Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Saturday, September 22, 2012

Layaknya Kau dan Aku; Kita

Aku baru tahu, saking sakitnya membuat semua kata hilang tak berbayang. Seperti terbuang. Seluruhnya aku kesepian. Tapi sumpah, aku bukan binatang jalang yang ingin minta perhatian.

Biar Tuhan nanti yang membenarkan apa yang menyerupai kesalahan. Itu sebab mengapa Tuhan selalu saja kulibatkan dalam setiap perjalanan. Mengapa harus terselip nama Tuhan di sela mimpi yang masih menjadi selarik kesedihan.

Follow me @fasihrdn


Apa yang tersendat di kerongkongan selalu saja ingin kumuntahkan. Jangan bertanya mengapa, sebab kamu pasti lebih paham kenapa. Aku bosan. Mendengar namamu, menemukan tatap matamu, merasakan gemetar di dadamu... Lupakan! Aku bukan yang akan menerima bualan. Aku bosan.

Lalu di mana kamu sekarang? Masih saja selalu jadi yang ingin kutemui meski lebih memilih untuk diam sendiri. Aku hanya mau menikmati yang hampir menepi. Aku bukan perempuan bodoh, Mas. Bukan menyiksa diri untuk membenci. Apalagi melupakan yang menyisakan kenangan.

Kau meninggalkan bekas keping dengan luka yang melengking. Di mana lagi kucari tebing, sedang yang tersisa tinggal pohon-pohon kering. Dan rumput tampak menguning. Di mana lagi harus kusembunyikan sisa-sisa abjad yang nyaring? Lalu dengan apa lagi aku berlindung membendung tangis yang tak juga tergulung?

Aku melihat serbuk emas melingkar bulat pekat. Rupanya bulan kembali menari-nari mengisi langit yang mulai sengit. Kau layaknya permukaan bulan. Sering beriring pergi lalu muncul lagi. Mengulum senyum beruntun, hanya sekadar permulaan segelintir tangis tanpa akhiran.

Lalu aku layaknya permukaan bulan. Hanya akan benderang saat matahari membias cahaya. Kembali gelap saat surya tak berada pada tempatnya, menyemburatkan silaunya yang menjadi jingga di permukaan wajahku. 

Kita layaknya permukaan bulan. Berjalan mengikuti alunan. Yang diam-diam merayap saat malam mulai menceritakan dongeng sebelum tidur. Seperti aku yang menyuratkan cinta dengan kiasan. Lalu berakhir jariku tak menyelip di jarimu, melihat kau di pelaminan bukan menyandingku. Bukan denganku.



220912~Kepada matahari; jangan berhenti menggenapi meski malam mulai kembali menjadi pagi.

4 komentar:

rizqi rizqi mukhlis said...

kok bisa merangkai kata sih??

Radiana, Fasih said...

terbiasa:)

rizqi rizqi mukhlis said...

suka baca buku ya?
ato cuma lyat tulisan?:}

Radiana, Fasih said...

Baca kamus bahasa indonesia huehehe

Post a Comment