Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label kata bijak. Show all posts
Showing posts with label kata bijak. Show all posts

Sunday, February 22, 2015

Hari Ke-22: Celengan Rindu



Ada waktu untuk dipersiapkan merindukanmu. Lalu jatuh tempo pada saat yang tidak kuketahui. Biar selama ini kautabung amarah dan kekecewaan pada setiap yang tak pernah bisa diucapkan, lalu kembali datang sehabis tenang berhasil kautaklukan. Seolah-olah semua baik-baik saja, padahal kamu hanya menabungnya di suatu tempat yang bahkan kamu lupa jalan kembali ke sana. Dan perlahan kamu melupakannya begitu saja. Tapi tidak lagi bisa kali ini. Kamu sudah bersama dengan keterbukaan yang mesti dipeluk erat-erat. Bersamaku, tak ada lagi tabungan yang hilang lalu suatu saat dibuka untuk dihitung kembali. Tidak ada.

Biar tuntas saat ini juga. Biar lunas sekarang juga. Aku mau kita tak menyimpan celengan usang untuk suatu yang bisa dijelaskan secepatnya. Boleh saja kamu bilang, begitulah caramu merenungkan diri. Introvert atau apalah sebutan untuk orang-orang yang tertutup. Tapi tidak. Kamu bukan orang yang semacam itu. Kamu hanya lupa siapa dirimu, seperti apa wujud aslinya, sampai kamu benar-benar lupa bahwa kamu memang sedang melupakan dirimu. Kamu hanya tidak sadar telah dibiasakan diam. Iya, dibiasakan untuk memendam demi tidak terjadinya pertikaian.

Padahal kamu ingin bicara, padahal kamu doyan bercerita, padahal kamu suka sekali tertawa. Jadilah yang seperti itu. Ikuti kata hatimu. Benarkah seperti ini yang kamu inginkan? Benarkah seperti itulah cara yang membuatmu nyaman? Bukankah berkali-kali kujabar bahwa denganku kamu bebas menjadi apapun, menjadi siapapun yang kau mau? Tak perlu kauumbar seperti apa tangis kecilmu, atau lelehan air mata yang tiba-tiba berjatuhan. Tak perlu kaukatakan pada yang lain dengan apa kamu membahasakan kesedihan. Tak juga perlu kautunjukkan sederet tawa yang tak juga bisa berhenti hanya karena lelucon garing. Menabunglah, Sayang. Tapi untuk sesuatu yang bisa membuatmu merasa menjadi manusia yang dimanusiakan. Yang bisa saja salah jalan. Yang bisa juga buta arah. Yang terkadang cemburu berlebihan, yang sering kali ingin diperhatikan.

Tuesday, November 4, 2014

Bila Kau Bukan Takdirku


Dan sejauh ini aku bilang aku mencintaimu. Lalu dengan itu kau mengaku mencintai seluruhku. Sejatikah?

Ada ruang dalam rongga dadaku, ia bilang kau tidak.
Ada lubang dalam embus napasku, ia bilang kau tidak.
Ada belulang dalam tubuhku, ia pun bilang kau tidak.

Dan sejauh ini kuucap rindu berkali-kali, lalu dengan itu kau membubuh rindu ke segala pintu. Abadikah?

Masih ada ragu, kataku.
Masih juga menyimpan pilu, batinku.