Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Saturday, May 17, 2014

Teruntuk Kamu, Lelaki Terhebat


Kalau selarik doa adalah wujud cinta, barangkali kata tak lagi ada gunanya. Sebab ia hanya seperti bunga yang dirangkai untuk menunggu kapan waktunya layu. Dan aku hanya dalam anganmu, dalam kalimatmu, dalam aksara-aksara yang sulit sekali kueja; aku hanya pengobat pilu. Bukan yang namanya kausebut dalam doa.

Sadari aku tak pernah benar-benar berada di hatimu. Malam ini aku membisu dan segala sesuatu yang mengarah padaku bukanlah perkara baru. Mata yang tak pernah punya waktu untuk berdusta, tak ada cinta dalam tatapnya. Mengapa tak kaukatakan saja sejak dulu, bahwa aku dan kamu hanyalah dua bahu yang saling berungkuran. Dekat tapi tak saling melihat. Dekap tapi tak pernah mengerat.

Pernah sesekali kautanyakan padaku, alasan aku tetap mendoamu padahal aku tahu betul rayumu hanyalah palsu. Bukan aku yang memaksa betah berlama-lama hanya untuk satu harap agar kau tetap dalam bahagia. Bukan pula aku yang meminta untuk tak bergeser, meski nyatanya gerak dalam air mata terus saja melaju cepat. Meneteskan perihnya berbicara tanpa telingamu, menjatuhkan sakitnya mendengar tanpa ucapmu.

more quote www.fasihrr.tumblr.com


Aku berhenti pada satu titik. Saat tanganku tak lagi mampu bertengadah, saat tahajjud tak lagi jadi penenang kala fajar pecah. Ingatkan aku, bahwa tak ada lagi kita di antara kau dan aku. Ingatkan aku, sebab aku masih sulit membeda antara sekarang dengan dulu.

Kalau sulit bagimu bersabar dan melebihkan porsi memahami hati yang pernah kaulukai, mengapa dekati lagi? Lalu ketakutan atas kegagalan sebelum ini jadi alasan untuk undur diri begitu saja. Pergilah semaumu. Apa pernah aku menahanmu? Bahkan kubiarkan kamu mencari sejatimu, di manapun kau mau, bahkan pada masa lalu. Ingat?

Maafkan aku yang masih bisa mengingat dengan begitu detail setiap kalimat yang kaudustakan waktu itu, maafkan aku yang bisa tiba-tiba saja mengungkit apa yang semestinya tak lagi jadi bahan pembicaraan. Seharusnya bukan lagi memutari waktu lalu, tapi menjadikan pertemuan setelah ini sebagai jamuan baru. Seperti kita yang tak pernah mengenal lebih dulu. Begitu?

Tapi aku tak mampu bila menyusun yang telah runtuh itu dengan jemariku sendiri. Aku tak mampu membangun kembali yang telah roboh dengan kekuatanku sendiri. Aku tak sanggup jika tak dibarengi usahamu. Paham?

tweet me @fasihrdn
Berkali-kali aku marah sendiri, antara hati dengan harga diri yang sudah tak kukenali lagi. Sebabmu, aku meluruhkan seluruh ego. Tapi sungguh, sebenarnya akulah yang sudah mati. Sudah mati....


Coba ceritakan padaku sebelum berakhir seperti waktu itu. Alasan aku menginjakkan kaki di ruanganmu. Sebab apa kau berbaik hati padaku, memberi satu harap yang mungkin saja kau tak bermaksud untuk itu. Hanya aku yang mengartikannya kurang teliti. Coba jelaskan padaku, di bagian yang hilang itu ... ada kisah apa yang mengantarmu kembali ke kotaku. Jogja. Padahal aku sudah ingin berjarak dari kota ini; kota yang terlalu banyak mencitrakan kedamaian, kota yang terlalu sering jadi tempat persinggahan, kota yang selalu memberi jejak kenangan. Tak bisakah kau menegaskan apa yang kaulakukan? Sekiranya menyimpan yang tak bisa disuratkan. Bicaralah, sebelum aku membawa kembali diri memasukimu terlalu jauh; aku takut kembali jatuh. (13April2014)


Tapi sekarang aku sudah kadung jatuh, tak bisa bangun. Tak sanggup berdiri. Sudah jatuh. Sudah itu lalu kamu pergi (lagi), seenaknya sendiri.



170514 - Teruntukmu, Mas. Terserah suka atau tidak, aku telanjur menuliskan namamu. Di sini, di seluruh sisi hati. Kau boleh muak karena sebelummu, aku sudah lebih dulu. Ini bukan untuk memakimu, bukan. Bukan agar semua orang tahu, kaulah pelaku yang menghancurkan hatiku. Tapi agar kamu tahu, betapa hebatnya kamu. Sungguh, kamu boleh membenciku. Pergilah ke tempat yang benar-benar kautuju.


Menjauhlah dariku, seperti maumu. Tapi tolong, mendekaplah lebih dekat pada-Nya, yang akan selalu ada untukmu.
Bepergianlah sesukamu, dengan siapapun inginmu. Tapi kumohon, pulanglah … pulanglah jika suara azan sudah terdengar memanggilimu.
Kamu boleh tidak mengingat aku, tapi kuharap tak sedetikpun kamu melupakan-Nya, yang memberimu kekuatan begitu dalam. Kekuatan yang sama besarnya diberikan untuk merasakan kamu.
Kuizinkan kamu menyakitiku, sesuka hatimu. Tapi kumohon untuk kesekian kali, jangan berhenti mencintai dhuhamu, jangan lupa bayar hutangmu, puasamu, sedekahmu … jangan bosan dengan tadarusmu, jangan pernah berhenti melakukan apapun untuk tujuan akhirmu: Surga.

10 komentar:

Ujee Martowardoyo said...

Dx Fasih :')
Tiap membaca tulisan-tulisan Dx Fasih,, selalu seperti melihat kisahku dibalik cermin. Hseperti refleksi tanpa suara, kemudian ada orang lain yang lihai menyusunnya dalam baris bait yang indah :')
You're really good Dx fasih :)

Radiana, Fasih said...

duh, kok kebaca mbak :') malu....

Ujee Martowardoyo said...

:')
gpp dx Fasih, kan seperti yg udah pernah mbk bilang, menulis bisa memberikan kekuatan buat orang lain. dan baca tulisan ini pun mbk jg bisa tambah kuat ^_^

Ahmat Hilal said...

aku hilang ditelan barisan kata ini

Radiana, Fasih said...

uhhhhh....

Raden Priantoro said...

:)

Nur Latifah said...

Luar biasa.. Seolah kisahku ditulis ulang disini.

hnur ihs said...

Keren bangeeet kaakkk,,,,,nangis baca smuanya,keren banget,,,bener bener mewakili semua perasaan wanita yg sbenarnya,kereeen

Fasih Radiana said...

:)

Adi Apriadi said...

Seperti kena tampar bolak-balik

Post a Comment