Mengubah kebiasaanku yang lebih tenang tanpa siapapun, jadi kelimpungan saat tak ada kamu di sekitarnya.
Meski tak kubuka dengan suara, tak kutulis dengan kalimat tanya untuk tahu jawabannya. Semestinya tahu dengan sendirinya. Apa kau buta? Tak bisa membaca peta yang susah payah kugambari sendiri. Atau kau pura-pura? Tak mau meraba jejak menuju hatiku yang mulai meluka sendirinya.
Ah, kini galau jadi teman sehari-hari. Padahal kau tak peduli sama sekali. Beritahu aku caranya membuatmu merindukan aku setiap waktu. Lalu kaugeser ia dari lini waktumu. Masa lalu yang tak perlu kauharap kembali ke pelukmu. Tak juga sadarkah dirimu telah mengusik hatiku; Mengubahnya jadi sembilu.
Lalu setiap menit sampai habis malam kusambangi ponselku hanya untuk melihat apa kau menghubungiku. Akan kutunggu kau ajak aku bicara meski tanpa tatap muka, sebelum merjan pecah dini hari. Apa kau tahu bagaimana rasa sesak saat harus menahan diri untuk tidak merindukan seseorang yang (bukan) siapa-siapaku ...


