Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Thursday, December 6, 2012

Di Balik Topeng


Ternyata kamu palsu. Aku baru tahu, perasaan yang selama ini mengendap di tubuhku; akibat pelukmu. Ternyata semua yang merdu itu semu. Kamu tidak lebih dari sekadar khayal dalam bunga tidurku.
Kamu bukan yang ingin bertahan dalam dekapan. Kamu hanya sekadar kalimat dalam bualan. Membuatku bimbang sendirian. Aku pikir, ini cerita tentang kita. Aku kira kita adalah bagian dari kisahmu juga. Ternyata kamu sama hebatnya dengan sembarang lelaki; tak lebih dari imajinasi. Mengembangkan puisi menjadi prosa, seolah-olah cinta yang kau tawar adalah yang paling dalam maknanya. Padahal di balik kalmatmu ternyata ilusi belaka.
"Aku masih ingin di sini," katamu sambil mengecup ujung kepalaku.
Aku diam tak mau berbahasa, sudah bosan dengar lidahmu menjulurkan kata-kata yang sama. Aku sudah bisa menebak kalimat setelahnya.
"Tapi waktu bukan lagi milik kita."
Aku masih diam. Tak perlu banyak bicara; menikmati guyuran hujan yang merintik pelan. Aroma humus mengendus, membuatku mengembuskan napas panjang. Mencoba menenangkan diri saat masih dalam genggamanmu. Sebab sebarapa kuat jemari mengerat di sela jarimu, kamu tetap akan meninggalkanku juga.
"Mengapa hanya diam?" Tanyamu dengan raut kebingungan.
Seketika resah bergelayutan, melahirkan pertanyaan yang berlainan. Mengapa tak coba kamu jelaskan tentang rencana yang mungkin saja kamu sembunyikan. Aku yakin, kamu paham betul isi di hatiku. Sudah lama mengeja huruf-huruf yang menggantung di dalamnya. Sudah hafal keluh kesahku, tahu benar bagaimana caraku menahanmu setiap malam. Agar kamu tetap tinggal di sini; menenangkan riuh pikiranku.
"Kamu baik-baik saja, kan?" Tanyamu lagi dengan genggaman yang lebih erat.
Apa katamu? Baik-baik saja? Tentu saja akan selalu begitu sampai kau berlalu. Di hadapanmu saja aku bisa merasa tidak pernah ada luka di antaranya. Di antara aku dan kamu yang bagimu tak akan pernah menjadi kita. Tapi selalu kau teruskan dengan cinta yang makin dalam; keterlaluan. Bagiku kamu lebih bejat dari binatang jalang, hanya saja kamu mengemasnya dengan rapi; celah keburukan yang tak tampak kasatmata. Atau perasaanku saja yang berlebihan?


Aku tersenyum, menatap matamu lekat-lekat. Tanpa bisa kamu lihat keadaan di baliknya; retakan panjang di setiap rusuknya. Senyumku makin lebar berjajar, padahal susah payah aku menahan gemetar di dadaku. Sakitnya menjalar merambat ke celah-celah bibirku yang mulai pecah-pecah. Aku masih membariskan senyum paling rekah; biar lelahmu tak berubah jadi gundah. Sebab seberapa dalam luka yang kautoreh tepat di jantungku, aku tetap akan yang paling sering menjaga hatimu.
Kamu membaringkan tubuh jangkungmu, meluruskan tulang yang sepertinya sudah mulai bengkok. Wajah tampan yang dipermanis dengan tahi lalat di ujung hidungmu tampak makin memesona, sebegitu lamakah aku tak bisa meraba air mukamu? Aku tak mau mengganggu lelahmu dengan kegelisahan yang makin ramai menyelap jantungku. Lebih baik kupendam saja, daripada harus menambah lagi beban yang sepertinya makin menumpuk di pundakmu. Aku takut kamu tak kembali lagi setelah pergi berhari-hari. Aku jauh lebih takut kamu pergi lagi dan tak mau kembali. Itu sebab mengapa kubiarkan kamu memperlakukanku sesuka hatimu. Tak peduli sepahit apa yang kusesap, indra pengecapku sudah kebal dengan berbagai macam rasa yang kaubawa pulang saat petang menjelang.
Kamu terbangun; membenahi posisi tidurmu. Dari jauh aku memerhatikanmu mengambil posisi duduk, memegangi kepalamu. Satu menit, dua menit, tiga menit ... baru saja aku mau memberimu obat sakit kepala, kamu sudah kadung jatuh pingsan. Aku setengah berlari menghampirimu. Belum sampai menyentuhmu, kakiku dipaksa melangkah mundur teratur. Sudah ada yang menangkapmu sebelum kamu benar-benar jatuh ke lantai. Perempuanmu yang lain sudah lebih dulu mencium keningmu. Seperti dalam dongeng, kamu langsung tersadar. Aku lega, pikiran-pikiran buruk yang sedari tadi memenuhi sudah menepi. Tapi mengapa jadi susah menghela napas? Mengapa rusukku naik turun tak keruan? Aku membalikkan tubuh, buru-buru pergi jauh. Sebab ternyata air mata menderas di pipiku. Baru benar-benar sadar kalau aku tak ada gunanya, aku hanya si nomor dua. Cadangan saat persediaan sudah habis, atau saat kamu bosan menikmati hidup yang begini-begini saja. Tapi buat apa lagi? Sudah ada dia yang melengkapi, menggenapi. Buat apa lagi di sini?
Seberapa keras aku meyakinkan diri bahwa kamu tak layak mendapat perhatian dariku, aku tahu aku tetap tak 'kan sanggup membiarkanmu sendiri. Aku takut seandainya kejadian seperti tadi terjadi saat tak ada siapapun di sampingmu. Aku tahu, aku bodoh. Cinta mematikan logika. Padahal aku korban dari keserakahanmu. Padahal nyata-nyata ketidakpastian yang selalu saja kausuguhkan.
Aku mengemasi barang-barang. Menata perasaan yang terlanjur berantakan. Mengusap sendiri air mata yang berjatuhan. Lebih baik aku pulang, aku sudah tidak tahan.
“Mau ke mana?” Tangan hangatmu menahan langkahku. Aku menoleh, bersinggungan dengan tatapmu. Aku diam; menahan jangan sampai air mata meliar di hadapanmu.
“Pulang,” kataku singkat. Aku mencoba melepas jerat tanganmu yang kian kuat.
“Biar kuantar,” katamu masih dengan memegangi lenganku. Kali ini dengan kelembutan.
“Cukup, berkali-kali kamu mengantar kepergian. Tak perlu lagi kalau hanya untuk menyisakan kenangan yang lebih dalam. Biar aku sendiri saja.”
Sudah berkali-kali aku beranjak pergi, tapi baru sampai di ujung pintu aku pasti kembali lagi. Tak pernah bisa benar-benar meninggalkanmu sendiri. Padahal sudah ada dia yang menemani. Padahal aku ini hanya tempat peristirahatan; tempatmu bersinggah saat kamu sedang jengah. Aku bahkan lebih dari terluka, tapi aku memang tak punya daya. Aku lemah melihat lelahmu tak benar-benar ada yang menjaga.
“Ada apa denganmu? Tak seperti biasanya.”
“Aku lelah bersandiwara seolah-olah semua masih dalam keadaan sempurna.”
“Maaf, aku tahu kamu pasti membenciku. Tapi sungguh aku…”
“Cukup, biar aku yang melanjutkan apa yang ingin aku dengarkan. Kamu mencintaiku, kamu bahkan selalu menyebutkan namaku di urutan ke-3 setelah nama Ibu dan Ayahmu dalam daftar orang yang kau sayangi.” Air mataku sudah di tepi sangkar, nyaris menyebar. Sekarang berjatuhan….
“Lalu, apa yang membuatmu menangis?”
Kamu mengusap lembut air mataku. Memelukku lebih erat dari pelukan pertamamu, dulu. Jauh lebih hangat dari dekapanmu, saat dulu kau bilang kita tak akan pernah menjadi kita. Aku tahu ini kesalahanku, meneruskan cinta terlarang. Padahal sudah jelas kau katakan bahwa tak akan ada kita dalam aku dan kamu. Tapi bukankah kamu juga bersalah? Tak pernah benar-benar menyebutkan kepastian di masa mendatang. Akan meninggalkanku atau lebih memilihku ketimbang perempuan yang katamu hanya dijodohkan oleh Ibumu.
“Sebab seberapa besar pun cinta yang sering kau ucapkan, akhirnya tetap akan jadi yang kautinggalkan. Begitu kan? Jadi, biarkan aku saja yang pergi sekarang.” Air mataku kini sudah bercampur amarah, kecewa yang sudah begitu lama kupendam, kutahan sendirian.
“Kalau saja waktu bisa kuputar, Dik.”
Kamu melepasnya; genggam dari jemari-jemari lentik yang biasanya memetik gitar setiap malam. Mengisi kosong dalam penghabisan. Kamu melepasnya tanpa keraguan, genggam dari sela-sela ibu jari yang biasa kau manjakan. Kamu melepasnya; yang kau bilang sulit kau lupakan, susah kau relakan. Padahal nyata-nyata kesengajaan yang kau susun rapi dengan kepura-puraan.
Aku tahu itu sejak awal, tetapi terlalu rapuh untuk mengaku paham soal hal-hal yang selama ini janggal, perpisahan yang seolah-olah bukan kamu yang menginginkan.
Kamu terpaku di sudut ruangan. Aku menoleh untuk terakhir kali, "Katamu, ini takdir Tuhan, bukan?"
Aku pergi dengan luka yang masih kusembunyikan dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak akan pernah kutemui jawabannya; persaanmu yang sesungguhnya.


4 komentar:

Anonymous said...

bagus...
persis seperti kisahku sekarang..
buat lanjutannya donk.,.tentang perasaan si cowok yg sbnrnya,,,

Radiana, Fasih said...

terima kasih, nanti ya ditunggu :)

Riswan Rais said...

Hi Fasih,
Cerpen kamu keren!
Gabung yuk bareng penulis2 cerpen yg lain
http://pulsk.com/cerita-fiksi/all
Temukan penggemarmu disana :3

Chandra Sevanna said...

so great ,, :)

Post a Comment