Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label musikalisasi puisi. Show all posts
Showing posts with label musikalisasi puisi. Show all posts

Friday, April 18, 2014

Kutulis dalam Doa



Kiranya kau bertanya mengapa selalu kuselipkan kata "doa" dalam baris yang berlapis-lapis?

more quotes www.fasihrr.tumblr.com

Aku tak bisa menemui diri menepi dalam sunyi, kecuali hening menghantarku pada lantunan rindu. Ia berirama merdu, suaranya tak memecah telinga tapi mengaung ke seluruh jiwa. Bahkan jiwamu, barangkali ikut pula merasakannya. Saat aku meminta pekat malam segera memberi damba pada yang haus meronta, mengenang fajar yang lama sudah tak dijumpa. Ada cinta dalam sebingkis doa.

follow me @fasihrdn on twitter

Thursday, February 27, 2014

Hari Ke-27: Biar Dia Memilih Akhir Ceritanya; Cinta


Cinta.
Apa betul kamu adalah dia?
Dia.
Apa mungkin, cinta?

Atau hanya nafsu hati atas rasa. Mana kiranya yang lebih baik, mencintai atau dicintai. Tak ada kurasa, kecuali segala bebarengan dengan saling menggenggam. Itulah dunia. Sesaat sesap sampai lesap. Di antara waktu yang pernah memecah di hela napasku, aku pernah berkawan dengan cinta yang penuh luka. Tapi ia selalu bersahaja dengan mengungkap bahagia. Begitulah dunia. Dustanya begitu jujur berbicara. Tak bisakah kau membedakan, mana yang mesti kautinggalkan dan mana yang perlu kau pertahankan?

Sunday, September 22, 2013

Bisakah Kau Menenangkan Hatiku?


Sebab gigiku gemeretak, jantungku dag-dig-dug lebih kencang, dan entah mengapa dadaku jadi begitu sesak....

Ada yang menyelingar dalam bahasa yang salah-kaprah. Aku dengan segala titik-koma dalam paragraf singkat yang terurai begitu panjang, melalui bibir yang terhalang gelap. Aku dengan suara-suara lain yang menyelinap lewat celah telingaku yang lain, atau aku dengan sengal napas yang terdengar begitu nyaring. Kau tahu sudah berapa lama aku tidak merasakan sakit singgah lalu menetap dan lama-lama mengendap? Kau tahu sudah berapa lama aku tidak merasakan apa yang kauberikan padaku saat ini, kau tahu….

Aku bahkan hampir lupa seperti apa rasanya galau, sebelum kaumasuki kehidupanku.

Bisa kau jelaskan, mengapa kau begitu mudah membuat perasaanku kacau? Aku takut rentetan kejadian yang tak terduga justru jadi katastrofe. Pernyataan rasa yang tak selaras dengan bicara. Apa ada cara lain untuk mencintaimu selain dengan menunggu? Kau biarkan jam dinding berdentang sampai fajar menjelang, dan mataku masih juga belum bisa terpejam. Menimang-nimang bayangmu yang terekam dalam benakku. Lalu sebagian hatiku yang lain berpretensi. Agaknya, aku mulai getas, merentik selira seperti semara. Ah, apa iya?

Tuesday, July 2, 2013

Surat Izin Jatuh Cinta

Aku bagai trobadur yang jadi pecandu lagu asmara. Ah, kamu menyebar serbuk nebula dalam titik khayal tertinggi. Aku benar-benar dalam batas ekuilibrium. Rasanya ingin menghentikan jarum waktu. Berlama-lama dalam euforia, merasakan febulasi yang berangsur-angsur menjadi enigma.


Mendesak Tuhan segera memberitahu rencana terhebatnya, sebenarnya aku ini teruntuk siapa?

Indolensi mengejawantah jadi dogma yang tak bisa diganggu gugat. Angan-angan yang katanya wajib menjadi agunan di masa depan. Tentu saja, hati tak sudi sekadar tetirah dalam kuasi. Ingin abid di dalamnya. Kau dan aku yang selamanya bukan lagi sebuah wacana.

Begitu seharusnya kita saling memperjuangkan ikatan lewat akad yang tak berkesudahan. Hidup berkelanjutan dalam pendopo sampai lanjut usia; sampai habis masa jabatan. Lalu mengisahkan fragmen cerita cinta pada anak cucu kita. Sebagai patrinomium yang tak ternilai harganya.


Aku bukan hanya sekadar berimaji. Melantur kesana-kemari. Membicarakan jemari yang saling berpautan saling mengisi. Padahal nyatanya aku masih juga sendiri. Siapa bilang aku menutup hati? Aku hanya sedang mawas diri. Berjaga-jaga jangan sampai melanggar inhibisi.

Hanya tak ada yang sanggup mendengar lirihnya doaku yang berharap kau memang terlahir untukku. Pun aku tercipta untuk melengkapi rusukmu.

Thursday, June 13, 2013

Kunamai Kau dengan Rindu



Satu. Rindu. Cuma itu.

Kamu pun tak perlu tahu seberapa sering aku menyimpan rindu untukmu dan aku mulai gelisah karena itu. Bagiku ini hanya soal waktu yang belum berpihak padaku. Belum saatnya membagi resah berdua denganmu. Tak perlu risaukan aku, ini memang hanya soal rindu.

Satu. Rindu. Dan terus saja begitu.

Seperti barisan kata yang sederhana untuk kamu baca, ini memang hanya sebab aku merindukan apa yang sudah lama kutahan sendirian. Entah salah atau benar, aku tetap saja merasa rindu itu kian hebat berakrobat. Sepertinya jadi ngilu waktu aku hanya bisa berucap rindu pada hatiku tanpa kamu dengar betapa melengkingnya di telingaku.

Apa rindu tak meraung-raung di telingamu?

Satu. Rindu. Aku menunggumu.

Lama-lama jadi siksa. Tapi tetap hanya bisa kutahan mati-matian. Sebab aku enggan mengganggumu. Kecuali menunggu, aku hanya bisa melihatmu dalam bayang-bayang yang kuciptakan sendiri. Siapa bilang menunggu itu membosankan? Menunggumu akan selalu jadi hal yang menyenangkan. Terkadang aku ingin menjemputmu, ah, aku ini siapa?


Monday, May 20, 2013

Cinta, Tunggulah Sebentar Lagi


Cinta. Aku tahu kau sudah bosan melumatnya. Membaca kalimat yang itu-itu saja. Tapi mereka yang membenci cinta hanya ada dua alasan yang masuk akal: Ia tak pernah merasakan cinta, atau ia terlalu sering merasakannya. Dan aku tak perlu tahu kau termasuk yang mana.

Cinta. Kau mungkin sedang jatuh di dalamnya. Mungkin juga baru saja dipatahkan olehnya. Kita tak pernah tahu kapan rasa itu bermula, tak pernah mengira di mana bertemu, dan bagaimana bisa begitu cepat tumbuh dan merangsuk makin dalam. Kita tak pernah diberitahu, kita tak pernah diberi peringatan untuk menamainya cinta.

Cinta. Itukah kamu? Itukah kamu yang kupandangi dari jauh. Itukah kamu yang kudengar padahal kau tak berbicara apa-apa. Itukah kamu yang aku tak tahu seperti apa bentuknya. Itukah kamu yang akan jadi jawaban dari segala tanda tanya?

follow me @fasihrdn

Cinta. Aku tak pernah berani menyebut apa yang menggelitik ini dengan sebutan sakral. Kita hanya bisa merasakan tanpa perlu pernyataan. Rindu yang tentu saja teruntuk kamu, apa perlu kuyakinkan kembali?

Saturday, May 11, 2013

Penghabisan!


Kali ini bukan puisi
Bukan juga prosa, hanya aku yang sedang berbicara
Untuk kau dengar, untuk kau nikmati setiap ucapannya

Pejamkan matamu, kubilang pejamkan matamu!
kau bisa mengeja setiap hurufnya
kau artikan apa yang tersembunyi di dalamnya
tentang apa aku berkata
untuk apa aku bersuara
siapa sebenarnya kita?

Saturday, March 2, 2013

Cinta, Akulah Rumahmu


Cinta jangan bersedih
Aku masih ingin mencintaimu di pagi hari saat aku terbangun
dan malam saat aku tidur lagi.

Cinta jangan memasang wajah muram
karena matahari masih terang sampai malam membias bulan
Pulanglah kalau mulai buta arah, kau boleh kembali kemari kapan pun.

Cinta, kamulah satuan waktu yang berputar tanpa akhiran
Mencintaimu tak peduli waktu sudah jauh meninggalkan aku
Aku masih terus di sini, menunggu cinta pulang.

Wednesday, October 17, 2012

Sisa Hujan Semalam


Tak berjejak. Padahal jelas-jelas aku menapak. Tapi hanya tinggal dedaunan yang mengkerak berserak. Menggenang di atas luka. Sendirian di tepian. Bersama kenangan yang tak akan jadi pengingat waktu lalu. Mungkin saja kau sama angkuhnya seperti hujan. Membiarkannya basah sendirian. 

Seperti sisa hujan semalam. Butirannya masih menggantung, menunggu angin menyentuhkan ujungnya pada dahan ranting. Berjatuhan lalu lengang. 

Masih di sudut mata yang sama. Sembab tak mau mengungkap sebab. Membiarkan embun bergulat dengan pikirannya sendiri. Sesuka hati. Tentang aku dan hujan semalam, ada apa di antaranya? Mengguratkan kesepian. Bukan, bukan tentang sunyi yang mengelilingi. Hanya karena hening yang sedikit mengering, lalu aku tertawa nyaring. Sedikit gila, mungkin.

Lalu aku tetap membiarkan sisa hujan menetes di balik air mataku yang sedari tadi merembes. Tak cukupkah meliar semalaman? Menghabiskan jeritan bersama kilat yang menyingkap kejadian, yang tak pernah jadi kenyataan. Menyelap dalam pengap yang begitu lekat dengan pekat. Membiaskan dingin sisa angin yang bermukim. Tak cukupkah guyuran hujan semalam? 

Sunday, September 16, 2012

Menggenggam untuk Melepaskan

Sedari tadi aku hanya bisa memandangi layar dengan mata berkunang. Sama seperti aku yang baru saja menatap matamu lekat-lekat malam ini. Sakitnya terlalu tenang untuk meluncurkan air mata. Kamu terlalu hebat menyakitku, sebab aku masih bisa tersenyum tenang dengan kesakitan itu. Kamu terlalu kuat untuk membuatku melupa. Saat ini aku menulis sambil memejamkan mata, aku seperti kehilangan kata. 

Padahal air mata sudah menggantung, tapi Tuhan seperti menahannya. Mungkin tak mengizinkan kamu melihat kesedihan di balik diamku yang membisu.

Kamu datang untuk mengantar kepergian. Padahal aku ingin menangis di pelukmu, mungkin saja air mata bisa menahanmu lebih lama. Tapi kalimat beraroma luka itu terlalu hening untuk menjadikannya air mata. Baru kali ini kesakitanku tak menghasilkan tetesan yang meruncing. Apa karena sudah kadung habis tempo hari?

Kamu pasti ingin segera membacanya, apa yang menjadikanku diam meredam semua kata. Sebenarnya aku ingin bersuara, tapi bahasa seperti sudah lelah menguraikannya. Semalam ini aku hanya ingin merasakan tenang yang kau hadirkan lewat sebuah tatapan. Padahal matamu terlalu sayu untuk menatapku tajam. Tapi aku masih tidak sanggup membalasnya, lebih baik melihat bintang yang bertebaran. Tak 'kan ada jawaban dari sebuah pertanyaan, aku hanya ingin Tuhan saja yang mengatakan. Entah, kapan....

Kamu mencipta kenangan untuk suatu perpisahan. Seharusnya aku menangis kan? Lelaki mana yang bisa melihat wanita menangis apalagi karena dirinya? Seharusnya aku menagis di depanmu! Tapi aku sudah berjanji, Mas. Tak akan menangis di hadapanmu. Seperti yang kau mau, hanya akan ada senyuman yang tanpa tepian. Tentu saja dari ketulusan, itu senyuman paling dalam, teramat dalam. Sebab sebenarnya di sela-selanya ada yang terluka. Tapi suaramu membenamkannya menjadi senyum yang tak 'kan ada tepiannya.

follow me @fasihrdn

Aku menunggu-nunggu kalimat terakhirmu. Tapi ternyata kamu tak juga mengatakannya, pertalian itu, sebut saja dengan rencana pernikahan yang kamu sembunyikan itu. Padahal aku ingin mendengarnya sendiri dari mulutmu....

Entah,  padahal malam ini seharusnya jadi yang paling menyakitkan. Ditinggal orang tuaku, berurut lalu kamu. Tapi mengapa lukanya seperti samar-samar menghilang saat kamu yang melakukannya? Saat kamu berada di dekatku, meski bukan untuk mendekapku. Aku hanya ingin mendegarmu, bukan lagi dengan kedua telingaku. Tapi dengan satu hatiku. Kamu melukaiku dengan cinta yang tak 'kan bisa menjadi bahagia. Tapi mengapa aku seperti mendengar bisikan Tuhan, yang bilang bahwa nanti ada waktunya untuk berbahagia. Ada yang menari-nari dalam pikiranku. 

Sepanjang jalan aku merapal baid-baid doa. Dua kali aku melihat bintang jatuh. Apa betul seperti itu yang namanya bintang jatuh? Membuat hatiku gaduh mengadu. Tapi bukan untuk mengeluh, hanya ingin merasakan kebahagiaanmu. Meski bukan denganku.

Padahal kamu bermaksud mengakhiri apa yang tak sengaja bermula. Tapi aku seperti baru saja memulainya. Seharusnya aku membencimu, ternyata aku memang bukan pembenci yang sempurna. Cukup membencimu dengan cinta saja ... cinta yang tak sempurna, tak akan pernah jadi sempurna.

Aku paham, Mas. Tahu betul arti kalimat-kalimatmu yang seperti susah payah diuraikan. Tapi aku tetap akan melanjutkannya meski sendirian. Sebab berkali-kali aku mencoba menghentikannya, justru membuatku makin lebar membuka hatiku. Tersenyumlah, seperti aku yang sudah baik-baik saja di genggamanmu yang sementara. Aku tak akan mengharapkan apapun, hanya tak bisa menghilangkan satuan-satuannya. Entah sampai kapan, aku tetap mencintaimu sendirian. 

Sampai Tuhan mengabarkan kepastian.



160912~Bukit Bintang terlalu indah untuk suatu perpisahan yang begitu menyakitkan.

Thursday, September 13, 2012

Lelah Menunggu


Mencintaimu itu melelahkan.

Aku sudah di ujung pintu. Baru saja akan kututup lalu kukunci rapat-rapat, tapi kau malah sengaja membukanya lebar-lebar. Memaksaku menoleh untuk kesekian kali, tidak jadi beranjak dari sini. Tapi kamu tak mau masuk. Hanya berdiri di luar saja, memegangi gagang pintu. Lalu? Begitu terus sampai kantuk membuat mataku nyaris terkatup.

Kamu tetap berdiri di antara pintu yang setengah menutup. Sesekali kamu mengetuk ulang, tapi hanya untuk mengetahui ada apa di dalamnya. Bukan untuk mencicipi sajian di rumahku. 

Aku mau tidur.

Tapi kamu menggoda kerongkonganku, membuatnya jadi dahaga. Haus tiba-tiba meronta. Aku terantuk-antuk. Tapi desah napas melambung, membuat bola mataku membumbung. Tiba-tiba jadi bangun.

Kamu serupa depkoleptor yang menagih. Memaksa meski tahu aku sudah letih. Tak peduli dengan tertatih, kau tetap menyuruhku menunggu di dalam sambil mendekih. Meringkik, sesekali menggigil sendiri. Kenapa tidak mau masuk?

Bukannya di luar juga dingin? Atau karena ada sekelumit yang membuat langkahmu jadi rumit. Aku menunggu kemelut yang masih juga kusut untuk segera diusut. Tapi kamu tak juga segera. 

Dengan debu yang menebar benih. Jadi menyakitkan sebab banyak ulat melumat-lumat. Menyakitkan! Kau tahu rasanya? Kau harus tahu rasanya, kau juga mesti merasakannya. Sakitnya melambai-lambai, mengerang tak mau hilang.

Atau sepertinya kamu puas melihat air mataku jatuh merembes. Bertetesan tumpah ruah. Puas kau membuat kakiku terpagut, menangis sendiri. Aku saja.

Berhenti. Tolong, berhenti! Suaranya berdentam-dentam di telinga. Membuat sebagian lukaku menganga. Berhenti! Sekali lagi, tolong, berhenti membuatku seperti ini. Menunggu di dalam sendiri, kamu seperti sengaja membuatku mengeja kata. Tolong, aku sudah tidak tahan lagi. Mencintai dari balik layar. Menunggu kau yang masih saja hobi berlayar. Aku sabar. Tapi....

Buat apa jika tidak benar-benar ingin ditunggu? Sampai gagu juga tak 'kan menjadi sebuah lagu. Menunggu. Menunggu tamu yang tak kunjung masuk tapi tak membiarkan aku pergi. Tetap berdiam diri, menepi di tepi jemari. Aku mengutuk kepalaku yang tetap mengangguk-angguk. Ah, kamu seperti menyihirku.

Kenapa kamu terus menghitung detikan yang tak 'kan punya tepian? Aku tidak menyuruhmu mengintai jarum jam. Apalagi memintamu memantau jam tidurku. Aku hanya menunggu sampai kaumasuk. Merayumu dengan bahasa yang membisu. Sendirian di dalam. Meski harus terluka dalam diam. Hanya saja, menunggumu begitu melelahkan. Kau, Mengapa masih saja hanya berdiri di sana?

Wednesday, September 12, 2012

Cinta Sebelum Hari Ini

Bukankah sebelum hari ini kau bukan yang ramah menyapa? Bukankah sebelum hari ini kau bukan yang pandai memuji? Bukankah sebelum hari ini........

Apa yang menarikmu datang kemari. Meraba abjad dalam kalimat. Mengubrak-abrik yang sudah kususun rapi. Bukankah sebelum hari ini aku berjanji, langkahku sudah berhenti mengikuti. Bukankah kau juga tahu itu, Sayang?

Lalu apa yang membuatmu mengumpulkan serpihan yang terluka? Seperti begitu bahagia membaca kesakitan seorang wanita.

Pekat bias dingin melengking membuat bibirku tak henti menggigil. Sengai menyenggak gemetar di dada. Aku tak sanggup berebut embun di pagi hari. Sisa-sisa suara tadi malam meraung-raung, menjalang lalu lalang di pikiran. Di lorong serupa kemarin kaumemungut belulang yang sengaja kubuang dalam petang. Bukankah sebelum hari ini kita bagian yang terasing? Bertarung di balik punggung.

Hay, strangers! Follow me @fasihrdn

Kau seperti mendesakku dalam ancaman mematikan. Menyandra cerita untuk kaunikmati majasnya. Membuka bingkisan dalam kiasan. Kaumemutari iringan yang kusembunyikan pada sebuah malam. Mengurai yang teruntai gemulai. Mengais-ngais rasa yang sudah menipis, kutepis dengan bengis. Padahal sebelum hari ini, bukankah seperti sengaja mengikis? Mengapa jadi seperti magis. Membuatku terkesiap tak siap bagaimana mesti bersikap. Tiba-tiba jadi lincah menyuarakan sederet rindu yang tumpah ruah.

Bukankah sebelum hari ini kita saling membuang tatap? Lalu sekarang aku dibuat gagap gelagapan, bisu mengantar sembilu. Bukankah sebelum hari ini aku menderu akan segera berlalu?

Beruntun Tuhan mendatangkan kejadian serupa keajaiban. Bukankah sebelum hari ini angin menjerit. Menukik sampai terik tak lagi berkutik. Dalam petang kaumenyusupkan kegaduhan. Dalam ruang yang terulang, tubuhku terguncang. Sejenak mengenang bimbang yang pernah kauselipkan diam-diam. Desah napas tersumbat, isyaratku disentuh saat tak lagi utuh. Bukankah sebelum hari ini engkau menebar jala api, untuk membakar yang mulai mengakar. Terpaut jarak terlampau jauh, lebih mudah untuk saling menuduh. Saling angkuh dalam gaduh. Berdebat dalam diam yang membunuh.

Bukankah jauh lebih nikmat mengikat lara? Kau dan aku mengudara, menancapkan gema yang menceritakan luka dalam butiran hujan. Bukankah sebelum hari ini kau meletakkan aku pada hujatan?

Menggertak ngeri, aku terperanjat dalam simpul belati. Merintih lirih berharap tak menggemakan ironi pada misteri yang makin mendaki, mencari tempat untuk bersembunyi. Gedebak-gedebuk jantungku sibuk berkecamuk. Berdegup mulai mengamuk. Rancau-kacau-balau. Bukankah sebelum senyummu melengkung, aku sudah tak lagi terkungkung?

Bukankah sebelum hari ini, aku sekedar menggambar tanpa sesumbar? Bukankah aku tak pernah bilang ingin membilang? Lalu kau tiba-tiba datang saat separuhnya sudah menghilang. Sudah kutebang agar tenang sendirian. Bukankah sebelum hari ini aku tak mau melanjutkan cinta terlarang? Cinta sebelum hari ini adalah luka esok hari. Atau luka sebelum hari ini ternyata cinta esok hari.

Siapa yang tahu terjadi apa esok pagi, lalu ada apa setelah hari ini?

120912~Kesakitan Seorang Wanita

Saturday, September 1, 2012

Apa Aku Begitu Menjijikkan di Matamu?


Aku ingin Tuhan mempertemukan kita di jalan setapak.

Untukku, menepikan bayangmu sebatas dusta agar hargaku tetap bersahaja. Melupakanmu sama saja memaksaku untuk menghilangkan kenangan. Meninggalkan harapan untuk saling menggandeng tangan.

Aku ingin Tuhan segera menyadarkan, bahwa sebenarnya kita memang sengaja dipertemukan di persimpangan.

Apa aku begitu menjijikkan? Membuatmu meninggikan senyuman, berpaling muka mengacuhkan. Mengenalmu mengapa jadi begitu menyakitkan? Sembunyikan saja aku dari peradaban! Maka aku lebih memilih untuk tetap diam di tepian. Tak perlu menahan luka yang kautorehkan tepat di sudut terdalam.
Bagaimana bisa Tuhan meluruhkan cinta, sedang kau tak sedikit pun memberi perhatian. Bagaimana mungkin untuk bangkit saat Tuhan sudah menjatuhkan aku ke dalam pelukan, sedang kau tetap tak sedetik pun memberi uluran tangan.

Apa harus aku merogoh sampai tergopoh? Melakukan tindakan senonoh hanya agar hatimu roboh. Jarum waktu nyaris tumpul, kapan kau mau datang merangkul? Merengkuhku dengan angkuh, sesumbar ingin segera melamar.

Aku tak terbiasa menunggu dengan ragu. Aku tak kuasa berteriak memanggil namamu. Aku tak bisa hanya terus berkhayal tentangmu. Aku takut kehilangan seraut senyummu. Aku takut ditinggal seseorang yang bahkan belum sempat mendekat. Aku makin takut kehilangan apa yang bukan mejadi milikku.

Takut kehilangan yang tak pernah ada dalam genggaman, cintakah dia?

Klick This! for Pembacaan Puisi Apa Aku Begitu Menjijikkan