Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Friday, April 18, 2014

Kutulis dalam Doa



Kiranya kau bertanya mengapa selalu kuselipkan kata "doa" dalam baris yang berlapis-lapis?

more quotes www.fasihrr.tumblr.com

Aku tak bisa menemui diri menepi dalam sunyi, kecuali hening menghantarku pada lantunan rindu. Ia berirama merdu, suaranya tak memecah telinga tapi mengaung ke seluruh jiwa. Bahkan jiwamu, barangkali ikut pula merasakannya. Saat aku meminta pekat malam segera memberi damba pada yang haus meronta, mengenang fajar yang lama sudah tak dijumpa. Ada cinta dalam sebingkis doa.

follow me @fasihrdn on twitter

Kalau sampai detik ini ternyata bagiku ketidaksempurnaanmu masih jadi sebab sempurnaku, bukan lantas aku bisa memelukmu semauku, bukan berarti kau langsung sah begitu saja menjadi penghuni di hatiku. Tapi hanya dalam doa aku menuliskan segala harap tentang hati yang kadung luka. Hati yang sudah jatuh dari segala arah. Hati yang setia pada bahagia miliknya, lewat air mata yang ditumpahkan pada garis katulistiwa. Menembus cakrawala, membelah laut yang memerah karena bias purnama. Ada bahagia membaur pada tetes air mata, dalam selarik doa.


Dan bagian yang tak bisa kuurai selalu melibatkan Tuhan di dalamnya. Jangan tutup matamu hanya sebab masa lalu yang tak juga kembali ke pelukmu. Membuatmu membenci cinta, apa kau kira hidup hanya sebatas itu saja? Perumpamaan yang pas akulah yang lebih tahu rasanya lara memantik separuh jiwa. Apa tak belajar dari lukaku, mengapa tak mencoba memaafkan dirimu? Mengapa mesti membuka duka baru ... peluk saja wanitamu dalam doa. Pelajari kesakitannya agar bisa kau perbaiki retak di dadanya. Kalau memang perlu, aku ikut mendoa untuk kau berdua.

Karena doa tak pernah melihat kepada siapa....
kepada yang mencintainya atau yang melukainya.

4 komentar:

Bambang Subagio said...

Bagus banget... !
Anda jebolan STM II Yogja , ?
Klo memang benar, kita satu alumni.

Radiana, Fasih said...

STM 1 saya :)

Tri handayani said...

wuih, keren, kelas berapa sih kakak?

Rurimusik said...

Subhanallah :-)

Post a Comment