Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.

Monday, April 7, 2014

Pernah Kau Ajari Aku Caranya Berbagi



Kau pernah mengajariku caranya berbagi hati. Menjadi yang cintanya diberi kepada dua hati. Melukis cabang di peraduan. Ingat Mas?


Tetiba aku memutari semua rasa yang telah lewat. Kabar tentang perpisahan yang sudah punah di ujung waktu. Kekhawatiran yang sudah kalah telak. Sesenggukan.



Ada satu nama yang meluka, guratan yang begitu pas menggores-gores retakan dalam dada. Aku pernah diajarkan caranya melepaskan seseorang, demi ia yang tak kukenali siapa. Ada satu rasa yang lesap paksa, diajak berbicara dengan air mata.

Andai rindu yang datang hanya untuk satu hati, untukmu saja. Pasti rasanya akan begitu indah, seperti anak kecil yang diberi hadiah. Tapi nyatanya yang berpulang adalah kamu bersama satu nama yang melekati dirimu. Wanita yang masih mengerat di jarimu, mengeras di pikiranku, mengaliri sesak napasku.

Lalu gigil jatuh pada hari yang terlalu dini. Dentang jam yang terlalu pagi. Dingin yang mengantarku pada matamu, masih sendu. Atau segalamu yang masih bisa kueja satu persatu, ada apa saja di dalamnya, di sekitarnya. Apa yang terjadi pada satu bab yang tak kulewati bersamamu? Ada yang tak bisa kutuliskan dalam sebuah paragraf, sebab ada satu adegan yang kauhilangkan. Ada apa sebenarnya?


Kau pernah mengatakan hal serupa. Barangkali kamu lupa, akulah wanita yang menangis waktu itu, waktu rerintik yang berjatuhan disebut gerimis. Tapi lenganmu memeluk wanita lain, satu hati di pinggir kota yang tak kuketahui raut wajahnya kecuali selenting kabar tentang kisahmu di masa lalu.

Aku masih mengingatnya, kepergian yang menyisakan hening sepanjang malam. Padahal di luar deras hujan menyentuh rerumputan gersang. Aku masih mengingatnya, aku yang tak juga paham caranya membagimu. Yang kuingat, aku hanya berhasil menunjukkan padamu jalan untuk kembali padanya; wanita yang tak kuketahui siapa.




070614; 02:03 am ~ Biarkan aku mengingati segala yang pernah kurasa, lalu menangis sejadi-jadinya.

3 komentar:

Fadia Efendi Baharudin said...

sesuai dengan perasaan saya saat ini :')

@chandra__fa said...
This comment has been removed by the author.
chandralight said...

Langitku kelabu.
Langitku hujan.
Rintiknya jatuh begitu menggebu.
Tetesnya juga tampak menghujam.
Tak ada yang tau dimana titik terakhirnya.
Yang ku takut, kulitku lebam olehnya.

Bagaimana dengan langitmu kini?
Masih ragukah ia antara hitam & putih?

Post a Comment