Mengapa melulu mesti soal waktu?

Lalu bagiku, waktu bukan lagi penghitung masa lalu. Bukan lagi pengingat masa depan. Bukan lagi teman masa kini. Waktu, aku, dan kamu adalah yang tak bisa berkawan. Aku dan kamu yang tak 'kan bisa melawan waktu kecuali dengan keajaiban. Bukankah begitu pula bagimu?

Sunday, September 16, 2012

Menggenggam untuk Melepaskan

Sedari tadi aku hanya bisa memandangi layar dengan mata berkunang. Sama seperti aku yang baru saja menatap matamu lekat-lekat malam ini. Sakitnya terlalu tenang untuk meluncurkan air mata. Kamu terlalu hebat menyakitku, sebab aku masih bisa tersenyum tenang dengan kesakitan itu. Kamu terlalu kuat untuk membuatku melupa. Saat ini aku menulis sambil memejamkan mata, aku seperti kehilangan kata. 

Padahal air mata sudah menggantung, tapi Tuhan seperti menahannya. Mungkin tak mengizinkan kamu melihat kesedihan di balik diamku yang membisu.

Kamu datang untuk mengantar kepergian. Padahal aku ingin menangis di pelukmu, mungkin saja air mata bisa menahanmu lebih lama. Tapi kalimat beraroma luka itu terlalu hening untuk menjadikannya air mata. Baru kali ini kesakitanku tak menghasilkan tetesan yang meruncing. Apa karena sudah kadung habis tempo hari?

Kamu pasti ingin segera membacanya, apa yang menjadikanku diam meredam semua kata. Sebenarnya aku ingin bersuara, tapi bahasa seperti sudah lelah menguraikannya. Semalam ini aku hanya ingin merasakan tenang yang kau hadirkan lewat sebuah tatapan. Padahal matamu terlalu sayu untuk menatapku tajam. Tapi aku masih tidak sanggup membalasnya, lebih baik melihat bintang yang bertebaran. Tak 'kan ada jawaban dari sebuah pertanyaan, aku hanya ingin Tuhan saja yang mengatakan. Entah, kapan....

Kamu mencipta kenangan untuk suatu perpisahan. Seharusnya aku menangis kan? Lelaki mana yang bisa melihat wanita menangis apalagi karena dirinya? Seharusnya aku menagis di depanmu! Tapi aku sudah berjanji, Mas. Tak akan menangis di hadapanmu. Seperti yang kau mau, hanya akan ada senyuman yang tanpa tepian. Tentu saja dari ketulusan, itu senyuman paling dalam, teramat dalam. Sebab sebenarnya di sela-selanya ada yang terluka. Tapi suaramu membenamkannya menjadi senyum yang tak 'kan ada tepiannya.

follow me @fasihrdn

Aku menunggu-nunggu kalimat terakhirmu. Tapi ternyata kamu tak juga mengatakannya, pertalian itu, sebut saja dengan rencana pernikahan yang kamu sembunyikan itu. Padahal aku ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu....

Entah,  padahal malam ini seharusnya jadi yang paling menyakitkan. Ditinggal orang tuaku, berurut lalu kamu. Tapi mengapa lukanya seperti samar-samar menghilang saat kamu yang melakukannya? Saat kamu berada di dekatku, meski bukan untuk mendekapku. Aku hanya ingin mendegarmu, bukan lagi dengan kedua telingaku. Tapi dengan satu hatiku. Kamu melukaiku dengan cinta yang tak 'kan bisa menjadi bahagia. Tapi mengapa aku seperti mendengar bisikan Tuhan, yang bilang bahwa nanti ada waktunya untuk berbahagia. Ada yang menari-nari dalam pikiranku. 

Sepanjang jalan aku merapal baid-baid doa. Dua kali aku melihat bintang jatuh. Apa betul seperti itu yang namanya bintang jatuh? Membuat hatiku gaduh mengadu. Tapi bukan untuk mengeluh, hanya ingin merasakan kebahagiaanmu. Meski bukan denganku.

Padahal kamu bermaksud mengakhiri apa yang tak sengaja bermula. Tapi aku seperti baru saja memulainya. Seharusnya aku membencimu, ternyata aku memang bukan pembenci yang sempurna. Cukup membencimu dengan cinta saja ... cinta yang tak sempurna, tak akan pernah jadi sempurna.

Aku paham, Mas. Tahu betul arti kalimat-kalimatmu yang seperti susah payah diuraikan. Tapi aku tetap akan melanjutkannya meski sendirian. Sebab berkali-kali aku mencoba menghentikannya, justru membuatku makin lebar membuka hatiku. Tersenyumlah, seperti aku yang sudah baik-baik saja di genggamanmu yang sementara. Aku tak akan mengharapkan apapun, hanya tak bisa menghilangkan satuan-satuannya. Entah sampai kapan, aku tetap mencintaimu sendirian. 

Sampai Tuhan mengabarkan kepastian.



160912~Bukit Bintang terlalu indah untuk suatu perpisahan yang begitu menyakitkan.

Saturday, September 15, 2012

Semalam Tadi Aku Menuliskan Luka


Semalam tadi aku mengutuk diri semalam suntuk. Berteriak tanpa suara. Mengerang menyudutkan kepala. Rasanya ingin kuhantam ke dinding, biar pecah sekalian. Napasku tersengal-sengal, risau berputar-putar menyesak di dada. Sakit sekali rasanya. Semalam tadi aku berjaga. Sudah tiga hari resah tak kunjung mereda. Tiga malam aku duduk bermanja pada kata. Sayangnya, mengapa selalu ada luka di antaranya?

Mungkin itu sebab mengapa aku lebih suka terluka. Karena Tuhan selalu menjatuhkan luka tanpa sisa.

Lihat saja mereka! Yang tidak punya uang untuk makan. Yang tiada daya karena tidak punya apa-apa selain nasi sisa-sisa. Apa mungkin nasi yang sudah mengering hanya akan dibiarkan saja, sedang perut mereka lapar luar biasa. Apa bisa bertahan tanpa menelan makanan?

Bukankah sama saja sepertiku? Luka seperti teman setiap malam, seperti bulan yang mendaki langit diam-diam. Bagaimana mungkin aku menghilangkan lara, sedang Tuhan terus saja menyuguhi hati dengan luka? Padahal jiwa tak mungkin bisa hidup tanpa rasa. Sedang aku hanya terbiasa punya luka. Lalu dengan apa lagi aku merasa kalau bukan dengan luka? Apa bedanya dengan dia yang makan nasi sisa-sisa? Bermula dari paksa menjadi yang terbiasa. Memang begini Tuhan mendidikku dengan luka sukma. Lalu siapa yang bersalah?

Aku bukan yang pandai membenci, bahkan yang pernah mengkhianati. Aku bukan yang mudah membenci, meski Tuhan setia memberi lara bertubi-tubi. Kalau pepatah bilang membenci adalah cara terbaik melupakan seseorang, mungkin aku tak akan pernah bisa melupakan.

Semalam tadi aku berdoa. Bersujud pada Tuhan, meminta pertolongan. Berkali-kali beberapa lelaki memintaku menggenapi, bahkan yang hatinya sudah dimiliki. Tapi aku pernah jadi yang paling angkuh berkata.

"Aku nggak akan pernah mencintai kekasih orang. Banyak lelaki di luar sana yang masih sendirian."

Mungkin Tuhan ingin menjelaskan, rencana-Nya bukan yang bisa ditebak-tebak manusia. Semoga aku salah mengira, mungkin kamu juga yang pernah memuja kata setia. Tapi mungkin saja Tuhan juga sedang mempertemukanmu pada hampa, yang bilang bahwa takdir Tuhan memang menjadi yang tak terduga. Membelit hatimu, membuatnya jadi bergelut dalam kemelut. Seperti kau yang mulai memberiku penyakit akut.

Aku pernah merasakan kesakitan karena diduakan, tapi mengapa yang sekarang rasanya lebih menyakitkan? Bukankah seharusnya jauh lebih pahit diduakan daripada menjadi yang kedua? Mengapa dulu aku bisa memutar logika, membiarkan seseorang merebut apa yang menjadi hakku hanya karena Tuhan menyelipkan satu kalimat, "Mungkin perempuan itu jauh lebih sempurna." Mengapa logika tidak berlaku lagi hari ini? 

Semalam tadi aku menghakimi. Kalau saja keputusan dibuat seperti pemilihan presiden, maka pasti pilihan suara berada pada dia, yang sudah menggenapi hatimu ratusan hari. Tapi kalau saja ketentuan ternyata berlaku seperti kematian, maka Tuhan yang mengaturnya. Siapa yang tahu, siapa yang akan menjadi siapa? Tapi, bukankah begitu hakikatnya? Hanya Tuhan yang tahu di mana separuh tulang rusukmu berada.

Semalam tadi aku menghabiskan waktu dengan menunggu. Menyiapkan diri sakit hati untuk kesekian kali. Kalau saja harus ada yang terluka, mungkin akulah orangnya. Begitu kan? Mungkin saja perempuanmu tidak siap menerima luka, sebab bertahun-tahun kau membiasakan hidupnya bahagia. Atau sebab Tuhan hanya mengajarinya padaku. Tuhan hanya menjejalkan rasa sakitnya pada perempuan itu, Aku.

Semalam tadi aku menangis tersedu-sedu. Bukan lagi sakit yang menusuk-nusuk rusuk. Aku hanya takut membuatmu juga ikut kalut. Berhenti, Mas. Berhenti menghiraukan tulisan-tulisanku yang tumpah dengan abjad pilu. Hentikan saja bacaanmu itu. Mungkin kamu sama seperti perempuan itu, tidak siap terluka. Jangan sampai merasakannya, karena luka itu kejam menerkam. Kalau belum terbiasa maka akan begitu memilukan. Rasanya... air mata saja tak 'kan cukup menjabarkan betapa sakitnya. Cukup aku saja. Bersama Tuhan Aku baik-baik saja.

Kebetulan? Atau sengaja dipertemukan?
Sumpah serapah, aku bukan pengemis cinta. Aku bukan yang akan meminta-minta cinta. Bukankah aku pernah mengatakannya, aku hanya mencinta bukan untuk suatu imbalan serupa. Sebab kau juga pasti menyadarinya, bahwa cinta bukan yang mudah dimengerti artinya. Bisa tiba-tiba datang begitu saja. Bukan manusia yang mengendalikan, bukankah ada dzat penguasa hati? Bukankah masih ada Tuhan? Sudah tertulis rapi pada tinta milik langit. Terkadang membuat semua jadi semakin rumit bekerlit.

Semalam tadi aku membenahi hati, tak ingin menghalangi yang akan pergi. Sungguh, aku tak ingin kau merasakan apa yang menjadikannya luka. Sebab sedari tadi aku menuliskan luka, Mas. Aku mengurainya satu demi satu. Padahal bukan mauku, bukan....

Lalu semalam tadi aku terisak menyesak. Bukan untuk meminta belas kasihan. Jangan menghardik perempuan sepertiku. Sebenarnya aku tidak lebih kuat dari yang terlihat. Mungkin saja Tuhan ingin mengajariku menjadi perempuan bijaksana. Dengan merasakan engkau yang menancapkan gema yang meraung-raung menyakitiku. Mungkin kamu akan berkata akulah yang menyakiti diriku sendiri. Tapi jauh dibalik itu, mungkin ada yang terlupa. Mungkin ada yang tidak kau sadari. Kamulah yang memperjelas lukanya.

Lalu semalam tadi aku terisak menyesak. Bukan untuk meminta belas kasihan. Tidak apa-apa, Mas. Bukankah air mata hanya bahan bakar sederet tawa nantinya? Tidak apa-apa, Mas. Tersenyumlah seolah semua masih dalam keadaan sempurna, baik-baik saja. Tersenyumlah seolah semua baik-baik saja.


150912- 02.37~ Mengurai perasaan bukan untuk secuil belas kasihan! Sebab aku akan tetap baik-baik saja meski air mata meluncur tak tertahankan.

Tuesday, September 11, 2012

Mengharap Cinta Kekasih Orang


Kata mereka aku bisa gila. Atau sebenarnya memang sudah tidak waras. Apa salahnya mencintai? Bukan aku yang memintamu kemari. Bukan aku juga yang sengaja mendatangi. Ini hanya titik temu yang terburu waktu. Aku jadi lesu mengingat ujung jari telunjukmu. Yang tak menunjukku menjadi yang kau rindu.

Sebatas itu sajakah kau menilaiku? Sebegitu mudah menjamahku dengan rangah. Aku masih menunggu-nuggu sapaanmu yang ramah. Begini sajakah kau merasakan aku? Padahal aku sudah jujur mengaku.

Aku bukan pujangga yang punya banyak cadangan rima. Aku tak sedang mencipta puisi, hanya ingin kalimatku kauresapi. Aku bukan penyair yang mengindahkan bahasa. Menggulirkan bait-bait bertema asmara. Aku juga bukan dia, yang entah siapa. Perempuan yang kau cinta?

follow my heart @fasihrdn

Hakikat Perempuan

Kali ini aku murni bener-bener mau curhat. Nggak perlu pakai kata-kata yang dirajut dengan sajak dan rima. Cukup lewat celah-celah rasa. 

Barusan, "mantan" dateng ke rumah. Tepat saat aku baru saja merebahkan tubuh. Pukul 21.40? Sungguh, kekanak-kanakan sekali. Entah polos atau bodoh. Yang jelas itu nilai minus dariku. Dan menjadi salah satu kesalahan terbesarnya. "Tidak Tahu Waktu." Justru menguatkan keputusan untuk mengakhiri suatu hubungan yang menurutku tidak sehat. Aku pikir sudah berkali-kali datang ke rumah (dulu) sampai harus diusir dulu baru mau pulang. Aku rasa kamu terlalu muda untuk menggandeng tanganku. Pikiranmu benar-benar masih sebatas "remaja labil" yang suka hura-hura. 

Alasanmu datang kemari ternyata ingin memastikan apa masih bisa kembali menjalin. Apa aku masih menyimpan secuil cinta untuk kaunikmati. Tapi maaf, aku tegas tak akan memberi celah untuk berharap. Caramu mencintaiku tak sepadan dengan pikiranku yang terlampau jauh ke depan. Aku tak seperti wanita-wanitamu yang lain, yang dulu-dulu. Bukan perempuan yang sekadar ingin memiliki "pacar" untuk dibagi perhatian. Bahkan aku lebih menikmati kesakitan karena sendirian daripada harus terus meladeni hasrat "anak muda" yang kelewat batas. 

Ada tidak ya, lelaki seperti "Rangga" dalam film ada apa dengan cinta? Diamnya membuat wanita "jengkel". Raut angkuhnya mencipta ragu apa benar dia manusia. Tapi jauh dibalik itu, ternyata dia lelaki yang sempurna.  Di mana bisa kutemukan lelaki sejenis itu? Mandiri? Ha-ha cukup, aku bosan berkhayal menemukannya di sini.

Yang aku butuhkn sekarang bukan lagi cinta kanak-kanak. Walaupun belum paham betul apa itu cinta, tapi percayalah aku bagian dari ketulusan. Kamu selalu menuntut banyak hal dan aku masih selalu dianggap kurang pengertian. Kalau begitu, carilah yang lebih mengerti rasa sepi yang merajah dadamu. Kamu bilang kamu kesepian kan?

Kamu "sok" ingin merubah rangah yang merambah ditubuhku. Tapi sayang, tujuanmu bukan benar-benar ingin sifat cuekku memudar demi kebaikanku. Tapi untuk kamu nikmati perubahannya, untuk kamu rasakan, bukan resapi.

Aku ingin berhenti, berganti posisi. Harusnya aku yang diajari cara terbaik berjalan melalui lintasan yang terjal menjungkal. Bukan selalu aku yang berteriak mengingatkan. Mengertilah aku lelah, seharusnya seseorang dipertemukan oleh Tuhan untuk memeluk resah. Aku muak menyanding cinta yang terus-menerus ingin balasan. Mana ada yang sepertiku, merasakan tanpa minta dipedulikan? Atau aku yang kelainan?

Mana ada yang seperti air mataku? Meruncing beriring jerit yang melengking. Sumpah, sekarang ini air mata merembes deras tak tahu waktu. Di mana lelaki-Mu, Tuhan? Seseorang yang datang bukan untuk meminta perhatian, bukan yang memberi untuk sebuah balasan. 

Aku bosan terus-menerus yang mengingatkan. Aku ini bukan wanita kebanyakan. Bukan meminta lelaki yang hanya punya waktu mengurusi kekasihnya. Apa tidak punya pekerjaan lain? Memalukan. Hidup hanya sebatas memikirkan tentang cinta. Bukankah butuh satuan yang lain?

Aku pernah merasakan apa yang kamu jalani saat ini, Sayang. Terpaksa melepaskan seseorang yang masih sangat ingin dipertahankan. Tapi aku perempuan yang tak hanya menggunakan indra perasa, tapi juga logika. Untuk apa mempertahankan yang tidak bisa lagi diperjuangkan? Bukannya jauh lebih sopan merelakan yang kamu cinta untuk menemukan yang jauh lebih sempurna? Ini bukan omong kosong, bahkan aku pernah harus merasakan luka yang datang bertubi-tubi beberapa hari sebelum ulang-tahunku. Diduakan lalu ditinggalkan tanpa alasan yang menguatkan. Tapi aku bukan kamu, hey, para lelaki yang diperbudak oleh rasa sampai-sampai kehilangan logika. Aku membiarkannya pergi dengan seseorang yang mungkin lebih sempurna mencintainya. Aku yang seorang wanita saja bisa, mengapa kamu tidak?

Di mana lelaki yang tahu aturan, yang tak 'kan menjejalkan rasa bosan? Karena aku bisa menjadi yang bermekaran paling indah seperti bunga mawar, tapi bisa berubah serupa duri dalam tangkainya. Aku masih percaya, bahwa Tuhan sudah mengikatkan kehidupan yang penuh kejutan. Aku masih menunggu-nunggu, melihat kesana-kemari. Di mana yang jauh lebih tinggi dari hargaku? Karena aku tak mungkin terus-menerus hidup untuk meluruskan. Sesekali aku ingin juga merasakan diberi ketenangan, diajari caranya bertahan melawan arus kehidupan. 

Sekali lagi aku tegaskan. Jangan coba-coba mencintaiku kalau kamu belum yakin bisa jauh lebih baik dari aku. Bukankah begitu hakikatnya? Wanita mana yang ingin menghabiskan waktunya hanya untuk memperbaiki retakan? Perempuan seperti apa yang mau terus-menerus memberi penjelasan tentang kehidupan. 

Aku juga mau dipertemukan dengan seseorang—yang setidaknya—membarengi langkahku. Bukan yang terus berada di belakangku, minta ditunjukkan jalan menuju Tuhan. Sekali lagi dan berakhir malam ini. Aku berjanji akan berhenti memperbaiki lelaki. Mungkin sudah waktunya aku undur diri dari pekerjaan semacam ini. Sekarang saat yang tepat untuk meminta pada Tuhan, aku benar-benar sudah menjadi perempuan seutuhnya. Yang ingin tuntunan. Yang ditakdirkan mengikuti perintah lelaki. Bukan yang memberi aturan. Aku ini perempuan!

100912~ 23.43

Saturday, September 1, 2012

Apa Aku Begitu Menjijikkan di Matamu?


Aku ingin Tuhan mempertemukan kita di jalan setapak.

Untukku, menepikan bayangmu sebatas dusta agar hargaku tetap bersahaja. Melupakanmu sama saja memaksaku untuk menghilangkan kenangan. Meninggalkan harapan untuk saling menggandeng tangan.

Aku ingin Tuhan segera menyadarkan, bahwa sebenarnya kita memang sengaja dipertemukan di persimpangan.

Apa aku begitu menjijikkan? Membuatmu meninggikan senyuman, berpaling muka mengacuhkan. Mengenalmu mengapa jadi begitu menyakitkan? Sembunyikan saja aku dari peradaban! Maka aku lebih memilih untuk tetap diam di tepian. Tak perlu menahan luka yang kautorehkan tepat di sudut terdalam.
Bagaimana bisa Tuhan meluruhkan cinta, sedang kau tak sedikit pun memberi perhatian. Bagaimana mungkin untuk bangkit saat Tuhan sudah menjatuhkan aku ke dalam pelukan, sedang kau tetap tak sedetik pun memberi uluran tangan.

Apa harus aku merogoh sampai tergopoh? Melakukan tindakan senonoh hanya agar hatimu roboh. Jarum waktu nyaris tumpul, kapan kau mau datang merangkul? Merengkuhku dengan angkuh, sesumbar ingin segera melamar.

Aku tak terbiasa menunggu dengan ragu. Aku tak kuasa berteriak memanggil namamu. Aku tak bisa hanya terus berkhayal tentangmu. Aku takut kehilangan seraut senyummu. Aku takut ditinggal seseorang yang bahkan belum sempat mendekat. Aku makin takut kehilangan apa yang bukan mejadi milikku.

Takut kehilangan yang tak pernah ada dalam genggaman, cintakah dia?

Klick This! for Pembacaan Puisi Apa Aku Begitu Menjijikkan

Sunday, March 6, 2011

Berbagi Rasa Galau

Terkadang sesuatu yang tak ingin ku lakukan justru menjadi yang paling mudah untuk ku lakukan, tanpa sadar melepas seluruh kendali tubuhku. Yang semula diam menjadi bergeming, yang tadinya tidak harus menjadi iya

Bayangin, hanya untuk sebuah perhatian kecil, seseorang harus melakukan sesuatu yang besar bahkan punya resiko tinggi untuk jauh menjadi lebih rendah dari yang seharusnya
Apa lagi yang lebih miris dari pada itu?

Sometimes......I feel so strange :(

Coba jawab, siapa yang ingin berjalan dengan langkah pedagang yang memikul sesuatu di pundaknya? Tanpa tau seberapa lama harus menapak tanah kering dengan keringat mengalir deras di sekujur tubuh. Demi apa, manusia bernasib malang itu, menguras habis kekuatannya. Tidak ada yang tau betapa sakit dadanya. Bukan karna apa yang ia hadapi tapi bagaimana lagi harus menjalani.
Terkadang keadaan selalu memutar balikkan kenyataan. Lihat saja, dia masih sanggup meluangkan waktu untuk sekedar tersenyum di depanku. Di tengah ribu-ribut mahluk kecil penghuni perutnya yang mulai protes karena belum ada sedikitpun supply makanan.
Sedangkan aku? Memaki saja rasanya tak cukup untuk menumpahkan ketidakpuasan pada hidup. Biadab macam apa lagi yang tak tau diri, tak punya sopan santun dan terimakasih. Ingin selalu menjadi Raja yang dilayani 24jam,  seperti yang sering dibaca di majalah dalam dunia dongeng.

Tapi percayalah, tak ada juga yang ingin rasakan gumpalan memualkan seperti yang memenuhi kerongkonganku saat ini. Hambar, tawar, tanpa rasa. Begitu juga aromanya, menusuk hidung lalu hilang. Lagi-lagi memabukkan.
Cobalah untuk percaya bahwa mengurai satu perasaan saja takkan cukup sampai menghabiskan semua abjad yang ada. Kalau bisa, bahkan perlu menciptakan huruf-huruf baru. Panjang lebar hanya untuk satu arti. Ya, sekedar yang disebut “rasa”.
Mengertilah, ternyata empat huruf saja btutuh penguraian yang tak ada habisnya. Ini baru satu keping, yang bisa digolongkan “Rasa Galau”. Belum yang lainnya, tak bisa dibayangkan, tak perlu, mungkin.
Aku rasa langsung saja masuk ke permasalahan inti. Yaaaa intinya dari awal paragraph sampai akhir hanya membicarakan sekelebat penuangan yang tadi aku sebut dengan "RASA" menjurus ke perasaan "GALAU".
Itu saja.

Kalau kalian bertanya, kenapa?
Aku tak bia menjawab, karna memang tak ada jawabannya.
Tapi kalau ada yang bertanya mengapa, mungkin karna dadaku mulai sesak tak karuan saking pekatnya, berjubel jadi satu, Campur aduk. Kalut, nyaris kacau!

Maka ku putuskan untuk sekedar berbagi "rasa" pada kalian. Bukan apa-apa, hanya saja menurutku suatu hal yang sia-sia jika langsung dibung ke tempat sampah begitu saja :)




05.03.11