Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label akurapopo. Show all posts
Showing posts with label akurapopo. Show all posts

Thursday, May 14, 2015

Pergilah dari Jogja(ku)

more quote www.fasihrdn.tumblr.com | @fasihrdn
Mbak, barangkali kaulah mata pertama yang dapat mengartikan sekumpulan tulisan-tulisanku ini. Sebab kaulah yang paling tahu secarik kertas yang tak lagi suci ini kupersembahkan tanpa perangko tepat teruntuk dirimu yang masih juga lalu-lalang dalam jemariku. Surat-surat ini boleh dibaca siapapun. Kau pernah bilang, tidak suka aku menuliskan dirimu. Ah, siapa pula yang tahu yang kupanggili dengan sebutan "Mbak" adalah dirimu. Kini kutemui jawabannya. Kau begitu takut kekasih barumu tak sengaja menemukan abjad-abjadku menggantung di gemeretak giginya.

Mbak, hari Selasa, lewat tengah malam, kau nekat menghubungi seseorang yang dulu begitu kau cintai. Mungkin hati kecilmu pun masih merasakannya. Tahunanmu dengannya. Hanya karena kamu menemui kekasih barumu—yang ternyata berprofesi sebagai Angkatan Darat—mengonfirmasi permintaan pertemananku di salah satu jejaring sosial.

Saturday, April 25, 2015

Surat Rahasia untuk Tuhan


Yogyakarta, 250415: 01.59


Allah. Semusim sudah semua yang dunia lemparkan di mukaku meluka. Semestinya sudah sembuh. Malah semakin parah. Seharusnya sudah tidak mengancam air mata meuncurkan diri. Malah menderas tiap kali, tanpa ingin kuingati. Wanita itu ternyata masih bersemayam membenamkan pundakku. Menenggelamkan kepalaku.

Tak bisa kusebutkan identitasnya dengan benar. Aku belum mampu mengungkap abjad-abjad lengkap yang menyusun namanya. Nciz. Entah, inspirasi dari mana, tapi begitulah pedengannya. Jangan bertanya siapa ia, bukannya aku tak bisa membeberkan secara rinci. Tapi tidak mau. Belum, barangkali. Kalau setiap pertanyaan selalu satu paket dengan jawaban, maka yang sanggup mempertemukan keduanya adalah waktu. Simpan dulu di kantongmu, seperti jabatan: semua ada tahapannya.

Nanti akan jatuh tempo giliranku mengagak-agihkan seluruhnya, dari ujung rambut sampai tepi kuku jemari kakinya. Bermula dari mana papilaku bisa mencecapi garis hidup wanita yang menyebut dirinya dengan, "Nyonya Besar". Atau aku saja yang berlebihan menyebutkan titelnya.

Kalau kamu membaca tulisan—yang sudah mirip dengan manuskrip—sejarah ini, yang kau jejal di matamu barulah prolog. Mungkin jika huruf punya 26 abjad, ini baru satu tipe huruf "A", padahal ada banyak jenis huruf "a". Sedetil itu. Saking tekunnya aku meneliti renyutnya. Kalau yang lain berlomba-lomba dengan riset karya ilmiah, aku memilih menyelisik watak dari setiap gerigi ujung gigi yang tertata rapi. Saking seringnya, sampai-sampai aku hafal betul masing-masing batang tubuh punya kepiawaian sejak lahir untuk menggelapkan sisi yang mana dan menerangkan bagian yang apa. Secara kasatmata sama persis seperti guna shadding dan tintin—yang tak pernah absen di-request oleh wanita mutakhir abad ke-21 agar terlihat memiliki gagang hidung yang lebih menonjol seperti bule, atau tulang pipi yang lebih tinggi. Memainkan peran gelap dan terang demi tercapainya suatu keseimbangan dalam proporsi wajah yang bagi mereka banyak cacat di sana sini. Padahal justru jadi simbol kurang percaya diri. Mungkin, kurang percaya penciptanya, aku bilang mungkin. Tak terkecuali parasmu, lekukmu, lakumu, bahkan isi kepalamu yang kadang mondar-mandir atau beku, bahkan seringkali berjalan ke belakang, lama-lama hengkang.

www.fasihrdn.tumblr.com

Saturday, May 3, 2014

Celah dalam Lelah; Aku Lengah


Apa kau benar-benar tak mau aku betah berlama-lama dalam tatapmu? Sedang saat ini aku gamang kalau dalam lemah ada yang mampu menjagaku dari lejarnya mencintaimu....

Bertanyalah mengapa aku masih bersetia pada luka yang kerap menjadi kepayahanku dalam bersabar. Sedang sejauh hari kau masih juga menganggapku robot yang tak punya kesempatan untuk rehat. Nyatanya kamu asyik sekali menjejaki sakitku, kamu puas aku menangisimu, kamu menang, Sayang. Padahal aku tak pernah setuju kauajaki aku bermain-main dalam hatiku.

Seperti dua dadu yang kaulempar, jemarimu mengantarku pada sembilu. Aku selalu bilang, aku mampu. Aku selalu yakinkan diriku, aku sanggup meski rangup. Tapi rupanya kau semakin semangat menyayat-nyayat setiap ayat yang kulumat demi seikat kuat, malah kau minum lagi setengguk anggur; sengaja mabuk biar aku mengamuk.

Bukankah aku hanya akan menangis lagi? Lalu tersenyum setiap bilangan jatuh kembali pada titik nol. Seperti biasa saja, seolah aku tak mengapa, serupa kamu yang tak juga mau tahu bahwa aku tidak sedang terserang flu, aku bukan sedang terkena virus seperti katamu, ini bekas tangisku satu detik lalu!

Thursday, January 30, 2014

Aku Baik-Baik Saja #akurapopo Part 3

Kamu. Lelaki itu....

Seseorang yang kuperjuangkan mati-matian di hadapan Ibu. Lelaki yang kubangga-banggakan pada semua orang. Dan yang kuhormati layaknya pengganti Ayah. Khianati segala yang kauucap. Abaikan sakit hati yang merumah di dadaku. Acuh-tak-acuh dengan semua yang kaulakukan. Berbahagialah dengan yang kaumau.

Kamu. Perempuan itu....

Kau tahu mengapa kamu tidak paham dengan apa yang terjadi selama ini? Kamu mau tahu mengapa kamu bahkan tidak sadar setelah ia kembali padamu pun, banyak hal yang tak tampak di matamu terjadi saling menyakiti. Kamu mau tahu mengapa kamu tidak juga tahu ini semua terjadi?

Sebab kamu terlalu memikirkan hidupmu. Kamu hanya peduli dengan apa yang terjadi padamu. Kamu hanya mau mengerti dengan apa yang menimpamu. Tanpa mencoba memposisikan diri menjadi orang lain. Kamu hanya melihat apa yang mau kaulihat. Kamu hanya mendengar apa yang ingin kaudengar. Tanpa berusaha memahami dari segala sudut pandang. Kamu tak pernah ingin tahu rasanya jadi ia yang terluka, yang barangkali, sebabmu juga. Iya, kamu bahkan tidak paham bahwa ada seseorang yang terluka karenamu. Kamu terlalu mementingkan apa yang kauinginkan. Kamu hanya melekati bahagiamu sendiri, dan meratapi sedihmu sendiri. Tanpa memikirkan dalam waktu bersamaan, ada orang lain jatuh-bangun berusaha untuk berdiri. Tanpa pernah menilik lebih dalam adakah yang menangis tersengal-sengal di balik semua itu. Bahkan, kamu tak sedikitpun memahami luka yang meradang di jantung orang yang kaubilang, kamu mencintainya.

Tak pernah terpikirkan olehmu kan? Tak pernah terbesit dalam benakmu kan? Tak pernah kaucoba cari tahu apa yang ia rasakan dan apa yang terjadi padanya?

Saturday, January 25, 2014

Aku Baik-Baik Saja #Akurapopo Part 1



Ada yang hilang dari hidupku. Kamu ... bersama hati yang sudah kuserahkan di genggammu.
Ada yang pergi dari hatiku. Kamu ... bersama cinta yang sudah kupercayakan di jarimu.
Ada yang terbang dari semuaku. Kamu ... bersama segala yang sudah kuakhiri di janjimu.

Aku tidak ingin menghilang.
Aku tidak ingin pergi.
Aku tidak ingin terbang.

Sebab aku sudah hancur.
Sebab aku sudah hancur.
Sebab aku ... sudah ...

Aku takut berjalan diikuti bayang-bayang. Aku takut tersenyum dengan air mata yang bergelantungan. Aku takut tak bisa lagi merasakan cinta, sebab aku begitu takut semua terulang. Aku takut tak bisa hidup tenang. Aku tak punya cara untuk mengembalikan diriku, sebab kamu sudah terlalu jauh membawaku masuk mengikuti jejakmu. Dan kauhapus jejak itu begitu saja. Begitu saja....



Kau kirim sendiri untukku, lalu kau jadikan sebuah lagu. Palsu?