Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Tuesday, January 28, 2014

Aku Baik-Baik Saja #Akurapopo Part 2


Bohong.
Letak baik-baik saja di hati itu ternyata hanya di batas permukaan; mengambang lalu jatuh tenggelam.
Bohong.
Waktu baik-baik saja di hati itu ternyata sebentar saja; sepersekian detik lalu hilang.
Bohong.
Kekuatan baik-baik saja di hati itu ternyata semu semata; tampak nyata lalu lesap-lenyap.

Segala yang (kupikir) baik-baik saja itu ternyata tak pernah benar-benar baik-baik saja.

Barangkali, aku linglung.
Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatap langit-langit kamar; bengong.
Boleh jadi, aku gila.
Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendengar riuh sesak kipas angin; blong.
Mungkin, aku sakau.
Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berbicara pada gantungan baju; melompong.

Segala yang (kupikir) baik-baik saja itu ternyata tak pernah benar-benar baik-baik saja.


Aku gemetar ketakutan, melawan kesendirian yang tak ada habisnya kunikmati bersamaan sengal napas yang membuatku makin kehilangan denyut nadi. Aku meringis kesakitan, menahan luka yang tak berhenti menggerogoti ingatan-ingatan, mencipta kenangan yang hangus bersama air mata. Aku menggigil kedinginan, merasakan angin lalu menelusup ke sela-sela tulang rusuk, merasuk sampai ke jantung merobek-robek dinding rahimku, membuat kulitku lepas dari tulangnya.

Segala yang (kupikir) baik-baik saja itu ternyata tak pernah benar-benar baik-baik saja.

Aku diam.
Tapi suara-suara yang menggema terlalu berisik untuk tak kudengar dalam gemuruh hujan sekalipun.
Aku bergerak.
Tapi tali yang mengikat tubuhku terlalu kuat untuk meneruskan langkah walau sejengkal sekalipun.
Aku menangis.
Tapi isak yang menyesak di dada terlalu keras untuk kuhentikan meski satu tetes sekalipun.
Aku tersenyum.
Tapi bibir yang kupaksakan bergeser ke arah kanan-kiri itu terlalu kaku untuk mencipta garis lengkung yang tipis sekalipun.

Mungkin, baik-baik saja hanya sebatas kata yang kususun dalam abjad dan dibaca oleh mata. Berbicara lalu didengar setiap telinga. Tapi....

Aku menyerah.
Habisi aku sekalian.



280114~Kadung kauambil segalaku. Hidupku.

3 komentar:

Mukhlas Hidayat said...

"Aku baik-baik saja", bisa jadi hanya sebuah larikan abjad yang sesekali terbaca tak teratur dan kadang tertata tak menyerupa kata itu sendiri. Mungkin "aku baik-baik saja" hanya sebatas akal-akalan kepala yang sejatinya merupakan tuduhan belaka.

Entahlah, tapi "waktu" tak pernah merana. Sebaliknya, "cinta" kadang-kadang sering menyematkan luka. Salaam

Yuliadi Hanafie said...

coba dimuat di the crowd voice, socmed asli endonesiah

M A said...

"Aku baik-baik saja", kata yang selalu kuucap kala hati sakit. Memang "cinta" itu tidak mengenal lelah; Tapi, haruskah selalu mengucap "aku baik-baik saja"?

"cinta" yang mengucap "baik-baik saja", tapi cinta dapat datang & pergi begitu saja;Jangan lagi mengucap "baik-baik saja", jika hati yang tersakiti bukan baja

Post a Comment