Februari ... Maret ... April ... Mei ... Juni.
Bukankah waktu tak mengenal ampun? Ia bergerak tak peduli kau memintanya untuk tetap tinggal. Kalau kuhitung dengan jari telunjuk, ini adalah bulan ke lima kau dan aku menggantung jarak, meluapkan waktu. Baru sebentar ternyata. Apalagi jika diukur lebih detil beserta hari demi harinya. Tapi tidak hanya aku yang merasa sepertinya sudah tahunan lalu kita tak pernah menyapa wajah.
2013 ... 2014 ... 2015.
Bukankah waktu tak mau tahu? Ia berlari masa bodoh kau masih ingin diam. Sudah masuk dua kali tahun ajaran baru setelah aku memetik senyum dan tangis secara bebarengan. Mengenalmu, memperhatikanmu, menganalisis, memahamimu, mendalamimu sampai hapal kutaksir jumlah bulu-bulu halus yang bernapas di kulitmu. Tapi ternyata baru sebentar kuerat jemari agar benar-benar pas di genggammu. Seperti sudah kuhabiskan satu dekade kuderet lebih-kurangmu. Di mana celah untuk kuisi dan kapan kamu acap melengkapi.
