Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Tuesday, November 5, 2013

Sekantong Rindu Terakhir

Ada sekantong rindu yang kumasukkan dalam lemari. Kusimpan di sudut paling dalam. Tapi masih juga mengintip dari celah-celah gagang pintu. Ternyata rindu itu bukan sebab kamu jauh dariku, Sayang. Tapi karena aku yang terbiasa denganmu. Lalu tiba-tiba aku mesti melakukan segalanya sendiri. Ah, padahal sebelum datang tatapmu di wajahku, aku sudah melakukan semuanya sendiri. Jadi, kamu yang membuatku tak bisa mandiri ... merasa membutuhkan seseorang terkadang menyakitkan. Sebab ada ketakutan yang menyelip kalau-kalau aku tak bisa lagi di rengkuhmu. Aku tak bisa lagi memanggilmu. Aku tak bisa lagi memintamu datang memelukku.

Ada sekantong rindu yang kuambil dari lemari. Biar menemani sepi saat kamu pergi. Tapi, toh, saat kamu tak berjarak denganku, aku tetap merasakan rindunya mengitari hati. Bisa begitu ya?



Sekantong rindu itu kusebar di langit-langit kamar. Biar saat aku tertidur, rindu itu mengajakku menujumu. Lalu kubagikan serpihannya pada angin, biar tertiup sampai ke relungmu. Kutitipkan pada bintang, lalu tunjuklah dengan jemarimu. Ada rinduku tergantung di sana. Masih ingat, ada malam yang begitu indah saat hati kita belum membuka dirinya? Di sana aku hanya bisa memandangi lekatmu dalam pekat dan matamu menjawab sedikit tanda tanya. Intuisi yang kukira sekejap mata. Ah, bisa kau ingat-ingat lagi yang itu? Yang tak bisa kujejerkan dengan kata. Kalau suatu saat, rasa cintamu hilang, Sayang ... ingat-ingat lagi bagaimana cinta itu datang. Jangan biarkan siapapun menghapusnya, menghasutnya sampai tumbang. Jangan biarkan satu pun alasan jadi sebab perpisahan.

Kali ini, sekantong rindu kutukar dengan doa. Sebab aku tak ingin rindu ini nantinya tak berasal dari dua arah. Sebab aku ingin rindu ini yang terakhir meresapi jemariku. Sekantong rindu terakhir dariku untukmu. Sebab aku mau akulah orangnya. Sejatimu.



051113~Soal jodoh, siapa yang bisa menduga-duga? Tapi kalau jodoh bisa diperjuangkan, saya perjuangkan kamu saja. Cukup.

5 komentar:

Dwi Nurnaningsih said...

Selalu indah dibaca

Suhendri Mr said...

Menarik untuk di baca. Setiap katanya yang tersimpan makna, baik tersurat ataupun tersirat bikin gatel.. (Garuk-garuk kepala) (^_^)

Arrizal Faizin said...

jagalah dia dalam setiap doa dan sujud mu, agar hati mu tidak tersesat.

N-N said...

kunjungan perdana... salam kenal ya ce' ^_^

Arief W.S said...

Gemuruh guntur tak sehebat gema getaranmu dalam relung hatiku.
Kilatan halilintar tak secepat panah asmaramu yang menusuk kalbuku.
Riuhnya gemericik deras air hujan, tak seramai dirimu yang selalu mewarnai hariku.
Dalam gelapnya terjangan badai yang selalu melanda keseharianku, bayang dirimu seolah membuatnya terang.
Untuk itu aku berharap, agar doa -doaku menuntun rasa rinduku agar menemanimu bahagia di alam sana hingga suatu massa, dimana aku juga akan menyusulmu menapaki tangga rindu yang tak hentinya aku susun dalam doa, menemanimu selamanya dalam panji kesetiaan.

@_@

Post a Comment