Fasih Radiana

Kalau kamu termasuk penulis dengan genre komedi, apa akan jadi sempurna tanpa tawa pembaca? Jadi, jangan pernah terbesit, kalimat asmara membuatmu kehilangan harga. Karena cinta seperti satuan terkecil yang melengkapi jutaan angka. Cinta juga yang menjadikanmu mampu membuat mereka melengkungkan tawa. Cinta bukan kisah tentang mereka yang membuat hidupnya seakan selalu kecewa, membuat hatinya terlihat selalu meluka. Cinta hanya menawarkan berbagai macam rasa. Terserah, mau pilih yang mana. Meski bukan karena seseorang yang mengelokkannya, percayalah, someday LOVE will find you. Karena cinta selalu mengajariku menyimpulkan hidup dengan lebih sederhana.
Showing posts with label kalimat cinta. Show all posts
Showing posts with label kalimat cinta. Show all posts

Thursday, August 2, 2012

I Need You More and More ♡


Aku butuh genggaman disetiap hentakan kakiku, butuh dekap disetiap penantianku. Aku butuh jemari menyeka air mata kalau saja meluncur tak terduga, butuh peluk terhangat kalau ketakutan datang tiba-tiba. Tentu saja aku juga butuh kompas yang selalu mengingatkan arah mata angin. Sebab terkadang debu menyelip ke dalam bola mataku, nyaris membelokkan langkahku. Dan ternyata aku masih takut menentukan jalan sendirian.

Ini bukan soal siapa dengan apa yang membuatnya menyinggung luka, tapi bagaiman caranya melanjutkan kehidupan yang katanya kian kejam.

Sebab cinta saja tak akan cukup menghangatkan. Aku butuh yang lebih dari itu. Aku butuh obat penenang yang tak membuatku kecanduan. Yang lebih mudah, aku butuh seseorang yang menguatkan saat lemah mengisyaratkan kesedihan. Singkatnya, aku butuh seseorang yang selalu menciptakan kebahagiaansaat halangan melintang tepat di depanku. Bahkan mengajariku menjaga senyuman saat aku sedang lupa caranya.... cara mensyukuri kesederhanaan.

Jadilah kamu seseorang itu, sayang




130712~ Beri aku kekuatan yang menenangkan.

Thursday, February 23, 2012

Buat Aku Mencintaimu

Memulai sesuatu yang sudah pernah berakhir, rasanya jauh lebih sulit. Mungkin karena pernah sakit. Rasanya seperti membangun lagi apa yang pernah runtuh, bukan hal yang rumit, tapi tidak mudah kan? Dan aku hanya takut, kamu membuatku sedikit salut. Membiarkan semua terbuka perlahan, semua yang nyaris tak bisa merasakan gemetar lagi. Yang sempat gemeretak mati, dimatikan berulang kali. 

Apa sebenarnya, yang kamu mau dariku? Kalau kekalahanku, aku sudah kalah jauh sebelum hari ini. Jangan mendekat, karna aku bisa tau siasatmu. 

Aku memang bukan yang pandai bercinta, juga bukan yang luwes menghubungkan sinyal asmara, seperti dia atau mereka, wanita lain. Tapi hatiku masih sama, bukan tempat untuk dibagi.  Bukan stadion berlari, apalagi boneka barbie.

Aku keras, tak kan lagi mau ditindas. Karena aku takan memberimu kesempatan untuk berdusta, membodohi hatiku dengan yang kamu sebut cinta. Aku diam, bukan karna tak paham. Aku diam ingin lihat siapa kamu, yang mengaku mencintaiku. Siapa yang bisa percaya kalimatmu? Kamu juga laki-laki, pasti sama saja dengan yang lihai membuai, membual!


Lebih baik diam, lakukan saja apa yang ingin kamu katakan. Cukup lakukan, dan biar aku yang merasakan. Siapa dan apa maumu. Cukup pikirkan saja apa yang mesti kamu perbuat, untuk membuatku memilihmu. Memilih untuk mencintaimu.