Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Tuesday, February 4, 2014

Hari Ke-5: Pada Kalian; Anak-anakku di Masa Depan


Anak-anakku....

Mungkin kalian harus membacanya. Kisah masa muda Ibumu. Jatuh-bangun dalam cinta. Atau hati yang selalu jadi perkara anak muda. Nanti, kalau sudah saatnya, kalian pun mengerti rasanya.

Ini ibumu saat masih muda. Pelajarilah setiap kalimatnya, agar tak kalian ulangi esok lusa. Baru saja, Ibu kehabisan langkah, kehilangan arah. Hanya sebab seseorang membawa pergi seluruh hidup dan dunia Ibu seolah ikut pergi bersamanya.

Barangkali, iman Ibumu ini hanya setinggi mata kaki. Tak sampai menyentuh hati. Sebab segala di mata terasa begitu hitam-putih, kehilangan warna. Doa-doa seperti melayang terbang, tapi tak sampai di surga. Dan sudah berhari-hari Ibu hanya seperti raga tanpa ruh, tak punya daya melakukan apa-apa. Jangan bertanya siapa orang yang telah membuat Ibu seperti ini, boleh jadi, semua kesalahan memang terletak pada Ibu, Nak.

Ibu yang salah mengira. Ibu yang salah percaya. Ibu yang salah memuja. Ibu yang salah jatuh cinta. Mungkin....


Anak-anakku....

Masih mau mengeja abjad-abjad yang Ibu susun untuk kalian resapi maknanya kan?

Bahkan sempat terbesit untuk memotong nadi, betapa singkatnya pikiran Ibumu saat masih muda, ya? Jangan ditiru, kalian pasti lebih pandai mengendalikan diri ketimbang Ibu.

Lelaki itu mengunci mati seluruh hati dan pikiran Ibu. Membuat apapun tanpanya tampak begitu gelap-kelam dan karam di hatinya. Mungkinkah Ibu salah melabuhkan perasaan? Entahlah, Nak, cinta membuat logika jadi kehilangan akalnya. Perasaanlah yang selalu jadi pemenangnya. Emosi pemicu segala yang tabu jadi rancu. Dan Ibu merasa kini waktu jadi pemburu paling kejam membawa sebilah pisau, sepertinya Ibu tak bisa bersembunyi di mana-mana.

Anak-anakku....

Kalian jadi satu-satunya hal yang Ibu tuju. Keinginan yang begitu besar untuk bertemu dan menyapa kalian dengan cinta yang tak akan pernah ada habisnya. Kalian jadi satu-satunya hal yang membuat Ibu mengumpulkan segala kekuatan untuk bertahan. Meski saat ini, waktu selalu saja menghasut untuk kembali pulang saja pada Tuhan.

Ibu menunggu lelaki yang akan kalian sebut sebagai ayah datang menggenggam jemari dan mengucap janji suci. Sampai mati.

Ibu akan mencintai ayahmu dengan begitu dalam. Atas nama Tuhan, Nak. Sebab ayahmu menyelamatkan Ibu dari luka yang saat ini mematikan mimpi-mimpi Ibu. Mungkin, ayahmu lah, lelaki itu ... yang memungut Ibu dari lubang sembilu. Membawa Ibu kepadamu dan menjadi wanita paling bahagia sebab memiliki kalian.

Ibu akan sangat menghormati ayahmu, Nak. Sebab ia mengembalikan cinta yang Ibu pikir tak lagi bisa dirasa. Tunggulah hari itu tiba, jadilah Ibu wanita paling beruntung sebab sempurna karena kalian.


Calon Ibumu,
Fasih Radiana

#30HariMenulisSuratCinta

4 komentar:

Handy Pranowo said...

Amin, buat calon ibu

isnaenifitrianingsih said...

bagus bngt kak :) terharu

Bambang Subagio said...

Ibu akan sangat menghormati ayahmu, Nak. Sebab ia mengembalikan cinta yang Ibu pikir tak lagi bisa dirasa. Tunggulah hari itu tiba, jadilah Ibu wanita paling beruntung sebab sempurna karena kalian.

Luar biasa..

Anonymous said...

imam yag baik pasti akan datang disaat yang tepat,saat dirimu membutuhkanya karena Allah tidak tidur....

Post a Comment