Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label kumpulan puisi cinta. Show all posts
Showing posts with label kumpulan puisi cinta. Show all posts

Monday, May 19, 2014

Wanita Idaman(mu)


more quote www.fasihrr.tumblr.com
Aku tak punya daya lagi, semakin aku ingin melarikan diri semakin kau menyeretku kembali. Tapi aku lelah dianggap sampah. Meski nyatanya aku tetap saja berpegang pasrah kalau-kalau kau beracah-acah. Hhhh, aku bosan mendengar lenguh yang masih juga penuh keluh. Napas panjang yang lekat dengan gamang, gamblang kali meski kita antarruang; jauh tak tersentuh.

Katanya, kau sedang asyik bercumbu di tempat lain dengan seseorang berinisial wanita idaman(mu).

Tuesday, November 5, 2013

Sekantong Rindu Terakhir

Ada sekantong rindu yang kumasukkan dalam lemari. Kusimpan di sudut paling dalam. Tapi masih juga mengintip dari celah-celah gagang pintu. Ternyata rindu itu bukan sebab kamu jauh dariku, Sayang. Tapi karena aku yang terbiasa denganmu. Lalu tiba-tiba aku mesti melakukan segalanya sendiri. Ah, padahal sebelum datang tatapmu di wajahku, aku sudah melakukan semuanya sendiri. Jadi, kamu yang membuatku tak bisa mandiri ... merasa membutuhkan seseorang terkadang menyakitkan. Sebab ada ketakutan yang menyelip kalau-kalau aku tak bisa lagi di rengkuhmu. Aku tak bisa lagi memanggilmu. Aku tak bisa lagi memintamu datang memelukku.

Ada sekantong rindu yang kuambil dari lemari. Biar menemani sepi saat kamu pergi. Tapi, toh, saat kamu tak berjarak denganku, aku tetap merasakan rindunya mengitari hati. Bisa begitu ya?



Sekantong rindu itu kusebar di langit-langit kamar. Biar saat aku tertidur, rindu itu mengajakku menujumu. Lalu kubagikan serpihannya pada angin, biar tertiup sampai ke relungmu. Kutitipkan pada bintang, lalu tunjuklah dengan jemarimu. Ada rinduku tergantung di sana. Masih ingat, ada malam yang begitu indah saat hati kita belum membuka dirinya? Di sana aku hanya bisa memandangi lekatmu dalam pekat dan matamu menjawab sedikit tanda tanya. Intuisi yang kukira sekejap mata. Ah, bisa kau ingat-ingat lagi yang itu? Yang tak bisa kujejerkan dengan kata. Kalau suatu saat, rasa cintamu hilang, Sayang ... ingat-ingat lagi bagaimana cinta itu datang. Jangan biarkan siapapun menghapusnya, menghasutnya sampai tumbang. Jangan biarkan satu pun alasan jadi sebab perpisahan.

Kali ini, sekantong rindu kutukar dengan doa. Sebab aku tak ingin rindu ini nantinya tak berasal dari dua arah. Sebab aku ingin rindu ini yang terakhir meresapi jemariku. Sekantong rindu terakhir dariku untukmu. Sebab aku mau akulah orangnya. Sejatimu.



051113~Soal jodoh, siapa yang bisa menduga-duga? Tapi kalau jodoh bisa diperjuangkan, saya perjuangkan kamu saja. Cukup.

Wednesday, September 25, 2013

Dan Kau....


Mengubah kebiasaanku yang lebih tenang tanpa siapapun, jadi kelimpungan saat tak ada kamu di sekitarnya.

Meski tak kubuka dengan suara, tak kutulis dengan kalimat tanya untuk tahu jawabannya. Semestinya tahu dengan sendirinya. Apa kau buta? Tak bisa membaca peta yang susah payah kugambari sendiri. Atau kau pura-pura? Tak mau meraba jejak menuju hatiku yang mulai meluka sendirinya.


Ah, kini galau jadi teman sehari-hari. Padahal kau tak peduli sama sekali. Beritahu aku caranya membuatmu merindukan aku setiap waktu. Lalu kaugeser ia dari lini waktumu. Masa lalu yang tak perlu kauharap kembali ke pelukmu. Tak juga sadarkah dirimu telah mengusik hatiku; Mengubahnya jadi sembilu.


Lalu setiap menit sampai habis malam kusambangi ponselku hanya untuk melihat apa kau menghubungiku. Akan kutunggu kau ajak aku bicara meski tanpa tatap muka, sebelum merjan pecah dini hari. Apa kau tahu bagaimana rasa sesak saat harus menahan diri untuk tidak merindukan seseorang yang (bukan) siapa-siapaku ...

Wednesday, June 26, 2013

Sophisticated; Friksi dalam Hati


Desakan dalam dada, katanya ingin cinta pergi saja. Tapi rupanya bagi hati, cinta adalah bonanza.

Kali ini aku takut kaumengerat apa yang belum boleh kuinjak. Aku takut perasaan yang memenuhi ruang di jiwa ternyata galat semata. Padahal serebrum sudah mati-matian mengatrisi perasaan yang mulai agitasi. Konvensi yang tak pernah jadi kesepakatan antara kau dan aku, ternyata bertemu dalam ekamatra.

Ah, betapa ramai sekali di hati menjabarkan esensi. Mengelaborasi satuan rasa yang membelah diri. Apa tidak salah menyerahkan naluri pada intuisi yang belum tentu tepat bidik? Apa pantas membiarkannya terus berkeliaran? Sedang aku tahu betul ada yang sedang membelungsing. Tak henti menginsinuasi gerak hati.

tweet me on @fasihrdn
Lalu dengan takzim aku memintanya undur diri dari sini; evokasi yang mulai membuatku takut sendiri. Kalau-kalau yang berani menelusup hati ternyata sekadar imitasi. Eklektik; masih memilih sana-sini. Atau barangkali, nomadik; berpindah kesana-kemari.

Sudah kutanyakan ini berkali-kali, tapi tak juga menghasilkan konklusi. Sebab sepertinya suatu hal yang muskil, mengeksekusi paksa rasa yang genjah; begitu mudah menyebar. Yang orang bilang itu cinta. Apa mungkin begitu saja akan abdikasi dari hati. Apa mungkin?


Thursday, April 25, 2013

Rindu Hujan Masa Kecil



Siapa yang tidak merindukan dirinya di waktu lalu? Membuka lembaran-lembaran yang usang penuh dengan tawa lepas dari seorang anak kecil. Melihat dirinya bermain-main dengan hujan, menari di bawah guyuran hujan. Aku selalu suka dengan hujan. Ayah selalu mengajakku menunggu pelangi datang setelah hujan.

         “Aaaaaa aaaaa! Aaaaaa!” Aku berteriak-teriak saat Ayah menyiprati air hujan ke muka polosku.

Lalu Ibu menyiapkan teh hangat dan pisang goreng yang selalu kumakan dengan olesan madu. Kata Ibu, begitu caranya makan pisang goreng yang enak. Tadinya kupikir rasanya akan aneh, tapi setelah Ibu menyuapiku, aku jadi ketagihan dan terus meminta digorengkan pisang setiap hujan turun. Jingga memang tak ada habisnya untuk diceritakan. Selalu menyelipkan tawa renyah seorang bocah.

follow me @fasihrdn
Aku membuka lembar berikutnya, ada wajah lugu yang memamerkan deretan giginya yang rapi dengan dua pita di rambutnya. Memakai rok bewarna merah kesukaannya. Rok yang hanya ia gunakan di saat-saat tertentu saja. Katanya, kalau memakai baju harus urut dari yang paling jelek sampai yang paling bagus. Sampai akhirnya rok dengan pita-pita di bagian depan itu selalu tertindih baju-baju yang lain. Jadi lupa untuk dipakai. Aku tersenyum konyol, mengingat pikiran anak kecil memang sederhana.

Monday, April 22, 2013

Teruntuk Kamu; Lelakiku di Masa Depan


Kali ini Tuhan menjatuhkan cinta lewat sederet bahasa yang diam. Aku terperangah. Bingung, mau tersenyum atau menangis. Dan ternyata keduanya bebarengan menghias rupa. Di depan layar yang selalu membuatku meluncurkan nyanyian tanpa nada. Tapi berirama sama seperti bahagia. Hanya saja kau tak kan bisa melihatnya dengan kasatmata. Sebab bahagiaku ini jatuh tetes lewat air mata.

Ini cinta yang tak perlu jemari untuk menggenggamnya. Ini cinta yang tak meminta lengan memeluknya. Ini cinta yang tak menggunakan mata untuk menatap setiap gerak-geriknya. Ini cinta yang tak membuka mulut untuk menyuarakannya. Ini cinta yang tak menjanjikan ikatan selamanya. Sebab ini cinta yang merindu lewat doa. Ini cinta yang menunggu Tuhan menyatukannya. Ini cinta?


Monday, March 11, 2013

Dear God, I'm not a Loser


Meski berkali-kali Kau menjatuhkan, aku tak akan pernah berada dalam kesedihan. Bukankah Engkau memang menciptakan kekuatan baja mengelilingi retakan di sekujur tubuhku? Meski cacian dilempar ke mukaku, aku tak akan pernah menyerahkan impian-impian yang susah payah kuperjuangkan. Bahkan meski berkali-kali sakit merumah di dadaku, aku tak akan pernah membiarkan siapapun juga mengambil alih hidupku.

Aku tahu, Engkau sengaja mengujiku. Ingin tahu seberapa besar keinginanku untuk menang. But I’m not a loser, God.

Saturday, March 2, 2013

Cinta, Akulah Rumahmu


Cinta jangan bersedih
Aku masih ingin mencintaimu di pagi hari saat aku terbangun
dan malam saat aku tidur lagi.

Cinta jangan memasang wajah muram
karena matahari masih terang sampai malam membias bulan
Pulanglah kalau mulai buta arah, kau boleh kembali kemari kapan pun.

Cinta, kamulah satuan waktu yang berputar tanpa akhiran
Mencintaimu tak peduli waktu sudah jauh meninggalkan aku
Aku masih terus di sini, menunggu cinta pulang.

Monday, November 5, 2012

Secangkir Kopi Kedua



: November

Pada malam sebelum jatuh pagi. Baru saja ku sedu adukan baru; menu baru dengan madu. Secangkir sudah habis ku tenggak paksa di balik kelambu. Belum sampai setengahnya sudah terkulai. Ini baru cangkir ke berapa?

Berbisik pada hujan gemericik, "Bertemu dengan setahun yang sudah lalu, mengapa cangkir yang ini lagi?"

Tiga serangkai; ngeri. Membayangkannya saja sudah meremai; nyeri. Mau tidak mau mesti mengisap satu demi satu.

Secangkir kopi; bergelas-gelas pecah pada petak yang itu-itu lagi. Sempurna aromanya berjelaga mewangi; tumpah. Masih dituangkan sesudah azan subuh, meninggalkan gelap malam seluruh. Seharusnya sudah basi, ini cangkir tahun kemarin, kan? Mengapa Kau suguhi berkali-kali?

Saturday, November 3, 2012

Menggantung Rindu



Aku mau kau tak memaku sembilu
sakit di dadamu itu mengendapkan pilu
Kau tahu?
degupmu dalam debar seperti sukar
menghela dengan sengal tak beraturan
lalu begitu rasa ku sakit mengulum rindu

Apa yang sebenarnya membuatmu tetap kekeuh
menyapa dalam kebisuan
Yang kau redam kadang justru jadi yang paling nampak di permukaan

Saturday, October 27, 2012

Sendiri Mencintaimu


Mengakar dalam genang di lengkung jalan yang menyimpang. Menukik pikir yang menyampaikan rindu membisu. Resahku menggila. Aku bukan lagi seperti seluruh aku.

Begitu caranya menggiling senja pada peradaban masa kini. Ramai yang melambai-lambai mengundang jerit dalam sepi. Sesumbar pada hambar yang menampar. Terlanjur menjangkar susah benar disangkal. Sampai aku hilang akal.

Andai cinta selalu datang lewat mata, mungkin mudah untukku mengubah perasaan. Sayang, cinta datang tak mesti karena siapa. Sebab nyatanya cinta bukan satuan yang bisa dihitung, bukan pilihan yang bisa begitu saja ditunjuk.

follow me @fasihrdn


Dan aku menemukan kebenaran dalam kesalahan yang pernah kamu lakukan. Menemukan kebenaran dalam kesalahan yang baru saja ku lakukan. Jatuh lebih dalam, menjatuhkan diri. Heran, kamu terus saja membuatku makin ingin bertahan dalam keadaan yang masih selalu berkutat pada keajaiban dan pengharapan. Apa alasannya? Mengapa terdengar begitu licik dalam riuh gemericik? Padahal aku tahu, kamu hanya sedang berpelik. 

Aku marah, gerah sendiri. Aku sedih, perih sendiri. Aku begini, kamu juga tak peduli.

Sunday, September 16, 2012

Menggenggam untuk Melepaskan

Sedari tadi aku hanya bisa memandangi layar dengan mata berkunang. Sama seperti aku yang baru saja menatap matamu lekat-lekat malam ini. Sakitnya terlalu tenang untuk meluncurkan air mata. Kamu terlalu hebat menyakitku, sebab aku masih bisa tersenyum tenang dengan kesakitan itu. Kamu terlalu kuat untuk membuatku melupa. Saat ini aku menulis sambil memejamkan mata, aku seperti kehilangan kata. 

Padahal air mata sudah menggantung, tapi Tuhan seperti menahannya. Mungkin tak mengizinkan kamu melihat kesedihan di balik diamku yang membisu.

Kamu datang untuk mengantar kepergian. Padahal aku ingin menangis di pelukmu, mungkin saja air mata bisa menahanmu lebih lama. Tapi kalimat beraroma luka itu terlalu hening untuk menjadikannya air mata. Baru kali ini kesakitanku tak menghasilkan tetesan yang meruncing. Apa karena sudah kadung habis tempo hari?

Kamu pasti ingin segera membacanya, apa yang menjadikanku diam meredam semua kata. Sebenarnya aku ingin bersuara, tapi bahasa seperti sudah lelah menguraikannya. Semalam ini aku hanya ingin merasakan tenang yang kau hadirkan lewat sebuah tatapan. Padahal matamu terlalu sayu untuk menatapku tajam. Tapi aku masih tidak sanggup membalasnya, lebih baik melihat bintang yang bertebaran. Tak 'kan ada jawaban dari sebuah pertanyaan, aku hanya ingin Tuhan saja yang mengatakan. Entah, kapan....

Kamu mencipta kenangan untuk suatu perpisahan. Seharusnya aku menangis kan? Lelaki mana yang bisa melihat wanita menangis apalagi karena dirinya? Seharusnya aku menagis di depanmu! Tapi aku sudah berjanji, Mas. Tak akan menangis di hadapanmu. Seperti yang kau mau, hanya akan ada senyuman yang tanpa tepian. Tentu saja dari ketulusan, itu senyuman paling dalam, teramat dalam. Sebab sebenarnya di sela-selanya ada yang terluka. Tapi suaramu membenamkannya menjadi senyum yang tak 'kan ada tepiannya.

follow me @fasihrdn

Aku menunggu-nunggu kalimat terakhirmu. Tapi ternyata kamu tak juga mengatakannya, pertalian itu, sebut saja dengan rencana pernikahan yang kamu sembunyikan itu. Padahal aku ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu....

Entah,  padahal malam ini seharusnya jadi yang paling menyakitkan. Ditinggal orang tuaku, berurut lalu kamu. Tapi mengapa lukanya seperti samar-samar menghilang saat kamu yang melakukannya? Saat kamu berada di dekatku, meski bukan untuk mendekapku. Aku hanya ingin mendegarmu, bukan lagi dengan kedua telingaku. Tapi dengan satu hatiku. Kamu melukaiku dengan cinta yang tak 'kan bisa menjadi bahagia. Tapi mengapa aku seperti mendengar bisikan Tuhan, yang bilang bahwa nanti ada waktunya untuk berbahagia. Ada yang menari-nari dalam pikiranku. 

Sepanjang jalan aku merapal baid-baid doa. Dua kali aku melihat bintang jatuh. Apa betul seperti itu yang namanya bintang jatuh? Membuat hatiku gaduh mengadu. Tapi bukan untuk mengeluh, hanya ingin merasakan kebahagiaanmu. Meski bukan denganku.

Padahal kamu bermaksud mengakhiri apa yang tak sengaja bermula. Tapi aku seperti baru saja memulainya. Seharusnya aku membencimu, ternyata aku memang bukan pembenci yang sempurna. Cukup membencimu dengan cinta saja ... cinta yang tak sempurna, tak akan pernah jadi sempurna.

Aku paham, Mas. Tahu betul arti kalimat-kalimatmu yang seperti susah payah diuraikan. Tapi aku tetap akan melanjutkannya meski sendirian. Sebab berkali-kali aku mencoba menghentikannya, justru membuatku makin lebar membuka hatiku. Tersenyumlah, seperti aku yang sudah baik-baik saja di genggamanmu yang sementara. Aku tak akan mengharapkan apapun, hanya tak bisa menghilangkan satuan-satuannya. Entah sampai kapan, aku tetap mencintaimu sendirian. 

Sampai Tuhan mengabarkan kepastian.



160912~Bukit Bintang terlalu indah untuk suatu perpisahan yang begitu menyakitkan.

Friday, September 14, 2012

Bayangmu Mengganggu

Berhenti menggangguku, hey, bayang-bayang yang tak bisa hilang.

Menunggu yang aku tidak tahu akan datang atau tidak itu menghabiskan waktu. Bagaimana pun, wanita bukan diciptakan untuk memulai. Untuk terlebih dahulu menyapa. 


Mencari tahu apapun tentangmu adalah cara paling sederhana mencintaimu. 


Mencari-cari yang sama; kamu.

Menunggu-nunggu yang serupa; sapaanmu.
Mengulang-ulang hal yang sama. Mencintaimu.

Tapi kamu datang dan pergi sesukanya sendiri. Menghancurkan hati.




130912-01.01

Friday, August 17, 2012

Mencoba Berhenti Mencintaimu


Cukup! Aku mau berhenti mencintaimu. Mencintai yang bukan milikku. Aku mau bersembunyi di balik ilalang. Lebih baik cepat-cepat menghilang. Sudah tak apa, Aku hanya sudah paham sikapmu yang tertuang. Mengapa tiba-tiba jadi lengang tak bertulang. Aku sudah paham mengapa kamu jadi diam meremang. Maaf, aku baru saja sadar kalau kau ingin aku cepat pulang. Tak sudi memandang senyum yang mengembang. Ampuni aku yang memang baru saja paham; ternyata perlahan kamu ingin menebasku terbuang.

Ternyata diammu menggumam, ingin aku segera temaram dalam legam.

Mungkin saja kamu sudah tahu, sudah mengerti kan? Aku memburu berita lewat teman-teman. Mencari cerita lewat dunia maya. Mungkin juga kamu sudah lebih lincah, tahu betul aku yang telanjur terbuai pesona. Menelusup melalui rongga dada, menjelma menjadi sebingkis cinta.


follow me @fasihrdn
Gaung yang melengkung berlipatganda, menertawakan keadaan. Mencibir tawa dengan nada hampa. Ah, aku jadi malas berupaya. Hargaku jadi kurang bersahaja. Sebab kamu seperti sedang menghina lewat tatap mata.

Rasa yang kadung merajalela, sebaiknya tak dibiarkan terus menyala sebelum akhirnya berbuih kecewa.

Sudah cukup memuja pinta rasa. Menyudahi damba membara, meski harus dengan kata yang berdusta pada rasa. Sudah cukup kamu membuatku mati kutu. Mengubah malu berlagu merdu merindu. Sudah cukup aku terpaku pada riuh keruh penuh keluh.

Aku akan segera menjadikanmu angin lalu seperti yang kau mau. Aku mau buru-buru  berpacu pada jarum waktu, menderu tanpa menyelipkan namamu. Aku tahu kamu ingin memberitahuku seseuatu. Katamu, aku tak perlu menunggu sebab kita tak akan menyatu. Benar begitu?

Mulai detik ini, langkahku terhenti di sini. Menepi dan tak 'kan pernah mengulang untuk mencintaimu kembali. Lalu akan mencari yang benar-benar akan memberi. Bukan lagi hidup dalam kotak khayal berbentuk mimpi.

Asli, aku tak akan coba-coba lagi mengintaimu setiap hari. Selagu kamu yang tak mengizinkanku berbagi hati; ternyata kamu tak juga merestui kita jadi yang saling mencintai.

Seperti yang kamu minta, aku akan mencoba berhenti mencintai. You must know that I try so hard to shut the feelings out. Sebab sulit meyakinkan pikiran untuk berhenti melakukannya ketika hati ternyata masih mencintai. Begitu sulit berhenti mencintai seseorang saat aku masih memikirkannya.



160812~Berhenti Mencintai Kekasih Orang

Saturday, August 11, 2012

Siapa Kamu, Diam-diam Membuatku Rindu


Apa bagusnya kamu? Mengapa bisa sampai menyita waktuku? Kamu menciptakan ilusi dari hati. Membuatku berangan tentang kamu. Mencari tahu siapa yang memeliki mata sayu. Kamu membuat telingaku hanya mendegar suara kalemmu. Ah, siapa kamu ... berani-beraninya mencuri perhatianku.

Aku kangen, jadi rindu setiap waktu. 

Mungkin kamu tidak tahu siapa aku, yang di sini diam-diam berharap kamu membaca tawaku. Melihat larik-larik dalam barisan tulisanku yang berbicara tentang kamu. Aku pikir perasaan ini semacam terbiasa melihatmu. Menghilang esok hari dan melupakan apa yang pernah kutulis sebelumnya. Tapi mengapa justru makin kuat mengaung ke seluruh penjuru kalbu?



Aku memang miskin kosa kata, aku hanya bisa bilang ini itu setiap hari.

Tapi tahukah? Aku masih jadi pengagum rahasia yang mengikuti derap langkahmu. Aku memang tak punya banyak waktu untuk meneruskan polamu. Selagi masih ada waktu, aku ingin menjadi yang paling sering berada di dekatmu. Tak perlu menoleh ke arahku, cukup aku saja yang melirik mengintaimu. Tak perlu berbalik arah menghiraukan aku. Aku ini hanya perempuan tak tahu malu, mencintai yang tak mengenalku. Yang tak ingin tahu siapa aku.

Aku menghabiskan berjam-jam untuk sekadar duduk menikmati senyummu di depan layar. Menipu diri sendiri, berharap senyum itu memang hanya untukku. Hey, aku tak memintamu memutuskan untuk mencintaiku. Cukup merasakan senyum yang menyebarkan ketenangan; di sekitarmu aku merindu.



110812~ Ini untukmu, ya, kamu.

Friday, August 10, 2012

Bukan Hakku Mencintaimu


Dengan sendirinya aku melenggokan jemari. Untuk apa sebenarnya mencari yang tidak perlu kuketahui lebih rinci. Aku juga bingung sendiri. Sampai detik ini, aku belum sempat ganti. Masih mengenakan batik, ya, batik seperti punyamu tadi. Kita sama-sama pakai batik, kan?


Aku menemukanmu di dunia maya, tidak banyak. Bahkan hampir tidak ada. Tapi siapa sangka itu membuatku nyaris menghentikan detak jantungku. Aku terus mencari tahu siapa kamu, walaupun sepertinya kamu bukan yang suka mengumbar identitas di tempat umum. Aku mencuri fotomu, maaf, bukan tindakan etis. tapi apa salahnya? Masukkan saja namaku ke dalam daftar pengagum rahasiamu.

Aku tidak begitu peduli pada status "berpacaran" yang sepertinya baru saja kamu pajang. Tapi siapa wanita itu? Ah, sudahlah. Bukan urusanku memasuki sekitaranmu jauh lebih dari ini. Mengenalmu saja sudah membuatku sedikit tenang. Apalagi disuguhi senyum dan tatapan mata sayumu. Membuatku jadi tambah penasaran. Lagi-lagi siapa sebenarnya kamu?

Follow me @fasihrdn

Aku tidak sedang berangan menjadi yang saling melekatkan jari kelingking. Aku hanya mengungkap rasa yang mulai mengendap diam-diam. Jangan sampai jadi berlebihan. Sebenarnya aku takut ketahuan, kalau-kalau  ternyata kamu jeli. Menyadari ada yang mencuri-curi. Maaf, hanya sedikit saja mengintip. Aku hanya suka merasakan keramahan. Dan kamu memberikan ketenangan, membuat tempat dudukku jadi sedikit lebih nyaman. 


Apa-apaan ini? Aku jadi lesu tanpa kamu. Aku jadi kehilangan nafsu. Aku juga tidak tahu mengapa jadi rindu. Kenapa tiba-tiba jadi menggebu-gebu? Atau aku yang terlalu ingin mengenalmu? Bisakah menungguku?  Ah, aku lupa. Aku bukan tujuanmu. Aku ini siapa? Aku bukan yang pandai menyapamu. Bukan yang jago merayu. Sudah cukup, aku tak ingin jatuh pada yang bukan hakku.

Cukup tahu siapa kamu, walaupun jujur saja sebenarnya aku ingin yang lebih dari itu. Tapi mungkin lebih baik aku berhenti mencarimu.


100812~Sepulang Praktik Industri-UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.