Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label surat cinta. Show all posts
Showing posts with label surat cinta. Show all posts

Sunday, February 1, 2015

Satu Tahun yang Lalu, Boleh Kutulis (lagi) Surat Untukmu?



Boleh kutulis surat (lagi) untukmu? Kiranya kau masih bisa mengingat ada apa satu tahun yang lalu. Tepat di tanggal dan bulan yang sama, aku menulis surat yang syarat akan luka sebab cinta. Padamu, masa lalu, kukirimkan kembali hari ini.

Meski masih kutunggui Tuhan mengabul doaku untuk bisa berjabat denganmu, saat ini aku tak benar-benar ingin menikam masa lalu kita. Iya, kita. Sebab meski kau bersikukuh tak pernah bersangkutan denganku, nyatanya kita tetap terhubung pada sehelai benang merah. Lalu Tuhan merekam segala kejadian. Kalau bisa kuminta satu saja adegan dari kita di beda ruang, maka kamu tak kan bisa mengelaknya. Kita adalah satu bagian dari ruang yang terpisah kala itu, saat lukaku terlalu pantas untuk dijadikan bahan tertawaan.

www.fasihrdn.tumblr.com | path: fasihradiana
"…maka jika ia bukan pemberani, jadilah kamu satria," kataku tempo hari. Tapi nyatanya sulit sekali rasanya melupa. Berkali-kali kucoba untuk memaafkan tapi aku tak kunjung juga berhasil menjadi "Ksatria".

Monday, October 13, 2014

Ajari Aku Membahagiakan Kita


Salah.
Kalau aku mengira dengan cinta, kau akan begitu saja percaya.
Lalu berbahagia.

Salah.
Kalau aku berpikir dengan setiaku, kau akan begitu saja percaya.
Lalu berbahagia.

Salah.
Kalau aku merasa dengan kesalahan masa silam, kau tak bisa begitu saja kupercaya.
Lalu tak pernah berbahagia.

more quote www.fasihrdn.tumblr.com
Sudah sejauh ini, Sayang. Tapi ragu masih kerap lalu-lalang di antara kau dan aku. Sebab yang itu-itu lagi: masa lalumu, atau lakuku yang bagimu ternyata pilu. Aku lupa, kapan terakhir aku merajuk. Ingatkah kapan terakhir kali kau tiba-tiba diam dan aku pulang dengan kita yang terlibat dalam prasangka. Kita yang menyimpan amarah. Kita yang menyembunyikan kecemburuan, atau kita yang tetiba jadi saling mengasing.

Tak bahagiakah denganku, Sayang?

Tuesday, July 1, 2014

Surat Terbuka untuk Calon Presiden Rumah Tangga(ku)


Sungguhlah aku tak patut menuliskan suara hati ini teruntuk kau, yang belum kuketahui benar atau tidaknya akan menjadi masaku di waktu yang akan datang. Tapi izinkan aku menulis surat ini teruntuk engkau, sebagai seseorang yang kuperjuangkan, kuusahakan, dan kumasukkan dalam barisan doa di setiap malam nyaris menjadi pagi.

Bukan aku meragukanmu, Sayang. Ini hanya menyoal waktu untuk percaya pada apa yang pernah kau jadikan dusta. Mahluk berinisial "adam" yang konon katanya memang sulit sekali bersetia. Atau aku saja yang terlalu takut untuk seutuhnya kembali percaya.

Bukan aku mencurigaimu setiap waktu, Sayang. Ini hanya bagian dari ketakutanku atas memoarmu yang barangkali, masih kerap lalu-lalang di pikiranmu, di sengal napasmu, di jejakmu, di sudut hatimu yang tak kuketahui. Sungguh, aku tak bermaksud untuk mencemburui masamu yang telah lalu. Ini hanya perkara gelisah yang mestinya kau peluk erat-erat agar tak berlama-lama tunduk pada prasangka.

Saturday, June 28, 2014

Berhenti Mencari Cinta



Aku mencari-cari cinta, di tempat yang sama, di waktu yang berbeda. Padamu jua aku kembali, pun aku masih meragukan kesungguhanmu. Tapi aku selalu berusaha menyelami matamu. Adakah dusta masih bergelayutan di pelupuknya, Sayang?

Aku mencari-cari diriku, di sana. Di tempat yang kau jadikan bahan untuk berdusta. Di waktu yang tidak tepat, barangkali, aku masih begitu mencintaimu, Sayang. Atau enggan mengucap selamat tinggal, meski begitu ingin. Sungguh, aku tak bisa memalingkan diri dari keganjilanmu yang tak juga seutuhnya menggenapiku. Berjanjilah, kali ini tak akan pernah terjadi perpisahan meski wanita yang pernah kauletakkan di pelipismu itu kembali kepadamu. Atau lebih baik kita sudahi saja, sebelum kau lagi-lagi menjalin di belakangku. Sebelum aku menemui kamu yang mengulang perkara itu. Soal cinta lama yang bisa saja bersemi kembali suatu saat nanti. Apa betul kau tak akan lagi menoleh ke belakang?

more quote www.fasihrr.tumblr.com or follow me @fasihrdn

Saturday, May 3, 2014

Celah dalam Lelah; Aku Lengah


Apa kau benar-benar tak mau aku betah berlama-lama dalam tatapmu? Sedang saat ini aku gamang kalau dalam lemah ada yang mampu menjagaku dari lejarnya mencintaimu....

Bertanyalah mengapa aku masih bersetia pada luka yang kerap menjadi kepayahanku dalam bersabar. Sedang sejauh hari kau masih juga menganggapku robot yang tak punya kesempatan untuk rehat. Nyatanya kamu asyik sekali menjejaki sakitku, kamu puas aku menangisimu, kamu menang, Sayang. Padahal aku tak pernah setuju kauajaki aku bermain-main dalam hatiku.

Seperti dua dadu yang kaulempar, jemarimu mengantarku pada sembilu. Aku selalu bilang, aku mampu. Aku selalu yakinkan diriku, aku sanggup meski rangup. Tapi rupanya kau semakin semangat menyayat-nyayat setiap ayat yang kulumat demi seikat kuat, malah kau minum lagi setengguk anggur; sengaja mabuk biar aku mengamuk.

Bukankah aku hanya akan menangis lagi? Lalu tersenyum setiap bilangan jatuh kembali pada titik nol. Seperti biasa saja, seolah aku tak mengapa, serupa kamu yang tak juga mau tahu bahwa aku tidak sedang terserang flu, aku bukan sedang terkena virus seperti katamu, ini bekas tangisku satu detik lalu!

Wednesday, April 16, 2014

(Menuju) Tujuh Belas; Membilang Ulang atau Berpulang



17.
Jadi angka yang paling dinanti tuan dan putri. Mereka yang katanya disebut dewasa di angka tujuh belas. Katanya, sudah layak menjadi alamas. Tapi mengapa mesti tujuh belas?

17.
Ingatkah ada pertemuan yang katanya bukan sebuah kebetulan pada Selasa malam di bulan ke sembilan? Bisa kurunut kembali, kronologi jejak remang di halaman luas salah satu gedung universitas itu bukanlah suatu permintaan atas kedatangan satu sama lain, tetapi menjadi waktu yang pas untuk awal mula sederet kejadian.

17.
Aku yang langguk soal hati dalam garis stabil, kukuh kali bilang tak akan jatuh dalam cinta. Kontras dengan lelaki yang samar parasnya dibias bulan, sedang mencari-cari pintu keluar dari masanya yang telah lalu. Kau yang barangkali kadung duka bicara hubungan dan aku yang teguh pada kesetimbangan. Perasaan bukan lagi perkara sepele ketika Tuhan membuka jalan, membatasi perkiraan, atau menggeser angan jadi bungkus kebimbangan. Bulan yang merayap diam-diam, seketika jadi bising hujan.

17.
Sehabis malam itu pagiku direnggut kelut-kemelut. Tujuh belas jadi jejeran angka yang selalu ingin kutemui di tempat serupa, pada waktu yang sama, dalam lingkar senada. Agar bisa kuambil kembali yang dirampas paksa, segala yang baik-baik saja sudah tak lagi ada di sana. Mengapa kau tega menukar teduhku dengan gaduhmu?

Wednesday, February 12, 2014

Hari Ke-12: Peringatan Keras Untukmu, Rindu!


Aku tak punya kuasa atas rasa rindu. Allah, peluk aku untuk satu kerinduan yang bukan milikku....

Peringatan keras untukmu, jangan lagi muncul untuk mengganggu....
Kembalilah pada penciptamu, Rindu. Kumohon jangan berkeliaran di hatiku.

Monday, February 3, 2014

Hari Ke-4: Bayang



Aku benci membayangkannya
cinta yang dibicarakan di ruang bekas ucapanku

Aku benci membayangkannya
rindu yang kini jadi peluk di lingkar pinggangnya

Aku benci membayangkannya
helai rambutmu yang diusap-usap jemarinya

Aku benci membayangkannya
tempat tidur yang kaubagi dengannya

Sunday, February 2, 2014

Hari Ke-3: Untukmu, Harapan Kosong


Masih juga kutunggu kamu pada petang kali ini. Membawa kabar baik dari ujung gagang telepon. Atau kutunggu di balik tirai kalau-kalau kamu datang mengetuk pintu. Tapi tak kunjung tiba. Di mana gerangan?

Aku berjalan mondar-mandir, mencari seribu kemungkinan mengapa kamu belum juga sampai. Mungkin jalanan macet, mungkin hujan deras membuatmu harus lebih hati-hati, atau mungkin kamu sedang bertanya-tanya pada orang sekitar yang mana rumahku. Ah, iya. Kamu pasti sudah hampir tiba.