Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Friday, September 4, 2015

Cinta, Apakah Jodoh?



Aku berebut udara dengan malam. Semakin tinggi bulan merambat, makin tebuka lebar bola mataku yang hitam pekat. Napasku hidup dalam hening. Ia tidak, sama sekali tidak suka bising. Lalu menularkannya dalam bentuk kecintaanku pada hampa. Keramaian yang paling pas untuk kusapa hanyalah seraut wajah angin kosong dalam senja. Tak ada yang lain. Aku hanya suka yang itu. Tidak dengan lampu pijar, tidak juga dengan lalu-lalang, apalagi huru-hara.

Kau tahu betul, aku sudah menjabar diri terlampau panjang dan sering membuatmu jadi terkantuk-kantuk dengan kalimat yang itu-itu saja. Kamu tetap bersetia meski sebenarnya sudah hapal dengan baris yang sama. Tapi sempat aku berpikir, bagaimana kalau seandainya saja suatu saat aku bosan bercerita? Dan lebih memilih diam. Apa mampu kau memahamiku seperti saat ini?

Wednesday, June 10, 2015

Bila Cinta adalah Kata Hati, Biar Tuhan jadi Tuannya



Februari ... Maret ... April ... Mei ... Juni.

Bukankah waktu tak mengenal ampun? Ia bergerak tak peduli kau memintanya untuk tetap tinggal. Kalau kuhitung dengan jari telunjuk, ini adalah bulan ke lima kau dan aku menggantung jarak, meluapkan waktu. Baru sebentar ternyata. Apalagi jika diukur lebih detil beserta hari demi harinya. Tapi tidak hanya aku yang merasa sepertinya sudah tahunan lalu kita tak pernah menyapa wajah.

2013 ... 2014 ... 2015.

Bukankah waktu tak mau tahu? Ia berlari masa bodoh kau masih ingin diam. Sudah masuk dua kali tahun ajaran baru setelah aku memetik senyum dan tangis secara bebarengan. Mengenalmu, memperhatikanmu, menganalisis, memahamimu, mendalamimu sampai hapal kutaksir jumlah bulu-bulu halus yang bernapas di kulitmu. Tapi ternyata baru sebentar kuerat jemari agar benar-benar pas di genggammu. Seperti sudah kuhabiskan satu dekade kuderet lebih-kurangmu. Di mana celah untuk kuisi dan kapan kamu acap melengkapi.

Tuesday, May 19, 2015

Dariku yang Penuh Doa



Kali ini lupakan dulu menyoal rima, diksi, atau segala pelengkap sastra. Aku ingin bicara tanpa kalimat-kalimat mutiara. Biarkan aku menjabar kita layaknya puzzle yang sudah tergenapkan oleh keping terakhirnya.

source: www.fasihrdn.tumblr.com or tweet me @fasihdn

Boleh kumulai dari bagaimana aku rela menjatuhkan diri untuk bangkit bersamamu?

Kita berangkat dari dua sudut yang berlawanan, anggaplah kau dari sisi minus dan aku berjalan dari arah kanan: plus. Bukan tanpa sebab, aku meletakkanmu di sisi negatif karena kita bersua selepas kau goyah dan jelas saja akulah si positif, sebab aku tahu betul keahlianku mengendalikan diri. Kalau kubentangkan coretan panjang lalu kuberi angka nol tepat di tengahnya. Di situlah kita bertemu. Dalam himpunan titik yang membentuk sebuah garis. Ada benang merah yang tak akan bisa ditilik mata telanjang. Maka bisa dipastikan kau berjalan maju, sedang aku terseret mundur teratur. Masihkah mengenali bagian yang itu?

Kugambari kembali kalau begitu:

Tepat saat purnama selesai merayap di ujung gagang langit, kau masih sembilu sebab meski banyak hawa mencintaimu, kau tak bisa menunjuk salah satu. Di situ matamu beradu dengan sorot tegas milikku. Gamblang angin mencecarmu dengan luka yang sarat menyimpan harap sekaligus kekecewaan pada satu utas tali yang kau pikir hubungan sejati. Afiliasi abadi yang ternyata kerjasamanya tak cukup koheren. Bersamaan dengan itu, cahaya bulan yang jatuh tepat di retinaku angkuh menggeleng, mengasihanimu diam-diam. Wanita yang sedang ajek pada pendiriannya itu tak mungkin tertarik pada pria di hadapannya. Konsisten dengan hidup yang alirnya tak beriak. Senyumnya jelangak menertawai dalam hati, "hari begini, masih juga patah hati."

Boleh kulanjutkan ke mana perginya kita setelah petak itu?

Kuakui dayamu begitu kuat, pembawaanmu begitu tenang. Barangkali, hanya aku yang mampu mengupas kulitmu sampai ke bagian terdalam. Ada kesedihan apa membekap tulangmu, lalu kau memaksanya untuk tetap bisa terayun dengan gagah perkasa. Bukankah begitu, Tuan?

Tuesday, March 31, 2015

Kosa Kata yang Hilang: Tulus


Sudah kutemukan. Sore ini. Memelas. Wajahnya menagih untuk bersegera dipungut dari perasingan. Di sepinggiran rerintik hujan. 

Yang lalu menderas, menggenang di ujung jalan berlubang. Bersama kenangan yang berenang-renang ke tepian. Padahal sudah lama sekali—mati-matian kugempur dengan segala cara. Tapi nihil. Aku selalu gagal dalam melangis tangis. Karenamu. Turunan hawa yang katanya paling subtil seantero jagad. Padahal lamat-lamat kutelanjangi seisi dadamu, sekujur tubuh tak akan luput dari segala sesuatu yang artifisial: ecek-ecek.

Sudah kutemukan. Semalam tadi. Garang. Raut rupanya membenarkan diri: siapalah ia sesungguhnya. Meminta dijumput dalam jingga kemerahan yang sudah lunas dilahap alam.

Monday, December 15, 2014

Dan Bila Kau adalah Keseimbangan


Aku masih bisa merasakannya. Masih mengingati diri penuh air mata mendoa(mu) dari sini; dalam teduhnya sujud dini hari.

Aku tak pernah senang hiruk-pikuk keramaian kota, kecuali memutarinya bersamamu.
Aku tak pernah suka bising dunia nyata, kecuali mendengarnya denganmu.
Aku tak pernah bisa bercerita menyoal kerapuhan yang berdiam di dadaku, kecuali dengan bola matamu.

Entah, sebab kau memang bagian dari doa yang makbul ataukah hanya aku yang memaksakan kamulah orang itu—seseorang yang memang Tuhan izinkan berbagi bagian dari tubuhnya untuk menjadi separuhku.

Sudah lama kiranya, aku mengacak-abul kosa-kata. Kujadikan serangkaian kalimat cinta. Kujabar dengan begitu sempurna. Sejak tahunan lalu, sebenarnya aku tak pernah mengerti aku ini bicara apa. Semua hanya seperti kutipan film "Supernova" karya penulis kenamaan Dewi 'dee' Lestari yang sedang gencar ingin ditonton jutaan orang. Meski aku terlihat berada dalam batas ekuilibrium atau keseimbangan yang begitu baik-baik saja, nyatanya selalu dibersamai dua sisi koin yang bersebrangan.

Monday, October 13, 2014

Ajari Aku Membahagiakan Kita


Salah.
Kalau aku mengira dengan cinta, kau akan begitu saja percaya.
Lalu berbahagia.

Salah.
Kalau aku berpikir dengan setiaku, kau akan begitu saja percaya.
Lalu berbahagia.

Salah.
Kalau aku merasa dengan kesalahan masa silam, kau tak bisa begitu saja kupercaya.
Lalu tak pernah berbahagia.

more quote www.fasihrdn.tumblr.com
Sudah sejauh ini, Sayang. Tapi ragu masih kerap lalu-lalang di antara kau dan aku. Sebab yang itu-itu lagi: masa lalumu, atau lakuku yang bagimu ternyata pilu. Aku lupa, kapan terakhir aku merajuk. Ingatkah kapan terakhir kali kau tiba-tiba diam dan aku pulang dengan kita yang terlibat dalam prasangka. Kita yang menyimpan amarah. Kita yang menyembunyikan kecemburuan, atau kita yang tetiba jadi saling mengasing.

Tak bahagiakah denganku, Sayang?

Tuesday, July 1, 2014

Surat Terbuka untuk Calon Presiden Rumah Tangga(ku)


Sungguhlah aku tak patut menuliskan suara hati ini teruntuk kau, yang belum kuketahui benar atau tidaknya akan menjadi masaku di waktu yang akan datang. Tapi izinkan aku menulis surat ini teruntuk engkau, sebagai seseorang yang kuperjuangkan, kuusahakan, dan kumasukkan dalam barisan doa di setiap malam nyaris menjadi pagi.

Bukan aku meragukanmu, Sayang. Ini hanya menyoal waktu untuk percaya pada apa yang pernah kau jadikan dusta. Mahluk berinisial "adam" yang konon katanya memang sulit sekali bersetia. Atau aku saja yang terlalu takut untuk seutuhnya kembali percaya.

Bukan aku mencurigaimu setiap waktu, Sayang. Ini hanya bagian dari ketakutanku atas memoarmu yang barangkali, masih kerap lalu-lalang di pikiranmu, di sengal napasmu, di jejakmu, di sudut hatimu yang tak kuketahui. Sungguh, aku tak bermaksud untuk mencemburui masamu yang telah lalu. Ini hanya perkara gelisah yang mestinya kau peluk erat-erat agar tak berlama-lama tunduk pada prasangka.

Saturday, June 28, 2014

Berhenti Mencari Cinta



Aku mencari-cari cinta, di tempat yang sama, di waktu yang berbeda. Padamu jua aku kembali, pun aku masih meragukan kesungguhanmu. Tapi aku selalu berusaha menyelami matamu. Adakah dusta masih bergelayutan di pelupuknya, Sayang?

Aku mencari-cari diriku, di sana. Di tempat yang kau jadikan bahan untuk berdusta. Di waktu yang tidak tepat, barangkali, aku masih begitu mencintaimu, Sayang. Atau enggan mengucap selamat tinggal, meski begitu ingin. Sungguh, aku tak bisa memalingkan diri dari keganjilanmu yang tak juga seutuhnya menggenapiku. Berjanjilah, kali ini tak akan pernah terjadi perpisahan meski wanita yang pernah kauletakkan di pelipismu itu kembali kepadamu. Atau lebih baik kita sudahi saja, sebelum kau lagi-lagi menjalin di belakangku. Sebelum aku menemui kamu yang mengulang perkara itu. Soal cinta lama yang bisa saja bersemi kembali suatu saat nanti. Apa betul kau tak akan lagi menoleh ke belakang?

more quote www.fasihrr.tumblr.com or follow me @fasihrdn

Wednesday, April 16, 2014

(Menuju) Tujuh Belas; Membilang Ulang atau Berpulang



17.
Jadi angka yang paling dinanti tuan dan putri. Mereka yang katanya disebut dewasa di angka tujuh belas. Katanya, sudah layak menjadi alamas. Tapi mengapa mesti tujuh belas?

17.
Ingatkah ada pertemuan yang katanya bukan sebuah kebetulan pada Selasa malam di bulan ke sembilan? Bisa kurunut kembali, kronologi jejak remang di halaman luas salah satu gedung universitas itu bukanlah suatu permintaan atas kedatangan satu sama lain, tetapi menjadi waktu yang pas untuk awal mula sederet kejadian.

17.
Aku yang langguk soal hati dalam garis stabil, kukuh kali bilang tak akan jatuh dalam cinta. Kontras dengan lelaki yang samar parasnya dibias bulan, sedang mencari-cari pintu keluar dari masanya yang telah lalu. Kau yang barangkali kadung duka bicara hubungan dan aku yang teguh pada kesetimbangan. Perasaan bukan lagi perkara sepele ketika Tuhan membuka jalan, membatasi perkiraan, atau menggeser angan jadi bungkus kebimbangan. Bulan yang merayap diam-diam, seketika jadi bising hujan.

17.
Sehabis malam itu pagiku direnggut kelut-kemelut. Tujuh belas jadi jejeran angka yang selalu ingin kutemui di tempat serupa, pada waktu yang sama, dalam lingkar senada. Agar bisa kuambil kembali yang dirampas paksa, segala yang baik-baik saja sudah tak lagi ada di sana. Mengapa kau tega menukar teduhku dengan gaduhmu?

Friday, February 28, 2014

Hari Ke-28: Epilog (Surat Terakhir)


Apa beda mengharap dengan menyayang?

Boleh kudefinisikan masing-masing kata kerja yang ternyata begitu tipis perbedaannya itu. Bukankah mereka adalah dua yang berbeda? Tetapi bila disatukan, bisa membuat hati meronta-ronta. Sebab hati yang merasa luka memang selalu sebab harap yang tak kunjung bisa didekap. Begitu bukan? Tetapi cinta tak pernah merugi, ketika ia adalah pemberi. Ia tak pernah berharap diganti. Jadi, bisa kau bedakan sekarang?

Lalu apa beda aku kini dengan diriku dulu?

Bukankah tak ada bedanya? Tak perlu dipertanyakan lagi, berkali-kali pun hati sudah tahu pasti apa yang tersimpan begitu rapi. Tak perlu diucap kembali. Masih bisa kau rasa, senyum megah itu hanya berganti menjadi lebih sederhana, ia lebih berhati-hati menampakkan diri. Lebih santun untuk tidak berada di barisan paling depan, bukankah dulu, sebelumnya aku juga hanya jadi pendoa di posisi paling belakang. Di balik punggung. Tak pernah berani menyuarakan kekhawatiran.

Tuhan mengembalikan posisi sebab ternyata aku tak bisa menilik hati dengan baik. Tuhan mengambil apa yang ternyata belum pantas kujaga, mungkin saja Tuhan ingin aku mempersiapkan diri jauh lebih teliti.

Tuesday, February 11, 2014

Hari Ke-11: Kubawa "Kamu" Menuju-Mu; Rindu


Follow my heart @fasihrdn

Ketika hati kecil mengungkap pendapatnya, sekeras apapun mencoba melawan, ia tak kan menghasilkan sebuah ketenangan. Sedalam apa aku menyembunyikan perasaan, akan muncul juga ke permukaan. Kebohongan tak kan pernah bisa bertahan meski mati-matian diusahakan untuk terus ditutup-tutupi kebenarannya. Apalagi soal "rasa" yang suka salah-kaprah dalam penyampaiannya, dalam menjaga dan memeliharanya.

Aku tak perlu mengingat keburukan untuk membencimu. Sebab waktu itu, aku tak mencari kebaikan untuk mencintaimu.

Kata banyak orang, cara ampuh untuk melupakan sakit hati dari cinta adalah dengan mengingat keburukannya. Tapi barangkali ada cara yang lebih baik daripada sebuah kebencian. Adalah dengan mengubah perasaan cinta menjadi pertemanan yang saling mengingatkan pada kebaikan.

More quotes www.fasihrr.tumblr.com

Monday, February 10, 2014

Hari Ke-9: Ketika Cinta Tak Lagi Kamu; Aku Takut


Ketika cinta tak lagi kamu, mungkin sudah kutemui ia yang mau menjaga hatiku yang penuh sembilu. Ketika itu pula, aku tak banyak kata, sebab cinta bukan berjejer seperti huruf-huruf yang bisa kubaca. Cinta hanya seperti ini: Tak terjamah oleh mata, tapi seperti berada tepat satu jengkal di depan kita; dalam tengadah doa.

Ketika cinta tak lagi kamu, apa mungkin waktu yang menyembunyikan kamu dariku. Saat itu, mungkin aku hanya menganggapmu masa lalu yang perlu kupelajari setiap langkah kakiku bergeser maju. Cinta hanya seperti itu: Membisu tapi bergerak.

Friday, January 10, 2014

Bolehkah Aku Mencintai Lelaki Itu, Bu?


Boleh kutitipkan rasa sayangku ini padanya, Bu? Boleh aku menjadikannya doa dalam setiap sujudku setelah aku mendoakanmu, Bu?


Sebab aku pun tak sengaja bertemu dengan lelaki itu. Aku tak pernah berencana mencintainya. Tapi sekarang, aku justru ingin menjadikannya bagian dariku sampai nanti, Bu. Seperti Ibu yang hidup dengan ayah sekarang ini. Aku sedang diserang rasa yang dimiliki setiap anak muda ... yang tak bisa kucegah dan kuhentikan begitu saja. Jadi, bolehkah aku....

Ibu pasti jauh lebih tahu, bagaimana rasanya membutuhkan satuan lain untuk menggenapi sebagian yang kurang. Aku melakukan apa yang belum pernah kulakukan, itu cinta kan, Bu? Entah, berapa kali aku mengatakannya, aku mencintai lelaki ini dan itu. Lalu berganti dengan yang lain. Tapi sungguh, kali ini aku butuh restu darimu. Sebab aku ingin melanjutkan hidup dengannya. Aku membutuhkan doa seorang ibu....

Kamu percaya kan?

Katanya, sesuatu yang sulit didapatkan akan jauh lebih dijaga nantinya. Aku percaya itu. Mungkin Tuhan ingin tahu seberapa dalam cintaku. Seberapa kuat tekadmu. Seberapa besar iman yang melekat di antara kau dan aku. Barangkali, Tuhan menguji kadar keseriusan manusia lewat sesuatu yang menyakitkan. Tapi aku masih percaya, bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Kamu juga percaya kan?

Thursday, January 9, 2014

Kembali Asing Setelah Mati Suri


Ah, aku masih bisa merasakan betapa sakitnya tulang rusukku. Betapa hinanya aku malam tadi. Betapa hancurnya aku dibuat seperti mati suri.

Mungkin, bukan hanya aku yang terluka. Kamu juga. Tapi kalau luka bisa membuat semuamu mendewasa, aku bahkan siap ditikam berkali-kali dengan hujatan. Sebab terkadang, kita memang perlu diperingatkan dengan keras agar kembali sadar ... boleh jadi, Tuhan menguji seberapa kuat aku bertahan melawan amarahku sendiri. Atau seberapa kuat keinginan untuk bangkit kembali. Sebab aku begitu percaya, setelah air mata pasti Tuhan selipkan senyum yang lebih berbahagia.


Aku masih bisa mengingatnya, pesan singkat yang sengaja kusimpan rapi. Yang kali itu kujadikan motivasi ketika aku mulai lelah, mulai marah, mulai merasakan sesuatu menyesak di dada.

Kamu berhak memilih dan memutuskan siapa yang pantas bersanding denganmu. Tapi ingat, ketika sudah kauputuskan, jangan pernah menyesal apalagi meninggalkannya jika ia punya salah dan kurang ... genapi dia, lengkapi dia, dan perbaikilah bersamanya.

Tuesday, December 31, 2013

Cermin(ku)



Boleh, aku bercerita sebelum kututup dengan catatan akhir tahun? Sedikit saja, soal hatiku yang terus saja mengeja kata rindu padahal setiap hari bertemu. Apa sebenarnya yang memikat darimu? Mungkin, aku tak butuh sesuatu yang membuatku terpikat, sebab berkali-kali kulihat, kulekati lakumu, aku selalu saja bertanya, apa seperti itu diriku?

Pernah aku tercenung sendiri, aku seperti penonton yang menunggu-nunggu tirai teateryang masih tertutup itu dibuka dan menyaksikan apa yang kunanti-nanti. Drama dengan ending yang memukau.

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku membayangkan ada seseorang yang membawaku keliling Kota Yogyakarta. Sederhana saja, aku hanya ingin memutarinya bersama entah siapa. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu....

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku menginginkan ada seseorang yang mengajakku mencumbu alam. Menciumi embun yang jatuh membasahi dedaunan, memeluk udara dalam-dalam, merasakan betapa nikmat Tuhan begitu menyuguhkan ketenangan. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu....

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku mendambakan seseorang yang memberitahuku betapa dunia nyata begitu nikmat untuk kusantapi bersamanya. Bukan aku yang melulu pada maya. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu....

Dulu, ah, tidak, sering kali aku bertanya. Apa aku tak mau mencicipi rasanya menjadi wanita yang begitu takut kehilangan orang yang ia cintai? Apa betul, aku tak tertarik menjadi wanita yang selalu ingin tahu keadaan seseorang yang penting baginya? Apa hanya akan terus menjadi wanita yang acuh-tak-acuh pada cinta hanya sebab begitu mudah baginya menunjuk yang baru. Tapi yang lebih membuatku takut dan menuliskan satu tanda tanya besar : Apa tidak ada seseorang yang bisa membuatku merasa bergantung padanya, membutuhkan bantuannya untuk menelan rindu bersama, atau mengeja lelah lalu merebah di bahunya. Apa tak ada yang bisa membuatku merasa harus menjadi wanita seperti pada umumnya, bukan yang bisa melakukan segalanya dengan dirinya sendiri. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu....

Dulu, ah, tidak, sering kali aku berdoa menemui sosok seperti ayah dalam diri seseorang. Seseorang yang akan menggantikan peran ayah nantinya. Seseorang yang layak kuhormati, kuikuti jejaknya, kurapalkan doa-doa untuknya. Seseorang yang bisa menjadi siapapun dalam waktu apapun. Bukankah pasangan yang baik adalah yang bisa menjadi sahabat, guru, kekasih, dan bisa menempatkan diri dalam berbagai situasi. Tapi tak pernah terjadi, sebelummu....

Dulu, ah, tidak, sering kali, aku berkhayal bisa membelah diri. Lalu kupacari diriku sendiri, sebab tak pernah kujumpai jemari yang begitu pas kecuali jariku sendiri. Bukankah tak ada yang bisa memahami kita, kecuali kita sendiri? Bukankah sebaik-baik pendengar adalah telingamu sendiri? Jadi, aku ingin membersamai diriku sendiri. Aku yang begitu sulit dipahami, aku yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri, aku yang meletakkan harga diri di tingkat paling tinggi, aku yang katanya wanita tapi lebih sering mengisyaratkan hati dengan logika bukan perasaan, dan segalaku yang tak kan pernah bisa begitu mudah didalami. Jadi, kupikir, begitu mengasyikkan jika aku membersamai diriku sendiri. Kupikir tak kan pernah terjadi, sebelummu....


Menjadi seperti anak kecil itu mengasyikkan, bukan?

Mungkin, setiap tulisankuyang katanyamenjadi satu celah inspirasi bagi para pembaca setiaku, membuat sebagian orang berpikir ini-itu soal diriku. Tapi denganmu, seperti yang pernah kukatakan sebelum hari ini ... biarkan aku menjadi diriku yang lain, yang hanya bisa kuubah saat sedang bersamamu. Aku yang terlihat angkuh, tapi ternyata begitu rapuh. Pola pikir yang bijak tapi ternyata begitu sulit memecahkan masalahnya sendiri. Langkahku yang begitu kokoh, tapi ternyata jejaknya begitu lelah. Senyum yang berjejer rapi tapi ternyata menawan tetes air mata di pipi. Semua itu, aku yakin terkadang kamu pun merasakannya. Dan jadilah apa yang kau mau di hadapku sebab aku tahu betapa lelahnya menjaga figurmu. Bersamaku, kamu bebas menjadi semaumu.

Setuju?




311213~Coba tanyakan lagi pada dirimu, Sayang. Mengapa aku begitu mudah memaklumi lakumu? Sebab aku pernah berada di posisimu. Sebab aku pernah menjadi semuamu. Aku pernah.

Wednesday, December 11, 2013

Kau; Jadilah Teman Hidupku


Apa berlebihan bila aku merindumu setiap waktu?


Baru sehari aku tanpamu, sudah merasa jadi orang yang paling awam soalmu. Jujur saja, aku justru takut jadi pecandumu. Aku begitu takut tak bersinggungan dengan pelukmu. Aku tahu, Aku betul-betu tahu sedalam apa aku jatuh di sudut hatimu. Di sana, aku tak bisa bertahan sendirian. Aku yang tiba-tiba jadi begitu lemah tanpa genggammu, aku yang jadi lelah bila melangkah tak di jejakmu.


Ternyata ada rindu yang datangnya setiap hari; ingin denganmu setiap waktu. Lalu dengan cara apa lagi melunasinya, sebab pun kuhabiskan seharian bersamamu tak juga membuat rindunya luruh dalam ruang yang sama. Jadi, bagaimana mungkin aku bisa berjarak, sedang renjana mengutuk purnama bila tak terang di rengkuhku. Ah, lalu bagaimana caranya aku mengisi sepi saat diam-diam kau menggeser langkahmu menjauhiku. Untuk alasan apapun, Sayang ... jangan menoleh ke arah manapun kecuali kembali menatapku.

www.fasihrr.tumblr.com

Tuesday, November 5, 2013

Sekantong Rindu Terakhir

Ada sekantong rindu yang kumasukkan dalam lemari. Kusimpan di sudut paling dalam. Tapi masih juga mengintip dari celah-celah gagang pintu. Ternyata rindu itu bukan sebab kamu jauh dariku, Sayang. Tapi karena aku yang terbiasa denganmu. Lalu tiba-tiba aku mesti melakukan segalanya sendiri. Ah, padahal sebelum datang tatapmu di wajahku, aku sudah melakukan semuanya sendiri. Jadi, kamu yang membuatku tak bisa mandiri ... merasa membutuhkan seseorang terkadang menyakitkan. Sebab ada ketakutan yang menyelip kalau-kalau aku tak bisa lagi di rengkuhmu. Aku tak bisa lagi memanggilmu. Aku tak bisa lagi memintamu datang memelukku.

Ada sekantong rindu yang kuambil dari lemari. Biar menemani sepi saat kamu pergi. Tapi, toh, saat kamu tak berjarak denganku, aku tetap merasakan rindunya mengitari hati. Bisa begitu ya?



Sekantong rindu itu kusebar di langit-langit kamar. Biar saat aku tertidur, rindu itu mengajakku menujumu. Lalu kubagikan serpihannya pada angin, biar tertiup sampai ke relungmu. Kutitipkan pada bintang, lalu tunjuklah dengan jemarimu. Ada rinduku tergantung di sana. Masih ingat, ada malam yang begitu indah saat hati kita belum membuka dirinya? Di sana aku hanya bisa memandangi lekatmu dalam pekat dan matamu menjawab sedikit tanda tanya. Intuisi yang kukira sekejap mata. Ah, bisa kau ingat-ingat lagi yang itu? Yang tak bisa kujejerkan dengan kata. Kalau suatu saat, rasa cintamu hilang, Sayang ... ingat-ingat lagi bagaimana cinta itu datang. Jangan biarkan siapapun menghapusnya, menghasutnya sampai tumbang. Jangan biarkan satu pun alasan jadi sebab perpisahan.

Kali ini, sekantong rindu kutukar dengan doa. Sebab aku tak ingin rindu ini nantinya tak berasal dari dua arah. Sebab aku ingin rindu ini yang terakhir meresapi jemariku. Sekantong rindu terakhir dariku untukmu. Sebab aku mau akulah orangnya. Sejatimu.



051113~Soal jodoh, siapa yang bisa menduga-duga? Tapi kalau jodoh bisa diperjuangkan, saya perjuangkan kamu saja. Cukup.

Thursday, October 10, 2013

Bisakah Kau Kembalikan Hatiku?


Dan aku tak sanggup menyelesaikan ini sendirian. Perasaan yang menggantung di sengal napasku. Aku tak tahu caranya menyelesaikan perasaan yang tumbuh begitu cepat. Pun aku tak mampu memeliharanya dengan tanganku sendiri. Bukankah butuh sentuhanmu juga?

Ah, sudahlah!

Wednesday, September 25, 2013

Dan Kau....


Mengubah kebiasaanku yang lebih tenang tanpa siapapun, jadi kelimpungan saat tak ada kamu di sekitarnya.

Meski tak kubuka dengan suara, tak kutulis dengan kalimat tanya untuk tahu jawabannya. Semestinya tahu dengan sendirinya. Apa kau buta? Tak bisa membaca peta yang susah payah kugambari sendiri. Atau kau pura-pura? Tak mau meraba jejak menuju hatiku yang mulai meluka sendirinya.


Ah, kini galau jadi teman sehari-hari. Padahal kau tak peduli sama sekali. Beritahu aku caranya membuatmu merindukan aku setiap waktu. Lalu kaugeser ia dari lini waktumu. Masa lalu yang tak perlu kauharap kembali ke pelukmu. Tak juga sadarkah dirimu telah mengusik hatiku; Mengubahnya jadi sembilu.


Lalu setiap menit sampai habis malam kusambangi ponselku hanya untuk melihat apa kau menghubungiku. Akan kutunggu kau ajak aku bicara meski tanpa tatap muka, sebelum merjan pecah dini hari. Apa kau tahu bagaimana rasa sesak saat harus menahan diri untuk tidak merindukan seseorang yang (bukan) siapa-siapaku ...

Tuesday, July 2, 2013

Surat Izin Jatuh Cinta

Aku bagai trobadur yang jadi pecandu lagu asmara. Ah, kamu menyebar serbuk nebula dalam titik khayal tertinggi. Aku benar-benar dalam batas ekuilibrium. Rasanya ingin menghentikan jarum waktu. Berlama-lama dalam euforia, merasakan febulasi yang berangsur-angsur menjadi enigma.


Mendesak Tuhan segera memberitahu rencana terhebatnya, sebenarnya aku ini teruntuk siapa?

Indolensi mengejawantah jadi dogma yang tak bisa diganggu gugat. Angan-angan yang katanya wajib menjadi agunan di masa depan. Tentu saja, hati tak sudi sekadar tetirah dalam kuasi. Ingin abid di dalamnya. Kau dan aku yang selamanya bukan lagi sebuah wacana.

Begitu seharusnya kita saling memperjuangkan ikatan lewat akad yang tak berkesudahan. Hidup berkelanjutan dalam pendopo sampai lanjut usia; sampai habis masa jabatan. Lalu mengisahkan fragmen cerita cinta pada anak cucu kita. Sebagai patrinomium yang tak ternilai harganya.


Aku bukan hanya sekadar berimaji. Melantur kesana-kemari. Membicarakan jemari yang saling berpautan saling mengisi. Padahal nyatanya aku masih juga sendiri. Siapa bilang aku menutup hati? Aku hanya sedang mawas diri. Berjaga-jaga jangan sampai melanggar inhibisi.

Hanya tak ada yang sanggup mendengar lirihnya doaku yang berharap kau memang terlahir untukku. Pun aku tercipta untuk melengkapi rusukmu.