Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label puisi galau. Show all posts
Showing posts with label puisi galau. Show all posts

Monday, August 25, 2014

Wanita di Sudut Mata


Kudengar kabar lewat lirik-lirik beriring akustik. Kudengar suaranya memecah kerinduan. Kudengar bicaranya masih juga meluruhkan kegundahan. Kudengar darimu, bacaan yang kaumainkan menyendu, mengharu, masihkah aku mencintaimu?


Kubaca kalimatnya penuh gurat luka. Seorang wanita jelmaan terista lama. Kubaca syairnya berlagu babur; kacau; tak beratur. Barangkali, masih awam soal gramatika. Atau kau masih merasa laranya mengablur di dada? Menyesakkan remang dalam gaung suara masa di pinggir kota. Satu nama yang membuat mataku enggan menatap lama-lama. Lejar terabar satu jiwa yang katanya paling mulia dalam sabar. Apa kiranya seorang hawa yang meniadakanmu membaca nyeriku jauh lebih keras menjerit?

Monday, April 14, 2014

Romantika Cinta: Kau, Aku, dan Dia



Ada satu nama yang enggan mengubur dirinya. Ia membelungsing sampai gendang telinga. Pada buku usang dalam lembar yang tak ingin kubuka ulang. Tergurat seraut wajah perempuan yang meminta untuk terus saja diusik ingatan. Apa yang kau mau, Sayang? Adakah kiranya yang ingin kausampaikan? Kuharap ada waktu untuk sekadar menyapa dalam temu yang tak disengaja. Kau dan aku dalam satu ruang lalu saling bercerita soal perasaan. Luka dari sebab cinta serupa, atau cinta dari luka yang sama.

Aku tak sudi hilang harga rupa dalam lara yang tak kunjung menemui redanya. Sudah lama aku memaafkan air matamu yang membawa pergi kekasihkukekasihmu sebelumkudalam rerintik hujan sore waktu itu. Demi selaksa senyummu ia menyalahkan dirinya dengan mendusta, demi sembuhnya batinmu ia mencabut udara di tenggorokanku. Demi matamu yang tak lagi sembab sebab duka, ia membubuh cabuh dalam gemuruh sampai gaduh seluruh hatiku hancur luluh. Dan aku jadi santapan utama nestapa kala kausungkawa. Masih tersimpan rapi dalam memori, kau yang tetap tak acuh malah menjujuh hujat sampai nyeriku layuh. 

Barangkali, bagimu aku hanyalah bocah yang tak tahu apa-apa soal hidup atau perkara kehilangan yang begitu memilukan. Nyonya tak perlu risau, cecunguk ini sudah mulai paham tentang keberadaan perempuan berhati mulia yang bijaknya begitu rupawan. Maafkan aku yang lupa soal kasta di antara kita.
Lalu....

Thursday, January 30, 2014

Aku Baik-Baik Saja #akurapopo Part 3

Kamu. Lelaki itu....

Seseorang yang kuperjuangkan mati-matian di hadapan Ibu. Lelaki yang kubangga-banggakan pada semua orang. Dan yang kuhormati layaknya pengganti Ayah. Khianati segala yang kauucap. Abaikan sakit hati yang merumah di dadaku. Acuh-tak-acuh dengan semua yang kaulakukan. Berbahagialah dengan yang kaumau.

Kamu. Perempuan itu....

Kau tahu mengapa kamu tidak paham dengan apa yang terjadi selama ini? Kamu mau tahu mengapa kamu bahkan tidak sadar setelah ia kembali padamu pun, banyak hal yang tak tampak di matamu terjadi saling menyakiti. Kamu mau tahu mengapa kamu tidak juga tahu ini semua terjadi?

Sebab kamu terlalu memikirkan hidupmu. Kamu hanya peduli dengan apa yang terjadi padamu. Kamu hanya mau mengerti dengan apa yang menimpamu. Tanpa mencoba memposisikan diri menjadi orang lain. Kamu hanya melihat apa yang mau kaulihat. Kamu hanya mendengar apa yang ingin kaudengar. Tanpa berusaha memahami dari segala sudut pandang. Kamu tak pernah ingin tahu rasanya jadi ia yang terluka, yang barangkali, sebabmu juga. Iya, kamu bahkan tidak paham bahwa ada seseorang yang terluka karenamu. Kamu terlalu mementingkan apa yang kauinginkan. Kamu hanya melekati bahagiamu sendiri, dan meratapi sedihmu sendiri. Tanpa memikirkan dalam waktu bersamaan, ada orang lain jatuh-bangun berusaha untuk berdiri. Tanpa pernah menilik lebih dalam adakah yang menangis tersengal-sengal di balik semua itu. Bahkan, kamu tak sedikitpun memahami luka yang meradang di jantung orang yang kaubilang, kamu mencintainya.

Tak pernah terpikirkan olehmu kan? Tak pernah terbesit dalam benakmu kan? Tak pernah kaucoba cari tahu apa yang ia rasakan dan apa yang terjadi padanya?

Tuesday, January 28, 2014

Aku Baik-Baik Saja #Akurapopo Part 2


Bohong.
Letak baik-baik saja di hati itu ternyata hanya di batas permukaan; mengambang lalu jatuh tenggelam.
Bohong.
Waktu baik-baik saja di hati itu ternyata sebentar saja; sepersekian detik lalu hilang.
Bohong.
Kekuatan baik-baik saja di hati itu ternyata semu semata; tampak nyata lalu lesap-lenyap.

Segala yang (kupikir) baik-baik saja itu ternyata tak pernah benar-benar baik-baik saja.

Barangkali, aku linglung.
Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatap langit-langit kamar; bengong.
Boleh jadi, aku gila.
Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendengar riuh sesak kipas angin; blong.
Mungkin, aku sakau.
Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berbicara pada gantungan baju; melompong.

Segala yang (kupikir) baik-baik saja itu ternyata tak pernah benar-benar baik-baik saja.

Sunday, January 19, 2014

Beri Aku Waktu



Beri aku waktu, Sayang. Beri aku waktu untuk mengenal seluruhmu. Mengenal masa lalumu, ah, tapi, jadi percuma jika kamu tak pernah mau mengenalkannya padaku. Aku justru merasa semakin asing, dengan pikiran-pikiran kotor yang membelungsing. Pernahkah mencoba untuk menelusup masuk ke hatiku, sekadar merasakan betapa retakan di hatiku sudah nyaris jadi kepingan yang berserak. Sebab dua nama yang kaujaga di hatimu membuat hatiku tersiksa di dalam sana. Aku wanita, Sayang. Tak pandai membagi hati untuk dicintai dalam waktu bersamaan. Aku ini wanita, Sayang. Tak mungkin sudi kau ajak berbagi hati. Aku ini seorang wanita yang begitu rapuh hatinya bila disentuh dengan luka.

Thursday, January 9, 2014

Kembali Asing Setelah Mati Suri


Ah, aku masih bisa merasakan betapa sakitnya tulang rusukku. Betapa hinanya aku malam tadi. Betapa hancurnya aku dibuat seperti mati suri.

Mungkin, bukan hanya aku yang terluka. Kamu juga. Tapi kalau luka bisa membuat semuamu mendewasa, aku bahkan siap ditikam berkali-kali dengan hujatan. Sebab terkadang, kita memang perlu diperingatkan dengan keras agar kembali sadar ... boleh jadi, Tuhan menguji seberapa kuat aku bertahan melawan amarahku sendiri. Atau seberapa kuat keinginan untuk bangkit kembali. Sebab aku begitu percaya, setelah air mata pasti Tuhan selipkan senyum yang lebih berbahagia.


Aku masih bisa mengingatnya, pesan singkat yang sengaja kusimpan rapi. Yang kali itu kujadikan motivasi ketika aku mulai lelah, mulai marah, mulai merasakan sesuatu menyesak di dada.

Kamu berhak memilih dan memutuskan siapa yang pantas bersanding denganmu. Tapi ingat, ketika sudah kauputuskan, jangan pernah menyesal apalagi meninggalkannya jika ia punya salah dan kurang ... genapi dia, lengkapi dia, dan perbaikilah bersamanya.

Wednesday, December 11, 2013

Kau; Jadilah Teman Hidupku


Apa berlebihan bila aku merindumu setiap waktu?


Baru sehari aku tanpamu, sudah merasa jadi orang yang paling awam soalmu. Jujur saja, aku justru takut jadi pecandumu. Aku begitu takut tak bersinggungan dengan pelukmu. Aku tahu, Aku betul-betu tahu sedalam apa aku jatuh di sudut hatimu. Di sana, aku tak bisa bertahan sendirian. Aku yang tiba-tiba jadi begitu lemah tanpa genggammu, aku yang jadi lelah bila melangkah tak di jejakmu.


Ternyata ada rindu yang datangnya setiap hari; ingin denganmu setiap waktu. Lalu dengan cara apa lagi melunasinya, sebab pun kuhabiskan seharian bersamamu tak juga membuat rindunya luruh dalam ruang yang sama. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa berjarak, sedang renjana mengutuk purnama bila tak terang di rengkuhku. Ah, lalu bagaimana caranya aku mengisi sepi saat diam-diam kau menggeser langkahmu menjauhiku. Untuk alasan apapun, Sayang ... jangan menoleh ke arah manapun kecuali kembali menatapku.

www.fasihrr.tumblr.com

Sunday, November 3, 2013

PARANOID


Tentu, aku begitu takut tentang apa yang tidak kuketahui sebelumku. Atau sesudah kita nantinya. Andai saja, cinta tak pernah mampir kemari, mungkin saja tak 'kan ada ketakutan yang bermunculan. Menekan-nekan hatiku. Sungguh, saat ini aku merasakan kau remat-remat hatiku dengan tangan orang lain. Sungguh, saat ini aku sedang menahan-nahan dan mengendalikan diri dari sakit yang tak bisa kumungkiri.

Jadi, sebenarnya apa yang kau mau dari perempuan sepertiku, Tuan?

Kalau luka, aku sudah melumatnya. Kalau cinta, aku sudah jatuh di dalamnya. Apalagi? Aku hanya berusaha meredam apa yang semestinya tidak perlu kutakutkan. Tapi, toh, nyatanya perasaan itu terus saja melingkari pikiran. Berjalan-jalan merayap di atap-atap hati, membawa jarum yang begitu runcing. Tusukkan di jantungku, Sayang. Hancurkan aku sekalian!

Mungkin bukan kamu pelakunya, tapi kamu terlibat di dalamnya. Kamu tokoh utamanya kan? Mengapa tak kauakhiri dulu kisahmu yang dulu, baru kau memulainya denganku. Mengapa tak kau katakan padanya tentang hatimu baru kaunyatakan perasaanmu padaku? Mengapa menciptakan garis-garis yang meretak dalam luka sukma....

Saturday, October 26, 2013

Jejak Rekam Bulan Oktober


Sebenernya nggak bisa nulis apa-apa lagi ... sudah terekam dalam pikiran dan hati, sudah melekat dan membuat segala abjad membeku di sangkarnya. Oktober; selalu jadi bulan yang kunanti-nanti. Bukan sebab ada satu tanggal istimewa dalam hidupku. Tapi karena aku memang selalu berharap Oktober jadi pengikat waktu yang haru. Dan 2013 menyuguhiku Oktober yang begitu sempurna....

Sunday, October 20, 2013

Catatan Kenangan di Bawah Purnama


Bintang Jatuh di Mataku

Aku selalu suka dengan bulan
merayap dari balik bukit
yang samar-samar cahayanya terhalang dedaunan

Aku mengkhidmatinya;
suara angin yang mencuri sedikit kehangatan di wajahku
Aku menikmatinya;
semburat serbuk emas yang mengambang di atas awan
Berlarian, serupa kau yang jatuh tepat di mataku

Lalu di seberang mataku ada bintang
yang mekar sendirian
membelah separuh mega yang mulai petang

Sepanjang jalan yang muaranya adalah purnama
melambai-lambai di jariku
katanya, bahagia itu begitu sederhana
Sepanjang jalan yang muaranya adalah kamu
mengayun-ayun pada lembayung
aku tahu, jawabku
dalam hening yang berisik, diam yang berbisik

Sebab bulan mengikutiku, membuat bola mataku balik mengikutinya
Sebab bintang memperhatikan gerak tubuhku, menyambutku tersipu
Sebab kau menjagaku; melekati seluruhmu.

18 Oktober 2013, menjelang petang, menuju poktunggal beach


Dan aku belum pernah melakukan hal-hal yang lebih gila dari ini. Belum pernah selepas ini, seperti merpati yang keluar dari sangkarnya. Yang sudah pensiun mengirimkan surat cinta orang-orang zaman dulu. Bawalah pergi cintaku, ajak kemana kau mau ... jadikan temanmu, temanmu paling kau cinta~ *nyanyi dulu*

Pernah merasa pekatnya penat menampar-nampar wajahmu? Merasa apapun yang kaulakukan adalah kehampaan yang hakiki, pernah? Dan aku tak pernah menemui jawaban atas kekosongan di dadaku. Yang tak pernah bertemu belahannya, separuhnya ... hanya kesalahan-kesalahan atas nama cinta, hanya percikan api sementara lalu habis begitu saja di makan waktu. Apa mungkin kamu ... bisa? Ah, nggak yakin, coba yakinkan!

Sunday, September 22, 2013

Bisakah Kau Menenangkan Hatiku?


Sebab gigiku gemeretak, jantungku dag-dig-dug lebih kencang, dan entah mengapa dadaku jadi begitu sesak....

Ada yang menyelingar dalam bahasa yang salah-kaprah. Aku dengan segala titik-koma dalam paragraf singkat yang terurai begitu panjang, melalui bibir yang terhalang gelap. Aku dengan suara-suara lain yang menyelinap lewat celah telingaku yang lain, atau aku dengan sengal napas yang terdengar begitu nyaring. Kau tahu sudah berapa lama aku tidak merasakan sakit singgah lalu menetap dan lama-lama mengendap? Kau tahu sudah berapa lama aku tidak merasakan apa yang kauberikan padaku saat ini, kau tahu….

Aku bahkan hampir lupa seperti apa rasanya galau, sebelum kaumasuki kehidupanku.

Bisa kau jelaskan, mengapa kau begitu mudah membuat perasaanku kacau? Aku takut rentetan kejadian yang tak terduga justru jadi katastrofe. Pernyataan rasa yang tak selaras dengan bicara. Apa ada cara lain untuk mencintaimu selain dengan menunggu? Kau biarkan jam dinding berdentang sampai fajar menjelang, dan mataku masih juga belum bisa terpejam. Menimang-nimang bayangmu yang terekam dalam benakku. Lalu sebagian hatiku yang lain berpretensi. Agaknya, aku mulai getas, merentik selira seperti semara. Ah, apa iya?

Tuesday, July 2, 2013

Surat Izin Jatuh Cinta

Aku bagai trobadur yang jadi pecandu lagu asmara. Ah, kamu menyebar serbuk nebula dalam titik khayal tertinggi. Aku benar-benar dalam batas ekuilibrium. Rasanya ingin menghentikan jarum waktu. Berlama-lama dalam euforia, merasakan febulasi yang berangsur-angsur menjadi enigma.


Mendesak Tuhan segera memberitahu rencana terhebatnya, sebenarnya aku ini teruntuk siapa?

Indolensi mengejawantah jadi dogma yang tak bisa diganggu gugat. Angan-angan yang katanya wajib menjadi agunan di masa depan. Tentu saja, hati tak sudi sekadar tetirah dalam kuasi. Ingin abid di dalamnya. Kau dan aku yang selamanya bukan lagi sebuah wacana.

Begitu seharusnya kita saling memperjuangkan ikatan lewat akad yang tak berkesudahan. Hidup berkelanjutan dalam pendopo sampai lanjut usia; sampai habis masa jabatan. Lalu mengisahkan fragmen cerita cinta pada anak cucu kita. Sebagai patrinomium yang tak ternilai harganya.


Aku bukan hanya sekadar berimaji. Melantur kesana-kemari. Membicarakan jemari yang saling berpautan saling mengisi. Padahal nyatanya aku masih juga sendiri. Siapa bilang aku menutup hati? Aku hanya sedang mawas diri. Berjaga-jaga jangan sampai melanggar inhibisi.

Hanya tak ada yang sanggup mendengar lirihnya doaku yang berharap kau memang terlahir untukku. Pun aku tercipta untuk melengkapi rusukmu.

Monday, November 5, 2012

Secangkir Kopi Kedua



: November

Pada malam sebelum jatuh pagi. Baru saja ku sedu adukan baru; menu baru dengan madu. Secangkir sudah habis ku tenggak paksa di balik kelambu. Belum sampai setengahnya sudah terkulai. Ini baru cangkir ke berapa?

Berbisik pada hujan gemericik, "Bertemu dengan setahun yang sudah lalu, mengapa cangkir yang ini lagi?"

Tiga serangkai; ngeri. Membayangkannya saja sudah meremai; nyeri. Mau tidak mau mesti mengisap satu demi satu.

Secangkir kopi; bergelas-gelas pecah pada petak yang itu-itu lagi. Sempurna aromanya berjelaga mewangi; tumpah. Masih dituangkan sesudah azan subuh, meninggalkan gelap malam seluruh. Seharusnya sudah basi, ini cangkir tahun kemarin, kan? Mengapa Kau suguhi berkali-kali?

Thursday, October 11, 2012

Bicara Perihal Aku, Kamu, dan Kenangan


Berkali-kali aku mengucapkan janji, akan segera pergi menjauhi yang tidak akan pernah bisa kusandingi. Berkali-kali aku mengingkari, nyeri di dada justru makin menjadi-jadi. Berkali-kali barisan doa yang kurapal dalam pekat yang lekat dengan penat, aku membisikkan satu nama. Masih saja dengan posisi yang sama, masih seperti itu saja. 

Bias dingin memeluk erat air mata yang makin deras merebak. Aku duduk bersinggungan dengan lengan yang tak 'kan pernah kubiarkan jadi sebuah bayang-bayang, lalu melayang bersama petang. Aku duduk bersinggungan dengan lengan yang selalu menjadi tumpuan sampai pagi kembali datang. Lalu bagian mana yang harus kudustakan? Membiarkanmu pergi lalu aku berhenti menjuntaikan kaki pada jari-jari lentikmu yang menari. Membiarkan aku berperangai sendiri, bertikai sendiri dengan ironi.

Seperti itukah seharusnya? Decit yang menjerit, menumpahkan tinta hitam pada secarik kertas yang melentingkan diri. Bertabrakkan dengan aroma hujan; kenangan.

Lalu aku lebih memilih bersembunyi di balik waktumu. Waktu yang katanya tidak lama lagi. Waktu yang mencuri hati pada bulan yang mendaki. Merenggut lagu di lirik sunyi. Mengendapkan kerinduan yang menyentuh rongga telingaku. Lalu kamu menghitung jejak tapak, mengikuti arah angin yang menggigilkan pucat resahku. Begitu seterusnya, sampai malam ikut berteduh di jarimu. 

Sepenggal rindu yang menawar dingin, membungkam suara-suara. Merusak abjad-abjad  sisa bahasa, sebab napasmu menghembuskan cinta. Menguak melewati batas angan, aku geriap lalu lalang. Mencari-cari kebenaran yang menjadi saksi kisah yang mengindahkan suara serak parau. Kau, selalu membuatku terpukau. Engkau.

Matahari menyurup, menjingga atas kerinduan tanpa tepian. Masih mencari di mana cinta yang tegas?

Aku bosan terlibat dalam debat, penat mendengar alasan yang berkutat pada itu-itu saja. Menghabiskan napas bersama turunnya senja, begitu saja. Begitu sederhana.

Toh, sekelumit baid tak 'kan ada artinya. Sebab aku belum menemukan diorama yang pas untuk memamerkan adegan kita dalam dimensi yang lain. Yang selalu sengaja disembunyikan. Lalu berjumbul di keremangan, bukankah selalu berakhir pada kenangan?

Cericit binatang malam membuatku suntuk belum mengantuk. Melirik langit, beginikah caranya Tuhan mendistorsikan perasaan? Menyilangkan aturan di persimpangan. Aku mau meneguhkan bibir, mengayunkan angin semilir. Menghentikan kibas hujan yang selalu saja menceritakan tentang cinta yang berbaur pada luka sukma. Mengalirkan air mata yang nyaris mengering. 

Lagi, aku tak pernah benar-benar bisa tegar dalam sikap sempurna tanpa ada kamu yang menyusupkan tenang di antaranya. Sebab sepertinya kamu sengaja membuatku tak bisa menembus kepekatan mega. Sendirian. Sebab sepertinya engkau sengaja melakukannya, mengubahku tak terbiasa tanpa ada kamu di dalamnya. Membuat separuhnya berada dalam hela napas yang sama. Aku yang tidak lagi bisa sendiri tanpa melibatkan kamu dalam setiap tradisi. Begitu, sampai kamu sendiri yang meninggalkan kepingan. Sampai kamu sendiri juga yang akhirnya meninggalkan.

Lalu seperti apa seharusnya aku dan kamu lepas dari belenggu waktu? Sebab sepertinya kamu lupa mememberitahuku caranya melupakan, mendustakan kenangan.




111012~Bicara perihal aku, kamu, dan yang tak bisa menjadi kita. Lalu caci maki saja tulisan yang kamu baca, biar menjadikan lukanya makin sempurna. Meretak sampai ujung terdalam.

Tuesday, September 18, 2012

Mestinya Berbahagia

Bukan sebuah kejutan, kenyataan yang dipersiapkan memang sebuah perpisahan.

Dalam pelukan aku merenungkan. Tidak semua wanita mau kaugenggam. Dan bukankah seharusnya berbahagia? Sebab aku bagian dari salah yang kau tenangkan.

Yang sebentar itu melekatkan kenangan yang jauh mendalam. Bukankah semestinya berbahagia? Karena di antara kita ada cerita. Meski bukan untuk waktu yang lama....

Bukan sebuah kejutan, kesepakatan yang dihasilkan adalah sebuah perpisahan.


180912~Aku baik-baik saja. Sungguh, lihat saja besok. Aku tetap akan melambaikan senyuman :)

Monday, September 17, 2012

Masih Saja Kamu

Masih banyak tanda tanya menggantung di sela jemari. Masih ada bayang yang tak juga melarikan diri. Mengapa  jarum waktu mesti memutari angka yang tak ingin cepat-cepat kulalui? Kalau bisa, sebaiknya hari itu tak pernah berakhir. Atau aku perlu formalin untuk mengawetkan perasaannya.

Denting yang berbunyi makin kencang saat bulan sudah menyemburatkan warna emasnya. Membuatku seperti berada pada lorong kecil yang sarat akan hampa. Aku tak suka keramian, tapi aku benci sepi yang menyelipkan kenangan. Ah, kamu masih saja berlarian dalam pikiran.

Lalu buat apa perpisahan yang sudah kauupayakan, nyatanya aku masih sama saja.

Andaikan saja malam itu tak pernah menjadi pagi. Mungkin aku masih dalam genggaman. Berharap menjadi pelukan yang menghangatkan. Bukan, itu bukan keinginan sebab aku tahu kamu tak suka aku berharap. Hanya satu kantong kecil sebuah lamunan yang berkhayal melewati batas normal. 

Lalu buat apa memintaku melupakan malam yang kaujadikan kenangan? 

Nyatanya aku masih juga merasakan dengan hentakan yang sama kuatnya. Percuma, kalau tetap tak bisa mengakhiri apa yang tak pernah ingin kumulai. Tapi sepertinya kamu punya terlalu banyak alasan untuk tetap meninggalkan.

Lalu buat apa sebenarnya, dipertemukan dengan suatu kebetulan kalau akhirnya dipisahkan dengan kesengajaan?




170912~ Masih saja segaris senyum mengingatkan aku pada satu kisah yang tak pernah menjadi kita.

Friday, September 14, 2012

Sudah Cukup Terluka


CUKUP!

Aku mau pergi. Jangan dihalangi. Ah, kenapa sulit. Makin melilit. SAKIT WOY!

Coba biar kutengok dalam-dalam matamu. Sebagian diriku bilang kamu hanya melihat seorang anak kecil sedang mencoba bermain-main api. Separuhnya bilang, kasihan. Begitu kan?

CUKUP!

Sudah cukup, aku takut lukanya makin dalam. Sudah cukup, dasar, yang mengaku orang dewasa. Nyatanya sama saja.

CUKUP!

Anggap saja omong kosong belaka. Bualan semata. Tenang saja, aku tetap membiarkan kauterbahak melihatku terluka. Yang jelas, jangan sampai membuatmu merasakan luka yang sama.

Semudah itu sebenarnya......


Wednesday, September 12, 2012

Di Balik Tirai

Mewakili resah yang merindu. Aku merinding serupa angin yang menggugurkan dedaunan. Debu berserak mengkerak. Bagaimana lagi aku harus berhenti menangisi?

follow me @fasihrdn


Berkali-kali aku melirik jemari lentikmu. Memangku gelisah yang tak juga jengah. Di balik tirai jendela kuremat-remat, biar gemeretak gigiku berhenti menyemat sampai keram melambung tak putus-putus. Di balik kaca jendela aku berkaca. Memandangi lekat-lekat wajah yang tak terlihat jelas parasnya. Di balik semu aku bersembunyi. Bersembunyi dan ingin cepat-cepat menjatuhkan diri. Lebih baik begini daripada harus jatuh dalam cinta tak bertuan.

Aku tak bisa melihat ujung atap rumahmu. Dari balik layar aku mengendus mencari-cari aroma tubuhmu. Sebab aku hanya bisa menoleh sepersekian detik dari waktu yang tersisa. Bilik yang nyaris roboh itu kaubangun dengan kayu yang baru. Dengan batu-batu yang lebih kuat dari dahulu. Lalu untuk apa jika hanya akan dirobohkan lagi? Untuk apa kiranya, untuk apa?

Dik, begitukah panggilan yang paling mesra? Paling pas? Di  balik tirai jendela aku mendengar suara-suara dengan mata sayu. Seperti suara perjaka yang pernah mampir di mimpiku.

Kalau di sana sudah kutemui dekap yang erat, lalu untuk apa bangun lagi?



Tuesday, September 11, 2012

Mengharap Cinta Kekasih Orang


Kata mereka aku bisa gila. Atau sebenarnya memang sudah tidak waras. Apa salahnya mencintai? Bukan aku yang memintamu kemari. Bukan aku juga yang sengaja mendatangi. Ini hanya titik temu yang terburu waktu. Aku jadi lesu mengingat ujung jari telunjukmu. Yang tak menunjukku menjadi yang kau rindu.

Sebatas itu sajakah kau menilaiku? Sebegitu mudah menjamahku dengan rangah. Aku masih menunggu-nuggu sapaanmu yang ramah. Begini sajakah kau merasakan aku? Padahal aku sudah jujur mengaku.

Aku bukan pujangga yang punya banyak cadangan rima. Aku tak sedang mencipta puisi, hanya ingin kalimatku kauresapi. Aku bukan penyair yang mengindahkan bahasa. Menggulirkan bait-bait bertema asmara. Aku juga bukan dia, yang entah siapa. Perempuan yang kau cinta?

follow my heart @fasihrdn

Thursday, August 2, 2012

I Need You More and More ♡


Aku butuh genggaman disetiap hentakan kakiku, butuh dekap disetiap penantianku. Aku butuh jemari menyeka air mata kalau saja meluncur tak terduga, butuh peluk terhangat kalau ketakutan datang tiba-tiba. Tentu saja aku juga butuh kompas yang selalu mengingatkan arah mata angin. Sebab terkadang debu menyelip ke dalam bola mataku, nyaris membelokkan langkahku. Dan ternyata aku masih takut menentukan jalan sendirian.

Ini bukan soal siapa dengan apa yang membuatnya menyinggung luka, tapi bagaiman caranya melanjutkan kehidupan yang katanya kian kejam.

Sebab cinta saja tak akan cukup menghangatkan. Aku butuh yang lebih dari itu. Aku butuh obat penenang yang tak membuatku kecanduan. Yang lebih mudah, aku butuh seseorang yang menguatkan saat lemah mengisyaratkan kesedihan. Singkatnya, aku butuh seseorang yang selalu menciptakan kebahagiaansaat halangan melintang tepat di depanku. Bahkan mengajariku menjaga senyuman saat aku sedang lupa caranya.... cara mensyukuri kesederhanaan.

Jadilah kamu seseorang itu, sayang




130712~ Beri aku kekuatan yang menenangkan.