Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Monday, April 29, 2013

Kepada Hati; Bersabarlah Menanti


Apa tak ingin kau tanyakan, mengapa jatuh cintaku kali ini tak menghias sembilu? Tak tampak seantusias biasanya? Sebab aku enggan membangatkan apa yang belum jadi keputusan Tuhan.

Apa tak bisa kau dengar? Dung, degung, dekung, debung suara jantungku. Apa tak berdesing di telingamu? Cungap-cangip mulutku mengap-mengap. Lagi-lagi untuk menahan yang bercadung makin dalam. Semakin dalam....

Tapi bukankah sebaiknya kita tetap dalam keadaan diam? Sampai belambang mengikat kuat. Tak perlu mengungkat perkara; soal kau dan aku yang sama-sama sedang jatuh pada satu peraduan. Sebab barangkali, Tuhan sedang menguji kesabaran kan?


follow me @fasihrdn
Aku tahu kau tak akan mengasungku; menghasut mengikuti galur lekukmu yang mungkin saja kuikuti kemana pun arahmu melaju. Tapi kau tak kan mengunggut sesuatu yang belum boleh kau pungut bukan? Aku tahu betul kau bukan semacam cecunguk yang liar bermain tanpa aturan Tuhan. Dalam cinta, ada juga tahapan alur dan tatanannya. Semestinya kau dan aku tahu itu.




Kau pasti sudah bisa menyimpulkan kita. Yang seperti berungkuran; saling membelakangi. Bukan karena enggan mengikat janji lebih dini. Hanya tak ingin mendahului secarik kertas yang masih belum kita temui; sebut saja dia takdir.

Kalau kata mereka—sepasang kekasih yang sedang dicumbu asmara—pengorbanan adalah tanda cinta, mungkin penantian panjang termasuk di dalamnya. Pun begitu caraku menyimpan cinta dalam temperatur sewajarnya. Begitu pula bagimu dan aku yang ingin menjadi kita. Menunggu sampai waktu, aku, dan kamu berada dalam satu garis lurus. Kita ini hanya manusia yang bisa berupaya bukan?

Pun semestinya kau juga percaya, semakin panjang jarak yang menghalangi suatu pertemuan maka semakin dalam potensi cinta yang dimiliki. Sebab semakin lebar satuan jarak memisahkan, kita yang saling ingin mempertahankan akan menguatkan lagi cintanya. Dengan rindu yang dititipkan lewat Tuhan, misalnya. Begitu kita menyimpan cinta yang sepatutnya. Itu pula sebab tak terjadi guratan luka seperti yang lumrah dirasa anak muda.

Kita ini seperti alung yang dilempar ke laut lepas. Mencari tempat pemberhentian paling pas. Boleh jadi, kan kita temui masing-masing di sana. Di tempat pertama kita saling bertatap muka; saat waktu belum memperkenalkan kau dan aku. Saat kita masih jadi sesuatu yang asing.


220413~Kepada hati yang kita belum tahu kan bermuara di mana, kita hanya sama-sama bisa berusaha bukan?

3 komentar:

Arief W.S said...

wow, bagus :)

Dalam kesendirian dia menanti. Akibat kesalahan yang tidak dimengerti. Dalam gemerlapnya jutaan bintang menari. Dalam ramainya ombak beraksi. Hatinya selalu diselimuti sepi.

Hingga jawaban yang sudah lama dinanti. Turunlah Hawa sebagai pencerah hati.Memberikan pemahaman atas kesalahan yang selama ini dia tak mengerti. Menorehkan cinta yang selama ini belum terjadi.

Radiana, Fasih said...

:)))

Yono Maulana said...

sepertinya tak bisa lepas dari update neh blog :)

Post a Comment