Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Wednesday, August 20, 2014

Selamat Ulangtahun, Ibu!


Empat puluh lima.
Angka yang paling pas untuk menggenapi (lagi) matangnya usia. Betul, Bu?

Berbahagia atas kehidupan yang meski berjalan tak seindah dongeng sebelum tidur, tapi sepatutnya tak hanya ibu tapi juga kami semua bersyukur atas takdir Tuhan yang begitu sempurna. Sebab anakmu tak pandai berucap lewat suara, biar kutuliskan sedikit saja melalui bahasa. Biar abjad yang bicara mengenai panjatan doa. Semoga Ibu semakin membaik dalam segala hal, termasuk selalu bersabar atas kekurangan-kekuranganku.

Empat puluh lima.
Helai rambut memutih jadi salah satu tanda usia Ibu semakin tua. Tapi tetap cantik, begitu kan?


"Maaf" adalah satu kata yang paling sering kubisikkan di sepanjang sepertiga malam terakhir pada pencipta Ibu. Untuk seluruhku yang masih kerap membuat Ibu pilu. Yah, apalah daya anakmu masih "berantakan" dalam menyaji cinta di dunia nyata. Lalu sering jadi khayal, seandainya semua semudah menuliskan aksara. Lalu lagi-lagi doa jadi senjata paling ampuh membahagiakan Engkau, Ibu. Karena kuyakini doaku selalu sampai ke langit, bermuara pada-Nya untuk kembali pada pelukan Ibu dalam bentuk lain.

Empat puluh lima.
Tak diragukan lagi atas kelihaian dan kepandaian Ibu dalam menyusun hidup yang telah berlangsung puluhan tahun itu.

Karena tak semua air yang tertuang berwarna bening. Aku tak mampu menerka-nerka sebanyak apa yang keruh. Barangkali, tak semua orang sanggup menjadimu, Bu. Tapi kuyakini wanita terhebat adalah ia yang paling ikhlas menerima apapun kondisi yang dibuat oleh Tuhan. Wanita terkuat adalah ia yang mampu menangis pada Tuhan lalu tersenyum setelahnya pada setiap mata yang dilewatinya. Wanita tercantik adalah ia yang tak pernah lelah memperbaiki ketulusan, meningkatkan pemahaman menyoal kehidupan yang kutahu semakin besar angka yang kita dapat, maka semakin besar pula kekuatan yang mesti disiapkan.

Empat puluh lima.
Tak cukup dengan sebuket bunga mawar serupa tahun yang lalu kuberikan pada Ibu. Kali ini lebih banyak kuhantar dengan pengharapan dan doa.

Tak perlulah Ibu tahu seberapa sering aku merapal kalimat-kalimat yang mungkin tak bisa kuwujudkan kecuali lewat sujud berkali-kali pada Tuhan. Karena keterbatasan perempuan yang masih belum separuh dari umurmu ini begitu lekat dengan lemahnya kesanggupan. Tapi segala hal baik yang kudapat selalu akan berhilir padamu, Bu. Sebab segalanya jadi titik tumpu ucapan terima kasih seorang anak perempuan yang diberi banyak cinta dalam hidupnya. Lalu segala hal buruk yang masih mendekapku akan terus kucoba usahakan agar luruh menjadi kebaikan yang lain.

Empat puluh lima.
Semoga mengukuhkan keimanan Ibu pada pemilik takdir. Semoga mengkokohkan kecintaan Ibu pada setiap cinta yang menetap di ruang-ruang kalbu. Hidup yang jauh lebih berbahagia meski dengan sederhana.


Anakmu,
Fasih Radiana
20082014

1 komentar:

Muhamad Hanafi said...

Selamat Ulang Tahun calon mertua :peace:

Post a Comment