Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Monday, April 30, 2012

Bahagialah, kawan!


Bahagia.
Mengandung makna kata yang tak terdefinisikan, terlalu rumit untuk diuraikan. Kata yang menyimpan banyak arti dari setiap hati yang berlainan. Ini tentang keadaan, kehidupan, dan perasaan. Melibatkan tawa, airmata, dan cinta diantaranya. Jadi, berbahagialah kawan, maka aku pun memiliki rasa yang sama. Tersenyumlah, maka aku juga melengkungkan bentuk garis yang serupa.

Bahagia.
Perasaan yang tak kan bisa ku beli dengan harga, keadaan untuk kita nikmati setiap hela udaranya, atau kehidupan yang menyatukan tawa dengan airmata. Dan akan sempurna dengan cinta yang menyebar di sela-selanya. Bahagialah, maka sekitaranku pun merasakannya.

Bahagia.
Tak hanya lekat dengan keinginan dan impian yang nyata. Atau harta yang melengkapinya. Bahagia yang sesungguhnya terletak di hatimu. Di sudut paling dalam, yang tak tampak kasat mata. Bahagialah, maka sepi di hatiku berubah jadi ramai yang menenangkan.

Bahagia.
Bukan untuk suatu kesempurnaan, tapi menjadikan goresan tampak jauh lebih merekatkan. Bukan yang bisa kau temukan karena sebuah penantian panjang atau pencarian yang penuh perjuangan, tapi yang kau ciptakan sendiri dan kau pasrahkan kepada keajaiban Tuhan. Maka berbahagialah, kawan, maka tawa merengkuhku pula dengan pelukan yang menghilangkan kepenatan. Bahagialah, jangan kau tepikan tawamu hanya karna butiran debu yang menyelip di matamu. Bahagialah, kawan, karena senyummu alasan terhebatku untuk bertahan dengan kehidupan.


Karena senyummu menyamarkan retakan di keheningan hati, sebab bahagiamu menciptakan cerita istimewa dalam serangkai kalimatku.


Untuk kawanku, kawan teristimewa di sepanjang perjalanan.

2 komentar:

Anonymous said...

waw, its amazing, yes, friendship never die:)

Radiana Fasih said...

thankyou for you appreciation, it's for all my friends :D

Post a Comment