Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Saturday, September 10, 2011

Aku Benci Kamu Cemburu Tapi Diam

Ibarat game, nyawaku tinggal satu per empat. Dikata baterai isinya hanya satu persen. Dibilang sinyal, hanya terdeteksi satu garis saja. Dan dirasa hatiku ini memang tinggal satu keping. Tinggal itu, yang lain berserak entah kemana.

Malam ini bahkan aku baru paham, sebab rutin aku dan kamu memecah perang. Nyaris benar-benar pecah kepingan yang tinggal satu-satunya di hatiku itu. Hampir habis persenannya, dan miris untuk segaris sinyal yang tersisa menggantung di sela udara. 

Aku merasakan debaran mematikan, yang meniriskan separuh dari senyumku siang tadi. Ini yang terjadi, aku sakit lagi. Ternyata kamu juga. Aku baru mengerti. Dan aku makin benci.

Cemburumu itu yang membuatku jengah, bukan. Bukan karna perasaan jealous maximalmu, tapi caramu membuatku jadi rancu. Cara elite mu itu yang membuat aku makin candu. Membicarakan yang tidak semestinya dibahas. Hanya karena sekedar ingin tahu kamu cemburu atau tidak. Dan setiap kali aku melakukan nya, hasilnya sama saja. Aku tak sama sekali bisa menemukan aura cemburu di dadamu.

Tentu saja begitu, yang tersirat bukan luka tapi "luweh". Iya, kamu seperti tidak peduli dengan apa yang ku lakukan, dengan siapa dan bagaimana aku melakukannya. Aku benci, jujur aku memang benci polamu bertingkah. Karna aku tak pernah bisa benar-benar membaca tingkahmu. Aku juga benci pada sesuatu yang tidak juga aku rasakan. Bahwa kamu bukannya tidak peduli, tapi aku? Aku sungguh nggak mampu menerawang ke rongga hatimu. Kalimatmu ambigu, sayang. Ambigu di kelopak mataku, di gendang telingaku. Aku pikir kamu benar-benar tak peduli aku pergi. Atau memang sungguh begitu? Entah. Aku masih belum sepenuhnya paham.

Dan janjiku jadi hidangan penutup malam ini, aku kalah telak. Tersungkur nyaris mati langkah. Kehabisan daya, aku kalah dan baru kali ini merasakan kekalahan yang merendahkan. Ini terdengar mengejutkan, karna aku mengalah. Meluruhkan ego untuk kamu, dan aku yakin kamu pun belum sadar, kamu nggak paham.

Aku benci kamu pendam sendiri, atau kamu mengungkapkan dengan kalimat yang tidak membuatku merasakan aroma pengganggu hatimu. Please, aku inginnya kamu juga berani berjanji. Untuk tidak lagi diam seperti ini, karna jujur saja ini menyiksaku, atau kamu juga begitu.

Tolong mengerti juga hatiku juga sama, sama seperti kamu. Yang tak akan bertahan tanpa keyakinan dan percaya. 




100911

4 komentar:

Ardiansyah Rahmat Hidayatullah said...

istimewa deh, omongamu sastra banget, salut :D

Fasih Radiana said...

makasih kamu juga loh aku dah baca blog mu:)

Ardiansyah Rahmat Hidayatullah said...

hahaha, tidak se istimewa ucapanmu, cuma penulis hina saya ini, blognya juga sejajar blog situ bokep :D

Anonymous said...

nice

Post a Comment