Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Sunday, November 3, 2013

PARANOID


Tentu, aku begitu takut tentang apa yang tidak kuketahui sebelumku. Atau sesudah kita nantinya. Andai saja, cinta tak pernah mampir kemari, mungkin saja tak 'kan ada ketakutan yang bermunculan. Menekan-nekan hatiku. Sungguh, saat ini aku merasakan kau remat-remat hatiku dengan tangan orang lain. Sungguh, saat ini aku sedang menahan-nahan dan mengendalikan diri dari sakit yang tak bisa kumungkiri.

Jadi, sebenarnya apa yang kau mau dari perempuan sepertiku, Tuan?

Kalau luka, aku sudah melumatnya. Kalau cinta, aku sudah jatuh di dalamnya. Apalagi? Aku hanya berusaha meredam apa yang semestinya tidak perlu kutakutkan. Tapi, toh, nyatanya perasaan itu terus saja melingkari pikiran. Berjalan-jalan merayap di atap-atap hati, membawa jarum yang begitu runcing. Tusukkan di jantungku, Sayang. Hancurkan aku sekalian!

Mungkin bukan kamu pelakunya, tapi kamu terlibat di dalamnya. Kamu tokoh utamanya kan? Mengapa tak kauakhiri dulu kisahmu yang dulu, baru kau memulainya denganku. Mengapa tak kau katakan padanya tentang hatimu baru kaunyatakan perasaanmu padaku? Mengapa menciptakan garis-garis yang meretak dalam luka sukma....



Coba tanyakan lagi pada hatimu, Tuan. Mungkinkah masih terselip masamu yang lalu? Coba rasakan kembali dalam hatimu, adakah kau ingin memutari kembali hatimu yang dulu-dulu? Kalau iya, katakan padaku, Tuan. Sekarang juga, sebab semakin kautunda maka aku akan semakin terluka. Atau mungkin kau memang sengaja melakukannya? Sungguh, pun begitu, aku tak 'kan marah, tak akan jengah menghadapi remahmu. Tak 'kan pulang hanya karena itu. Meski aku harus menangisi diriku, aku tak mungkin menyalahkan waktu. Tak mungkin menyalahkan pertemuan itu. Sebab kau dan aku tak pernah berencana berada dalam satu titik temu.


Lalu kamu, yang mengakui mencintai Tuanku. Masih mengharapkannya kembali padamu?

Kalau alasannya adalah waktu, aku kalah telak, kau mengenalnya lebih dulu. Tanpa perlu kau umbar pun aku tentu sudah tahu lebih dulu bahwa kamu sudah banyak melewati pahit-manis bersamanya. Sungguh, tak perlu kautuliskan dalam lini waktumu. Aku sudah bisa mengiranya, kau memang lebih dulu mendapatkan semua sebelum seluruhku. Kalau biar luka mencabik-cabik kalbu, sudah. Kau berhasil membuatku merasa kesakitannya bertumbuh berkali lipat mengerat air mataku. Iya, aku jelas terluka membaca kalimat-kalimatmu. Iya, aku jelas bukan apa-apa bila dibandingkan dengan kamu.  Tapi tak mungkin membuat perasaan yang tak pernah kuminta memenuhi nebulaku habis begitu saja.

Kalau kau merasa mampu, kau bisa mengajaknya kembali denganmu. Kalau ia merasa lebih bahagia, lakukan saja selagi aku belum absah menjadi miliknya.



031113~Ini hanya ketakutan seorang wanita yang sudah diambil hatinya lalu disakiti begitu enaknya ... Berlebihankah? Dan sebenarnya aku tak pernah berhenti sampai di sini, pun nantinya kau berakhir dengannya aku tak kan menyesal pernah membagi waktu denganmu.

3 komentar:

Ramadani Putra Baihaqi said...

blog mu keren banget sumpah puisi di soundcloud mu keren bikin merinding ijin copas ya :) keren banget.!

Arrizal Faizin said...

jadi karena itu...

Wahyu Nur Fahrurrozi said...

Keren mbak. Salut

Post a Comment