Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Wednesday, October 24, 2012

Cinta yang Kau Bagi


Terlarangkah?

Hey, siapa yang suka luka? Aku sudah melumatnya ratusan kali. Tapi sepertinya semua orang menginginkan kebahagiaan. Tapi tak 'kan tercipta pelangi tanpa rintik hujan kan? Karena tak 'kan ada yang terlambat sampai akhirnya jauh tertambat.

Lalu kau menghapuskan luka dan mengingatkan aku tentang bahagia yang tertunda. Semua jadi berbeda ketika kamu berada di sekitaran yang sama. Denganmu, aku selalu jadi baik-baik saja.

Setiap kamu merasa degupmu makin kencang, maka di situ aku semakin kuat dengan cinta yang tak 'kan pernah usai. Terus berada dalam jemarimu tanpa detik dalam jeda waktu. Tapi kuasa mana lagi yang bisa ditandingi kalau takdir Tuhan sudah mampir kemari? Menunjukkan diri....

Begitu katamu mengingatkan aku lagi. Begitu juga kataku yang masih berbisik dalam lirih. "Masih sama, masih selalu kamu. Masih mengintai namamu."
Lalu Tuhan yang akhirnya akan mempertemukan jawaban di peraduan malam. Aku denganmu atau kau dengan segala kebisuanmu. Rahasia yang tak pernah aku tahu.

Kau adalah sempurna di atas ketidaksempurnaanku. Sebab mimpiku hanya satu, setiap malam hanya kamu. Mengapa selalu kamu?

Inginku juga hanya kamu, kamu dengan melihat semua yang bahagia ada dalam dirimu. Siapa juga yang memintamu berbahagia denganku? Lalu begini saja caraku mencintai. Cukup dengan tersenyum bersiap kalau-kalau saat itu tiba, kau pergi. Bukan untukku lagi, bahkan meski dengan berbagi sekeping hati.

Kecuali cinta yang masih sama, masih mengendap diam-diam. Seluruhnya sudah kumainkan dalam dawai biola tanpa suara. Seperti mendengar petikan gitar tanpa senar. Serumit itukah? Berhenti! Rasanya mual memuntahkan gumpalan, aku mau pulang! Menghentikan putaran waktu yang mengelilingi setiap mimpi. Karena ternyata lelah juga hidup dalam mimpi, lelah juga berambisi tanpa misi.

Sebab sepertimu yang mampir tanpa permisi, lalu pergi tanpa bukti dari segala janji.

Lalu sebenarnya kau hanya tak bisa membagi, mana yang peduli mana yang mesti kau sakiti. Tapi pasti suatu saat nanti, saat kau menyadari di balik ceritamu yang bersembunyi tak 'kan pernah terjadi lagi cerita yang lain. Saat itu juga kau menarikku dengan jemari yang masih seperti ini, samar-samar memiliki.


Terkadang aku ingin berlari menghamburkan diri ke dalam pelukmu, lalu menetap di situ. Tak mau berlalu. Tak akan membiarkanmu pergi dariku. Bukankah kau sendiri yang membiarkan celah makin membuka jalannya? Tidakkah kau menyadarinya, bukankah kau yang selalu merapuh dalam tubuh? Membuatku mengikuti jejak tapak yang makin tampak di depanku. Menjadi api yang menyalakan kobar dalam debar yang sengaja kau umbar. Juga kau dengan sabar menyambut lembut keluhanku. Tak mengertikah yang seperti itu membuatku terbiasa bermanja? Lalu kau meneruskannya, dengung dari gitar yang mekar. Begitu kau menghabisiku; sesuka hatimu menuang risau tanpa hirau. Padahal, di sini aku kadung candu. Tak pernah kan mau tahu? Sengau yang berbau pada rindu, memburu ragu dalam belenggu. Aku, mungkin saja bagimu angin lalu.

Bagiku, kesempatan hanya datang satu kali. Sebab waktu tak akan berputar dua kali. Tapi untukmu, kesempatan pasti akan datang berkali-kali, tak akan berhenti. Akan terus terbuka lagi dan lagi. Datanglah kemari kalau sewaktu-waku luka meresapi. Mampirlah ke sini saat perangai bertikai, biar aku yang membidai sayat gigil dalam gemeretak gigimu. Pulanglah kembali kalau tiba-tiba kalut di dadamu makin pilu. Ketuk saja tiga kali, seketika itu seukir senyum menyambut tumpah ruah. Ketuk pintu kau kembali; aku masih menghitung sunyi meski dengan cinta yang terbagi.



241012~Saat kau menuju jalan pulang, aku masih menunggumu dengan tenang.


2 komentar:

Yono Maulana said...

please Follow Back yaa www.yonomaulana.blogspot.com

Ties Sutisna said...

smart girl....!

Post a Comment