Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Sunday, August 31, 2014

Denganmu, Kita Baik-Baik Saja Kan?


more quote www.fasihrdn.tumblr.com
Tak perlu kau minta, aku akan selalu melakukannya. Merevisi diri berkali-kali. Demi napasmu yang memenuhi seluruh ruang di hati. Meski tahu betul ada yang tak setuju dengan lekatnya jemari kelingking mencecap janji (lagi). Bisakah gelas pecah itu utuh kembali? Sanggupkah kita baik-baik saja sampai semua selesai?

Kali ketiga aku memberimu gagang pintu tanpa kunci. Masuklah. Barangkali kau lebih paham bagian mana yang perlu direnovasi. Kusebut waktu ini kesempatan terakhir sebelum akhirnya kita sama-sama tahu, sejatikah? Masih sejauh mana aku menggandeng kegelisahanku untuk kulumat bersamamu. Kau ganti yang perlu diperbaiki dengan doa yang kembali berujar dari setiap putaran tasbihku. Maka berdoalah pula sesering mungkin, berusahalah sebanyak mungkin. Meski tak selalu tampak di matamu, aku tak pernah hilang meski dalam bayang.

Aku ingin menangis, ah, setiap aku ingin menangis ... bolehkah berhambur ke dalam pelukmu?

Sehangat apa dekapmu membasuh peluhku. Bosankah dengan ceritaku yang menggebu dengan kalimat itu-itu lagi. Sayang, jangan pernah beritahu mereka selemah apa ketika aku denganmu. Meski aku kerap berbalik badan memutar-mutar lagi kisah lama seperti kaset rusak. Tapi tak pernah terbesit untuk bepergian mencari yang lain, atau berbalas luka denganmu.

tweet me @fasihrdn
Lebihkan sabarmu dalam menasihati(ku). Jangan lelah seperti aku tak pernah kehabisan daya saat menanti(mu). Kau tahu, terkadang aku lelah, ingin sendiri, meski kini bagiku sendiri adalah bebarengan denganmu. Lalu biarkan aku berteriak pada Jogja, kubilang, "Usir aku, Jogja!". Sebab masih saja sering digentayangi masamu yang telah usai. Yang nyatanya lebih hapal jalan menuju tempat-tempat yang asik untuk diduduki berdua saja. Sumpah, aku ingin melupa. Tentang satu nama yang tak juga hilang dari kepala. Aku ingin bebas dari hati yang tak juga lepas. Aku tahu, semestinya sebaik mungkin mempersiapkan masa depan, bukan malah mundur ke belakang; mengingat yang menyakitkan. Tapi lagi-lagi, kutemui diri dalam dilema. Bagaimana lagi caranya agar tenang tanpa takut kehilangan. Perlukah aku mundur perlahan? Lalu meninggalkan hati untuk diganti dengan yang lebih baik membersamai(mu). Tidak, kau juga bilang tidak kan?

Tuan, coba baca segalaku dengan saksama. Adakah keikhlasan dari ketulusanku masih juga belum cukup sempurna? Baiknya kau lengkapi ruh dari seluruh raganya.

Pernahkah kau perhatikan kerut di keningku? Terkadang ia lelah membuatmu marah. Sempatkah memperhatikan bekas sembab di mataku? Melingkari bola mata. Ia sering meminta satu kecup pertanda kau akan menjaga segala tetap baik-baik saja. Lengan yang tak akan lepas mengerat, jemari yang semakin kuat menggenggam. Lalu kukatakan, aku bersedia menjadi rumah tempatmu merebah resah.



310814~Kalau sampai pada waktunya kita bertemu dengan sesuatu yang menyulitkan diri, menggelisahkan jiwa ... jangan berhenti. Kau dan aku tahu apa yang tak mudah diraih adalah yang akan mengubah dirinya jadi paling indah. Fighting! 


2 komentar:

Andi Jurnal said...

Salam Kenal, mantabb postinganya, terharu! Tapi sebagian isinya kisah nyata atau fiktif yah!! Kunjungi blog saya di www.jurnallogistik.com dan follow uah!

Muhamad Hanafi said...

Nah itu yg jadi pertanyaan, sebenarnya kisah nyata atau fiktif hahaha.

Post a Comment