Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label love. Show all posts
Showing posts with label love. Show all posts

Tuesday, May 19, 2015

Dariku yang Penuh Doa



Kali ini lupakan dulu menyoal rima, diksi, atau segala pelengkap sastra. Aku ingin bicara tanpa kalimat-kalimat mutiara. Biarkan aku menjabar kita layaknya puzzle yang sudah tergenapkan oleh keping terakhirnya.

source: www.fasihrdn.tumblr.com or tweet me @fasihdn

Boleh kumulai dari bagaimana aku rela menjatuhkan diri untuk bangkit bersamamu?

Kita berangkat dari dua sudut yang berlawanan, anggaplah kau dari sisi minus dan aku berjalan dari arah kanan: plus. Bukan tanpa sebab, aku meletakkanmu di sisi negatif karena kita bersua selepas kau goyah dan jelas saja akulah si positif, sebab aku tahu betul keahlianku mengendalikan diri. Kalau kubentangkan coretan panjang lalu kuberi angka nol tepat di tengahnya. Di situlah kita bertemu. Dalam himpunan titik yang membentuk sebuah garis. Ada benang merah yang tak akan bisa ditilik mata telanjang. Maka bisa dipastikan kau berjalan maju, sedang aku terseret mundur teratur. Masihkah mengenali bagian yang itu?

Kugambari kembali kalau begitu:

Tepat saat purnama selesai merayap di ujung gagang langit, kau masih sembilu sebab meski banyak hawa mencintaimu, kau tak bisa menunjuk salah satu. Di situ matamu beradu dengan sorot tegas milikku. Gamblang angin mencecarmu dengan luka yang sarat menyimpan harap sekaligus kekecewaan pada satu utas tali yang kau pikir hubungan sejati. Afiliasi abadi yang ternyata kerjasamanya tak cukup koheren. Bersamaan dengan itu, cahaya bulan yang jatuh tepat di retinaku angkuh menggeleng, mengasihanimu diam-diam. Wanita yang sedang ajek pada pendiriannya itu tak mungkin tertarik pada pria di hadapannya. Konsisten dengan hidup yang alirnya tak beriak. Senyumnya jelangak menertawai dalam hati, "hari begini, masih juga patah hati."

Boleh kulanjutkan ke mana perginya kita setelah petak itu?

Kuakui dayamu begitu kuat, pembawaanmu begitu tenang. Barangkali, hanya aku yang mampu mengupas kulitmu sampai ke bagian terdalam. Ada kesedihan apa membekap tulangmu, lalu kau memaksanya untuk tetap bisa terayun dengan gagah perkasa. Bukankah begitu, Tuan?

Saturday, April 25, 2015

Surat Rahasia untuk Tuhan


Yogyakarta, 250415: 01.59


Allah. Semusim sudah semua yang dunia lemparkan di mukaku meluka. Semestinya sudah sembuh. Malah semakin parah. Seharusnya sudah tidak mengancam air mata meuncurkan diri. Malah menderas tiap kali, tanpa ingin kuingati. Wanita itu ternyata masih bersemayam membenamkan pundakku. Menenggelamkan kepalaku.

Tak bisa kusebutkan identitasnya dengan benar. Aku belum mampu mengungkap abjad-abjad lengkap yang menyusun namanya. Nciz. Entah, inspirasi dari mana, tapi begitulah pedengannya. Jangan bertanya siapa ia, bukannya aku tak bisa membeberkan secara rinci. Tapi tidak mau. Belum, barangkali. Kalau setiap pertanyaan selalu satu paket dengan jawaban, maka yang sanggup mempertemukan keduanya adalah waktu. Simpan dulu di kantongmu, seperti jabatan: semua ada tahapannya.

Nanti akan jatuh tempo giliranku mengagak-agihkan seluruhnya, dari ujung rambut sampai tepi kuku jemari kakinya. Bermula dari mana papilaku bisa mencecapi garis hidup wanita yang menyebut dirinya dengan, "Nyonya Besar". Atau aku saja yang berlebihan menyebutkan titelnya.

Kalau kamu membaca tulisan—yang sudah mirip dengan manuskrip—sejarah ini, yang kau jejal di matamu barulah prolog. Mungkin jika huruf punya 26 abjad, ini baru satu tipe huruf "A", padahal ada banyak jenis huruf "a". Sedetil itu. Saking tekunnya aku meneliti renyutnya. Kalau yang lain berlomba-lomba dengan riset karya ilmiah, aku memilih menyelisik watak dari setiap gerigi ujung gigi yang tertata rapi. Saking seringnya, sampai-sampai aku hafal betul masing-masing batang tubuh punya kepiawaian sejak lahir untuk menggelapkan sisi yang mana dan menerangkan bagian yang apa. Secara kasatmata sama persis seperti guna shadding dan tintin—yang tak pernah absen di-request oleh wanita mutakhir abad ke-21 agar terlihat memiliki gagang hidung yang lebih menonjol seperti bule, atau tulang pipi yang lebih tinggi. Memainkan peran gelap dan terang demi tercapainya suatu keseimbangan dalam proporsi wajah yang bagi mereka banyak cacat di sana sini. Padahal justru jadi simbol kurang percaya diri. Mungkin, kurang percaya penciptanya, aku bilang mungkin. Tak terkecuali parasmu, lekukmu, lakumu, bahkan isi kepalamu yang kadang mondar-mandir atau beku, bahkan seringkali berjalan ke belakang, lama-lama hengkang.

www.fasihrdn.tumblr.com

Tuesday, November 5, 2013

Sekantong Rindu Terakhir

Ada sekantong rindu yang kumasukkan dalam lemari. Kusimpan di sudut paling dalam. Tapi masih juga mengintip dari celah-celah gagang pintu. Ternyata rindu itu bukan sebab kamu jauh dariku, Sayang. Tapi karena aku yang terbiasa denganmu. Lalu tiba-tiba aku mesti melakukan segalanya sendiri. Ah, padahal sebelum datang tatapmu di wajahku, aku sudah melakukan semuanya sendiri. Jadi, kamu yang membuatku tak bisa mandiri ... merasa membutuhkan seseorang terkadang menyakitkan. Sebab ada ketakutan yang menyelip kalau-kalau aku tak bisa lagi di rengkuhmu. Aku tak bisa lagi memanggilmu. Aku tak bisa lagi memintamu datang memelukku.

Ada sekantong rindu yang kuambil dari lemari. Biar menemani sepi saat kamu pergi. Tapi, toh, saat kamu tak berjarak denganku, aku tetap merasakan rindunya mengitari hati. Bisa begitu ya?



Sekantong rindu itu kusebar di langit-langit kamar. Biar saat aku tertidur, rindu itu mengajakku menujumu. Lalu kubagikan serpihannya pada angin, biar tertiup sampai ke relungmu. Kutitipkan pada bintang, lalu tunjuklah dengan jemarimu. Ada rinduku tergantung di sana. Masih ingat, ada malam yang begitu indah saat hati kita belum membuka dirinya? Di sana aku hanya bisa memandangi lekatmu dalam pekat dan matamu menjawab sedikit tanda tanya. Intuisi yang kukira sekejap mata. Ah, bisa kau ingat-ingat lagi yang itu? Yang tak bisa kujejerkan dengan kata. Kalau suatu saat, rasa cintamu hilang, Sayang ... ingat-ingat lagi bagaimana cinta itu datang. Jangan biarkan siapapun menghapusnya, menghasutnya sampai tumbang. Jangan biarkan satu pun alasan jadi sebab perpisahan.

Kali ini, sekantong rindu kutukar dengan doa. Sebab aku tak ingin rindu ini nantinya tak berasal dari dua arah. Sebab aku ingin rindu ini yang terakhir meresapi jemariku. Sekantong rindu terakhir dariku untukmu. Sebab aku mau akulah orangnya. Sejatimu.



051113~Soal jodoh, siapa yang bisa menduga-duga? Tapi kalau jodoh bisa diperjuangkan, saya perjuangkan kamu saja. Cukup.

Saturday, October 26, 2013

Jejak Rekam Bulan Oktober


Sebenernya nggak bisa nulis apa-apa lagi ... sudah terekam dalam pikiran dan hati, sudah melekat dan membuat segala abjad membeku di sangkarnya. Oktober; selalu jadi bulan yang kunanti-nanti. Bukan sebab ada satu tanggal istimewa dalam hidupku. Tapi karena aku memang selalu berharap Oktober jadi pengikat waktu yang haru. Dan 2013 menyuguhiku Oktober yang begitu sempurna....

Sunday, October 20, 2013

Catatan Kenangan di Bawah Purnama


Bintang Jatuh di Mataku

Aku selalu suka dengan bulan
merayap dari balik bukit
yang samar-samar cahayanya terhalang dedaunan

Aku mengkhidmatinya;
suara angin yang mencuri sedikit kehangatan di wajahku
Aku menikmatinya;
semburat serbuk emas yang mengambang di atas awan
Berlarian, serupa kau yang jatuh tepat di mataku

Lalu di seberang mataku ada bintang
yang mekar sendirian
membelah separuh mega yang mulai petang

Sepanjang jalan yang muaranya adalah purnama
melambai-lambai di jariku
katanya, bahagia itu begitu sederhana
Sepanjang jalan yang muaranya adalah kamu
mengayun-ayun pada lembayung
aku tahu, jawabku
dalam hening yang berisik, diam yang berbisik

Sebab bulan mengikutiku, membuat bola mataku balik mengikutinya
Sebab bintang memperhatikan gerak tubuhku, menyambutku tersipu
Sebab kau menjagaku; melekati seluruhmu.

18 Oktober 2013, menjelang petang, menuju poktunggal beach


Dan aku belum pernah melakukan hal-hal yang lebih gila dari ini. Belum pernah selepas ini, seperti merpati yang keluar dari sangkarnya. Yang sudah pensiun mengirimkan surat cinta orang-orang zaman dulu. Bawalah pergi cintaku, ajak kemana kau mau ... jadikan temanmu, temanmu paling kau cinta~ *nyanyi dulu*

Pernah merasa pekatnya penat menampar-nampar wajahmu? Merasa apapun yang kaulakukan adalah kehampaan yang hakiki, pernah? Dan aku tak pernah menemui jawaban atas kekosongan di dadaku. Yang tak pernah bertemu belahannya, separuhnya ... hanya kesalahan-kesalahan atas nama cinta, hanya percikan api sementara lalu habis begitu saja di makan waktu. Apa mungkin kamu ... bisa? Ah, nggak yakin, coba yakinkan!

Thursday, October 17, 2013

Jadilah Kau Segalaku, Bawa Aku Bersamamu



Dan aku hadir bukan untuk menggelisahkan hatimu. Pun kau datang bukan untuk menyakitiku kan? Untuk apa sebenarnya titik itu, yang kupijak tepat di hadapanmu. Yang ternyata menjadi awal mula segala rasa. Dan aku tak pernah mau mendalaminya. Tak pernah ingin memaknainya lebih teliti, aku tak pernah meminta kau membuka intuisi. Bisik kecil yang merambat ke segala arah, lalu ia mendiami ruang-ruang hampa dalam hatiku.

Tapi toh, nyatanya aku hanya bisa memandangi biasmu, membaca namamu di lini waktuku, dan mencoba mengingat-ingat wajahmu. Padahal di sana, kau tak pernah mencoba mengeja kembali abjad-abjad yang menyusun namaku. Meskipun kau dan aku masih dalam satu gerak laju, bertemu di ruang semu, tapi, aku tak pernah tahu dengan siapa lagi kau berbagi cerita. Membagiku....


Jujur saja, aku lelah jatuh cinta. Aku lelah mencintai yang salah. Aku lelah tak juga menemukan jemari yang pas dijariku. Aku lelah ditemukan oleh ia yang ternyata aku bukanlah rusuknya. Jadilah kau yang membuat semua lelahku berakhir. Jadilah kau seseorang yang membuatku berhenti di situ, berhenti di rengkuhmu. Punsemisal aku jatuh cinta lagilain waktu, itu hanya aku yang kembali mencintaimu. Dan terus begitu sampai berakhir waktuku. Jadikan aku yang paling pas di tulangmu. Sebab kecocokan hati tak pernah bisa dipelajari, tapi dipahami.

Kau melukis gradasi dalam hidupku, membelokkan cahayanya ke mataku, membuatnya jadi pelangi. Bersediakah kau ... bersediakah menenangkan hatiku, berusaha memahamiku, menyambut kepedihanku, membuat sedihku luruh sebab kaumengubahnya jadi bahagia.

Lalu di tempat itu, kauhabisi rinduku dengan syahdu. Lagi, di tempat yang sama, kaulunasi senyumku dengan haru.

Andai ada mesin pendeteksi hati, mungkin kau bisa langsung mengerti betapa dalam benakku tak pernah lepas dari bayangmu. Betapa sulitnya aku menjinakkan hati yang mulai tak terkendali. Yang selalu ingin ada kamu mengitari semuaku, yang selalu saja menujumu. Yang enggan berjauh-jauh darimu, diam-diam menyimpan cemburu pada siapapun yang berada di sekelilingmu. Lalu egoku memainkan peran, memikirkan apa yang tidak perlu. Andai aku tahu isi di dalamnya; hatimu. Dan kemana pun langkahmu, aku menunggu. Mendoakanmu dari kejauhan. Aku menunggumu. Kembali pulang, membawa cinta baru.

Ajak aku bermesraan dengan alam, biar melebur pada kedamaian. Biar kusesapi sendiri cinta yang membuatku takut kalau-kalau ia semakin akut. Biar kucoba tenangkan riak gelombang di jantungku, yang gelisah tak tahu waktu. Ajak aku bergandengan dengan alam, biar kutarik dalam-dalam napas lewat udara yang membawa embun pagi. Bawa aku bersamamu, jangan pernah biarkan siapapun mencurinya darimu; hatiku.


16-171013~Catatan rindu yang tak sempat kutulis di bukumu sudah lunas di ujung senja. Panggil aku jika kau merasa pilu mulai mengganggu, biar kuajari kau caranya mengubah hampa jadi tenang di dadamu.

Saturday, September 28, 2013

Baca saja, Seperti Aku Menulismu


Sebab aku tak mau kaumerayu yang selain aku. Tak suka mendengar kaumemuji yang selain aku. Tak bisa melihat kaumenatap yang selain aku.


Ada yang tak bisa kausentuh kecuali dengan hatimu, adalah hatiku dengan perasaan-perasaan yang mengitarinya. Tuan, coba jawab, sampai kapan aku harus menantimu memberiku satu kehidupan untuk bersama selamanya.

Kalau ada yang lebih menyakitkan, mungkin sebab kau tak pernah mencoba membacaku lebih dalam. Atau aku yang terlalu betah menuliskan semuamu?

Wednesday, June 26, 2013

Sophisticated; Friksi dalam Hati


Desakan dalam dada, katanya ingin cinta pergi saja. Tapi rupanya bagi hati, cinta adalah bonanza.

Kali ini aku takut kaumengerat apa yang belum boleh kuinjak. Aku takut perasaan yang memenuhi ruang di jiwa ternyata galat semata. Padahal serebrum sudah mati-matian mengatrisi perasaan yang mulai agitasi. Konvensi yang tak pernah jadi kesepakatan antara kau dan aku, ternyata bertemu dalam ekamatra.

Ah, betapa ramai sekali di hati menjabarkan esensi. Mengelaborasi satuan rasa yang membelah diri. Apa tidak salah menyerahkan naluri pada intuisi yang belum tentu tepat bidik? Apa pantas membiarkannya terus berkeliaran? Sedang aku tahu betul ada yang sedang membelungsing. Tak henti menginsinuasi gerak hati.

tweet me on @fasihrdn
Lalu dengan takzim aku memintanya undur diri dari sini; evokasi yang mulai membuatku takut sendiri. Kalau-kalau yang berani menelusup hati ternyata sekadar imitasi. Eklektik; masih memilih sana-sini. Atau barangkali, nomadik; berpindah kesana-kemari.

Sudah kutanyakan ini berkali-kali, tapi tak juga menghasilkan konklusi. Sebab sepertinya suatu hal yang muskil, mengeksekusi paksa rasa yang genjah; begitu mudah menyebar. Yang orang bilang itu cinta. Apa mungkin begitu saja akan abdikasi dari hati. Apa mungkin?


Monday, May 20, 2013

Cinta, Tunggulah Sebentar Lagi


Cinta. Aku tahu kau sudah bosan melumatnya. Membaca kalimat yang itu-itu saja. Tapi mereka yang membenci cinta hanya ada dua alasan yang masuk akal: Ia tak pernah merasakan cinta, atau ia terlalu sering merasakannya. Dan aku tak perlu tahu kau termasuk yang mana.

Cinta. Kau mungkin sedang jatuh di dalamnya. Mungkin juga baru saja dipatahkan olehnya. Kita tak pernah tahu kapan rasa itu bermula, tak pernah mengira di mana bertemu, dan bagaimana bisa begitu cepat tumbuh dan merangsuk makin dalam. Kita tak pernah diberitahu, kita tak pernah diberi peringatan untuk menamainya cinta.

Cinta. Itukah kamu? Itukah kamu yang kupandangi dari jauh. Itukah kamu yang kudengar padahal kau tak berbicara apa-apa. Itukah kamu yang aku tak tahu seperti apa bentuknya. Itukah kamu yang akan jadi jawaban dari segala tanda tanya?

follow me @fasihrdn

Cinta. Aku tak pernah berani menyebut apa yang menggelitik ini dengan sebutan sakral. Kita hanya bisa merasakan tanpa perlu pernyataan. Rindu yang tentu saja teruntuk kamu, apa perlu kuyakinkan kembali?

Friday, December 14, 2012

About Your Ex!

Kali ini (@fasihrdn) cuma mau curhat-curhat biasa aja, nggak pake unsur sastra di dalamnya.

Tentang mantan, apa sih mantan itu? Eh, siapa(?)  Mantan itu seseorang yang "pernah" jadi "sesuatu" di hidup kita. Kita fokuskan pada bentuk yang seperti mantan istri, mantan suami, mantan kekasih. Coba deh, aku mau mengurai definisi "mantan" yang barusan.

Mantan adalah seseorang yang pernah menjadi sesuatu di hidup kita.

Seseorang yang pernah menjadi sesuatu? Bisa diartikan "Siapa" yang pernah menjadi "Apa"(?) #NJLIMET! Yang jelas mantan itu bukti otentik bahwa kita pernah gagal menjalin suatu hubungan. 

Sunday, November 11, 2012

Delusi (Part I)




            Pada kaki-kaki langit, aku menatap di balik jaring-jaring penghalang. Duduk menjuntai dengan bola mata yang mondar-mandir mencari muara. Penghalang besi yang tidak bisa ku tembus meski sudah ratusan kali ku pukul dengan palu besar. Maka begini saja, caraku melihat rintik hujan yang meruncing. Menjatuhkan ujungnya pada tanah yang mulai basah. Beberapa menit kemudaian warna ungu menggenapi riasannya sendiri. Senyumku pecah, aku selalu suka saat jingga menyuguhkan warna baru di tengah-tengahnya. Pelangi.
            Masih lekat dengan sosok yang melangkahkan kaki pada tarian dengan gerak sunyi di bawah guyuran hujan. Melambai lemah gemulai, dengan decak-decak di atas dedaunan yang gugur lebih dulu. Desir angin menyempurnakan melodi yang sedari tadi meniupkan alunan di antara awan-awan hitam yang tampak mulai terang. Gerakannya mulai diperlambat memutari kerikil-kerikil yang sepertinya sengaja sudah di susun rapi. Menapak pada raut muka seorang yang lain, meneteskan gelombang pada butiran hujan yang terlambat datang.
            “Awas, ada petir! Jangan terlalu jauh.”
            Samar-samar ada suara yang menggema. Jari-jari kecil itu membalikkan derap langkahnya, menuju sisa-sisa suara tadi. Gigi-giginya yang berantakan sudah gemetar menggigit bibirnya sendiri. Kedinginan.
            “….”
            Tak terdengar. Saking derasnya butiran air yang tumpah ruah. Aku mencoba menengok lebih dalam, merapatkan gendang telinga agar bisa mendengar jeritan yang melengking terlalu keras. Justru tak terdengar apa-apa.
            “….”
            “Ha?”
            Aku terkesiap, jelaga mengabutkan pandangan yang susah payah ku intai dari sela-sela semak. Gagap gelagapan, berantakan.
            ***
            Lekuk tubuh “gitar spanyol” dalam cermin berkanvas emas. Bulu mata lentik, dipercantik riasan eye shadow berwarna dark silver. Gaun dengan warna senada dilengkapi berlian melingkar di leher panjang dipenuhi sparkle berwarna keemasan, wanita dengan rambut hitam panjang tergerai.
            “Sempurna!”
            Aku tersenyum. Siapa yang tidak terpesona melihat keanggunan seorang wanita bermata coklat keemasan. Lelaki mana yang tak tergoda dengan aroma vanilla di sekujur tubuh langsing dengan senyum di sepanjang bibir merahnya. Sempurna.
            Malam dengan lampu-lampu terang di sepanjang jalan setapak. Melangkah dengan keangkuhan yang tersembunyi di balik sederet senyum manis yang memusatkan setiap sudut pandang. Karpet merah terlihat lebih meriah, di lalui d’orsay dengan bunga berwarna putih menutupi mata kaki seorang putri yang melambaikan tangannya pada rupa-rupa manusia yang haus akan keindahan.
            “Terimakasih,” kataku lembut pada seorang pria dengan tuxedo jacket berwarna putih yang memberanikan diri memberi satu bucket mawar merah.
            Malam dengan sederet pujian panjang, sebelum kembali datang hujan. Aku kembali, duduk berjuntai. Kali ini dengan cemilan yang baru saja ku beli di mini market dekat rumah. Ada bintang yang sedang bersapaan dengan bulan. Lalu yang lain bersenda-gurau membarengi dentang jam yang berbunyi setiap satu jam sekali. Musik klasik sedari tadi menghasilkan bunyi-bunyian berirama andante, padahal biolanya tak berdawai. Bagaimana mungkin bisa mencipta suara yang mengelok di telinga?
            Aku menuju ruang tengah. Duduk di tepi ruangan, aku memang lebih suka menepi. Ada jemari-jemari lembut yang membelai wajah satu sama lain. Tangan yang lain saling erat menggenggam dalam dekapan. Pelukan panjang yang hanya bisa ku rasakan dengan mata yang memandang, meliar sendirian.
            Sebegitu kejamnya kehidupan sampai tak mengijinkan aku yang berada di sana. Seperti mereka yang sedang bermesraan dengan alasan yang sama, cinta. Aku masih memperhatikan, dua anak adam yang meredam bahasa. Cukup dengan satu tatap mata saja semua juga paham. Ada cinta yang meraung-raung di antaranya. Bahagia, seperti tak lagi peduli ada masalah-masalah besar di luar sana. Tak peduli lagi petir menyambar-nyambar. Sudah larut malam, bukankah seharusnya segera pulang?

Saturday, November 3, 2012

Menggantung Rindu



Aku mau kau tak memaku sembilu
sakit di dadamu itu mengendapkan pilu
Kau tahu?
degupmu dalam debar seperti sukar
menghela dengan sengal tak beraturan
lalu begitu rasa ku sakit mengulum rindu

Apa yang sebenarnya membuatmu tetap kekeuh
menyapa dalam kebisuan
Yang kau redam kadang justru jadi yang paling nampak di permukaan

Tuesday, October 30, 2012

Untuk Seseorang; dalam Bayang-Bayang


Suara merdu menderang, aku bernyanyi sembarang. Hanya sekadar ingin kamu senang. Seperti kamu yang selalu membuatku jadi semakin tenang saat matahari sudah mulai berenang, nyaris tenggelam sampai petang menjelang. Meski benang merah masih saja kusut, berurut menyulut ragu dalam katup mulut. Tapi setidaknya, hari ini untukmu. Setidaknya untuk hari ini.....

Aku masih serupa kemarin, seperti kemarinnya lagi. Masih menanti di sini. Duduk berjuntai berlayar mendengar derai ombak pantai yang bercerai. Dalam bayang petang, aku ingat ada yang datang menjelang. Bagai terompah kuda yang pijar, kau pangeran dari istana negeri dongeng yang memeluk resah dalam gemetar. Melewati sekelebat sunyi, terusik riak senyummu yang membuai. Burung kecil yang menunggu-nunggu induknya kembali dari balik fajar. Tak akan lengah menanti yang tak pasti.

Begitu hari ini, semua tetap jadi yang paling kau nanti. Menyibak hati, mengintip dari balik sanubari. Kalimatku ini bukan sembarang baid dalam sepi. Abjadku ini bukan prasasti yang untuk disusun dalam lemari. Sebab setiap malam berganti, cintaku mendaki dalam sunyi. Mendoa tak henti-henti, untuk hari ini sampai nanti. Sebab kata-kata telah habis terurai, yang paling suci akan terus kujaga dalam air mata di waktu bersunyi. 

Bukan untuk menangisi, tapi membingkai lelahmu yang mungkin saja sering melambai-lambai terkulai. Hey, kemarilah mendekat dalam dekap! Sebab hangat memang datang saat senja mulai senyap. Sudah lama sekali rasanya, kau bercampur hibur dalam tidur; bunga tidur. Di setiap malam dalam mimpiku, kau berjalan melembur. Begitu sepertinya cinta mulai bertabur menghambur. 

Sudah lama sekali rasanya, kau membisu dalam khayalku. Sudah lama ya, digenggam tanganmu seperti nyata di bawah bulan purnama. Sayang, lihatlah!

Saturday, October 27, 2012

Sendiri Mencintaimu


Mengakar dalam genang di lengkung jalan yang menyimpang. Menukik pikir yang menyampaikan rindu membisu. Resahku menggila. Aku bukan lagi seperti seluruh aku.

Begitu caranya menggiling senja pada peradaban masa kini. Ramai yang melambai-lambai mengundang jerit dalam sepi. Sesumbar pada hambar yang menampar. Terlanjur menjangkar susah benar disangkal. Sampai aku hilang akal.

Andai cinta selalu datang lewat mata, mungkin mudah untukku mengubah perasaan. Sayang, cinta datang tak mesti karena siapa. Sebab nyatanya cinta bukan satuan yang bisa dihitung, bukan pilihan yang bisa begitu saja ditunjuk.

follow me @fasihrdn


Dan aku menemukan kebenaran dalam kesalahan yang pernah kamu lakukan. Menemukan kebenaran dalam kesalahan yang baru saja ku lakukan. Jatuh lebih dalam, menjatuhkan diri. Heran, kamu terus saja membuatku makin ingin bertahan dalam keadaan yang masih selalu berkutat pada keajaiban dan pengharapan. Apa alasannya? Mengapa terdengar begitu licik dalam riuh gemericik? Padahal aku tahu, kamu hanya sedang berpelik. 

Aku marah, gerah sendiri. Aku sedih, perih sendiri. Aku begini, kamu juga tak peduli.

Wednesday, October 24, 2012

Cinta yang Kau Bagi


Terlarangkah?

Hey, siapa yang suka luka? Aku sudah melumatnya ratusan kali. Tapi sepertinya semua orang menginginkan kebahagiaan. Tapi tak 'kan tercipta pelangi tanpa rintik hujan kan? Karena tak 'kan ada yang terlambat sampai akhirnya jauh tertambat.

Lalu kau menghapuskan luka dan mengingatkan aku tentang bahagia yang tertunda. Semua jadi berbeda ketika kamu berada di sekitaran yang sama. Denganmu, aku selalu jadi baik-baik saja.

Setiap kamu merasa degupmu makin kencang, maka di situ aku semakin kuat dengan cinta yang tak 'kan pernah usai. Terus berada dalam jemarimu tanpa detik dalam jeda waktu. Tapi kuasa mana lagi yang bisa ditandingi kalau takdir Tuhan sudah mampir kemari? Menunjukkan diri....

Begitu katamu mengingatkan aku lagi. Begitu juga kataku yang masih berbisik dalam lirih. "Masih sama, masih selalu kamu. Masih mengintai namamu."

Wednesday, September 26, 2012

Jangan Pernah Pergi Dariku


Kamu mencipta rindu dengan jarak yang menetap. Dalam satu waktu, aku bisa jadi yang paling ingin berada di dekatmu. Aku tak ingin melepaskan apa yang tak bisa benar-benar kugenggam. Aku ingin menetap di ruang-ruang hatimu, meski tahu bukan untuk selamanya.

Sebab sedari tadi aku hanya mau kamu ada di sini, di dekapku. Selalu begitu, itu saja.

Aku bukan pujangga yang pandai berkata, kadang aku mencintai tanpa suara. Sebab aku sudah tenang melihatmu dari kejauhan dan merasakan kamu seperti cinta yang selalu diam-diam. Sakit satu kali dan selamanya akan jauh lebih baik, dibanding sakit berkali-kali, setiap hari. Tapi mengapa aku tetap bertahan menikmati apa yang masih terus saja menggerogoti, mungkin sebab kamu yang melakukannya. Yang mengindahkan luka dengan entah, benar atau salah, Cinta.

Kamu membuatku pintar memelihara rasa sakit yang setiap detik semakin melilit. Kamu mengajariku menyembunyikan air mata di balik tawa. Dan kamu mengubah sesak yang merambat makin menjalar melebar itu menjadi suatu pertanda, mungkin saja aku tak bisa bertahan tanpa bualan. Tanpa kamu yang selalu saja bilang bahwa aku dan kamu akan selalu jadi aku dan kamu, bukan kita. Mungkin saja aku memang sudah terlanjur tidak bisa tanpa ada kamu di sini. Sebab sepertinya aku ingin selalu terbangun di manapun kamu berada.

Aku bukan yang mudah menjelaskan, it's too complicated to turn off my feeling and erase all memories. Dan kamu justru seperti membuatku makin tak bisa melepaskan apa yang tak pernah ingin kulesapkan. 

Dan entah sampai kapan aku harus menahan apa yang tidak ingin kamu perjuangkan. Sebenarnya, buat apa melanjutkan perasaan yang tak terbalaskan? Sebenarnya, untuk apa menyembunyikan apa yang terus saja hanya tersimpan. Kadang aku lelah meredam, memendam. Kadang aku tak hanya ingin diam, tapi katamu kita bukan pilihan.

Lalu dengan apa lagi aku harus menyampaikan rindu yang menajam menerjang tak mau hilang?




260912~Just feel complete when you're by my side. So simple, you know? But unfortunately, we're complicated.

Wednesday, September 12, 2012

Cinta Sebelum Hari Ini

Bukankah sebelum hari ini kau bukan yang ramah menyapa? Bukankah sebelum hari ini kau bukan yang pandai memuji? Bukankah sebelum hari ini........

Apa yang menarikmu datang kemari. Meraba abjad dalam kalimat. Mengubrak-abrik yang sudah kususun rapi. Bukankah sebelum hari ini aku berjanji, langkahku sudah berhenti mengikuti. Bukankah kau juga tahu itu, Sayang?

Lalu apa yang membuatmu mengumpulkan serpihan yang terluka? Seperti begitu bahagia membaca kesakitan seorang wanita.

Pekat bias dingin melengking membuat bibirku tak henti menggigil. Sengai menyenggak gemetar di dada. Aku tak sanggup berebut embun di pagi hari. Sisa-sisa suara tadi malam meraung-raung, menjalang lalu lalang di pikiran. Di lorong serupa kemarin kaumemungut belulang yang sengaja kubuang dalam petang. Bukankah sebelum hari ini kita bagian yang terasing? Bertarung di balik punggung.

Hay, strangers! Follow me @fasihrdn

Kau seperti mendesakku dalam ancaman mematikan. Menyandra cerita untuk kaunikmati majasnya. Membuka bingkisan dalam kiasan. Kaumemutari iringan yang kusembunyikan pada sebuah malam. Mengurai yang teruntai gemulai. Mengais-ngais rasa yang sudah menipis, kutepis dengan bengis. Padahal sebelum hari ini, bukankah seperti sengaja mengikis? Mengapa jadi seperti magis. Membuatku terkesiap tak siap bagaimana mesti bersikap. Tiba-tiba jadi lincah menyuarakan sederet rindu yang tumpah ruah.

Bukankah sebelum hari ini kita saling membuang tatap? Lalu sekarang aku dibuat gagap gelagapan, bisu mengantar sembilu. Bukankah sebelum hari ini aku menderu akan segera berlalu?

Beruntun Tuhan mendatangkan kejadian serupa keajaiban. Bukankah sebelum hari ini angin menjerit. Menukik sampai terik tak lagi berkutik. Dalam petang kaumenyusupkan kegaduhan. Dalam ruang yang terulang, tubuhku terguncang. Sejenak mengenang bimbang yang pernah kauselipkan diam-diam. Desah napas tersumbat, isyaratku disentuh saat tak lagi utuh. Bukankah sebelum hari ini engkau menebar jala api, untuk membakar yang mulai mengakar. Terpaut jarak terlampau jauh, lebih mudah untuk saling menuduh. Saling angkuh dalam gaduh. Berdebat dalam diam yang membunuh.

Bukankah jauh lebih nikmat mengikat lara? Kau dan aku mengudara, menancapkan gema yang menceritakan luka dalam butiran hujan. Bukankah sebelum hari ini kau meletakkan aku pada hujatan?

Menggertak ngeri, aku terperanjat dalam simpul belati. Merintih lirih berharap tak menggemakan ironi pada misteri yang makin mendaki, mencari tempat untuk bersembunyi. Gedebak-gedebuk jantungku sibuk berkecamuk. Berdegup mulai mengamuk. Rancau-kacau-balau. Bukankah sebelum senyummu melengkung, aku sudah tak lagi terkungkung?

Bukankah sebelum hari ini, aku sekedar menggambar tanpa sesumbar? Bukankah aku tak pernah bilang ingin membilang? Lalu kau tiba-tiba datang saat separuhnya sudah menghilang. Sudah kutebang agar tenang sendirian. Bukankah sebelum hari ini aku tak mau melanjutkan cinta terlarang? Cinta sebelum hari ini adalah luka esok hari. Atau luka sebelum hari ini ternyata cinta esok hari.

Siapa yang tahu terjadi apa esok pagi, lalu ada apa setelah hari ini?

120912~Kesakitan Seorang Wanita

Tuesday, September 11, 2012

Hakikat Perempuan

Kali ini aku murni bener-bener mau curhat. Nggak perlu pakai kata-kata yang dirajut dengan sajak dan rima. Cukup lewat celah-celah rasa. 

Barusan, "mantan" dateng ke rumah. Tepat saat aku baru saja merebahkan tubuh. Pukul 21.40? Sungguh, kekanak-kanakan sekali. Entah polos atau bodoh. Yang jelas itu nilai minus dariku. Dan menjadi salah satu kesalahan terbesarnya. "Tidak Tahu Waktu." Justru menguatkan keputusan untuk mengakhiri suatu hubungan yang menurutku tidak sehat. Aku pikir sudah berkali-kali datang ke rumah (dulu) sampai harus diusir dulu baru mau pulang. Aku rasa kamu terlalu muda untuk menggandeng tanganku. Pikiranmu benar-benar masih sebatas "remaja labil" yang suka hura-hura. 

Alasanmu datang kemari ternyata ingin memastikan apa masih bisa kembali menjalin. Apa aku masih menyimpan secuil cinta untuk kaunikmati. Tapi maaf, aku tegas tak akan memberi celah untuk berharap. Caramu mencintaiku tak sepadan dengan pikiranku yang terlampau jauh ke depan. Aku tak seperti wanita-wanitamu yang lain, yang dulu-dulu. Bukan perempuan yang sekadar ingin memiliki "pacar" untuk dibagi perhatian. Bahkan aku lebih menikmati kesakitan karena sendirian daripada harus terus meladeni hasrat "anak muda" yang kelewat batas. 

Ada tidak ya, lelaki seperti "Rangga" dalam film ada apa dengan cinta? Diamnya membuat wanita "jengkel". Raut angkuhnya mencipta ragu apa benar dia manusia. Tapi jauh dibalik itu, ternyata dia lelaki yang sempurna.  Di mana bisa kutemukan lelaki sejenis itu? Mandiri? Ha-ha cukup, aku bosan berkhayal menemukannya di sini.

Yang aku butuhkn sekarang bukan lagi cinta kanak-kanak. Walaupun belum paham betul apa itu cinta, tapi percayalah aku bagian dari ketulusan. Kamu selalu menuntut banyak hal dan aku masih selalu dianggap kurang pengertian. Kalau begitu, carilah yang lebih mengerti rasa sepi yang merajah dadamu. Kamu bilang kamu kesepian kan?

Kamu "sok" ingin merubah rangah yang merambah ditubuhku. Tapi sayang, tujuanmu bukan benar-benar ingin sifat cuekku memudar demi kebaikanku. Tapi untuk kamu nikmati perubahannya, untuk kamu rasakan, bukan resapi.

Aku ingin berhenti, berganti posisi. Harusnya aku yang diajari cara terbaik berjalan melalui lintasan yang terjal menjungkal. Bukan selalu aku yang berteriak mengingatkan. Mengertilah aku lelah, seharusnya seseorang dipertemukan oleh Tuhan untuk memeluk resah. Aku muak menyanding cinta yang terus-menerus ingin balasan. Mana ada yang sepertiku, merasakan tanpa minta dipedulikan? Atau aku yang kelainan?

Mana ada yang seperti air mataku? Meruncing beriring jerit yang melengking. Sumpah, sekarang ini air mata merembes deras tak tahu waktu. Di mana lelaki-Mu, Tuhan? Seseorang yang datang bukan untuk meminta perhatian, bukan yang memberi untuk sebuah balasan. 

Aku bosan terus-menerus yang mengingatkan. Aku ini bukan wanita kebanyakan. Bukan meminta lelaki yang hanya punya waktu mengurusi kekasihnya. Apa tidak punya pekerjaan lain? Memalukan. Hidup hanya sebatas memikirkan tentang cinta. Bukankah butuh satuan yang lain?

Aku pernah merasakan apa yang kamu jalani saat ini, Sayang. Terpaksa melepaskan seseorang yang masih sangat ingin dipertahankan. Tapi aku perempuan yang tak hanya menggunakan indra perasa, tapi juga logika. Untuk apa mempertahankan yang tidak bisa lagi diperjuangkan? Bukannya jauh lebih sopan merelakan yang kamu cinta untuk menemukan yang jauh lebih sempurna? Ini bukan omong kosong, bahkan aku pernah harus merasakan luka yang datang bertubi-tubi beberapa hari sebelum ulang-tahunku. Diduakan lalu ditinggalkan tanpa alasan yang menguatkan. Tapi aku bukan kamu, hey, para lelaki yang diperbudak oleh rasa sampai-sampai kehilangan logika. Aku membiarkannya pergi dengan seseorang yang mungkin lebih sempurna mencintainya. Aku yang seorang wanita saja bisa, mengapa kamu tidak?

Di mana lelaki yang tahu aturan, yang tak 'kan menjejalkan rasa bosan? Karena aku bisa menjadi yang bermekaran paling indah seperti bunga mawar, tapi bisa berubah serupa duri dalam tangkainya. Aku masih percaya, bahwa Tuhan sudah mengikatkan kehidupan yang penuh kejutan. Aku masih menunggu-nunggu, melihat kesana-kemari. Di mana yang jauh lebih tinggi dari hargaku? Karena aku tak mungkin terus-menerus hidup untuk meluruskan. Sesekali aku ingin juga merasakan diberi ketenangan, diajari caranya bertahan melawan arus kehidupan. 

Sekali lagi aku tegaskan. Jangan coba-coba mencintaiku kalau kamu belum yakin bisa jauh lebih baik dari aku. Bukankah begitu hakikatnya? Wanita mana yang ingin menghabiskan waktunya hanya untuk memperbaiki retakan? Perempuan seperti apa yang mau terus-menerus memberi penjelasan tentang kehidupan. 

Aku juga mau dipertemukan dengan seseorang—yang setidaknya—membarengi langkahku. Bukan yang terus berada di belakangku, minta ditunjukkan jalan menuju Tuhan. Sekali lagi dan berakhir malam ini. Aku berjanji akan berhenti memperbaiki lelaki. Mungkin sudah waktunya aku undur diri dari pekerjaan semacam ini. Sekarang saat yang tepat untuk meminta pada Tuhan, aku benar-benar sudah menjadi perempuan seutuhnya. Yang ingin tuntunan. Yang ditakdirkan mengikuti perintah lelaki. Bukan yang memberi aturan. Aku ini perempuan!

100912~ 23.43

Wednesday, August 1, 2012

Lebih Baik Bunuh Diri



Kamu orang yang paling tahu. Aku perempuan yang paling sering ingin mati. Aku hanya punya satu alasan. Bertahan di tempat yang membuatku terus ingin melarikan diri. Aku hanya punya satu alasan, untuk meneruskan mimpi.

ME-MOM-DAD and My Niece
Orangtuaku.

Klise memang, tapi toh, itu fakta yang ada. Aku hanya ingin Tuhan melipat gandakan umurnya. Melindungi mereka dari segala jenis kejahatan dunia. Jangan sampai ada secuil bakteri menyelinap masuk tubuhnya. Karna semua juga tahu, aku hanya punya mereka, hanya mereka saja.

Logikanya, aku memilih untuk mati. Kalau saja satu-satunya alasanku menghilang terbuang. Aku lebih baik undur diri daripada harus sendiri menikmati.

Dan memang akhirnya hanya kau yang paling tahu, Kau. Bagaimana aku lebih memilih untuk mati gantung diri.

Wednesday, June 27, 2012

Selamat Pagi, Cinta ♥

follow me @fasihrdn

Selamat pagi matahari, sepertinya sudah siap merajai hari ini. Aku masih jatuh cinta setiap bangun pagi; mencintai yang mencintaiku. Sepertinya kupu-kupu mengajakku menari melangkahi embun yang bergutasi di balik dedaunan, sinarmu menelusup lewat celah yang tak tampak. Memaksa mataku untuk lebih lebar terbuka, menyapa dengan senyum tanpa akhiran.

Selamat pagi matahari, membuka tirai jendela bertemu denganmu lagi. Selagu kicau burung yang memerdu syahdu di hening yang damai. Seperti cintaku yang makin tenang di peluknya. Saat kau kembali ke peraduanmu, dia datang menghangatkan aku. Dan kuharap begitu seterusnya.

Selamat pagi matahari, menghela napas panjang membuat rusukku naik turun. Searoma mawarku yang memerah terbias cahaya, seikat mawarku makin terlihat megah dengan cinta melekat di setiap kelopaknya. Sama seperti cinta di hatiku; makin ranum setiap bujuk rayu menyentuhku.

from my Dewa

Selamat pagi matahari, aku ingin kamu menghangatkan mawarku. Jangan biarkan mawarku layu, sebab duri dalam mawarku akan menjadi yang paling marah. Hey, kamu yang mengaku mencintaiku. Aku ingin kamu terus melanjutkan setia menjagaku. Jangan biarkan aku menangis sendiri, sebab hatiku sama seperti duri dalam mawarmu yang sudah jadi milikku. Akan berbalik menyakiti jika tak berhati-hati.