Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Thursday, April 25, 2013

Rindu Hujan Masa Kecil



Siapa yang tidak merindukan dirinya di waktu lalu? Membuka lembaran-lembaran yang usang penuh dengan tawa lepas dari seorang anak kecil. Melihat dirinya bermain-main dengan hujan, menari di bawah guyuran hujan. Aku selalu suka dengan hujan. Ayah selalu mengajakku menunggu pelangi datang setelah hujan.

         “Aaaaaa aaaaa! Aaaaaa!” Aku berteriak-teriak saat Ayah menyiprati air hujan ke muka polosku.

Lalu Ibu menyiapkan teh hangat dan pisang goreng yang selalu kumakan dengan olesan madu. Kata Ibu, begitu caranya makan pisang goreng yang enak. Tadinya kupikir rasanya akan aneh, tapi setelah Ibu menyuapiku, aku jadi ketagihan dan terus meminta digorengkan pisang setiap hujan turun. Jingga memang tak ada habisnya untuk diceritakan. Selalu menyelipkan tawa renyah seorang bocah.

follow me @fasihrdn
Aku membuka lembar berikutnya, ada wajah lugu yang memamerkan deretan giginya yang rapi dengan dua pita di rambutnya. Memakai rok bewarna merah kesukaannya. Rok yang hanya ia gunakan di saat-saat tertentu saja. Katanya, kalau memakai baju harus urut dari yang paling jelek sampai yang paling bagus. Sampai akhirnya rok dengan pita-pita di bagian depan itu selalu tertindih baju-baju yang lain. Jadi lupa untuk dipakai. Aku tersenyum konyol, mengingat pikiran anak kecil memang sederhana.




Aku rindu hujan masa kecil, saat semua yang kutertawakan hanya badut-badut yang memainkan bola-bola di tangannya. Saat yang kutangisi hanya karena tidak dibelikan permen atau boneka. Saat semua yang lalu-lalang di benak hanya sesuatu yang sederhana. Bukan hal-hal yang perlu menyeka air mata lebih dalam, atau luka yang ditorehkan dengan sengaja. Aku selalu suka hujan masa kecil, saat aku berlarian di bawahnya lalu beringsut kaget saat petir menyambar-nyambar. Bukan hujan yang merintik pelan dengan hujatan masa kini. Atau hujan dengan tiupan angin yang begitu kencang, membawa luka yang mengendap di sekujur tubuh; meliarkan air mata yang tak ada habisnya. Sebab kehidupan ternyata jauh lebih kejam ketika aku tahu banyak hal.

Itu alasan mengapa aku tidak mau menjadi besar. Aku hanya ingin melakoni kehidupan anak kecil yang begitu jujur. Bermain karena ingin, tersenyum karena ingin, tertawa karena  ingin ... saat semua terasa begitu mudah untuk dilangkahi. Saat yang ia tahu di dunia ini hanya ada orang-orang yang selalu menyayangi, bukan membenci.

Sebab terkadang yang paling membahagiakan memang ketika seseorang tidak tahu apa-apa.



250413 - Jogja, kota yang penuh kehangatan sebelum preman-preman menyerang. #loh #nggak #nyambung :p

7 komentar:

TCC Sampit said...

hahahaaa...fotonya lucu-lucu, memang asyik kalau mengingat masa kecil. Salam.

KY said...

cantiknya puteri kecil itu, sekarangg sudah besar ya heeee..

KY juga kalau boleh mahu terus kecil aja, enak heee

mrfzx said...

nice quote. dgn ketidaktahuan kita tak akan berhenti mencari dan belajar ^^

Bustan SAM said...

tentunya smua orang pasti mrindukan akan masa lalunya kak,,
tapi mau gmna kita,,
kta tak bisa mngulanginya lagi,,
skedar mengingat saja kita kak,,
salam kak :)

ayu said...

waa nangis sumpah mbak ._.

abimanyu said...

cicik.. tulisanmu yang ini masuukk. bagus cik!

Anonymous said...

sederhana tapi menyentuh.....

Post a Comment