Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Thursday, January 9, 2014

Kembali Asing Setelah Mati Suri


Ah, aku masih bisa merasakan betapa sakitnya tulang rusukku. Betapa hinanya aku malam tadi. Betapa hancurnya aku dibuat seperti mati suri.

Mungkin, bukan hanya aku yang terluka. Kamu juga. Tapi kalau luka bisa membuat semuamu mendewasa, aku bahkan siap ditikam berkali-kali dengan hujatan. Sebab terkadang, kita memang perlu diperingatkan dengan keras agar kembali sadar ... boleh jadi, Tuhan menguji seberapa kuat aku bertahan melawan amarahku sendiri. Atau seberapa kuat keinginan untuk bangkit kembali. Sebab aku begitu percaya, setelah air mata pasti Tuhan selipkan senyum yang lebih berbahagia.


Aku masih bisa mengingatnya, pesan singkat yang sengaja kusimpan rapi. Yang kali itu kujadikan motivasi ketika aku mulai lelah, mulai marah, mulai merasakan sesuatu menyesak di dada.

Kamu berhak memilih dan memutuskan siapa yang pantas bersanding denganmu. Tapi ingat, ketika sudah kauputuskan, jangan pernah menyesal apalagi meninggalkannya jika ia punya salah dan kurang ... genapi dia, lengkapi dia, dan perbaikilah bersamanya.


Getir aku mengingat-ingat kalimat yang ternyata kamulah pelakunya. Kamu sendiri yang melanggar bicaramu. Ah, Allah memang Maha Pembolak-balik hati manusia. Aku angkat tangan, bukan untuk menyerah, tapi berserah.

Aku masih menimang-nimang esok hari, membayangkan apa yang mesti kulakukan kalau ternyata kamu benar-benar pergi setelah kauhabisi hatiku. Apa perlu aku mengasingkan diri agar tak kutemui kamu lagi (bahkan) dalam mimpi.


Pernah kaubaca abjadku yang itu? Masih ingatkah? Tapi rupanya kamu lupa, Sayang. Kamu menghapusnya diam-diam. Apa yang tak bisa kupaksa adalah rasa. Apa yang tak bisa kutawan adalah cinta. Apa yang mestinya kujaga kecuali iman ... kukembalikan saja segala arah pada Tuhan. Meski aku yakin, mustahil bagiku untuk merelakannya dalam satu malam. Tapi, sungguh, pun aku tak kan bisa menahan rencana kepergian hanya dengan sebuah genggam.

Setelah ini, barangkali, aku akan kembali "asing". Tak lagi pandai menikmati rindu bersamamu, tak lagi lihai mengatakan "I love you" padamu. Sebab aku begitu takut, aku gamang kamu kembali mengucap kalimat serupa tadi malam. Yang itu, Sayang ... yang tiba-tiba muncul dari balik layar ponselku. Hatimu yang ragu menyimpan rasa sayang padaku atau tidak. 


Lalu, boleh kutanya, sejauh ini aku siapa? Kita apa? Dusta?



090114~Atau ternyata kau hanya serupa pemeran utama yang sedang bersandiwara.


4 komentar:

Dianeka Widiantara said...

Allah selalu memberikan yang terbaik, bukan yang terburuk...
Walau kadang kita belum menyadarinya.

Karleen K. Fadhilah said...

Kak izin copy paste :) nanti di tulis sumbernya..

Karleen K. Fadhilah said...

Kak izin copy paste :) nanti di tulis sumbernya..

Fasih Radiana said...

silakan :)

Post a Comment