Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label asmara. Show all posts
Showing posts with label asmara. Show all posts

Saturday, September 28, 2013

Baca saja, Seperti Aku Menulismu


Sebab aku tak mau kaumerayu yang selain aku. Tak suka mendengar kaumemuji yang selain aku. Tak bisa melihat kaumenatap yang selain aku.


Ada yang tak bisa kausentuh kecuali dengan hatimu, adalah hatiku dengan perasaan-perasaan yang mengitarinya. Tuan, coba jawab, sampai kapan aku harus menantimu memberiku satu kehidupan untuk bersama selamanya.

Kalau ada yang lebih menyakitkan, mungkin sebab kau tak pernah mencoba membacaku lebih dalam. Atau aku yang terlalu betah menuliskan semuamu?

Wednesday, October 24, 2012

Cinta yang Kau Bagi


Terlarangkah?

Hey, siapa yang suka luka? Aku sudah melumatnya ratusan kali. Tapi sepertinya semua orang menginginkan kebahagiaan. Tapi tak 'kan tercipta pelangi tanpa rintik hujan kan? Karena tak 'kan ada yang terlambat sampai akhirnya jauh tertambat.

Lalu kau menghapuskan luka dan mengingatkan aku tentang bahagia yang tertunda. Semua jadi berbeda ketika kamu berada di sekitaran yang sama. Denganmu, aku selalu jadi baik-baik saja.

Setiap kamu merasa degupmu makin kencang, maka di situ aku semakin kuat dengan cinta yang tak 'kan pernah usai. Terus berada dalam jemarimu tanpa detik dalam jeda waktu. Tapi kuasa mana lagi yang bisa ditandingi kalau takdir Tuhan sudah mampir kemari? Menunjukkan diri....

Begitu katamu mengingatkan aku lagi. Begitu juga kataku yang masih berbisik dalam lirih. "Masih sama, masih selalu kamu. Masih mengintai namamu."

Wednesday, October 3, 2012

Mengeja Nama yang Sama, Luka.


Kita saling menularkan rasa. Kita saling menggenapkan hampa. Kita jujur tetapi saling menutupi. Tanpa aku dan kamu sadari, sebenarnya kita saling menyakiti. 

Senja menjelma belantara porakporanda. Selalu bermuara pada air mata yang menyeka abjad luka. Aroma duka menyengat, meraba dusta pesona yang tak juga mereda. Kau membuatku melalang buana, mengembara pendar yang masih saja samar-samar.

Lalu bimbang pulang mengulang-ulang lagi sajaknya. Aku yang masih saja bersandiwara seolah semua baik-baik saja. Menggunakan bahasa yang tak ada bedanya dengan kemarin lusa. Meski kadang kosong menerobos masuk dalam lorong-lorong, mengembangkan sendiri ceritanya. Kisah tanpa tepian.

Ternyata cinta juga bisa jadi garang. Menyerang bagian terdalam ketulusan. Terkadang jadi rancu membisu. Kalau saja bisa, aku mau berhenti bergantung pada lengkung yang tak kunjung bersenandung. Yang ada aku justru tersandung, terasing merenung bersamaan dengan luka yang melambung.

Aku benci pada mendung yang menutupi kilat jingga senja kala. Lalu air merintik melelehkan hujan yang sudah lama tertawan. Menyinggung di petang, sesekali mengerang tak tahan merasakan lengang. Aku merasakan gejolak menghantam sepersekian detik lalu terjungkal, menjatuhkan lagi separuh lara yang tersisa. 

Berebut kilau bintang yang sempat temaram. Aku dan kamu seperti sisa-sisa hujan yang bergutasi pada dedaunan. Penuh perjuangan manahan diri agar tidak jatuh menembus bau humus. Berulang kali aku mengadu pada gaduh yang cukup angkuh. Aku lelah menahan gerah yang masih seperti itu-itu saja. 

Berpelik menukik setiap jengkal pita suara. Rasanya ingin ku tumpahkan segala penat yang mulai jadi pekat mencekat. Di bahumu aku menangis tersedu, di pelukmu aku mau begitu.

Sayang, aku bukan yang akan meminta terlalu banyak penjelasan pada rintik hujan. Mengapa meruncing meneteskan kegelisahan. Mengapa menyebabkan peraduan pelangi padahal senja mulai menjelang. Padahal aku melajang tapi kau mengubah rasanya jadi tenang. Seperti sedang berada pada hubungan yang nyatanya hanya akan meremang, terbuang.

Kamu menjadikan waktu sebagai bagian dari alasan yang menyebabkan perpisahan. Padahal aku mengira waktu lah yang menjadi alasan sebuah pertemuan. Maka berhentilah beralasan sebab meninggalkan tak butuh penjelasan seperti cinta yang tiba-tiba datang, tak pernah punya alasan.

follow me @fasihrdn

Sebab sepertinya rima selalu akan mengurai peristiwa yang itu-itu saja. Sajak yang sama, masih menyebutkan nama serupa. Kamu.



031012~Andai menghapus jejakmu semudah menghapus bagian aku dalam dirimu. Andai aku sama sepertimu, mudah berlogika tanpa perlu terluka. Sepertimu, tanpa lara di dada.

Wednesday, June 13, 2012

Tembang Cinta



Aku kehabisan abjad. Mencintaimu menghabiskan kata tanpa sisa. Ibarat mati gaya, aku kehilangan tata bahasa. Memintal rasa rindu yang berulang tertuang pada baid beralur menjuntai. Garis yang tergerai melekatkan cinta yang tegas. Pandanganku terbentur sejurus mata, membuat hening di sekeliling. 

"Aku mencintaimu."

Aku bisa mendengarnya tanpa harus kau katakan dengan gema yang meraung-raung seantero jagad. Aku merasakan getarannya, meski kau tak melingkarkan jemari di kelingkingku. Aku tahu betul kau sudah berjanji pada suci yang tulus menjalar di dinding hatimu.


Aku bukan dabir yang mencatat asprak tentang janjimu yang mencintaiku sepanjang waktu. Sebab aku tak menginginkan rayu nyaring menusuk gendang telingaku. Aku bosan pada bibir luwes yang menggelakkan tipu dengan janji palsu. Aku lebih memilih diam melihat tingkahmu dari arah yang menyebar. Lebih gamblang  menilai seberapa dalam cinta tersemat  di hatimu, yang terkadang masih berdegup meragu di jantungku.

"Aku juga mencintaimu."

Meski tak lincah membaurkan kata di sela tawa, tapi dalam lirih aku menjerit tanpa suara. Aku tenang denganmu di sini. Kau membuatku sibuk mencintai bahkan mereka yang membenciku. Seikat kembang jadi saksi, membingkai nada mencipta tembang asmara. Teruslah berdiri di samping lelahku, sebab aku tegar melekatkan peluk di balik senyummu.