Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label kata romantis. Show all posts
Showing posts with label kata romantis. Show all posts

Tuesday, November 4, 2014

Bila Kau Bukan Takdirku


Dan sejauh ini aku bilang aku mencintaimu. Lalu dengan itu kau mengaku mencintai seluruhku. Sejatikah?

Ada ruang dalam rongga dadaku, ia bilang kau tidak.
Ada lubang dalam embus napasku, ia bilang kau tidak.
Ada belulang dalam tubuhku, ia pun bilang kau tidak.

Dan sejauh ini kuucap rindu berkali-kali, lalu dengan itu kau membubuh rindu ke segala pintu. Abadikah?

Masih ada ragu, kataku.
Masih juga menyimpan pilu, batinku.

Friday, April 18, 2014

Kutulis dalam Doa



Kiranya kau bertanya mengapa selalu kuselipkan kata "doa" dalam baris yang berlapis-lapis?

more quotes www.fasihrr.tumblr.com

Aku tak bisa menemui diri menepi dalam sunyi, kecuali hening menghantarku pada lantunan rindu. Ia berirama merdu, suaranya tak memecah telinga tapi mengaung ke seluruh jiwa. Bahkan jiwamu, barangkali ikut pula merasakannya. Saat aku meminta pekat malam segera memberi damba pada yang haus meronta, mengenang fajar yang lama sudah tak dijumpa. Ada cinta dalam sebingkis doa.

follow me @fasihrdn on twitter

Wednesday, September 25, 2013

Dan Kau....


Mengubah kebiasaanku yang lebih tenang tanpa siapapun, jadi kelimpungan saat tak ada kamu di sekitarnya.

Meski tak kubuka dengan suara, tak kutulis dengan kalimat tanya untuk tahu jawabannya. Semestinya tahu dengan sendirinya. Apa kau buta? Tak bisa membaca peta yang susah payah kugambari sendiri. Atau kau pura-pura? Tak mau meraba jejak menuju hatiku yang mulai meluka sendirinya.


Ah, kini galau jadi teman sehari-hari. Padahal kau tak peduli sama sekali. Beritahu aku caranya membuatmu merindukan aku setiap waktu. Lalu kaugeser ia dari lini waktumu. Masa lalu yang tak perlu kauharap kembali ke pelukmu. Tak juga sadarkah dirimu telah mengusik hatiku; Mengubahnya jadi sembilu.


Lalu setiap menit sampai habis malam kusambangi ponselku hanya untuk melihat apa kau menghubungiku. Akan kutunggu kau ajak aku bicara meski tanpa tatap muka, sebelum merjan pecah dini hari. Apa kau tahu bagaimana rasa sesak saat harus menahan diri untuk tidak merindukan seseorang yang (bukan) siapa-siapaku ...

Sunday, September 22, 2013

Bisakah Kau Menenangkan Hatiku?


Sebab gigiku gemeretak, jantungku dag-dig-dug lebih kencang, dan entah mengapa dadaku jadi begitu sesak....

Ada yang menyelingar dalam bahasa yang salah-kaprah. Aku dengan segala titik-koma dalam paragraf singkat yang terurai begitu panjang, melalui bibir yang terhalang gelap. Aku dengan suara-suara lain yang menyelinap lewat celah telingaku yang lain, atau aku dengan sengal napas yang terdengar begitu nyaring. Kau tahu sudah berapa lama aku tidak merasakan sakit singgah lalu menetap dan lama-lama mengendap? Kau tahu sudah berapa lama aku tidak merasakan apa yang kauberikan padaku saat ini, kau tahu….

Aku bahkan hampir lupa seperti apa rasanya galau, sebelum kaumasuki kehidupanku.

Bisa kau jelaskan, mengapa kau begitu mudah membuat perasaanku kacau? Aku takut rentetan kejadian yang tak terduga justru jadi katastrofe. Pernyataan rasa yang tak selaras dengan bicara. Apa ada cara lain untuk mencintaimu selain dengan menunggu? Kau biarkan jam dinding berdentang sampai fajar menjelang, dan mataku masih juga belum bisa terpejam. Menimang-nimang bayangmu yang terekam dalam benakku. Lalu sebagian hatiku yang lain berpretensi. Agaknya, aku mulai getas, merentik selira seperti semara. Ah, apa iya?

Tuesday, July 2, 2013

Surat Izin Jatuh Cinta

Aku bagai trobadur yang jadi pecandu lagu asmara. Ah, kamu menyebar serbuk nebula dalam titik khayal tertinggi. Aku benar-benar dalam batas ekuilibrium. Rasanya ingin menghentikan jarum waktu. Berlama-lama dalam euforia, merasakan febulasi yang berangsur-angsur menjadi enigma.


Mendesak Tuhan segera memberitahu rencana terhebatnya, sebenarnya aku ini teruntuk siapa?

Indolensi mengejawantah jadi dogma yang tak bisa diganggu gugat. Angan-angan yang katanya wajib menjadi agunan di masa depan. Tentu saja, hati tak sudi sekadar tetirah dalam kuasi. Ingin abid di dalamnya. Kau dan aku yang selamanya bukan lagi sebuah wacana.

Begitu seharusnya kita saling memperjuangkan ikatan lewat akad yang tak berkesudahan. Hidup berkelanjutan dalam pendopo sampai lanjut usia; sampai habis masa jabatan. Lalu mengisahkan fragmen cerita cinta pada anak cucu kita. Sebagai patrinomium yang tak ternilai harganya.


Aku bukan hanya sekadar berimaji. Melantur kesana-kemari. Membicarakan jemari yang saling berpautan saling mengisi. Padahal nyatanya aku masih juga sendiri. Siapa bilang aku menutup hati? Aku hanya sedang mawas diri. Berjaga-jaga jangan sampai melanggar inhibisi.

Hanya tak ada yang sanggup mendengar lirihnya doaku yang berharap kau memang terlahir untukku. Pun aku tercipta untuk melengkapi rusukmu.

Thursday, June 13, 2013

Kunamai Kau dengan Rindu



Satu. Rindu. Cuma itu.

Kamu pun tak perlu tahu seberapa sering aku menyimpan rindu untukmu dan aku mulai gelisah karena itu. Bagiku ini hanya soal waktu yang belum berpihak padaku. Belum saatnya membagi resah berdua denganmu. Tak perlu risaukan aku, ini memang hanya soal rindu.

Satu. Rindu. Dan terus saja begitu.

Seperti barisan kata yang sederhana untuk kamu baca, ini memang hanya sebab aku merindukan apa yang sudah lama kutahan sendirian. Entah salah atau benar, aku tetap saja merasa rindu itu kian hebat berakrobat. Sepertinya jadi ngilu waktu aku hanya bisa berucap rindu pada hatiku tanpa kamu dengar betapa melengkingnya di telingaku.

Apa rindu tak meraung-raung di telingamu?

Satu. Rindu. Aku menunggumu.

Lama-lama jadi siksa. Tapi tetap hanya bisa kutahan mati-matian. Sebab aku enggan mengganggumu. Kecuali menunggu, aku hanya bisa melihatmu dalam bayang-bayang yang kuciptakan sendiri. Siapa bilang menunggu itu membosankan? Menunggumu akan selalu jadi hal yang menyenangkan. Terkadang aku ingin menjemputmu, ah, aku ini siapa?


Monday, May 20, 2013

Cinta, Tunggulah Sebentar Lagi


Cinta. Aku tahu kau sudah bosan melumatnya. Membaca kalimat yang itu-itu saja. Tapi mereka yang membenci cinta hanya ada dua alasan yang masuk akal: Ia tak pernah merasakan cinta, atau ia terlalu sering merasakannya. Dan aku tak perlu tahu kau termasuk yang mana.

Cinta. Kau mungkin sedang jatuh di dalamnya. Mungkin juga baru saja dipatahkan olehnya. Kita tak pernah tahu kapan rasa itu bermula, tak pernah mengira di mana bertemu, dan bagaimana bisa begitu cepat tumbuh dan merangsuk makin dalam. Kita tak pernah diberitahu, kita tak pernah diberi peringatan untuk menamainya cinta.

Cinta. Itukah kamu? Itukah kamu yang kupandangi dari jauh. Itukah kamu yang kudengar padahal kau tak berbicara apa-apa. Itukah kamu yang aku tak tahu seperti apa bentuknya. Itukah kamu yang akan jadi jawaban dari segala tanda tanya?

follow me @fasihrdn

Cinta. Aku tak pernah berani menyebut apa yang menggelitik ini dengan sebutan sakral. Kita hanya bisa merasakan tanpa perlu pernyataan. Rindu yang tentu saja teruntuk kamu, apa perlu kuyakinkan kembali?