Tak berjejak. Padahal jelas-jelas aku menapak. Tapi hanya tinggal dedaunan yang mengkerak berserak. Menggenang di atas luka. Sendirian di tepian. Bersama kenangan yang tak akan jadi pengingat waktu lalu. Mungkin saja kau sama angkuhnya seperti hujan. Membiarkannya basah sendirian.
Seperti sisa hujan semalam. Butirannya masih menggantung, menunggu angin menyentuhkan ujungnya pada dahan ranting. Berjatuhan lalu lengang.
Masih di sudut mata yang sama. Sembab tak mau mengungkap sebab. Membiarkan embun bergulat dengan pikirannya sendiri. Sesuka hati. Tentang aku dan hujan semalam, ada apa di antaranya? Mengguratkan kesepian. Bukan, bukan tentang sunyi yang mengelilingi. Hanya karena hening yang sedikit mengering, lalu aku tertawa nyaring. Sedikit gila, mungkin.
Lalu aku tetap membiarkan sisa hujan menetes di balik air mataku yang sedari tadi merembes. Tak cukupkah meliar semalaman? Menghabiskan jeritan bersama kilat yang menyingkap kejadian, yang tak pernah jadi kenyataan. Menyelap dalam pengap yang begitu lekat dengan pekat. Membiaskan dingin sisa angin yang bermukim. Tak cukupkah guyuran hujan semalam?
