Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label bahagia. Show all posts
Showing posts with label bahagia. Show all posts

Sunday, March 31, 2013

Jangan Menunda Kebahagiaan!


Remaja di era globalisasi ternyata krisis rasa syukur.

Bahwa salah satu cara menempuh kebahagiaan adalah dengan memperkuat iman. Dan bersyukur sebenarnya suatu yang sederhana namun sangat sulit dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Jangankan anak muda yang masih dalam proses pencarian jati diri, yang sudah hidup berpuluh-puluh tahun saja mungkin masih banyak yang belum bisa menikmati kehidupannya.



Di sini saya bukan mau menasihati apalagi menggurui. Saya hanya akan berbagi. Saya mengingatkan kamu dan terutama diri sendiri. Untuk terus menikmati apa yang kita punya bukan menjadi yang selalu meratapi kesulitan yang kita punya. Hakikat kehidupan di dunia memang selalu bertemu dengan kesulitan yang datangnya dari Tuhan, mana ada yang sempurna?




Kamu tak akan pernah tahu apa itu bahagia sebelum kamu berhenti merasa kehidupan orang lain jauh lebih indah.

Tuesday, September 18, 2012

Mestinya Berbahagia

Bukan sebuah kejutan, kenyataan yang dipersiapkan memang sebuah perpisahan.

Dalam pelukan aku merenungkan. Tidak semua wanita mau kaugenggam. Dan bukankah seharusnya berbahagia? Sebab aku bagian dari salah yang kau tenangkan.

Yang sebentar itu melekatkan kenangan yang jauh mendalam. Bukankah semestinya berbahagia? Karena di antara kita ada cerita. Meski bukan untuk waktu yang lama....

Bukan sebuah kejutan, kesepakatan yang dihasilkan adalah sebuah perpisahan.


180912~Aku baik-baik saja. Sungguh, lihat saja besok. Aku tetap akan melambaikan senyuman :)

Wednesday, June 13, 2012

Tembang Cinta



Aku kehabisan abjad. Mencintaimu menghabiskan kata tanpa sisa. Ibarat mati gaya, aku kehilangan tata bahasa. Memintal rasa rindu yang berulang tertuang pada baid beralur menjuntai. Garis yang tergerai melekatkan cinta yang tegas. Pandanganku terbentur sejurus mata, membuat hening di sekeliling. 

"Aku mencintaimu."

Aku bisa mendengarnya tanpa harus kau katakan dengan gema yang meraung-raung seantero jagad. Aku merasakan getarannya, meski kau tak melingkarkan jemari di kelingkingku. Aku tahu betul kau sudah berjanji pada suci yang tulus menjalar di dinding hatimu.


Aku bukan dabir yang mencatat asprak tentang janjimu yang mencintaiku sepanjang waktu. Sebab aku tak menginginkan rayu nyaring menusuk gendang telingaku. Aku bosan pada bibir luwes yang menggelakkan tipu dengan janji palsu. Aku lebih memilih diam melihat tingkahmu dari arah yang menyebar. Lebih gamblang  menilai seberapa dalam cinta tersemat  di hatimu, yang terkadang masih berdegup meragu di jantungku.

"Aku juga mencintaimu."

Meski tak lincah membaurkan kata di sela tawa, tapi dalam lirih aku menjerit tanpa suara. Aku tenang denganmu di sini. Kau membuatku sibuk mencintai bahkan mereka yang membenciku. Seikat kembang jadi saksi, membingkai nada mencipta tembang asmara. Teruslah berdiri di samping lelahku, sebab aku tegar melekatkan peluk di balik senyummu.



Monday, April 30, 2012

Bahagialah, kawan!


Bahagia.
Mengandung makna kata yang tak terdefinisikan, terlalu rumit untuk diuraikan. Kata yang menyimpan banyak arti dari setiap hati yang berlainan. Ini tentang keadaan, kehidupan, dan perasaan. Melibatkan tawa, airmata, dan cinta diantaranya. Jadi, berbahagialah kawan, maka aku pun memiliki rasa yang sama. Tersenyumlah, maka aku juga melengkungkan bentuk garis yang serupa.

Bahagia.
Perasaan yang tak kan bisa ku beli dengan harga, keadaan untuk kita nikmati setiap hela udaranya, atau kehidupan yang menyatukan tawa dengan airmata. Dan akan sempurna dengan cinta yang menyebar di sela-selanya. Bahagialah, maka sekitaranku pun merasakannya.

Bahagia.
Tak hanya lekat dengan keinginan dan impian yang nyata. Atau harta yang melengkapinya. Bahagia yang sesungguhnya terletak di hatimu. Di sudut paling dalam, yang tak tampak kasat mata. Bahagialah, maka sepi di hatiku berubah jadi ramai yang menenangkan.

Bahagia.
Bukan untuk suatu kesempurnaan, tapi menjadikan goresan tampak jauh lebih merekatkan. Bukan yang bisa kau temukan karena sebuah penantian panjang atau pencarian yang penuh perjuangan, tapi yang kau ciptakan sendiri dan kau pasrahkan kepada keajaiban Tuhan. Maka berbahagialah, kawan, maka tawa merengkuhku pula dengan pelukan yang menghilangkan kepenatan. Bahagialah, jangan kau tepikan tawamu hanya karna butiran debu yang menyelip di matamu. Bahagialah, kawan, karena senyummu alasan terhebatku untuk bertahan dengan kehidupan.


Karena senyummu menyamarkan retakan di keheningan hati, sebab bahagiamu menciptakan cerita istimewa dalam serangkai kalimatku.


Untuk kawanku, kawan teristimewa di sepanjang perjalanan.

Wednesday, April 11, 2012

Cinta lalu Sempurna


Karena ternyata tersenyum tak selalu dilakukan karena sedang jatuh cinta. Dan jatuh cinta, tak mesti pada siapa.

Ini kali pertama, aku tersenyum dengan iringan bernada pilu. Bahwa Tuhan punya banyak cara membuatku tetap pada satu garis melengkung, yang tersenyum. Tanpa siapapun yang mampu membuatku merasa sedang dalam kisah cinta, Tuhan bahkan mampu membuatku seolah sedang di mabuk asmara.

Ini kali kedua aku sendiri dalam waktu yang lama, karena memilih bukan keahlianku. Dan memilih untuk tidak memilih menjadi pilihan paling benar saat ini. Ternyata dikenal belum tentu mengenal, atau harta tak membuat seseorang jadi kaya. Bahwa raut sempurna bukan jaminan bahagia dan dipuja manusia bukan alasan merasakan cinta yang serupa.


Kesekian kalinya, Tuhan memintaku untuk tak sekedar hidup dengan berbagai jenis luka. Tapi menghidupkan sekitaranku untuk saling merasa, menahan rasa, dan mengendalikannya dengan rasa. Tuhan mengajariku, bukan apa dan siapa tapi mengapa lalu bagaimana. Bukan mulia yang kuasa, tapi cinta menjadikannya bahagia. 

Karena sempurna bukan berarti mencinta, bahwa cinta tak mesti sempurna.




@fasihrdn on twitter