Bu.
Apa kabar?
Lama kupikir aku adalah yang paling kuat.
Lama kukira aku adalah yang paling sabar.
Lama kurasa akulah yang tiada.
Ayah.
Sedang apa?
Belum lama sepertinya, aku diberi selembar hitam-putih berukuran 3x4; usang, robek separuhnya.
Belum lama kiranya, aku sombong tak akan pernah bertanya mengapa kau di sana; entah, di mana.
Belum lama ternyata, aku tak kuasa ingin mengubah segumpal darah dalam dagingku.
Tapi tak bisa, batinku.
Tapi tak mungkin, lirihku.
Tapi tak boleh, kata-Nya.
Barangkali, jarak yang kubawa pulang tak sampai waktu untuk menemuinya kembali.
Barangkali, sudah kosong sampai tujuan.
Barangkali.
Apa kabar?
Lama kupikir aku adalah yang paling kuat.
Lama kukira aku adalah yang paling sabar.
Lama kurasa akulah yang tiada.
Ayah.
Sedang apa?
Belum lama sepertinya, aku diberi selembar hitam-putih berukuran 3x4; usang, robek separuhnya.
Belum lama kiranya, aku sombong tak akan pernah bertanya mengapa kau di sana; entah, di mana.
Belum lama ternyata, aku tak kuasa ingin mengubah segumpal darah dalam dagingku.
Tapi tak bisa, batinku.
Tapi tak mungkin, lirihku.
Tapi tak boleh, kata-Nya.
Barangkali, jarak yang kubawa pulang tak sampai waktu untuk menemuinya kembali.
Barangkali, sudah kosong sampai tujuan.
Barangkali.
