Ketika ada yang berbuat kesalahan, sudah menjadi kebiasaan bahwa yang semestinya bebenah adalah dia. Iya, dia seorang yang dianggap bersalah. Mengapa tidak mengubah pola pikir, bahwa saat ada suatu kesalahan terjadi, semua yang terlibat di dalamnya adalah yang perlu sama-sama introspeksi? Walaupun nyata-nyata di mata Anda, ada satu orang yang punya andil paling besar dalam kesalahan tersebut.
Semisal, seorang anak yang lebih suka tinggal bersama neneknya ketimbang bersama dengan orang tuanya. Ayah dan Ibunya kecewa, marah, kesal, dan sedih karena anaknya seperti bukan anaknya, tapi seperti anak nenek. Anaknya salah. Iya, kesalahan besar karena tidak menganggap kedua orang tuanya. Lalu orang tua menyalahkan sikap anaknya. Yang tidak disadari, ternyata, semakin anak itu disalahkan dan disudutkan tanpa solusi yang lebih bijak, ia justru akan semakin lebih nyaman dengan rumah neneknya.
Kalau saja mau mengubah mindset dan berpikir mengapa hal semacam itu bisa terjadi, mungkin saja akan menemui solusi lebih baik dalam memperbaiki keadaan.
Setelah dirunut kembali, ternyata sejak kecil anak itu sering dititipkan pada neneknya. Karena ayah dan ibunya sibuk bekerja. Sehingga, bagi anak itu, rumah nenek adalah keluarga yang ia punya. Terbentuk rasa nyaman dengan keadaan dan suasana rumah nenek daripada rumah orang tuanya, hal itu terjadi karena pembiasaan atau habits karena sering dititipkan pada neneknya.
Atau contoh kedua,
Ada seorang lelaki yang dianggap pemberi harapan palsu oleh hampir semua wanita yang mengenalnya. Lalu berita menyebar dan publik menyimpulkan bahwa lelaki ini adalah laki-laki yang tidak baik.
Setelah diurut kembali, ternyata lelaki itu punya watak dasar yang baik dan suka menolong. Siapapun tak terkecuali. Dan wanita-wanita yang mengenalnya dan kebetulan mendapat perlakuan baik dan istimewa, merasa lelaki itu memiliki maksud lebih padahal sebenarnya hanya ilusi hati para wanita itu sendiri.
Lalu siapa yang salah kalau sudah begini? Bagaimana penyelesaiannya?