Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Wednesday, December 7, 2011

Hening Saat Bising, Beringin Kembar dengan Ceritanya, Ceritaku.

Pernah kamu merasa bising di tengah keramaian, tapi hening di telingamu? Gendang telingaku yang tak berfungsi? Atau nyata sunyi menyergap tak tau adat. Ibarat lampu disko yang rusak, hanya ada satu warna, pilih saja, yang hitam pekat atau terang menyilaukan. Bukannya sama saja? Merusak bola mata.

Ini aku, dengan sweater&celana panjang. Rambut kusut acak adul dengan poni melingkar ala dora. Sedang duduk-duduk menatap malam sendirian. Setidaknya, seperti sendirian saja. Rumput hijau tampak semak belukar, meliar kuning kemuning nyaris kering, tampak buyar di sepertiga arah sudut pandangku melingkari beringin kembar yang sarat dengan takhayul.

Makin ramai saat bulan merayap ke tepi langit. Sebagian jadi candu bergandeng tangan, di ujung yang lain asyik ngobrol ngalor-ngidul sambil menyedu kopi panas atau wedang ronde. Mengepulkan asap rokok, seperti gelombang mengudara. Barusan juga lewat yang kakinya serempak berjoget, atau yang tersisa menepi, yang seperti aku. Mengikuti arus angin.

Kali ini aku menjajal jadi yang jemarinya berdansa dengan pedal, bertempo cepat dengan dengus nafas makin lekat. Memutari lajur lengkung tawa yang sedikit ku paksakan. Cukup, cukup melentikkan jemari untuk menorehkan baid-baid ambigu seperti ini. Sudah, sudah mulai gerah karena lelah makin rangah. Mendengar tawa di sekeliling saja sudah cukup mengisyaratkan bahwa aku pun menginginkannya. Tawa yang sama seperti punya mereka:)

071211~Alun-alun Kidul

2 komentar:

nurtayak said...

kapan aku bisa merasakan kesepian yang indah seperti ini..
~pdhl omah e yo cerak.wkwk

Fasih Radiana said...

wkakaka emang di mana mas?

Post a Comment