Ia kejam. Bila kau tak benar-benar paham cara mengingatinya.
Pada daun yang gugur di musim hujan, ada jalan memutar untuk lebih dekat menuju rumah singgah. Agar terlindung dari gigil gemetar sebab tetesnya makin deras mengguyur mata kaki. Kau tahu mengapa aku lebih memilih melaju sampai menemui rumah singgah berikutnya. Karena aku tak pernah punya waktu menoleh ke arahmu, masa yang telah kutinggali.
Pada mata sendu yang mengaku sudah berlayar jauh dari waktu, aku melihat diri dalam diri yang lain. Tersenyum, tapi air matanya bercerita. Mengisah soal hidup yang angker pada suatu masa, di langit dari jari telunjuk pada senja dalam jingganya. Tapi menikmati malam jadi pilihan untuk menghitung bintang yang berjejer dengan kemungkinan-kemungkinan untuk bersegera menjadi pagi. Kau tahu mengapa aku lebih suka menyuguhkan tatap tegas tanpa pengulangan. Ia jelas. Ia tak pernah membiarkan bola matanya mengubrak-abrik air mata yang telah membeku. Ia tak pernah patuh pada semu. Ia tak pernah suka merindu.
Padanya, diriku yang sudah jatuh tempo. Aku tak pernah menggali memori untuk kukhidmati kembali masaku yang telah habis. Karena ia begitu suci. Bukan untuk kutawar berkali-kali. Bukan untuk kurangkum menjadi suatu kisah lama yang terungkap begitu saja. Biar menguap, menjadi asap dari kayu-kayu pada batang yang rapuh, tumbang tahunan lalu. Kau tahu mengapa aku memperbarui mula dari setiap kata. Memperbaiki akhir dari setiap paragraf.
![]() |
| www.fasihrdn.tumblr.com |
Padamu, aku tak suka. Kau tahu mengapa.

