Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Tuesday, October 8, 2013

Oktober, Aku, dan Merbabu

Berbagi pengalaman mengesankan, menceritakan kisah singkat yang meninggalkan kenangan, jadi ... kali ini hanya seperti sebongkah batu yang kugenggam lalu kulempar tepat di hadapanmu, biar tahu rasa sakitnya merajam sampai ke ubun-ubun. Serius, kali ini hanya ceritaku dengannya; Merbabu.

Sebelumnya....

05 Oktober 2013, 23.53

Ah, Bintang!
kau tahu anginmu lancang mencalang
ada getir di tiap jengkal kaki
beringsut lukaku meninggi
gemeretak gigiku lenyap bebarengan tulangku senyap

Padahal demi kau, Merbabu
tak acuh aku pada pilu
pada genggam yang belum satu
sudah lepas dalam sembilu


Ah, Bintang!
anginmu makin buas menerkam
membawa tanah kemarau di musim hujan

Padahal demi kau, Merbabu
aku menembus batas hembus yang kukecup
sebelum embun bergutasi
tapi malah kauhabisi napasku dengan keji

Padahal demi kau, Merbabu.
Demi kau, aku....

08 Oktober 2013; 20.24—Maaf, tertunda ya, ceritanya, saya kecelakaan dulu, tadi—dasar, langganan kecelakaan. Betapa Allah masih begitu mencintai saya, menyelamatkan saya dari kejadian yang biasanya tidak bisa terselamatkan. Sekujur tubuhku penuh luka, tak terkecuali di sini; sudut hati.

Beberapa tahun terakhir, saya ingin mendaki gunung. Sebab mendaki hatimu aku tak mampu, aku pilih mendaki merbabu. Ah, gombal. Abaikan celotehnya orang yang sedang mabuk darah dan memar meruam-ruam menjalar sampai ke hati. Stop, serius ya, beberapa kali diajak mendaki, tapi waktu belum mengizinkan. Sampai akhirnya saya lupa dengan keinginan saya untuk merayap di sela-sela semak sambil memandangi jurang ke arah bawah. Awal bulan Agustus, saya merapikan lagi mimpi-mimpi dan keinginan saya. Saya tulis di notepad, diurutan ke-52, ada tulisan "mendaki gunung". Lalu sepertinya Allah membuka jalan untuk saya, 17 September 2013 ada yang menawari untuk naik gunung. Hmm, awalnya saya tidak yakin. Pertama, sejak resmi menjadi mahasiswi, saya tidak pernah lagi mencicipi hangatnya kolam renang (satu-satunya olahraga yang masih setia dengan saya). Kedua, saya nggak yakin sama yang ngajakin ndaki. Bukan, maksudnya saya belum mengenal medan, belum mengenal orang-orang di dalamnya. Kalau saya hilang di gunung kan repot, cari yang begini nggak ada lagi. Tapi sepertinya, lagi-lagi Allah membuat saya bergerak di luar kendali. Membuat saya berjalan menuju keinginan saya yang nyaris saja saya lupakan.

Singkat cerita, akhirnya saya berhasil meyakinkan orang tua saya bahwa jiwa dan raga saya mampu. Oktober yang saya cintai berhasil dengan sabar membawa saya sampai ke tanggal lima. Ternyata, dunia begitu sempit. Ada kakak sepupu saya (tetangga desa pula) yang juga ikut. Baguslah, batinku. Paling tidak, ada yang saya kenal dari ketujuhbelas orang yang terdiri dari berbagai jurusan dan angkatan dari Universitas Negeri Yogyakarta.

Dalam perjalanan Jogja - Magelang ada satu hal yang membuat saya dag-dig-dug. Saya ngantuk, lalu hampir saja nggeledak. Entah, apa bahasa Indonesianya, sebut saja hampir jatuh. Jalan menuju basecamp begitu berlikuseperti rasa yang berkelok-kelok mengaliri nadiku, merambat ke sumsumkubanyak kerikil dengan jalan menanjak. Motor saya nggak kuat! Mungkin masih lebih kokoh hati saya yang terguncang atas kehadiranmu, ya. Akhirnya, harus bolak-balik karena motor saya nggak bisa menanjak sampai area parkir. Senja mulai turun, saya dan rombongan sampai juga di basecamp (berasa cerita liburannya anak SD deh), pemandangan yang disuguhkan begitu menawansenja, jingga, langit, gunung, kabutdibarengi hela napas panjang yang mengepulkan kegelisahan. Kubuang jauh-jauh semua hal yang membawa hati pada keterpurukan, di sini, bukan waktunya untuk bergundah-gulana.

Berhubung pakai timer, jadi kurang pas, tapi kalau tersenyum bersama semua jadi tampak sempurna :)
Perjuangan di mulai!

Tapi berhubung saya kehabisan kosa-kata, bersambung dulu, ya ... atau kau bisa melanjutkan ceritaku? Menggenapi keganjilan tulisanku? Atau mengisi kekosongan di hatiku.






Diketik, 08-09 Oktober 2013 dan masih berkelanjutan, entah, akan kuselesaikan kapan tulisan yang tak juga menemui akhirnya. Lalu, Fasih, kapan kau juga akan menyelesaikannya; perasaan yang kaugantung terkatung-katung di udara.






05-06 Oktober 2013; Edelweiss tak perlu diam-diam kaupetik untuk jadi lambang cinta abadi di antara kau dan aku. Sebab yang sejati letaknya di sini; hati.

1 komentar:

Didiek Hermansyah said...

wahhh, hebatt mbak Fasih (Y)

Post a Comment