Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Friday, September 4, 2015

Cinta, Apakah Jodoh?



Aku berebut udara dengan malam. Semakin tinggi bulan merambat, makin tebuka lebar bola mataku yang hitam pekat. Napasku hidup dalam hening. Ia tidak, sama sekali tidak suka bising. Lalu menularkannya dalam bentuk kecintaanku pada hampa. Keramaian yang paling pas untuk kusapa hanyalah seraut wajah angin kosong dalam senja. Tak ada yang lain. Aku hanya suka yang itu. Tidak dengan lampu pijar, tidak juga dengan lalu-lalang, apalagi huru-hara.

Kau tahu betul, aku sudah menjabar diri terlampau panjang dan sering membuatmu jadi terkantuk-kantuk dengan kalimat yang itu-itu saja. Kamu tetap bersetia meski sebenarnya sudah hapal dengan baris yang sama. Tapi sempat aku berpikir, bagaimana kalau seandainya saja suatu saat aku bosan bercerita? Dan lebih memilih diam. Apa mampu kau memahamiku seperti saat ini?


Siapa yang berani berujar bahwa penulis adalah ia yang hatinya selembut sutra? Tak ada kurasa. Aku salah satu yang akan bilang tidak kalau memang ada yang begitu mengira. Dan kau pastilah orang pertama yang mengiyakan kilahanku. Sebab kau tahu aku tak seromantis tulisan-tulisanku. Aku sama sekali bukan wanita layaknya rima-rima yang menggantung penuh cinta pada tiap-tiap mata yang membaca.

more quote www.fasihrdn.tumblr.com

Ketimbang berbicara menyoal hati yang jatuh pada cinta, aku lebih suka disuguhi harapan yang diperjuangkan habis-habisan. Bahkan meski kehilangan adalah bayarannya. Aneh memang, akulah paradoks. Akrab disapa penulis cinta. Tapi bahkan  sepotong hati pun aku tak yakin seutuhnya punya.

Tempo hari kudengar ada yang berdecak kebingungan. Mengapa kau kutunjuk jadi satu-satunya yang mengisi sela-sela jemari. Padahal pernah kau remuk jantungku sampai nyaris tak mau lagi berdenyut. Padahal yang lain mengantre ingin aku tersenyum balik padanya, pertanda ada pintu baru yang membuka. Membolehkan diri masuk untuk sekadar menyapa, siapa tahu bisa sampai membangun cinta.

Kurinci satu sampai dua kalimat saja. Aku bisa dengan gamblang membaca setiap garis wajah sejak lama. Sejak umur masih belasan. Sejak kegiatan pramuka masih jadi kudapan. Atau meniup suling paduan suara adalah kegiatan luar biasa. Dan kawan masih mudah kali kugandeng tangannya. Tapi kau adalah yang pertama direkam oleh pijak mata yang pertama. Detik yang pertama. Aku masih bisa mengingatinya.

Pernahkah mendengar istilah cinta pada pandangan pertama? Omong kosong. Cinta selalu bertumbuh. Kalau datang sekejap pastilah lesap dengan begitu cepat. Tapi setelah retina berkenalan dengan cahaya di matanya, aku percaya bahwa setiap mata punya ketertarikannya sendiri pada kelopak yang dianggap pasangannya.

Atau pernahkah setelah kau selesai membincangkan seseorang dengan penciptanya, tiba-tiba ia datang dalam nyata? Membawakan segelas cokelat buatan tangannya? Padahal kau hanya berkisik dengan telingamu sendiri, tapi ia yang kau sebut-sebut ternyata mendengarnya? Aku masih suka heran sendiri siapalah ia sebenarnya. Untuk apa masih berkeliaran dalam jarak yang begitu panjang di hadapanku. Dalam medan waktu yang bergeser satu-dua detik dari jam dinding di ruangan tempatku berjejak mondar-mandir menagak rindu.

Aku berebut udara dengan malam. Semakin tinggi bulan merambat, makin tebuka lebar bola mataku yang hitam pekat. Napasku hidup dalam hening. Ia tidak, sama sekali tidak suka bising. Lalu menularkannya dalam bentuk kecintaanku pada hampa. Keramaian yang paling pas untuk kusapa hanyalah seraut wajah angin kosong dalam senja. Tak ada yang lain. Aku hanya suka yang itu. Tidak dengan lampu pijar, tidak juga dengan lalu-lalang, apalagi huru-hara.

Kau tahu betul, lebih dari yang lainnya. Lebih dari siapa saja. Kau adalah yang pertama setelah tembok-tembok pembatas tangis dengan tawa yang sudi kubagikan cerita dari sendok tua. Dengan cinta atau tanpanya, kau tetap saja sudah menawan seluruh trauma lama. Kau kembalikan dengan jenjam sahaja. Meski kadang erak malah membuatmu menjadikan aku amuk, lalu kita sama-sama muak di tempat. Maka diamlah di sana dengan doa yang tak pernah tutup dalam bicara. Agar bisa kau bawa aku keluar dari udara yang selalu sesak untuk kuirup lebih lama....

Walau tak satupun yang bisa menjamin, bahkan kau, apalagi aku. Siapalah masa depan.



040915~Bukan jodoh, bila hanya cinta yang menjadi tumpuannya. Tak akan berjodoh, bila tak ada usaha dengan doa sebagai pelengkapnya.

4 komentar:

Cara Memperlancar Haid said...

Semua berita yang ada di website anda sangat menarik perhatian untuk di simak, salam sehat. . . !! Semoga beritanya dapat bermanfaat! share ya gan, thanks nih!!

naurah kida said...

aku suka sekali dengan kalimat yang lincah dan mengalir begitu apik. Membaca tulisanmu ini seperti membaca syair yang indah. Keren pokoknya. salam kenal.

Sepertinya aku akan sering berkunjung di blogmu ini. Bila ingin saling berkunjung bisa tengok bogku di http://naurahkida.blogspot.com/

cara pencegahan kanker serviks said...

Artikelnya sangat bermanfaat sekali, makasih ne ya!! beritanya bagus banget dan sangat menarik di baca siang ini. Ijin share juga ya, terimakasih sekali lagi.

perawatan pasca kuret said...

Semua postinga artikelnya sangat menarik untuk di simak, mohon kunjungi juga website kami, kami tunggu. terima kasih. :D

Post a Comment