Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label fasih radiana quote. Show all posts
Showing posts with label fasih radiana quote. Show all posts

Monday, September 14, 2015

Menjinjing Takdir



Harusnya kuyakinkan diri seribu kali lebih aktif bahwa Kau telah mengemas takdir dalam lauh mahfuzh. Sempurna. Tak punya cacat di satu tanda baca pun. Aku saja yang mengabai. Aku saja yang tak pandai meneliti ada abjad apa yang kurang titik dan koma. Malah mengurusi hal-hal yang tidak patut dikunjungi berkali-kali. Harusnya aku jauh lebih paham, sebab dua puluh tahunku tak sesingkat kurun waktumu. Siapapun itu.

Dipersiapkan lebih hebat tapi malah berontak. Katanya tak kuat. Katanya tak ingin, tak sanggup, tak mau, tak ... tak ... tak ... terlalu bising dengan kata tidak.

Lalu manusia macam apa yang tidak menuruti titah kitabnya. Kalau Allah mengikuti prasangka hamba-Nya, tak ingatkah nuranimu menginginkan sesuatu seberat apa tanggungannya dunia-akhirat? Katamu tempo hari, sejak masa masih dalam periode madya. Kau mengungguli waktu lebih dini. Menggauli hari lebih malam sampai habis datang pagi. Lalu, kau pikir bisa seenaknya sendiri? Kau kira tak ada uji materi? Kau anggap segala mudah begitu saja? Padahal nyata-nyata di depan sana lebih besar perkara akan menyapa, mengajakmu bicara, lalu mulai menampar-nampar sampai habis daya diganti air mata.

Tuesday, November 4, 2014

Bila Kau Bukan Takdirku


Dan sejauh ini aku bilang aku mencintaimu. Lalu dengan itu kau mengaku mencintai seluruhku. Sejatikah?

Ada ruang dalam rongga dadaku, ia bilang kau tidak.
Ada lubang dalam embus napasku, ia bilang kau tidak.
Ada belulang dalam tubuhku, ia pun bilang kau tidak.

Dan sejauh ini kuucap rindu berkali-kali, lalu dengan itu kau membubuh rindu ke segala pintu. Abadikah?

Masih ada ragu, kataku.
Masih juga menyimpan pilu, batinku.

Friday, June 27, 2014

Pada Masa yang Lalu....



Tolong, berhenti mengikuti jejakku. Aku lelah menjadi bayangmu. Kau tahu, aku bukan pengingat memoar. Aku tak mungkin tinggal di situ, dalam sajak kenangan. Atau rintik hujan yang jadi nyanyian di pinggir kota.

Tolong, berhenti mengikuti jejakku. Kau tak pernah tahu dalamnya luka yang kurawat sendirian ini, melibatkan deras air mata, meski masih dipenuhi cinta. Aku bukan robot, Sayang. Ada bagian terkecil dari hati yang berisik berbisik, ia rapuh, ia begitu lemah, ia nyaris mati setelah dihancurkan berkali-kali.

Tolong, berhenti mengikuti jejakku. Berhentilah di sana, di tempat yang tak kuketahui. Aku enggan menemukan wajahmu menggurat lara di masaku yang akan datang. Padamu, masa yang telah lalu. Berhentilah mengejarku. Biarkan aku pergi, biarkan aku bepergian dari semua kenangan; darimu.

Monday, May 19, 2014

Wanita Idaman(mu)


more quote www.fasihrr.tumblr.com
Aku tak punya daya lagi, semakin aku ingin melarikan diri semakin kau menyeretku kembali. Tapi aku lelah dianggap sampah. Meski nyatanya aku tetap saja berpegang pasrah kalau-kalau kau beracah-acah. Hhhh, aku bosan mendengar lenguh yang masih juga penuh keluh. Napas panjang yang lekat dengan gamang, gamblang kali meski kita antarruang; jauh tak tersentuh.

Katanya, kau sedang asyik bercumbu di tempat lain dengan seseorang berinisial wanita idaman(mu).

Saturday, May 17, 2014

Teruntuk Kamu, Lelaki Terhebat


Kalau selarik doa adalah wujud cinta, barangkali kata tak lagi ada gunanya. Sebab ia hanya seperti bunga yang dirangkai untuk menunggu kapan waktunya layu. Dan aku hanya dalam anganmu, dalam kalimatmu, dalam aksara-aksara yang sulit sekali kueja; aku hanya pengobat pilu. Bukan yang namanya kausebut dalam doa.

Sadari aku tak pernah benar-benar berada di hatimu. Malam ini aku membisu dan segala sesuatu yang mengarah padaku bukanlah perkara baru. Mata yang tak pernah punya waktu untuk berdusta, tak ada cinta dalam tatapnya. Mengapa tak kaukatakan saja sejak dulu, bahwa aku dan kamu hanyalah dua bahu yang saling berungkuran. Dekat tapi tak saling melihat. Dekap tapi tak pernah mengerat.

Pernah sesekali kautanyakan padaku, alasan aku tetap mendoamu padahal aku tahu betul rayumu hanyalah palsu. Bukan aku yang memaksa betah berlama-lama hanya untuk satu harap agar kau tetap dalam bahagia. Bukan pula aku yang meminta untuk tak bergeser, meski nyatanya gerak dalam air mata terus saja melaju cepat. Meneteskan perihnya berbicara tanpa telingamu, menjatuhkan sakitnya mendengar tanpa ucapmu.

more quote www.fasihrr.tumblr.com

Sunday, December 22, 2013

"Broken Home" Bukan Alasan Mengabaikan Tuhan


Ada yang bilang menyimpang dari aturan adalah tuntutan kehidupan. Hidup yang katanya kejam, tidak menempatkan dirinya pada yang namanya keadilan. Bukankah memang begitu cara Tuhan menguji kesabaran dalam penantian?

“Ayah Ibuku sudah lama bercerai, aku hanya dihidupi oleh seorang Ibu yang harus mondar-mandir banting tulang sendirian.”

Alasan pertama membenci kehidupan. Membenci semua pria sebab ibunya ditinggalkan. Buat apa lagi lelaki menggenapi? Toh, nyatanya Ibuku bisa hidup sendiri.

“Ibuku berselingkuh sebab katanya Ayah tak bisa membuatnya bahagia.”

Alasan mengapa aku mempermainkan keadaan. Memainkan peran untuk menggandeng jemari yang berbeda setiap hari. Aku bisa merengek kesana-kemari sesuka hati. Meminta ini-itu pada lelaki mana pun. Bukankah Ibu adalah panutan? Bukankah begitu yang Ibu ajarkan?

“Ayahku pemabuk berat, setiap hari memukuli Ibuku. Lebam di sekujur tubuhku pun jadi saksi bisu.”

Alasan sebatang rokok adalah penghilang pilu. Ada rasa yang melegakan di setiap hisapannya. Menghilangkan pekat yang membayangi setiap pukulan yang selalu berdentam-dentam di telingaku. Sabu-sabu jadi pilihan kedua, aku bisa menghirup ketenangan di balik kegetiran. Aku bisa merasakan kehidupan yang bebas tanpa masalah yang selalu saja jadi hidangan.

“Ayah dan Ibuku hanya seorang pemulung. Bisa apa untuk mencukupi kebutuhanku? Kami tinggal di gubuk kecil yang terbuat dari triplek, aku bahkan tak bisa meluruskan kakiku sendiri.”