Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label kenangan. Show all posts
Showing posts with label kenangan. Show all posts

Friday, July 18, 2014

Kau Tahu Mengapa Aku Tak Suka Kenangan


Ia kejam. Bila kau tak benar-benar paham cara mengingatinya.

Pada daun yang gugur di musim hujan, ada jalan memutar untuk lebih dekat menuju rumah singgah. Agar terlindung dari gigil gemetar sebab tetesnya makin deras mengguyur mata kaki. Kau tahu mengapa aku lebih memilih melaju sampai menemui rumah singgah berikutnya. Karena aku tak pernah punya waktu menoleh ke arahmu, masa yang telah kutinggali.

Pada mata sendu yang mengaku sudah berlayar jauh dari waktu, aku melihat diri dalam diri yang lain. Tersenyum, tapi air matanya bercerita. Mengisah soal hidup yang angker pada suatu masa, di langit dari jari telunjuk pada senja dalam jingganya. Tapi menikmati malam jadi pilihan untuk menghitung bintang yang berjejer dengan kemungkinan-kemungkinan untuk bersegera menjadi pagi. Kau tahu mengapa aku lebih suka menyuguhkan tatap tegas tanpa pengulangan. Ia jelas. Ia tak pernah membiarkan bola matanya mengubrak-abrik air mata yang telah membeku. Ia tak pernah patuh pada semu. Ia tak pernah suka merindu.

Padanya, diriku yang sudah jatuh tempo. Aku tak pernah menggali memori untuk kukhidmati kembali masaku yang telah habis. Karena ia begitu suci. Bukan untuk kutawar berkali-kali. Bukan untuk kurangkum menjadi suatu kisah lama yang terungkap begitu saja. Biar menguap, menjadi asap dari kayu-kayu pada batang yang rapuh, tumbang tahunan lalu. Kau tahu mengapa aku memperbarui mula dari setiap kata. Memperbaiki akhir dari setiap paragraf.

www.fasihrdn.tumblr.com
Padamu, aku tak suka. Kau tahu mengapa.

Friday, June 27, 2014

Pada Masa yang Lalu....



Tolong, berhenti mengikuti jejakku. Aku lelah menjadi bayangmu. Kau tahu, aku bukan pengingat memoar. Aku tak mungkin tinggal di situ, dalam sajak kenangan. Atau rintik hujan yang jadi nyanyian di pinggir kota.

Tolong, berhenti mengikuti jejakku. Kau tak pernah tahu dalamnya luka yang kurawat sendirian ini, melibatkan deras air mata, meski masih dipenuhi cinta. Aku bukan robot, Sayang. Ada bagian terkecil dari hati yang berisik berbisik, ia rapuh, ia begitu lemah, ia nyaris mati setelah dihancurkan berkali-kali.

Tolong, berhenti mengikuti jejakku. Berhentilah di sana, di tempat yang tak kuketahui. Aku enggan menemukan wajahmu menggurat lara di masaku yang akan datang. Padamu, masa yang telah lalu. Berhentilah mengejarku. Biarkan aku pergi, biarkan aku bepergian dari semua kenangan; darimu.

Wednesday, February 12, 2014

Hari Ke-12: Peringatan Keras Untukmu, Rindu!


Aku tak punya kuasa atas rasa rindu. Allah, peluk aku untuk satu kerinduan yang bukan milikku....

Peringatan keras untukmu, jangan lagi muncul untuk mengganggu....
Kembalilah pada penciptamu, Rindu. Kumohon jangan berkeliaran di hatiku.

Sunday, September 1, 2013

Memoar


Cerita tahunan lalu, bertemu pada satu titik yang bernama rindu.

"Betapa kalian tak perlu tahu untuk apa aku bersembunyi. Kebodohan yang tak akan pernah kuulangi. Menyia-nyiakan tawa kalian. Melewatkan cerita-cerita kalian. Kalian tahu? Kalian mesti tahu; doaku tak pernah lepas untuk kebahagiaan kalian, kawan."

Sudah tahunan lalu, sebelum waktu menjadi alasan menggeser langkah-langkah kecil kita berjalan berlainan arah. Ternyata aku salah asumsi. Aku yang menepi. Aku yang memutuskan untuk pergi. Apriori yang kadung menjejak dalam benak. Kalian yang melupa, bukan aku yang mengasingkan diri.

Wednesday, October 17, 2012

Sisa Hujan Semalam


Tak berjejak. Padahal jelas-jelas aku menapak. Tapi hanya tinggal dedaunan yang mengkerak berserak. Menggenang di atas luka. Sendirian di tepian. Bersama kenangan yang tak akan jadi pengingat waktu lalu. Mungkin saja kau sama angkuhnya seperti hujan. Membiarkannya basah sendirian. 

Seperti sisa hujan semalam. Butirannya masih menggantung, menunggu angin menyentuhkan ujungnya pada dahan ranting. Berjatuhan lalu lengang. 

Masih di sudut mata yang sama. Sembab tak mau mengungkap sebab. Membiarkan embun bergulat dengan pikirannya sendiri. Sesuka hati. Tentang aku dan hujan semalam, ada apa di antaranya? Mengguratkan kesepian. Bukan, bukan tentang sunyi yang mengelilingi. Hanya karena hening yang sedikit mengering, lalu aku tertawa nyaring. Sedikit gila, mungkin.

Lalu aku tetap membiarkan sisa hujan menetes di balik air mataku yang sedari tadi merembes. Tak cukupkah meliar semalaman? Menghabiskan jeritan bersama kilat yang menyingkap kejadian, yang tak pernah jadi kenyataan. Menyelap dalam pengap yang begitu lekat dengan pekat. Membiaskan dingin sisa angin yang bermukim. Tak cukupkah guyuran hujan semalam? 

Thursday, October 11, 2012

Bicara Perihal Aku, Kamu, dan Kenangan


Berkali-kali aku mengucapkan janji, akan segera pergi menjauhi yang tidak akan pernah bisa kusandingi. Berkali-kali aku mengingkari, nyeri di dada justru makin menjadi-jadi. Berkali-kali barisan doa yang kurapal dalam pekat yang lekat dengan penat, aku membisikkan satu nama. Masih saja dengan posisi yang sama, masih seperti itu saja. 

Bias dingin memeluk erat air mata yang makin deras merebak. Aku duduk bersinggungan dengan lengan yang tak 'kan pernah kubiarkan jadi sebuah bayang-bayang, lalu melayang bersama petang. Aku duduk bersinggungan dengan lengan yang selalu menjadi tumpuan sampai pagi kembali datang. Lalu bagian mana yang harus kudustakan? Membiarkanmu pergi lalu aku berhenti menjuntaikan kaki pada jari-jari lentikmu yang menari. Membiarkan aku berperangai sendiri, bertikai sendiri dengan ironi.

Seperti itukah seharusnya? Decit yang menjerit, menumpahkan tinta hitam pada secarik kertas yang melentingkan diri. Bertabrakkan dengan aroma hujan; kenangan.

Lalu aku lebih memilih bersembunyi di balik waktumu. Waktu yang katanya tidak lama lagi. Waktu yang mencuri hati pada bulan yang mendaki. Merenggut lagu di lirik sunyi. Mengendapkan kerinduan yang menyentuh rongga telingaku. Lalu kamu menghitung jejak tapak, mengikuti arah angin yang menggigilkan pucat resahku. Begitu seterusnya, sampai malam ikut berteduh di jarimu. 

Sepenggal rindu yang menawar dingin, membungkam suara-suara. Merusak abjad-abjad  sisa bahasa, sebab napasmu menghembuskan cinta. Menguak melewati batas angan, aku geriap lalu lalang. Mencari-cari kebenaran yang menjadi saksi kisah yang mengindahkan suara serak parau. Kau, selalu membuatku terpukau. Engkau.

Matahari menyurup, menjingga atas kerinduan tanpa tepian. Masih mencari di mana cinta yang tegas?

Aku bosan terlibat dalam debat, penat mendengar alasan yang berkutat pada itu-itu saja. Menghabiskan napas bersama turunnya senja, begitu saja. Begitu sederhana.

Toh, sekelumit baid tak 'kan ada artinya. Sebab aku belum menemukan diorama yang pas untuk memamerkan adegan kita dalam dimensi yang lain. Yang selalu sengaja disembunyikan. Lalu berjumbul di keremangan, bukankah selalu berakhir pada kenangan?

Cericit binatang malam membuatku suntuk belum mengantuk. Melirik langit, beginikah caranya Tuhan mendistorsikan perasaan? Menyilangkan aturan di persimpangan. Aku mau meneguhkan bibir, mengayunkan angin semilir. Menghentikan kibas hujan yang selalu saja menceritakan tentang cinta yang berbaur pada luka sukma. Mengalirkan air mata yang nyaris mengering. 

Lagi, aku tak pernah benar-benar bisa tegar dalam sikap sempurna tanpa ada kamu yang menyusupkan tenang di antaranya. Sebab sepertinya kamu sengaja membuatku tak bisa menembus kepekatan mega. Sendirian. Sebab sepertinya engkau sengaja melakukannya, mengubahku tak terbiasa tanpa ada kamu di dalamnya. Membuat separuhnya berada dalam hela napas yang sama. Aku yang tidak lagi bisa sendiri tanpa melibatkan kamu dalam setiap tradisi. Begitu, sampai kamu sendiri yang meninggalkan kepingan. Sampai kamu sendiri juga yang akhirnya meninggalkan.

Lalu seperti apa seharusnya aku dan kamu lepas dari belenggu waktu? Sebab sepertinya kamu lupa mememberitahuku caranya melupakan, mendustakan kenangan.




111012~Bicara perihal aku, kamu, dan yang tak bisa menjadi kita. Lalu caci maki saja tulisan yang kamu baca, biar menjadikan lukanya makin sempurna. Meretak sampai ujung terdalam.

Monday, September 17, 2012

Masih Saja Kamu

Masih banyak tanda tanya menggantung di sela jemari. Masih ada bayang yang tak juga melarikan diri. Mengapa  jarum waktu mesti memutari angka yang tak ingin cepat-cepat kulalui? Kalau bisa, sebaiknya hari itu tak pernah berakhir. Atau aku perlu formalin untuk mengawetkan perasaannya.

Denting yang berbunyi makin kencang saat bulan sudah menyemburatkan warna emasnya. Membuatku seperti berada pada lorong kecil yang sarat akan hampa. Aku tak suka keramian, tapi aku benci sepi yang menyelipkan kenangan. Ah, kamu masih saja berlarian dalam pikiran.

Lalu buat apa perpisahan yang sudah kauupayakan, nyatanya aku masih sama saja.

Andaikan saja malam itu tak pernah menjadi pagi. Mungkin aku masih dalam genggaman. Berharap menjadi pelukan yang menghangatkan. Bukan, itu bukan keinginan sebab aku tahu kamu tak suka aku berharap. Hanya satu kantong kecil sebuah lamunan yang berkhayal melewati batas normal. 

Lalu buat apa memintaku melupakan malam yang kaujadikan kenangan? 

Nyatanya aku masih juga merasakan dengan hentakan yang sama kuatnya. Percuma, kalau tetap tak bisa mengakhiri apa yang tak pernah ingin kumulai. Tapi sepertinya kamu punya terlalu banyak alasan untuk tetap meninggalkan.

Lalu buat apa sebenarnya, dipertemukan dengan suatu kebetulan kalau akhirnya dipisahkan dengan kesengajaan?




170912~ Masih saja segaris senyum mengingatkan aku pada satu kisah yang tak pernah menjadi kita.

Sunday, December 26, 2010

MELEPAS RINDU

dari kiri irma, aku, lina dan tami
HALLO Bloggers,
Hari ini aku main bareng temen SMPN9YK, yepss    mereka adalah sahabat terhebat sepanjang zaman.
Mereka yang mengisi lubang besar di hatiku dulu waktu senyum tak pernah mampir di bibirku :D
Kami selalu berjalan beriringan walaupun kini kami berjalan dengan arah yang berlainan tapi di sudut hati kami masih sama, satu, sahabat selamanya:)






narsis ya :)
Oke Bloggers, aku mulai dari yang paling kanan, yeaa she is Amalina Farahiya, ketos(ketua osis) SMPN9YK. sebenernya sih ya aku udah tau dia sejak waktu masih di SD MUH SAPEN YK, tapi kami nggak begitu kenal eh malah kami saling bersikap dingin waktu itu. Tuhan mempertemukan kami lagi di SMP dan hingga kini kami masih sering bergandeng tangan dan tersenyum bersama atau bahkan sekedar ngobrolin hal yang nggak penting:)







Selanjutnya dengan baju belang-belang hm, yang belang memang lebih enak #iklan namanya adalah Utami putri kinayungan. Dia salah satu sahabat terindah yang punya kulit exotis hihi peace Tem.
Oke aku mulai bingung harus bergaya gimana lagi
Diantara kami berempat, betul, dia yang paling rajin dan pintar, dia juga anak tunggal sekarang ini, sama sepertiku(rapenting). Aku menemukan dia #berasakucing tepat di kelas 8D ya kami baru saling mengenal lebih dalam di sana. Banyak petualangan seru yang kami lewati ditemani dengan gurat senyum atau linang airmata yang memperkuat lengan kami untuk saling berpelukan:)











jadwalnya untuk meringis :D
Yang terakhir, Irma Novia Arum Sari. Tepat, dia memang orang Wonosari HAHA terlihat kan dari namanya hehe.
Sahabat teraneh dan paling lugu tapi suka nyep*p wkwkw (tapi aku enggak loh, sumvah) sering kami melakukan hal-hal konyol bersama, dia sama sepertiku, cinta akan kata-kata yang menari di bawah keindahahn sastra. Kami sering bertukar puisi dan dari situ kami sama-sama belajar banyak tentang kalimat yang bersolek indah di atas selembar daun kering:)

Thursday, December 16, 2010

Bayangmu Pekat

Takdir yang menyatukan kami
takdir juga yang menghempas kami
sungguh betapapun aku masih ingin
laksana sang surya yang setia pada alam

aku ingin tapi takdir tak mengizinkan
aku bermimpi namun dia menggugah tubuhku
merinding sudah seluruh aliran darahku
MATI, iya, ingatan itu membawaku masuk merelung

menguak apa yang tersisa di sudut
kepingan yang pecah berserakan
yang tajam ujungnya meluka
menggores lebih dalam, lebih lagi

merebakkan airmata, membuka sedikit
senyum lusuh tentangmu, tentang kita
terekam lekat memenuhi pekat udara, kita
atau tangis yang membuat janji itu tertawa pahit
dengan genggam tangan yang erat sepekat ukir namamu

Merusuk sehebat semua tentangmu
yang merekatkan tawa kita, dulu
sebegitu bayangmu lekat teramat

291110