Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Friday, January 15, 2016

Epilog



Izinkan aku menulis tanpa engkau ketahui bahwa setiap rimanya tak sedangkal huruf-huruf yang tersusun secara acak. Tak hanya engkau, tiap-tiap mata tak kuberikan kesempatan menguliti setiap abjadnya. Izinkan aku menyampaikan perasaan terima kasih ini melalui pesan yang tak akan bisa kuselesaikan kalimatnya dengan bicara.

Aku tak ingat seperti apa bola mata itu bergerak dalam pertemuan pertama dulu, tapi aku mengingati semuanya seiring waktu yang tak kunjung membuat kita banyak bicara satu sama lain. Yang aku rasa, gurat wajahmu menyimpan lelah. Tatapanmu keras dipandangan siapa saja. Kau pun tahu betul itu. Tapi bagiku di dalamnya begitu panjang kau sembunyikan yang entah apa. Begitu rapi sehingga tak satupun mampu mengendus embusmu. Aku hanya sampai melihat keteduhan itu bersarang begitu pekat dalam tatap. Begitu teratur sepaket dengan ketidaklenturanmu pada air yang jatuh tetes.

Kalau di tiap-tiap fase selalu ada sisi benar dan salah, maka aku tak ingin membahasnya sampai kapanpun. Sebab aku tak lagi butuh pembenaran, aku hanya percaya akan ada seseorang yang tegarnya melampaui kesakitanku, kekuatannya melebihi atensiku dalam antusiasme yang terkadang bergeser jadi keduniawian. Kini, aku tahu mengapa aku berada di sini. Kini, akhirnya Tuhan beri jawaban setelah penantian yang begitu panjang ada apa di balik langkah yang memutar terlalu jauh, mengapa dalam istikharah kutemui ketetapan hati yang tak satupun orang sangka-sangka. Belum sampai tiga tahun yang lalu, aku menjejaki alam yang katanya lebih kejam. Detik ini, semua nyaris berakhir menuju satu derap yang akan lebih berat. Lebih jauh. Lebih panjang. Lebih melelahkan.

Kalau di dunia ini manusia digolongkan ke dalam empat jenis golongan besar (koleris, sanguinis, plegmatis, melankolis) dalam tipe kepribadiannya. Maka tanpa kesepakatan bersama, kita sama-sama tahu kita termasuk yang mana. Barangkali salah satu dari banyak penyebab ini adalah kesamaan secara umum sehingga mudah menyamakan frekuensi. Setidaknya, bagiku yang tak percaya kepada siapa-siapa. Kecuali Tuhan yang bahkan tak jarang kutanyai "mengapa".

Kalimatmu singkat, tapi membuat hidup seseorang jadi lebih panjang dari keputusannya yang nyaris ingin penyelesaian cepat secara paksa. Kalimatmu singkat, tapi pupil yang jatuh tepat di retinaku itu terekam begitu dalam di alam bawah sadar. Tak banyak yang kutangkap, tak juga perlu kata bijak berjajar menghajarku. Semua penghayatan sudah sampai dengan selamat. Aku tidak hanya sedang bersama Tuhan saja. Ada juga yang lain yang sedang mengupayakan kembalinya sebuah keadilan. Ada juga yang sedang mati-matian menggeser kembali prinsip keislaman tak hanya secara teknis tapi juga secara mental. Psikis kebanyakan orang mulai terkikis dunia yang makin canggih, kiamat yang kian terasa akan sikap penyelamatan diri sendiri tanpa peduli lagi hak-hak orang lain. Kita tak lagi bisa membedakan mana yang haram mana yang halal. Kita nyaris tak mampu menilik siapa yang siapa, apa yang apa.

Terima kasih. Tak banyak yang bisa kukatakan. Bahkan terima kasih pun sulit dibiarkan begitu saja terlontar saking leganya hati mengetahui siapalah wanita di hadapanku yang telah ditunjuk Tuhan untuk turut memperbaiki. Meski terkadang mesti dengan mengorbankan dan membiarkan yang lain menyaktiti diri. Keikhlasan itu hadir tanpa permintaan, keyakinan jadi pendampingnya. Ternyata ia tak pernah butuh anggukan kepala setiap orang. Ia hanya butuh satu saja dari yang ia percaya. 

Seperti tempo hari dikatakan peribahasa islam, ambil yang kau butuhkan saja; pakai sesuai kebutuhan saja. Boleh pula kuanalogikan dengan kepercayaan yang kaitannya dengan sesama manusia? Biar mulut-mulut di luar sana bercelutak soal siapalah apa—apalah siapa, tak lagi jadi kebutuhan untuk menyampaikan. Terima kasih telah diizinkan terisak di sana, membuang pikiran dan perasaan tak baik atas siapapun juga.

Allah,
kunanti kembali rutinitas rahasia di antara kita. Setelah sekian lama aku kira Engkau hanya diam berlagak bijaksana. Ternyata akulah yang payah menjinakkan takdir-Mu. Tapi sungguh, terima kasihku ini atas satu pengenalan lebih dalam (lagi) dengan jiwa yang bisa dijadikan kekuatan selagi aku mencari-Mu akibat hilangnya aku di satu titik yang kupikir Engkau meninggalkan aku sendirian lagi.

Allah,
episode-Mu kali ini adalah yang tertinggi sepanjang 21 waktu. Kau ijabah doaku sepanjang hari yang ingin menanjaki gunung tergagah. Yang ini, sungguh lebih tinggi dari sekadar Everest. Kau kabul permintaanku menyelami samudera luas, sungguh kutemui tak hanya banyak jenis ikan tapi tumbuhan dan karang yang indah pun bisa menusukku begitu dalam bila aku tak teliti mengamati. Bila aku tak turuti nurani.

Dan Allah,
seseorang yang Kau kirim kali ini adalah yang pertama membuatku merasa sedang bercermin di hadapannya. Ia kah orangnya? Yang telah melewati naskah lebih banyak dariku tak hanya dari skala waktu?


4 komentar:

Aldy wisnu s said...

jangan lupa mampir mbak ke blogku aldyws.blogspot.co.id.
salam kenal

Bambang Subagio said...

.
luar biasa...

Taufik Nurrohman said...

Sudah tiga bulan berlalu. Bagaimana kabar selanjutnya?

Indra Jaya Kurniawan said...

sharing yang keren.. ooo iya kak kalau ingin tahu tentang cara membuat web yukk disini saja.. terimakasih

Post a Comment